Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Asbabun Nuzul Surah An Nisa Ayat 105?

Anonymous 5 years ago

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا

Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arākallāh, wa lā takul lil-khā`inīna khaṣīmā

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS. An Nisa : 105)

15

Sebab turunnya Surah An Nisa ayat 105

At-Tirmidzi, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Qatadah ibnun Nu'man berkata, "Di antara kerabat kami ada yang bersama Basyar, Basyir, dan Mubasysyar. Mereka adalah anak-anak Ubairiq. Basyir adalah seorang munafik. Dia merangkai syair untuk mengejek para sahabat Nabi saw., kemudian mendapatkan imbalan dari beberapa orang Arab. Dia berkata, "Si fulan berkata
begini..."

Dan mereka adalah orang miskin ketika masa jahiliah dan setelah Islam. Adapun makanan mereka (kaum miskin itu) adalah kurma dan gandum dari Madinah.

Kemudian paman saya, Rifa'ah Min Zaid, membeli tepung sebanyak satu bawaan unta. Kemudian dia meletakkannya di salah satu ruangan di dalam rumahnya yang juga terdapat senjata, baju perang, dan pedang miliknya. Lalu kamarnya itu dibobol dari bawah dan bahan makanan serta senjatanya diambil. Ketika pagi tiba, paman saya, Rifa'ah mendatangi saya lalu berkata, "Wahai keponakanku, ruangan di rumah kita dibobol tadi malam. Makanan dan senjata yang ada di dalamnya diambil."

Kami segera menyelidiki seluruh rumah kami. Kami bertanya kepada orang-orang, lalu ada seseorang berkata, "Tadi malam kami melihat anak-anak Ubairiq menyalakan api untuk masak. Dan kami melihat itu adalah bahan makanan kalian. Ketika kami sedang menanyakan tentang hal itu, anak-anak Ubairiq berkata, "Demi Allah, menurut kami Labid bin Sahl, salah seorang dari kita yang saleh dan agamanya bagus, yang mencurinya."

Ketika mendengar tuduhan itu, Labid menghunus pedangnya dan berkata kepada anak-anak Ubairiq, "Apa? Saya mencuri? Demi Allah, pedang ini akan menebas kalian atau kalian akan menjelaskan kebenaran pencurian ini!"

Anak-anak Ubairiq pun berkata, "Menjauhlah dari kami, engkau bukanlah pemilik barang-barang itu (bukan pencuri)." Lalu kami menanyakan kembali tentang makanan itu agar kami tidak ragu lagi bahwa mereka benar-benar pemiliknya.

Lalu paman saya berkata kepada saya, "Keponakanku, coba engkau temui Rasulullah saw. dan kau ceritakari tentang hal ini."

Lalu saya menemui Rasulullah saw. dan berkatakan kepada beliau, "Di antara kerabat kami ada orang-orang yang berwatak keras. Mereka membobol salah satu ruangan di rumah saya, lalu mengambil senjata dan bahan makanan yang ada di dalamnya. Kami meminta mereka mengembalikan senjata kami. Adapun makanan, kami tidak lagi membutuhkannya."

Rasulullah saw. pun bersabda, "Akan saya pikirkan hal ini"

Ketika anak-anak Ubairiq mendengar aduan ini, mereka mendatangi salah seorang dari keluarga mereka yang bemama Asir bin Urwah dan memberi tahunya tentang hal itu.

Kemudian beberapa orang dari keluarga mereka berkumpul dan menemui Rasulullah saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah dan pamannya menuduh keluarga kami, orang-orang Islam yang baik, telah mencuri tanpa ada bukti."

Qatadah berkata, "Lalu kami mendatangi Rasulullah saw. Kemudian beliau bertanya kepada saya,

"Engkau menuduh satu keluarga yang dikenal sebagai orang Islam dan orang baik telah mencuri tanpa ada bukti"

Saya pun kembali ke rumah. Lalu saya memberi tahu paman saya tentang hal itu. Dia pun berkata, "Hanya Allah tempat meminta pertolongan." Tidak lama dari itu, turunlah firman Allah,

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا

Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arākallāh, wa lā takul lil-khā`inīna khaṣīmā

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS. An Nisa : 105)

وَٱسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Wastagfirillāh, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an Nisa: 106)

وَلَا تُجَٰدِلْ عَنِ ٱلَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

Wa lā tujādil 'anillażīna yakhtānụna anfusahum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna khawwānan aṡīmā

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (QS. an Nisa: 107)

يَسْتَخْفُونَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ ٱللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ ٱلْقَوْلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Yastakhfụna minan-nāsi wa lā yastakhfụna minallāhi wa huwa ma'ahum iż yubayyitụna mā lā yarḍā minal-qaụl, wa kānallāhu bimā ya'malụna muḥīṭā

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. an Nisa: 108)

هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ جَٰدَلْتُمْ عَنْهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَمَن يُجَٰدِلُ ٱللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَم مَّن يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

Hā`antum hā`ulā`i jādaltum 'an-hum fil-ḥayātid-dun-yā, fa may yujādilullāha 'an-hum yaumal-qiyāmati am may yakụnu 'alaihim wakīlā

Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. an Nisa: 109)

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Wa may ya'mal sū`an au yaẓlim nafsahụ ṡumma yastagfirillāha yajidillāha gafụrar raḥīmā

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an Nisa: 110)

وَمَن يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُۥ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Wa may yaksib iṡman fa innamā yaksibuhụ 'alā nafsih, wa kānallāhu 'alīman ḥakīmā

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. an Nisa: 111)

وَمَن يَكْسِبْ خَطِيٓـَٔةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِۦ بَرِيٓـًٔا فَقَدِ ٱحْتَمَلَ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Wa may yaksib khaṭī`atan au iṡman ṡumma yarmi bihī barī`an fa qadiḥtamala buhtānaw wa iṡmam mubīnā

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. an Nisa: 112)

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُۥ لَهَمَّت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَىْءٍ ۚ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

Walau lā faḍlullāhi 'alaika wa raḥmatuhụ lahammaṭ ṭā`ifatum min-hum ay yuḍillụk, wa mā yuḍillụna illā anfusahum wa mā yaḍurrụnaka min syaī`, wa anzalallāhu 'alaikal-kitāba wal-ḥikmata wa 'allamaka mā lam takun ta'lam, wa kāna faḍlullāhi 'alaika 'aẓīmā

Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (QS. an Nisa: 113)

Maksud, "orang-orang yang khianat" adalah orang-orang dari bani Ubairiq. "Dan mohon ampun kepada Allah" wahai Muhammad dari apa yang kau katakan kepada Qatadah.

Ketika ayat ini turun, Rasulullah saw. menyerahkan senjata itu kepada Rifa’ah. Sedangkan Basyir, dia mendatangi orang-orang musyrik lalu singgah di tempat Sulafah binti Sa'ad. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Wa may yusyāqiqir-rasụla mim ba'di mā tabayyana lahul-hudā wa yattabi' gaira sabīlil-mu`minīna nuwallihī mā tawallā wa nuṣlihī jahannam, wa sā`at maṣīrā

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an Nisa : 115)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qad ḍalla ḍalālam ba'īdā

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. an Nisa : 116)

Al-Hakim berkata, "Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.” (HR Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir No. 3036 dan HR al Hakim dalam al Mustadrak No.(4/385).

Ibnu Sa'ad, dalam kitab ath Thabaqaat, meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Mahmud bin Labid berkata, "Basyir ibnul Harts memasuki ruang di atas rumah Rifa'ah bin Zaid, paman Qatadah bin Nu'man, dengan paksa dan membobolnya dari bagian belakang. Lalu dia mengambil makanannya, baju perangnya, serta peralatan kedua. Lalu Qatadah mendatangi Nabi saw. dan mengadukan hal itu. Beliau pun memanggil Basyir dan menanyakan hal itu. Namun, dia tidak mengakuinya. Dia malah menuduh Labid bin Sahl, salah seorang dari keturunan terhormat, yang telah melakukannya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya yang menyatakan kebohongan Basyir dan menjelaskan ketidakbersalahan Labid,

Ketika ayat itu turun, Basyir melarikan diri ke Mekah dalam keadaan murtad. Lalu dia singgah di tempat Salamah binti Sa'd dan menjelek-jelekkan Nabi saw. serta orang-orang muslim.

Turunlah firman Allah padanya,

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an Nisa : 115)

Hasan bin Tsabit pun mengejeknya dengan syairnya hingga dia kembali pada bulan Rabi'ul tahun empat Hijriah.

Sumber : Jalaludin As Suyuthi, Asbabun Nuzul : Sebab Turunnya Ayat Al Quran, Gema Insani, hlm. 198-202.