Al-Hakam (Yang Memutuskan Hukum) adalah Dia yang menentukan segala sesuatu yang memutuskan keadilan dan menuntut balas serta kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu dan tidak ada yang dapat Dialah yang memutuskan kebahagiaan bagi orang yang saleh dan kesengsaraan bagi orang yang keji. Dia pula yang menjadikan kesalehan sebagai sebab kebahagiaan dan perbutan dosa sebagai sebab kesengsaraan. Jadi, ketika ada orang yang berbuat kesalehan pada dasarnya dia menuju kebahagiaannya, begitu pula jika ada orang yang berbuat dosa berarti dia sudah menentukan jalannya kepada kesengsaraan.
Allah mengatur sebab-sebab dan menerapkan akibat-akibatnya, itu berarti Allah adalah hakim yang mutlak, karena Dia yang menyebabkan segala sebab secara umum dan terperinci. Di sini kita memahami segala sesuatu yang terjadi berdasarkan kepada suatu rencana-Nya yang pasti. Dia berfirman:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
Wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal 'alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja'alallāhu likulli syai`ing qadrā
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaaq: 3).
Oleh karena itu tidak ada kejadian yang berlangsung di dunia ini yang di luar perencanaan-Nya, entah itu baik atau buruk, bermanfaat atau merugikan. Semua itu merupakan perencanaan Allah, Dialah yang telah menetapkan rencana sebab-sebab-Nya.
Sebuah persoalan muncul di sini, yaitu jika segala sesuatu sudah ditetapkan, kenapa mesti bekerja, bila penyebab kebahagiaan dan kemalangan sudah ditetapkan?
Al-Ghazali menyatakan bahwa penyebab bisa berupa apa yang ditentukan dalam pemikiran: ‘Jika saya sudah ditakdirkan untuk bahagia, tidak perlu bekerja dan jika saya ditakdirkan untuk sengsara maka tidak ada gunanya bekerja.’ Namun, hal itu adalah ketololan, karena dia tidak menyadari bahwa jika dia akan bahagia, maka dia akan bahagia hanya dengan sebab-sebab kebahagiaan, dan jika sebab-sebab itu tidak ada pada dirinya, maka itu sebuah isyarat kesengsaraannya.
Referensi :
Al-Ghazali, Al-Asma’ Al-Husna: Rahasia Nama-Nama Indah Allah, Terjemahan Ilyas Hasan (Mizan, Bandung, 1998).