Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengenai alam barzakh, ia adalah pembatas antara dua hal. Menurut Ibnu Qayyim (Ar-Ruh, hal. 111) yang mengutip pendapat dari Salman Al-Farisi, seakan-akan beliau memaksudkannya bahwa (roh) berada di bumi yang berda di antara dunia dan akhirat, yang dilepaskan di sana dan dapat pergi sesukanya. Roh orang-orang mukmin berada di Barzakh yang luas, yang di dalamnya terdapat ketenteraman, rezeki, dan kenikmatan. Sedangkan roh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya penuh kesusahan dan siksa.

Firman   Allah:

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

La'allī a'malu ṣāliḥan fīmā taraktu kallā, innahā kalimatun huwa qā`iluhā, wa miw warā`ihim barzakhun ilā yaumi yub'aṡụn

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminun: 100).

Dalam tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, kalimat “Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” Maksudnya adalah, di depan dan di hadapan mereka terdapat barzakh yaitu dinding penghalang untuk dua kehidupan; kehidupan dunia dan akhirat. Di barzakh ini (alam kubur), orang-orang yang taat (kepada Allah) akan menikmati keadaan yang nikmat. Sedangkan orang-orang yang bermaksiat akan didera siksa sejak kematian mereka sampai hari mereka dibangkitkan. Maksudnya, hendaklah mereka mempersiapkan bekal dan mencari persiapan untuknya.

Jadi persoalannya bukan pada sampai tidaknya roh orang yang telah meninggal atau tidak ke alam Barzakh, tetapi jenis Barzakh yang mana tempat orang meninggal itu berada.