Sebab turunnya Surah An Nisa ayat 48
Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Ayub al-Anshari bahwa pada suatu hari seseorang mengadu kepada Nabi saw., "Wahai Rasulullah, seorang keponakan lelaki saya tinggal bersama saya. Dia selalu melakukan hal-hal yang diharamkan dan tidak mau meninggalkannya."
Rasulullah saw. kemudian bertanya, "Apa agamanya?" Dia menjawab, "Dia melakukan shalat dan mengesakan Allah."
Lalu Rasulullah saw. bersabda,
"Mintalah agamanya darinya. Jika dia enggan melakukannya, belilah agamanya"
Lalu lelaki itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Namun keponakannya enggan melakukannya. Kemudia lelaki itu mendatangi Rasulullah saw. kembali dan memberitahukan tentang hal itu, "Wahai Rasulullah, saya mendapatinya sangat sayang terhadap agamanya." (HR Thabrani dalam al Mu'jamul Kabiir No. 3956)
Maka turunlah firman Allah,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
Innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qadiftarā iṡman ‘aẓīmā
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa : 48)