Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa makna yang terkandung di dalam Surat Ar Rahman?

Surah-ar-rahmaan|690x246

Surah Ar-Rahman adalah surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Apa makna yang terkandung di dalam Surat Ar Rahman?

19

Surat al-Rahman merupakan surah yang unik dan istimewa. Ini disebabkan terdapat ayat yang diulang-ulang hingga puluhan kali di dalamnya. Ayat tersebut berbunyi:

fabiyyi ala i rabbikuma tukadz- dziban

Pengulangan terebut menjadi istimewa karena pengulangan tersebut melawan tradisi dan kaidah-kaidah sastra jahili. Kaidah sastra jahili tidak membolehkan suatu gubahan narasi mengulang kalimat yang sama hingga tiga kali. Namun demikian, al-Qur’an, khususnya surah al-Rahman justru melawan arus (menabrak kaidah sastra jahili) dengan pengulangan satu ayat hingga puluhan kali.

M. Quraih Shihab mengutip al-Biqa’i berkata: kata ala’i adalah bentuk jamak dari ilyi atau alyi yakni nikmat. Penggunaan kata ini karena anugrah dan nikmat itu merupakan hal-hal yang khusus yang hanya di anugerahkan oleh yang maha agung. Kata ini mengesankan sinar dan kecemerlangan (at-tala’lu’) dan dengan melihatnya terasa ada kebajikan dan doa. Penyebutan nikmat-nikmat, penyodoran pertanyaan semacam di atas mengandung makna keagungan nikmat tersebut serta banyaknya manfaat yang diraih oleh penerimanya, dengan tujuan menggugah lebih bersyukur atau mengecamnya bila tidak bersyukur sambil mengisyaratkan bahwa sikapnya itu telah melampaui batas. Demikian juga pendapat Abu Hayyan, Ibn Qutaibah dan Muhammad Ali al-Shabuniy.

Mengenai pengulangan ayat ini, penulis akan mencoba mengupas satu persatu persatu setiap pengulangan dari ayat “fabiyyi ala i rabbikuma tukadz- dziban” yaitu ayat ke 13 sampai pengulangan terakhir ke 31 pada ayat ke-77. Sehingga pada akhirnya dapat diketahui rahasia dari pengulangan ayat tersebut, yang pengulangannya saling berkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain.

  1. Penafsiran pengulangan ayat pada surat al Rahman pada ayat 13

Ini adalah penyebutan ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pertama kali, sebelum di ulang sebanyak 31x. Ayat-ayat sebelum ini (ayat 1-12) menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman:

jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?

Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman : Jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 16

Setelah ayat-ayat yang lalu menyinggung penciptaan langit dan bumi, serta penyediaan sarana kehidupan makhluk dipermukaan bumi ini, maka ayat di atas menyebut secara khusus penciptaan kedua makhluk yang menjadi mitra bicara ayat-ayat ini.

Penelitian ilmiah menyangkut manusia membuktikan bahwa tubuh manusia mengandung semua unsur yang terdapat dalam bumi yang kita huni ini. Ada karbon, oksigen, hidrogen, oksigen, hidrogen, fosfor, azout, kalsium, potasium, sodium,klorin, magnesium, ferum, kuprum, kobalt, zin, silikon, aluminium, dll.

Sayyid Qutb berkomentar “setelah menyebut sekian banyak unsur manusia yang serupa dengan tanah, bahwa kendati demikian kita tidak wajar menyatakan bahwa inilah tafsir yang pasti dari teks al Qur’an”

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 18

Ayat di atas kembali menguraikan tentang nikmat penciptaan matahari yang di uraikan pada ayat 5 yang lalu.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 21

Setelah menyebut pemeliharaannya dan pengendalian-Nya menyangkut matahari dan (bulan), kini di uraikan tentang lautan. Para ulama berbeda pendapat dengan dua laut yang dimaksud di atas. Menurut Thahir Ibn ‘Asyur yuang dimaksud dengan al Bahrain adalah sungai Eufrat di Irak dan teluk Persia di pantai Basrah serta sekitar kerajaan Bahrain dewasa ini. Boleh juga menurutnya dua laut yang dikenal masyarakat Arab waktu itu yaitu laut merah di lokasi seperti Jeddah dan Yunbu’ da Saudi Arabia-dan laut Oman yakni sekitar Hadramaut, Aden juga beberapa kota lainnya di yaman.

Thabathai memahami kedua laut dimaksud adalah lautan yang memenuhi sekitar tiga perempat bumi ini serta sungai yang ditampung oleh tanah dan yang memancarkan mata air-mata air dan sungai-sungai besar yang kemudian mengalir ke lautan.

Ketika menafsirkan al Furqon [25]:53, Quraish Shihab antara lain mengemukakan bahwa ayat itu sebagaimana ayat ini –menguraikan salah satu nikmat Allah kepada hamba-hambanya, yaitu keadaan air asin yang merambah dari lautan atau batu-batuan di dekat pantai, namun ia tidak bercampur dengan air tawar yang merambah atau mengalir dari laut dari daratan. Ulama juga berbeda pendapat tentang maksud kata Barzakh pada ayat ini, walaupun mereka sepakat menyatakan bahwa dari segi bahasa kata Barzakh berarti pemisah. Seperti Sayyid quthub menyatakan “bahwa penghalang yan g dijadikan Allah itu, adalah posisi aliran sungai yang biasanya lebih tinggi dari permukaan air laut. Sementara pakar yang tekun dalam bidang kemukjizatan alQuran menjadikan ayat ini sebagai salah satu mukjizat ilmiah al Quran.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 23

Setelah ayat lalu menjelaskan keadaan dua laut yang tawar dan yang asin, ayat di atas menyebut sekelumit dari anugerah-Nya yang dapat diperoleh melalui kedua laut itu. Ulama-ulama masa lampau menduga bahwa mutiara dan marjan hanya ditemukan di laut, karena itu mereka mengalihkan kata keduanya pada ayat di atas dengan memahaminya dalam arti salah satunya.

Mereka misalnya memahami bentuk dual dengan memahami ayat tersebut sebagai kuasa Allah menjadikan mutiara dan marjan itu lahir dari percampuran air laut dan sungai atau denga turunnya hujan. Tetapi penelitian ilmiah terkhir membuktikan kebenaran ayat ini dalam penggunaan bentuk dual tersebut tanpa memahaminya berbelit-belit. Karena pada sungai-sungai terbukti ditemukan juga perhiasan antara lain mutiara walaupun berbeda jenisnya dengan yang ditemukan di laut. Karena itu pula pada sekian banyak upaya dewasa ini untuk mencari perhiasan mutiara di sungai-sungai yang dilakukan di Inggris, Skotlandia, Ceko, Slovakia, Jepang, dll.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 25

Setelah ayat lalu menjelaskan tentang nikmat-Nya yang terdapat di laut dan di sungai, atau yang dapat diperoleh di sana, ayat di atas menguraikan bahtera-bahtera yang berlayar di kedua lautan itu, yang tentu itu merupakan bagian dari anugerah-Nya. Bahwa bahtera-bahtera itu dinyatakan milik Allah walaupun yang membuatnya adalah manusia-bukan saja karena bahan pembuatnya adalah bahan mentah yang diciptakan Allah, atau karena Allah yang mengilhami manusia membuatnya, tetapi juga karena Allah yang menciptakan dan mengendalikan hukum-hukum alam yang memungkinkan bahtera-bahtera itu dapat berlayar di tengah lautan.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 28

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan kuasa Allah mencipta alam raya dan menyiapkan segala yang dibutuhkan makhluk bagi kelangsungan hidup mereka, dan secara khusus disebutkan yang berada di pentas bumi, maka ayat di atas mengingatkan bahwa itu semua tidak mengantar siapapun menjadi kekal di bumi ini.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 30

Salah satu bukti terkuat tentang kebinasaan adalah kebutuhan dan bukti- bukti kekekalan adalah ketidakbutuhan kepada apapun. Makhluk silih berganti hidup dan mati. Semua membutuhkan Tuhan untuk dapat melanjutkan hidupnya serta memenuhi kebutuhannya.

Ayat di atas menegaskan bahwa hanya Dia yang maha kekal itu. Demikian lebih kurang al Biqai menghubungkan ayat-ayat di atas dengan ayat-ayat yang telah lalu. Bersesesuaian dengan tema penafsirannya, Quraish Shihab sering mengikuti pendapat pendahulunya yaitu al Biqa’i yang dianggap paling berhasil dalam menafsirkan ayat al Quran dalam hal keserasiannya.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 32

Setelah ayat yang lalu menegaskan “kesibukan Tuhan” mengendalikan dan memenuhi kebutuhan semua makhlik di alam raya dalam kehidupan dunia ini, maka ayat di atas mengingatkan manusia dan jin bahwa nanti dikemudian hari nanti tidak demikian halnya.

  1. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 34

    Ayat yang lalu mengancam manusia dan jin bahwa Allah akan berkonsentrasi untuk melakukan perhitungan terhadap amal-amal mereka. Ayat di atas menegaskan bahwa mereka tidak bisa menghindar dari pertanggung jawaban serta akibat-akibatnya. Peringatan di atas merupakan salah satu bentuk nikmat Allah SWT, dan karena itu pertanyaan yang menggugah atau mengandung kecaman itu diulangi lagi.

  2. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 36

    Ayat yang lalu menantang manusia dan jin untuk menembus penjuru-penjuru langit bila mereka mampu. Ayat di atas menggambarkan apa yang akan terjadi bila ada juga diantara mereka yang mencoba melakukannya.

  3. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 38

    Setelah menegaskan ketidakmampuan manusia menghindar dari tanggung jawabnya pada hari kemudian nanti, ayat di atas menguraikan sekelumit dari apa yang terjadi saat kiamat dan bagaimana keadaan pendurhaka itu.

  4. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 40

    Ayat di atas tidak menjelaskan apa yang terjadi ketika langit menjadi merah bagaikan mawar. Berbeda-beda pendapat ulama tentang hal tersebut. Ada yang memunculkan dalam benaknya kalimat seperti apa yang dikemukakan. Menurut al Biqai, insan kamil yang dikemukakan di atas yakni : ”maka sungguh kamu akan melihat kengerian itu secara nyata”. Ada lagi yang berpendapat bahwa kalimat yang dimaksud adalah ayat berikutnya yakni pada waktu itu tidak ditanya tentang dosanya manusia dan tidak juga jin.

  5. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 42

    Ayat yang lalu menegaskan bahwa pendurhaka dari jenis manusia dan jin
    tidak ditanyai tentang dosa masing-masing. Ayat di atas menjelaskan kenapa demikian, sekaligus menjelaskan keadaan mereka dalam siksa. Penjelasan tentang apa yang akan terjadi merupakan peringatan bagi jin dan manusia.

  6. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 45

    Para pendurhaka yang di seret dan di lempar ke neraka itu, sesekali berupaya menghibur diri. Ketika mereka merasakan betapa panasnya neraka, darti kejauhan mereka melihat air maka mereka berkeliling berbolak-balik berkali-kali diantaranya yakni antara neraka dan di antara air yang mereka lihat dari kejauhan itu, dan yang kemudian ternyata air tersebut adalah air yang mendidih yang memuncak panasnya. Karena itu mereka meninggalkan dan kembali ke neraka. Demikian dari saat ke saat terulang peristiwa itu.

  7. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 47

    Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa yang dihadapi oleh para pendurhaka, maka sebagaimana lazimnya al Quran mendmpingkan sesuatu dengan lawannya atau yang serasi dengan ayat-ayat di atas dan berikutnya berbicara tentang kenikmatan yang diperoleh orang-orang yang taat. Ayat di atas menyatakan: Dan bagi siapa yang takut atas kuasa dan keagungan Tuhannya sehingga mendorong untuk beramal sholeh, maka tersedia untuknya duia surga yang keduanya sangat indah.

  8. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 49

    Kedua surga itu mempunyai dahan-dahan yang sangat rimbun dan mempunyai beraneka ragam buah-buahan lagi sangat menyenangkan.

  9. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 51

    Di dalam keduanya terdapat dua buah mata air yang mengalir

  10. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 53

    Di dalam keduanya terdapat segala buah-buahan yang berpasangan.

  11. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 55

    Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan keadaan surga, ayat di atas menjelaskan penghuninya.

  12. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 57

  13. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 59

    Setelah ayat-ayat di atas menjelaskan keadaan pembaringan dan tempat- tempat penghuni surga, kini ayat di atas menjelaskan keadaan yang mendampingi di sana.

  14. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 61

    Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan kenikmatan yang akan diraih oleh penghuni surga, uraian itu di akhiri dengan menyatakan sebab anugerah besar itu.

  15. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 63

    Setelah kelompok yang lalu menguraikan keistimewaan salah satu dari tingkat atau keadaan satu macam surga, kini disebut yang lain.

  16. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 65

    Semantara pakar berpendapat bahwa yang terbanyak pada surga yang dibicarakn disini adalah tumbuhan dan kembang-kembang yang terhampar di taman-tamannya, sedang pada surga yang dibicarakan oleh kelompok ayat-ayat yang lalu yang terbanyak di sana adalah pepohonan yang rimbun disertai aneka macam buah-buahan.

  17. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 67

    Ayat ini menyebutkan salah satu bentuk kenikmatan yang ada di surga yang lain tersebut.

  18. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 69

    Sebelum ayat ini disebutkan dua nama buah secara khusus yakni kurma dan delima, menurut tim penyusun tafsir al mumtahanah karena kedua buah itu memang mempunyai keistimewaan yang kelak dibuktikan oleh pengetahuan modern. Secara kimiawi, buah kurma mempunyai kandungan gula yang tinggi, sekitar 75%. Kurma merupakan buah yang mudah terbakar sebelum ayat ini disebutkan dua nama buah secar

  19. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 71

    Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Setelah melukiskan sekelumit darin keadaan surga dan kenikmatannya, ayat di atas melukiskan pasangan- pasangan penghuninya.

  20. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 73

    Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Mereka itu bermata sangat indah, hanya berada dalam kemah-kemah yakni istana-istana surgawi kediaman mereka.

  21. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 75

    Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari?mereka semua adalah perawan yang tidak pernah disentuh oleh manusia apapun dan kapanpun sebelum mereka yakni penghuni surga itu yang menjadi pasangan mereka dan tidak pernah pula oleh jin.

  22. Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 77

    Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Mereka duduk bertelekan dengan santai pada bantal-bantal yang berwarna hijau dan permadani-permadani yang indah.

Tujuan pengulangan ayat dalam tafsir al Misbah

Surat al rahman yang juga disebut sebagi pengantin al Quran (arusy al qur’an) di dalamnya ada ayat-ayat yang di ulang 31x, maka nikmat Tuhan kamu berdua (wahai manusia dan jin) yang manakah yang kamu berdua ingkari)

Dalam konteks pembicaraan tentang sistematika al Quran tidak jarang pula dikemukakan tentang kritik adanya pengulangan dalam ayat-ayat al Quran. Adanya pengulangan suatu ayat tidak lepas dari adanya sebab. Dalam tafsir al misbah disebutkan bahwa pengulangan itu terjadi (Baik ayat atau kisah) disebabkan hal-hal sebagai berikut :

  • Pertama : bahwa al Quran adalah suatu kitab dakwah, bukan suatu kitab yang di susun sebagaimana kitab ilmiah atau undang-undang. Dalam konteks dakwah tentu perlu adanya suatu pengulangan dan hal itu tidak bisa di hindari. Para audiens atau konsumen yang beragam tentu dengan tingkat pemahaman yang berbeda pula. Al quran sebagai kitab dakwah berusaha mengajak dan melayani semua pihak, karena itu terjadi apa yang dinamai pengulangan.

  • Kedua: adanya pengulangan redaksi yang sama, tidak sepenuhnya informasi yang diberikan sama, terlebih lagi pesan-pesan yang tersirat di dalamnya. Jadi inilah antara lain jawaban yang dapat diberikan alasan terjadinya pengulangan dalam al Quran. Status dan sistematika al Quran yang tidak sama dengan sebuah karya ilmiah, berakibat “ukuran” baik dan buruk terhadap sistematika al Quran berbeda pula.
    Sedangkan penafsiran pengulangan ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban setelah ayat-ayat yang lalu menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman : jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?

Pendapat ibn Hayyan, Ibn Qutaibah dan Muhammad Ali al-shabuniy : “tujuan pengulangan tersebut untuk tidak melalaikan kenikmatan yang diberikan Allah, untuk menggugah sekaligus mencela bagi yang mengingkarinya, mengingatkan manusia dan jin agar selalu bersyukur dan memikirkan kebesaran Allah.

Bila di perhatikan penafsiran ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban, dapat dilihat bahwa :

  1. Selalu merujuk kepada penyebutan nikmat-nikmat yang telah disebutkan sebelum lafadz tersebut, dan ini terjadi mulai pengulangan ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 13-77 dan terjadi pengulangan 31 kali

  2. Di tiap-tiap pengulangan antara ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban, di sisipkan penyebutan satu atau dua macam kenikmatan Allah yang telah di anugerahkan kepada manusia,

  3. Macam kenikmatan yang telah di anugerahkan Allah kepada manusia, mulai ayat 13-77, dapat di bedakan menjadi 3 macam yaitu :

    • Banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia selama hidup di dunia ( pengulangan ayat ke 1-8 ),

    • Peringatan akan datangnya kiamat serta sebagian tandanya (pengulangan ayat ke 9-14), karena tidak selamanya kenikmatan yang telah diberikan Allah terhadap manusia di dunia ini akan membawa manusia kepada kekekalan,

    • Balasan yang akan di terima manusia baik di neraka dengan segala kepedihannya (pengulangan ayat ke 15) dan di surga dengan segala kenikmatannya (pengulangan ayat yang ke 16-31);

  4. Beberapa kenikmatan yang di dunia penafsiran dalam tafsir al misbah bersifat ilmiah, misalnya tentang unsur yang ada pada diri manusia adalah semua unsur yang ada di alam dan juga tentang nikmat yang berasal dari sungai ada mutiara dan kerang serta nikmat kurma dan zaitun yang ternyata juga teruji secara medis banyak manfaatnya bagi tubuh.

Referensi :

  • Sayyid Qutb, Tafsir Dzilal al Quran, J:IV (Libanon : Dar al fikr)
  • Quraish Shihab, Tafsir al Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002)

Surat Ar-Raḥmaan adalah salah satu surat dari 114 surat dalam al- Qur’an. Tanpa mengesampingkan surat lain dalam al-Qur’an, surat ini banyak menyita perhatian kebanyakan orang. Surat ini memiliki kata yang begitu indah dan mengalir berirama. Tanpa di sadari bersama surat ini memiliki daya pikat dalam hal perasaan yang tidak bersedih seketika itu air mata menetes satu demi satu saat kita membacanya.

Ciri khas surah Ar-Raḥmaan adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadżi bān (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Allah memberi peringatan kepada kita berulang bahwa Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan? Melalui surat ini Allah seolah memberi sinyal kepada kita akan sifat kita yang Pelupa, Kufur nikmat, dan tidak mau berfikir

Jadi di dalam surah ini ada pengulangan ayat yang disetiap pengulangannya memiliki kandungan arti yang berbeda, meskipun secara kalimat tidak berbeda. Meskipun demikian surah ini paling banyak dibaca dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Surat ini juga membimbing manusia agar senantiasa merasa rendah diri terhadap segala sesuatu dan tidak pantas untuk menyombongkan yang dia punya.

Asbāb an-nuzūl

Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam kitabul idlamah yang bersumber dari Athak, bahwa Abu Bakar Ash-Siddiq menerangkan hari kiamat, timbangan, sorga dan neraka, maka ia berkata: “sungguh aku ingin menjadi hijau-hijauan yang dapat dimakan binatang, sehingga tidak diciptakan oleh Allah seperti keadaannya”.

Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibni Syaudzab yang berkata: bahwa turunnya ayat ini (juz 27, 55/ Ar Rāhman: 46) berkenaan dengan Abi Bakar Ash Shiddiq.

Asbab an-nuzul dari surat Al- Raḥmān yakni menjawab pertanyaan manusia terhadap kehidupan setelah dunia. Di jelaskan adanya sorga dan neraka sebagai tempat yang hakiki serta pertimbangan amal baik buruk dia dunia sebagai tujuan akhir dari sebuah kehidupan. Dengan demikian manusia lebih mengingat akan kematian yang bisa datang kapan saja. Manusia adalah mahluk paling sempurna diantara mahluk lain, sehingga sangat tidak baik bila terlalu bernafsu duniawi meninggalkan akhiratnya yang jelas-jelas ada.

Pandangan Mufasir


Surah Al-Raḥmān terdiri atas 78 ayat, termasuk golongan surah- surah madinah, diturunkan setelah surah ar-Radu’ . Di namakan Al- Raḥmān karena diambil dari kata Al-Raḥmān yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Al-Raḥmān merupakan salah satu nama Allah yang terdapat dalam asmaul husna . Sebagian surat ini, menerangkan kemurahan Allah kepada hambaNya, yakni dengan memberikan kenikmatan-kenikmatan yang tidak terhingga banyaknya baik di dunia maupun di akhirat.

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy menyebutkan bahwa Al Hasan, Ibnu Urwah, Ibnu Zubair, Atha‟ dan Jabir yang berpendapat bahwasanya surah ini juga turun di Makkah. Sedangkan menurut pendapat Ibnu Mas‟ud dan Muqatil, surat ini turun di Madinah, dan menurut mereka inilah permulaan Al-Mufashal. Selain itu menurut Ibnu Aqil bahwa pendapat yang pertama lebih shahih mengingat riwayat Urwah Ibnu Zubair yang menerangkan bahwa orang-orang yang mula- mula membaca al-Qur’an dengan nyaring di Makkah ialah Ibnu Mas’ud selain dari Nabi sendiri.3 Ada hadits yang menerangkan bahwa Nabi pernah membaca surah ar-Rāhman, di mana sekelompok jin datang mendengar bacaan Nabi itu. Salah satu hadits itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Isa at-Tirmidzi dari al-Walid.

Ini adalah satu-satunya surat yang dimulai, sesudah basmalah, dengan nama/sifat Allah swt., yakni Al-Raḥmān . Surat ini dikenal juga dengan nama “Arus al-Qur‟an” (pengantin al-Qur'an) .

Nabi saw. bersabda:

“Segala sesuatu mempunyai pengantinnya dan penganntinya al-Qur’an adalah surah ar Rāhman ” (HR. Al-Baihaqi).

Penamaan itu karena indahnya surah ini dan didalamnya terulang tiga puluh satu kali ayat “Fa biayyi Ala-i Rabbikuma Tukadżiban/ nikmat yang manakah, di antara nikmat-nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua, yang kamu berdua dustakan?” Kalimat berulang-ulang ini diibaratkan dengan aneka hiasan yang dipakai oleh pengantin.

Sebagian besar surah ini menerangkan sifat-sifat pemurah Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya. Diantara isinya adalah semua makhluk akan hancur kecuali Allah swt, seluruh alam merupakan nikmat Allah swt. terhadap umat manusia, manusia diciptakan dari tanah dan jin dari api, kewajiban mengukur, menakar, menimbang dengan adil, manusia dan jin tidak bisa melepaskan diri dari Allah swt, banyak dari umat manusia yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan.

Tema utama surah ini adalah uraian tentang nikmat-nikmat Allah Swt. Bermula dari nikmatNya yang terbesar dan teragung, yaitu al-Qur’an. Ia mengisyaratkan tentang ciptaan Allah Swt, dengan sekian banyak bagian-bagiannya di langit dan dibumi, darat, dan laut, manusia dan jin, dimana Allah Swt mengatur semua itu dalam satu pengaturan yang bermanfaat bagi manusia dan jin.

Sedikitnya ada empat kelompok besar kenikmatan, yaitu :

  • Pertama, nikmat duniawi dalam bentuk penyiapan kebutuhan fisik dan mental spiritual mahluk dalam kehidupan dunianya. Ini diselingi dengan delapan kali pertanyaan yang bertujuan menggugah, yaitu; *fa biayyi ala(i) rabbikuma tukadżiban.

  • Kedua, peringatan kepada manusia dan jin agar mereka mengindahkan ketetapan dan petunjukNya. Ini diselingi dengan tujuh kali *fa biayyi ala(i) rabbikuma tukadżiban.

  • Ketiga, uraian tentang surga pertama dan kenikmatannya yang disiapkan bagi manusia dan jin yang patuh. Ini diselingi juga dengan delapan kali *fa biayyi ala(i) rabbikuma tukadżiban.

  • Keempat, uraian tentang surga yang kedua dan ini diselangi lagi dengan delapan kali fa biayyi ala(i) rabbikuma tukadżiban.

Sayyid Quthb dengan bahasanya, berpendapat bahwa surah ini merupakan pemberitahuan ihwal hamparan alam semesta dan pemberitahuan aneka nikmat Allah swt yang cemerlang lagi nyata, keajaiban makhluk-Nya, limpahan nikmatNya, pengaturan-Nya atas alam nyata ini berikut segala isinya, dan pada pengarahan semua makhluk agar menuju dzat-Nya Yang Mulia. Surah ini merupakan pembuktian umum ihwal seluruh alam nyata kepada dua makhluk, yaitu jin dan manusia, yang disapa oleh surah secara sama. Kedua makhluk ini tinggal di pelataran alam, dan disaksikan oleh segala yang maujud.

Surah ini juga menantang keduanya secara berulang-ulang, kalau-kalau keduanya mampu mendustakan aneka nikmat Allah setelah nikmat tersebut diterangkan secara rinci. Dia telah menjadikan seluruh alam semesta ini sebagai pelataran nikmat dan hamparan akhirat.

Sementara ulama memperoleh kesan bahwa siapa yang mengakui dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt yang terhampat di bumi dan di langit, sebagaimana diuraikan oleh kelompok pertama surat ini, maka dia akan terhindar dari pintu-pintu neraka yang jumlahnya tujuh, sejalan dengan penyebutan tentang peringatanNya. Selanjutnya yang mensyukuri itu akan dipersilahkan masuk melalui pintu-pintu surga yang berjumlah delapan buah, baik pada surga yang disebut pertama, maupun surga yang diuraikan kelompok ayat-ayat terakhir yang juga masing- masing menyebut sebanyak delapan kali pertanyaan menggugah.

Perbedaan antara Al-Raḥmān dengan surat-surat lain yang memuat di dalamnya ayat-ayat tentang nikmat Allah adalah semua ayatnya mulai dari pertama sampai akhir membicarakan nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan bukan saja kepada manusia, akan tetapi juga dilimpahkan pada jin. Sedangkan surat lain yang memuat nikmat Allah di dalamnua, pembahasannya hanya sebatas sub pembahasan dalam suatu surat saja. Oleh karena semua ayat yang diterapkan dalam syi’ir orang terdapat suatu pemisah yang di ulang.

Tujuan utama surat ini adalah mengugah hati manusia dan jin agar mensyukuri nikmat Allah Swt, dan berusaha meraih aneka nikmatNya yang tercurah itu. Dalam masyarakat umumnya terbisa membaca surat ini bersamaan dengan surat al-Wāqi‘ah, karena menurut mereka surah Al-Raḥmān memilik makna yang istimewa sebab pengulangan ayat terjadi sehingga lebih sering mengingat segala kesempurnaan ciptaanNya. Salah satu aspek terpokok dalam surat Al-Raḥmān adalah anjuran untuk bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diterima.

Referensi :

  • Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Karya Toha Putra, 1971)
  • Ahsin Wijaya, Kamus Ilmu Al-Qur‟an , (Jakarta: Amzah, 2008)
  • M. Quraish Shihab, Al-Lubab Makna, Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur'an (Tangerang: Lentera Hati, 2012)
  • Sayyid Quthb, terjmh. As’ad Yasin, dkk., Tafsir Fizhilalil Qur’an , (Jakarta: Gema Insani, 2010), Jilid 11.