
Karya seni grafiti identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara estetik, tapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik.
Tak ayal, pihak dinas kebersihan setempat pun seperti siaga berpatroli untuk mengembalikan dinding atau tembok-tembok jalanan seperti awal. Dicat polos dan bersih, hanya debu yang kemudian mengotorinya. Bisa disaksikan, meski sudah dicat ulang, gambar-gambar itu kerap muncul kembali. Seni grafiti di Indonesia dapat dikatakan berkembang pesat pada 2004. Hal ini merujuk pada keberadaan situs tembokbomber.com yang meluncurkan misi untuk mengumpulkan dan mendata para pelaku dan karya graffiti dan street art yang tersebar di wilayah Indonesia.
Grrafiti dan street art merupakan dua hal yang berbeda. Grafiti berusaha untuk menutupi seluruh permukaan sebisa mungkin dan pergi ke semua sudut kota. Sedangkan, street art umumnya lebih peduli dengan penempatan yang strategis dan cenderung memiliki pesan yang ingin disampaikan