Beriman kepada taqdir artinya pembenaran yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi karena takdir dan qadha Allah, dan sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikendaki-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Seandainya Allah SWT menyiksa penduduk langit dan bumi, maka adzab-Nya itu bukanlah kedzoliman terhadap mereka, begitu pula seandainya Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik dari amal kebajikan mereka sendiri. Seandainya engkau menafkahkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah SWT, maka Allah SWT tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada taqdir, dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang terluput darimu, tidak mungkin akan menimpamu. Kalau engkau meninggal dunia di atas selain keyakinan ini, niscaya engkau masuk neraka." (H.R. Ahmad dan Abu Dawud )
Keimanan kepada qadar, mencakup empat perkara :
1) Percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun rinci.
2) Percaya bahwasanya Allah telah menulis hal tersebut di dalam al-Lauh al-mahfuzh. Nabi SAW bersabda:
"Allah telah menulis takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi " (H.R. Muslim.)
3) Percaya kepada kehendak Allah yang berlaku yang tidak bisa ditolak oleh apapun juga, dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendak-Nya tidak akan terjadi.
4) Percaya bahwa Allah-lah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu, adapun selain Allah adalah makhluk ciptaan-Nya.
Sumber : Tafseer.info, 2017, Tafsir Al 'Usyr Al Akhir : Dari Al Quran Al Karim Juz 28-30, hlm. 89