Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Asbabun Nuzul Surah Al An'am Ayat 52?

Anonymous 5 years ago

وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَىْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَىْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Wa lā taṭrudillażīna yad'ụna rabbahum bil-gadāti wal-'asyiyyi yurīdụna waj-hah, mā 'alaika min ḥisābihim min syai`iw wa mā min ḥisābika 'alaihim min syai`in fa taṭrudahum fa takụna minaẓ-ẓālimīn

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (QS. Al An'am : 52)

28

Sebab turunnya Surah Al An'am ayat 52, 53, 54, 55 dan Surah al Kahfi : 28

Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dia berkata, "Ayat ini turun tentang enam orang: saya, Abdullah bin Mas'ud, dan empat orang yang berkata kepada Rasulullah, "Usirlah mereka, sebab kami merasa malu menjadi pengikutmu seperti mereka." Maka dalam benak Nabi saw. timbul keinginan itu, sehingga Allah menurunkan firman-Nya, (Diperkuat oleh HR Muslim dalam Fadaa'ilush Shahaabah No. 2413)

Ahmad, ath-Thabrani, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, katanya, "Serombongan orang Quraisy berpapasan dengan Rasulullah yang sedang berbincang-bincang dengan Khabbaab ibnul-Aratt, Shuhaib, Bilal, dan Ammar. Mereka pun berseloroh, "Hai Muhammad, apakah engkau ridha kepada orang-orang ini? Apakah orang-orang semacam ini di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah? Kalau engkau mengusir mereka, pasti kami akan mengikutimu."

Maka Allah menurunkan ayat mengenai mereka, (HR Thabrani dalam al Mu'jamul Kabiir (10/268) dan riwayatnya lemah)

وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَىْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَىْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Wa lā taṭrudillażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hah, mā ‘alaika min ḥisābihim min syai`iw wa mā min ḥisābika ‘alaihim min syai`in fa taṭrudahum fa takụna minaẓ-ẓālimīn

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (QS. Al An’am : 52)

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ

Wa każālika fatannā ba'ḍahum biba'ḍil liyaqụlū a hā`ulā`i mannallāhu 'alaihim mim baininā, a laisallāhu bi`a'lama bisy-syākirīn

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (QS. Al An’am : 53)

وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلْ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُۥ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعْدِهِۦ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُۥ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wa iżā jā`akallażīna yu`minụna bi`āyātinā fa qul salāmun 'alaikum kataba rabbukum 'alā nafsihir-raḥmata annahụ man 'amila mingkum sū`am bijahālatin ṡumma tāba mim ba'dihī wa aṣlaḥa fa annahụ gafụrur raḥīm

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am : 54)

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ ٱلْمُجْرِمِينَ

Wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa litastabīna sabīlul-mujrimīn

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS. Al An’am : 55)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah, katanya, "Utbah bin Rabii'ah, Syaibah bin Rabii'ah, Muth'im bin Adi, al-Harits bin Naufal, serta para pemuka Bani Abdi Manaf yang kafir mendatangi Abu Thalib. Kata mereka, "Seandainya keponakanmu mengusir hamba sahaya itu, niscaya dia jadi semakin mulia di hati kami, dan pasti kami akan mengikutinya." Lalu Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Nabi saw., dan Umar ibnul-Khaththab pun berkata, "Kalau Anda melakukannya, Anda akan dapat melihat apa yang sebetulnya mereka kehendaki."

Maka Allah menurunkan ayat,

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (QS. Al An’am : 53)

[Kata Ikrimah selanjutnya) Mereka adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim (maula Abu Hudzaifah), Shabih (maula Usaid), Ibnu Mas'ud, at-Miqdad bin Abdullah, Waqid bin Abdullah al-Hanzhali, dan lain-lain. Kemudian Umar meminta maaf atas ucapannya tersebut, sehingga turun ayat,

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am : 54)

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan lain-lain meriwayatkan dari Khabbab bahwaal-Agra bin Habis dan Uyainah bin Hashin datang. Mereka dapati Rasulullah sedang duduk bersama Shuhaib, Bilal, Ammar, dan Khabbab serta orang-orang mukmin yang lemah. Melihat mereka mengelilingi Nabi saw., kedua orang ini memandang rendah mereka. Lalu keduanya mendatangi beliau dan berbisik, "Kami ingin Anda sediakan waktu pertemuan khusus untuk kami, dengan begitu orang-orang
Arab mengetahui keutamaan kami. Sebab, delegasi-delegasi Arab mendatangimu, dan kami merasa malu kalau orang-orang Arab melihat kami berkumpul bersama para hamba sahaya ini. Jadi, kalau kami datang, tolong suruh mereka pergi. Kalau kami telah selesai, berkumpullah bersama mereka kalau engkau mau." Beliau menjawab, "Baik." Maka turunlah ayat, ”Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari..." Kemudian Dia menyebut al-Agra’ dan kawannya dengan firman-Nya, "Demikianlah, Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin)..."

Khabbab berkata, "Rasulullah ketika itu duduk bersama kami. Kalau beliau hendak pergi, beliau pun bangkit dan meninggalkan kami, sehingga turunlah firman-Nya,

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

Waṣbir nafsaka ma'allażīna yad'ụna rabbahum bil-gadāti wal-'asyiyyi yurīdụna waj-hahụ wa lā ta'du 'aināka 'an-hum, turīdu zīnatal-ḥayātid-dun-yā, wa lā tuṭi' man agfalnā qalbahụ 'an żikrinā wattaba'a hawāhu wa kāna amruhụ furuṭā

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. al Kahfi : 28)

Ibnu Katsir berkata, "Ini hadits ghariib, sebab ayat ini Surah Makkiyyah, sedangkan al-Agra dan Uyainah baru masuk Islam lama setelah Nabi saw. berhijrah."

Al-Faryaabi dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Maahaan bahwa beberapa orang mendatangi Nabi saw lalu berkata, "Sungguh kami telah melakukan dosa-dosa besar!" Tapi beliau tidak menjawab apa-apa. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am : 54)

Sumber : Jalaludin As Suyuthi, Asbabun Nuzul : Sebab Turunnya Ayat Al Quran, Gema Insani, hlm. 232-235.