Membahas mengenai seberapa pentingkah mental seseorang selama masa social distancing menghadapi Covid-19 ini, tentunya kita harus memahami dulu apa yang dimaksud dengan kesehatan mental. Definisi kesehatan mental seperti yang dijelaskan oleh World Health Organization (WHO), merupakan suatu kondisi dimana di dalamnya individu mengalami kesejahteraan, sehingga dirinya mampu untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, melakukan aktifitas yang produktif dan dapat berperan aktif dalam komunitas di kehidupannya. (Putri, dkk, 2015).
Sebagai individu tentunya perlu memiliki mental yang sehat agar dapat menjalani kehidupan yang sehat pula. Edukasi mengenai bagaimana cara membangun mental yang sehat perlu ditekankan sejak dini, untuk meminimalisir jumlah seseorang yang mengalami gangguan mental. Pada tahun 2002, 154 juta orang telah mengalami depresi ditambah 25 juta mengalami epilepsy dan sekitar 877.000 orang meninggal karena telah melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Bahkan diprediksi pula tahun 2015 negara-negara berkembang akan mengalami jumlah yang lebih tinggi dari dampak orang-orang yang mengalami gangguan mental, (Putri, dkk, 2015).
Itu merupakan data yang diperoleh 5 tahun yang lalu, sedangkan saat ini ditahun 2020 jumlah populasi manusia semakin bertambah, persaingan antar individu semakin ketat dan level kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat. Kasus bunuh diri yang dialami Public Figure, maupun orang biasa semakin sering terdengar di media sosial maupun media lainnya. Bahkan orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kejiwaan semakin marak pula ditemui dimasyarakat. Lalu bagaimana kenyataannya sekarang? Apakah orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental semakin berkurang atau justru malah semakin bertambah? Dan bagaimanakah pengaruh dari kebijakan pemerintah untuk melawan Covid-19 dengan social distancing ini, apakah orang-orang dapat terhindar dari positif Covid-19 tanpa mengalami gangguan mental? Atau justru kebijakan social distancing berperan banyak dalam menambah jumlah populasi manusia yang mengalami positif gangguan mental?
Pertama ditetapkannya kebijakan social distancing tentunya mendapat pro kontra dari masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat yang mendukung kebijakan ini untuk meminimalisir korban postif corona agar semakin berkurang, namun banyak juga yang tidak setuju dengan adanya kebijakan tersebut. Beberapa masyarakat yang tidak setuju dibebani pertanyaan-pertanyaan mengenai, bagaimana pekerjaan saya yang harus dilakukan diluar rumah? Sekolah saya bagaimana? Kuliah saya bagaiamana? Bimbingan dan skripsi apakabar? Tugas ko malah makin numpuk? Berarti tidak bisa bertemu teman-teman? dan lain sebagainya.
Overthinking yang dialami individu selama masa social distancing ini menjadi awal mula munculnya gangguan mental seseorang. Bahkan seseorang yang awalnya tidak memiliki potensi untuk mengalami gangguan kesehatan mental, malah menjadi korban gangguan mental dikarenakan mengalami culture shock akibat social distancing.
Amat disayangkan ketika seseorang malah menjadi positif stres atau depresi akibat dari kebijakan ini, karena kebijakan tersebut akan mengalami titik akhir setelah pandemi Covid-19 juga berakhir, sementara kehidupan manusia masih akan terus berlanjut. Maka dari itu menjadi hal yang penting menjaga kesehatan mental ketika masa social distancing.
Tentunya segala sesuatu harus diawali dengan pikiran positif dari diri seseorang sebelum membangun mental yang sehat, dan pikiran yang positif tersebut dibentuk melalui lingkungan yang positif pula karena pada konsep Person in Environment dijelaskan keberadaan individu dipengaruhi oleh lingkungannya, maka lingkungan yang positif akan menciptakan pikiran yang positif begitu juga sebaliknya lingkungan yang negatif akan menciptkan pikiran yang negatif.
Sejalan dengan penjelasan dalam (Putri, dkk, 2015) bahwa seseorang yang menderita gangguan kesehatan mental merupakan hasil dari gagalnya individu dalam beradaptasi dengan lingkungan yang ada disekitarnya.
Lantas bagaimana dengan masa social distancing ketika lingkungan tempat beradaptasi manusia saja terbatas menyebabkan beberapa pikiran seseorang juga terhambat oleh kondisi, dan menyebabkan timbulnya kejenuhan yang makin lama malah akan menimbulkan setres maupun depresi.
Pada saat kondisi seperti ini ada baiknya individu menciptakan sendiri kondisi lingkungan yang menyenangkan dan nyaman menurutnya. Mulailah dengan melakukan aktivitas dirumah yang comfortable seperti, melakukan hobi yang bisa dijangkau dilingkungan rumah misalnya memasak, membaca buku, menonton film, workout dirumah. Kembangkanlah dirimu dengan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan dilingkungan sekitarmu, bahkan saat-saat seperti social distancing inilah kamu bisa menemukan siapa dirimu sebenarnya dengan mulai melakukan filter dari hal apa yang kamu suka dan tidak sukai selama melakukan me time melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dirumah. Selain dengan melakukan kegiatan-kegiatan produktif selama dirumah, kalian juga bisa lebih dekat dengan orang-orang disekitar kalian selama social distancing yakni menjalin komunikasi yang lebih intensif dengan anggota keluarga kalian, hal tersebut dapat menjaga kesehatan mental kalian dengan saling sharing dan bertukar pikiran dalam kegiatan diskusi atau mengobrol ringan ketika dirumah.
Lalu bagaimana dengan tugas yang malah rasanya semakin menumpuk setelah kebijakan social distancing ini diberlakukan?
Memang benar tugas menjadi hal yang paling berat untuk dilakukan apalagi dalam masa panik Covid-19 seperti ini, pikiran menjadi tidak bisa fokus pada satu hal. Namun cobalah untuk menenangkan pikiran sebelum mengerjakan tugas, karena bila dipikirkan sebelum adanya kebijakan social distancing ini juga tugas dan pekerjaan dalam kehiduapan sehari-hari sudah biasa menumpuk, meskipun ada beberapa yang kuantitas tugasnya semakin besar. Namun cobalah untuk menyikapi segala sesuatu dengan mengambil sisi positifnya, setidaknya dengan mengerjakan tugas dirumah kita dapat lebih mencoba fokus dalam mengerjakan tugas tersebut. Dan dapat meningkatkan sisi kreatifitas kita dengan mengerjakan tugas sekaligus menciptakan suasana yang mendukung dalam mengerjakan tugas, seperti misalnya, mendekor ruangan kamar, membuat makanan atau minuman yang menarik dan dapat mendukung suasana ruangan.
Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bawa menjaga kesehatan mental selama masa social distancing merupakan hal yang penting, karena kehidupan setelah masa social distancing harus dihadapi dengan mental yang sehat juga. Bahkan sebelum masa Covid-19 berakhir pun setiap orang juga harus menjaga kesehatan mentalnya. Karena kesehatan mental seseorang akan berpengaruh pada kondisi kesehatan fisik orang tersebut. Berfikir positif dalam menjalankan keseharian bisa menjadi kunci utama dalam membangun mental yang sehat. Didukung dengan menjalankan berbagai aktivitas yang produktif terutama selama masa social distancing ini.
Mengutip kalimat, "happiness can found, even in the darkest of time, in one only remembers to turn on the light." dari J.K. Rowling yang berartikan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan bahkan dalam waktu yang paling kelam semisal dalam masa pandemi ini, dalam satu hanya ingat untuk menyalakan lampu/cahaya. Hanya saja untuk mendapatkannya tergantung diri kita apakah mau menyalakan atau mencari cahayanya atau tidak. Jadi meskipun dalam keadaan pandemi ini, kita selalu dapat menemukan kebahagiaan untuk kesehatan mental kita, asalkan kita mau untuk memulai membentuk atau mencari cahayanya. Karena kebahagiaan adalah tanggung jawab kita sebagaimana tanggung jawab kita terhadap diri kita.
Sumber Pustaka:
- Putri, A. W., Wibawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (Pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan keshatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2)