Surat al-Rahman merupakan surah yang unik dan istimewa. Ini disebabkan terdapat ayat yang diulang-ulang hingga puluhan kali di dalamnya. Ayat tersebut berbunyi:
fabiyyi ala i rabbikuma tukadz- dziban
Pengulangan terebut menjadi istimewa karena pengulangan tersebut melawan tradisi dan kaidah-kaidah sastra jahili. Kaidah sastra jahili tidak membolehkan suatu gubahan narasi mengulang kalimat yang sama hingga tiga kali. Namun demikian, al-Qur’an, khususnya surah al-Rahman justru melawan arus (menabrak kaidah sastra jahili) dengan pengulangan satu ayat hingga puluhan kali.
M. Quraih Shihab mengutip al-Biqa’i berkata: kata ala’i adalah bentuk jamak dari ilyi atau alyi yakni nikmat. Penggunaan kata ini karena anugrah dan nikmat itu merupakan hal-hal yang khusus yang hanya di anugerahkan oleh yang maha agung. Kata ini mengesankan sinar dan kecemerlangan (at-tala’lu’) dan dengan melihatnya terasa ada kebajikan dan doa. Penyebutan nikmat-nikmat, penyodoran pertanyaan semacam di atas mengandung makna keagungan nikmat tersebut serta banyaknya manfaat yang diraih oleh penerimanya, dengan tujuan menggugah lebih bersyukur atau mengecamnya bila tidak bersyukur sambil mengisyaratkan bahwa sikapnya itu telah melampaui batas. Demikian juga pendapat Abu Hayyan, Ibn Qutaibah dan Muhammad Ali al-Shabuniy.
Mengenai pengulangan ayat ini, penulis akan mencoba mengupas satu persatu persatu setiap pengulangan dari ayat “fabiyyi ala i rabbikuma tukadz- dziban” yaitu ayat ke 13 sampai pengulangan terakhir ke 31 pada ayat ke-77. Sehingga pada akhirnya dapat diketahui rahasia dari pengulangan ayat tersebut, yang pengulangannya saling berkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain.
- Penafsiran pengulangan ayat pada surat al Rahman pada ayat 13
Ini adalah penyebutan ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pertama kali, sebelum di ulang sebanyak 31x. Ayat-ayat sebelum ini (ayat 1-12) menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman:
jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?
Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman : Jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 16
Setelah ayat-ayat yang lalu menyinggung penciptaan langit dan bumi, serta penyediaan sarana kehidupan makhluk dipermukaan bumi ini, maka ayat di atas menyebut secara khusus penciptaan kedua makhluk yang menjadi mitra bicara ayat-ayat ini.
Penelitian ilmiah menyangkut manusia membuktikan bahwa tubuh manusia mengandung semua unsur yang terdapat dalam bumi yang kita huni ini. Ada karbon, oksigen, hidrogen, oksigen, hidrogen, fosfor, azout, kalsium, potasium, sodium,klorin, magnesium, ferum, kuprum, kobalt, zin, silikon, aluminium, dll.
Sayyid Qutb berkomentar “setelah menyebut sekian banyak unsur manusia yang serupa dengan tanah, bahwa kendati demikian kita tidak wajar menyatakan bahwa inilah tafsir yang pasti dari teks al Qur’an”
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 18
Ayat di atas kembali menguraikan tentang nikmat penciptaan matahari yang di uraikan pada ayat 5 yang lalu.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 21
Setelah menyebut pemeliharaannya dan pengendalian-Nya menyangkut matahari dan (bulan), kini di uraikan tentang lautan. Para ulama berbeda pendapat dengan dua laut yang dimaksud di atas. Menurut Thahir Ibn ‘Asyur yuang dimaksud dengan al Bahrain adalah sungai Eufrat di Irak dan teluk Persia di pantai Basrah serta sekitar kerajaan Bahrain dewasa ini. Boleh juga menurutnya dua laut yang dikenal masyarakat Arab waktu itu yaitu laut merah di lokasi seperti Jeddah dan Yunbu’ da Saudi Arabia-dan laut Oman yakni sekitar Hadramaut, Aden juga beberapa kota lainnya di yaman.
Thabathai memahami kedua laut dimaksud adalah lautan yang memenuhi sekitar tiga perempat bumi ini serta sungai yang ditampung oleh tanah dan yang memancarkan mata air-mata air dan sungai-sungai besar yang kemudian mengalir ke lautan.
Ketika menafsirkan al Furqon [25]:53, Quraish Shihab antara lain mengemukakan bahwa ayat itu sebagaimana ayat ini –menguraikan salah satu nikmat Allah kepada hamba-hambanya, yaitu keadaan air asin yang merambah dari lautan atau batu-batuan di dekat pantai, namun ia tidak bercampur dengan air tawar yang merambah atau mengalir dari laut dari daratan. Ulama juga berbeda pendapat tentang maksud kata Barzakh pada ayat ini, walaupun mereka sepakat menyatakan bahwa dari segi bahasa kata Barzakh berarti pemisah. Seperti Sayyid quthub menyatakan “bahwa penghalang yan g dijadikan Allah itu, adalah posisi aliran sungai yang biasanya lebih tinggi dari permukaan air laut. Sementara pakar yang tekun dalam bidang kemukjizatan alQuran menjadikan ayat ini sebagai salah satu mukjizat ilmiah al Quran.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 23
Setelah ayat lalu menjelaskan keadaan dua laut yang tawar dan yang asin, ayat di atas menyebut sekelumit dari anugerah-Nya yang dapat diperoleh melalui kedua laut itu. Ulama-ulama masa lampau menduga bahwa mutiara dan marjan hanya ditemukan di laut, karena itu mereka mengalihkan kata keduanya pada ayat di atas dengan memahaminya dalam arti salah satunya.
Mereka misalnya memahami bentuk dual dengan memahami ayat tersebut sebagai kuasa Allah menjadikan mutiara dan marjan itu lahir dari percampuran air laut dan sungai atau denga turunnya hujan. Tetapi penelitian ilmiah terkhir membuktikan kebenaran ayat ini dalam penggunaan bentuk dual tersebut tanpa memahaminya berbelit-belit. Karena pada sungai-sungai terbukti ditemukan juga perhiasan antara lain mutiara walaupun berbeda jenisnya dengan yang ditemukan di laut. Karena itu pula pada sekian banyak upaya dewasa ini untuk mencari perhiasan mutiara di sungai-sungai yang dilakukan di Inggris, Skotlandia, Ceko, Slovakia, Jepang, dll.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 25
Setelah ayat lalu menjelaskan tentang nikmat-Nya yang terdapat di laut dan di sungai, atau yang dapat diperoleh di sana, ayat di atas menguraikan bahtera-bahtera yang berlayar di kedua lautan itu, yang tentu itu merupakan bagian dari anugerah-Nya. Bahwa bahtera-bahtera itu dinyatakan milik Allah walaupun yang membuatnya adalah manusia-bukan saja karena bahan pembuatnya adalah bahan mentah yang diciptakan Allah, atau karena Allah yang mengilhami manusia membuatnya, tetapi juga karena Allah yang menciptakan dan mengendalikan hukum-hukum alam yang memungkinkan bahtera-bahtera itu dapat berlayar di tengah lautan.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 28
Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan kuasa Allah mencipta alam raya dan menyiapkan segala yang dibutuhkan makhluk bagi kelangsungan hidup mereka, dan secara khusus disebutkan yang berada di pentas bumi, maka ayat di atas mengingatkan bahwa itu semua tidak mengantar siapapun menjadi kekal di bumi ini.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 30
Salah satu bukti terkuat tentang kebinasaan adalah kebutuhan dan bukti- bukti kekekalan adalah ketidakbutuhan kepada apapun. Makhluk silih berganti hidup dan mati. Semua membutuhkan Tuhan untuk dapat melanjutkan hidupnya serta memenuhi kebutuhannya.
Ayat di atas menegaskan bahwa hanya Dia yang maha kekal itu. Demikian lebih kurang al Biqai menghubungkan ayat-ayat di atas dengan ayat-ayat yang telah lalu. Bersesesuaian dengan tema penafsirannya, Quraish Shihab sering mengikuti pendapat pendahulunya yaitu al Biqa’i yang dianggap paling berhasil dalam menafsirkan ayat al Quran dalam hal keserasiannya.
- Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 32
Setelah ayat yang lalu menegaskan “kesibukan Tuhan” mengendalikan dan memenuhi kebutuhan semua makhlik di alam raya dalam kehidupan dunia ini, maka ayat di atas mengingatkan manusia dan jin bahwa nanti dikemudian hari nanti tidak demikian halnya.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 34
Ayat yang lalu mengancam manusia dan jin bahwa Allah akan berkonsentrasi untuk melakukan perhitungan terhadap amal-amal mereka. Ayat di atas menegaskan bahwa mereka tidak bisa menghindar dari pertanggung jawaban serta akibat-akibatnya. Peringatan di atas merupakan salah satu bentuk nikmat Allah SWT, dan karena itu pertanyaan yang menggugah atau mengandung kecaman itu diulangi lagi.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 36
Ayat yang lalu menantang manusia dan jin untuk menembus penjuru-penjuru langit bila mereka mampu. Ayat di atas menggambarkan apa yang akan terjadi bila ada juga diantara mereka yang mencoba melakukannya.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 38
Setelah menegaskan ketidakmampuan manusia menghindar dari tanggung jawabnya pada hari kemudian nanti, ayat di atas menguraikan sekelumit dari apa yang terjadi saat kiamat dan bagaimana keadaan pendurhaka itu.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 40
Ayat di atas tidak menjelaskan apa yang terjadi ketika langit menjadi merah bagaikan mawar. Berbeda-beda pendapat ulama tentang hal tersebut. Ada yang memunculkan dalam benaknya kalimat seperti apa yang dikemukakan. Menurut al Biqai, insan kamil yang dikemukakan di atas yakni : ”maka sungguh kamu akan melihat kengerian itu secara nyata”. Ada lagi yang berpendapat bahwa kalimat yang dimaksud adalah ayat berikutnya yakni pada waktu itu tidak ditanya tentang dosanya manusia dan tidak juga jin.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 42
Ayat yang lalu menegaskan bahwa pendurhaka dari jenis manusia dan jin
tidak ditanyai tentang dosa masing-masing. Ayat di atas menjelaskan kenapa demikian, sekaligus menjelaskan keadaan mereka dalam siksa. Penjelasan tentang apa yang akan terjadi merupakan peringatan bagi jin dan manusia.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 45
Para pendurhaka yang di seret dan di lempar ke neraka itu, sesekali berupaya menghibur diri. Ketika mereka merasakan betapa panasnya neraka, darti kejauhan mereka melihat air maka mereka berkeliling berbolak-balik berkali-kali diantaranya yakni antara neraka dan di antara air yang mereka lihat dari kejauhan itu, dan yang kemudian ternyata air tersebut adalah air yang mendidih yang memuncak panasnya. Karena itu mereka meninggalkan dan kembali ke neraka. Demikian dari saat ke saat terulang peristiwa itu.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 47
Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa yang dihadapi oleh para pendurhaka, maka sebagaimana lazimnya al Quran mendmpingkan sesuatu dengan lawannya atau yang serasi dengan ayat-ayat di atas dan berikutnya berbicara tentang kenikmatan yang diperoleh orang-orang yang taat. Ayat di atas menyatakan: Dan bagi siapa yang takut atas kuasa dan keagungan Tuhannya sehingga mendorong untuk beramal sholeh, maka tersedia untuknya duia surga yang keduanya sangat indah.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 49
Kedua surga itu mempunyai dahan-dahan yang sangat rimbun dan mempunyai beraneka ragam buah-buahan lagi sangat menyenangkan.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 51
Di dalam keduanya terdapat dua buah mata air yang mengalir
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 53
Di dalam keduanya terdapat segala buah-buahan yang berpasangan.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 55
Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan keadaan surga, ayat di atas menjelaskan penghuninya.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 57
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 59
Setelah ayat-ayat di atas menjelaskan keadaan pembaringan dan tempat- tempat penghuni surga, kini ayat di atas menjelaskan keadaan yang mendampingi di sana.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 61
Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan kenikmatan yang akan diraih oleh penghuni surga, uraian itu di akhiri dengan menyatakan sebab anugerah besar itu.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 63
Setelah kelompok yang lalu menguraikan keistimewaan salah satu dari tingkat atau keadaan satu macam surga, kini disebut yang lain.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 65
Semantara pakar berpendapat bahwa yang terbanyak pada surga yang dibicarakn disini adalah tumbuhan dan kembang-kembang yang terhampar di taman-tamannya, sedang pada surga yang dibicarakan oleh kelompok ayat-ayat yang lalu yang terbanyak di sana adalah pepohonan yang rimbun disertai aneka macam buah-buahan.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 67
Ayat ini menyebutkan salah satu bentuk kenikmatan yang ada di surga yang lain tersebut.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 69
Sebelum ayat ini disebutkan dua nama buah secara khusus yakni kurma dan delima, menurut tim penyusun tafsir al mumtahanah karena kedua buah itu memang mempunyai keistimewaan yang kelak dibuktikan oleh pengetahuan modern. Secara kimiawi, buah kurma mempunyai kandungan gula yang tinggi, sekitar 75%. Kurma merupakan buah yang mudah terbakar sebelum ayat ini disebutkan dua nama buah secar
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 71
Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Setelah melukiskan sekelumit darin keadaan surga dan kenikmatannya, ayat di atas melukiskan pasangan- pasangan penghuninya.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 73
Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Mereka itu bermata sangat indah, hanya berada dalam kemah-kemah yakni istana-istana surgawi kediaman mereka.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 75
Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari?mereka semua adalah perawan yang tidak pernah disentuh oleh manusia apapun dan kapanpun sebelum mereka yakni penghuni surga itu yang menjadi pasangan mereka dan tidak pernah pula oleh jin.
-
Penafsiran ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 77
Maka nikmat Tuhan pemeliahara kamu berdua wahai manusia dan jin yang manakah yang kamu berdua ingkari? Mereka duduk bertelekan dengan santai pada bantal-bantal yang berwarna hijau dan permadani-permadani yang indah.
Tujuan pengulangan ayat dalam tafsir al Misbah
Surat al rahman yang juga disebut sebagi pengantin al Quran (arusy al qur’an) di dalamnya ada ayat-ayat yang di ulang 31x, maka nikmat Tuhan kamu berdua (wahai manusia dan jin) yang manakah yang kamu berdua ingkari)
Dalam konteks pembicaraan tentang sistematika al Quran tidak jarang pula dikemukakan tentang kritik adanya pengulangan dalam ayat-ayat al Quran. Adanya pengulangan suatu ayat tidak lepas dari adanya sebab. Dalam tafsir al misbah disebutkan bahwa pengulangan itu terjadi (Baik ayat atau kisah) disebabkan hal-hal sebagai berikut :
-
Pertama : bahwa al Quran adalah suatu kitab dakwah, bukan suatu kitab yang di susun sebagaimana kitab ilmiah atau undang-undang. Dalam konteks dakwah tentu perlu adanya suatu pengulangan dan hal itu tidak bisa di hindari. Para audiens atau konsumen yang beragam tentu dengan tingkat pemahaman yang berbeda pula. Al quran sebagai kitab dakwah berusaha mengajak dan melayani semua pihak, karena itu terjadi apa yang dinamai pengulangan.
-
Kedua: adanya pengulangan redaksi yang sama, tidak sepenuhnya informasi yang diberikan sama, terlebih lagi pesan-pesan yang tersirat di dalamnya. Jadi inilah antara lain jawaban yang dapat diberikan alasan terjadinya pengulangan dalam al Quran. Status dan sistematika al Quran yang tidak sama dengan sebuah karya ilmiah, berakibat “ukuran” baik dan buruk terhadap sistematika al Quran berbeda pula.
Sedangkan penafsiran pengulangan ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban setelah ayat-ayat yang lalu menyebut sekian banyak nikmat Allah, maka dengan nada mengecam atau menggugah Allah berfirman : jika demikian itu besar dan banyaknya nikmat-nikmat Allah, maka nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua wahai manusia dan jin manakah yang kamu berdua ingkari? Apakah nikmat-nikmat yang disebut di atas atau selainnya?
Pendapat ibn Hayyan, Ibn Qutaibah dan Muhammad Ali al-shabuniy : “tujuan pengulangan tersebut untuk tidak melalaikan kenikmatan yang diberikan Allah, untuk menggugah sekaligus mencela bagi yang mengingkarinya, mengingatkan manusia dan jin agar selalu bersyukur dan memikirkan kebesaran Allah.
Bila di perhatikan penafsiran ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban, dapat dilihat bahwa :
-
Selalu merujuk kepada penyebutan nikmat-nikmat yang telah disebutkan sebelum lafadz tersebut, dan ini terjadi mulai pengulangan ayat fabiyyi ala i rabbikuma tukadz-dziban pada ayat 13-77 dan terjadi pengulangan 31 kali
-
Di tiap-tiap pengulangan antara ayat fabiayyi ala i rabbikuma tukadz-dziban, di sisipkan penyebutan satu atau dua macam kenikmatan Allah yang telah di anugerahkan kepada manusia,
-
Macam kenikmatan yang telah di anugerahkan Allah kepada manusia, mulai ayat 13-77, dapat di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
-
Banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia selama hidup di dunia ( pengulangan ayat ke 1-8 ),
-
Peringatan akan datangnya kiamat serta sebagian tandanya (pengulangan ayat ke 9-14), karena tidak selamanya kenikmatan yang telah diberikan Allah terhadap manusia di dunia ini akan membawa manusia kepada kekekalan,
-
Balasan yang akan di terima manusia baik di neraka dengan segala kepedihannya (pengulangan ayat ke 15) dan di surga dengan segala kenikmatannya (pengulangan ayat yang ke 16-31);
-
Beberapa kenikmatan yang di dunia penafsiran dalam tafsir al misbah bersifat ilmiah, misalnya tentang unsur yang ada pada diri manusia adalah semua unsur yang ada di alam dan juga tentang nikmat yang berasal dari sungai ada mutiara dan kerang serta nikmat kurma dan zaitun yang ternyata juga teruji secara medis banyak manfaatnya bagi tubuh.
Referensi :
- Sayyid Qutb, Tafsir Dzilal al Quran, J:IV (Libanon : Dar al fikr)
- Quraish Shihab, Tafsir al Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002)