Siblings Rivalry, Bagaimana Cara Mengatasinya?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Sibling rivalry dapat terjadi pada anak dengan adiknya yang baru lahir atau pada dua saudara pada usia berapapun. Untuk mengatasi kedua jenis sibling rivalry tersebut diperlukan pendekatan yang berbeda. Sibling rivalry seorang anak dengan adiknya yang baru lahir dapat diatasi dengan cara berikut:
Untuk sibling rivalry pada kakak-beradik di usia yang lebih besar, dapat diterapkan beberapa tips berikut:
Selain itu, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dihindari orangtua dalam menghadapi sibling rivalry:
Siblings rivalry menggambarkan konflik yang sedang berlangsung antara anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sama. Hal ini dapat terjadi antara saudara kandung yang berhubungan dengan darah, anak tiri dan bahkan saudara angkat. Ini mungkin akan mengakibatkan:
Priatna dan Yulia (2006), berikut beberapa cara untuk mengatasi masalah persaingan antara saudara kandung (sibling rivalry).
Ada satu pemandangan yang sangat umum dalam banyak keluarga: dua saudara yang saling bertengkar hanya karena hal kecil. Mungkin tentang mainan yang sama-sama ingin dimiliki. Mungkin tentang perhatian orang tua. Atau mungkin hanya tentang siapa yang lebih dulu duduk di kursi tertentu.
Bagi orang dewasa, pertengkaran itu sering terlihat sepele. Bahkan kadang terasa melelahkan. Banyak orang tua akhirnya berkata dengan nada jengkel, “Kenapa sih kalian tidak bisa akur saja?”
Namun jika dilihat lebih dalam, pertengkaran antar saudara—yang sering disebut sibling rivalry—bukan sekadar konflik kecil. Ia sering menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar: kebutuhan manusia untuk merasa dicintai, diperhatikan, dan diakui.
Dalam banyak kasus, pertengkaran itu sebenarnya bukan tentang mainan, bukan tentang kursi, dan bukan tentang siapa yang lebih dulu.
Sering kali, ia tentang satu pertanyaan yang tidak pernah diucapkan secara langsung:
“Apakah aku sama berharganya?”
Rivalitas antar saudara telah lama menjadi perhatian dalam psikologi perkembangan. Alfred Adler, salah satu tokoh awal dalam psikologi individual, menekankan bahwa posisi seorang anak dalam keluarga—apakah ia anak pertama, tengah, atau bungsu—sering memengaruhi dinamika hubungan dengan saudara-saudaranya (Adler, 1927).
Ketika seorang anak lahir, ia biasanya menjadi pusat perhatian keluarga. Semua perhatian tertuju kepadanya. Namun ketika saudara baru lahir, situasi itu berubah.
Bagi orang dewasa, perubahan ini terasa wajar. Namun bagi seorang anak kecil, perubahan itu bisa terasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Ada cerita yang sering terulang dalam banyak keluarga. Seorang anak yang sebelumnya ceria tiba-tiba menjadi lebih mudah marah setelah adiknya lahir. Ia mungkin mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak ia lakukan: merengek, mencari perhatian, bahkan mencoba mengganggu adiknya.
Dari luar, perilaku itu terlihat seperti kenakalan.
Namun jika dilihat dari sudut pandang anak, sering kali itu adalah bentuk kegelisahan yang sederhana tetapi sangat dalam: ia takut kehilangan tempatnya di hati orang tuanya.
Penelitian oleh Judy Dunn menunjukkan bahwa rivalitas antar saudara sering muncul karena anak-anak secara alami membandingkan perhatian dan perlakuan yang mereka terima dari orang tua (Dunn, 1983).
Anak-anak memiliki sensitivitas yang sangat tajam terhadap keadilan emosional.
Bahkan perbedaan kecil dalam perhatian bisa terasa sangat besar di mata mereka.
Salah satu hal yang sering memperkuat sibling rivalry adalah kebiasaan membandingkan.
Kadang perbandingan itu dilakukan tanpa niat buruk.
“Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
“Adikmu saja bisa, masa kamu tidak?”
Kalimat seperti ini sering diucapkan dengan maksud mendorong anak untuk menjadi lebih baik. Namun bagi anak yang mendengarnya, pesan yang sampai sering kali berbeda.
Yang terdengar bukan motivasi.
Yang terdengar adalah perbandingan.
Penelitian tentang hubungan saudara menunjukkan bahwa perbandingan yang terus-menerus dapat meningkatkan kecemburuan dan memperdalam konflik antar saudara (McHale, Updegraff, & Whiteman, 2012).
Ketika seorang anak merasa dirinya selalu diukur dengan standar saudaranya, hubungan yang seharusnya menjadi tempat kehangatan bisa berubah menjadi arena kompetisi.
Dan kompetisi emosional di dalam keluarga sering meninggalkan jejak yang panjang.
Menariknya, sibling rivalry tidak selalu berhenti di masa kanak-kanak.
Ada orang dewasa yang masih membawa dinamika rivalitas dengan saudara mereka hingga bertahun-tahun kemudian.
Kadang rivalitas itu muncul dalam bentuk yang lebih halus: perbandingan karier, perbandingan kehidupan keluarga, atau bahkan perasaan tidak nyaman ketika salah satu saudara terlihat lebih sukses.
Namun ada juga cerita yang berbeda.
Ada saudara-saudara yang dulunya sering bertengkar, tetapi ketika dewasa justru menjadi sangat dekat. Mereka tertawa ketika mengingat pertengkaran kecil di masa kecil.
Perbedaan ini sering bergantung pada bagaimana konflik-konflik kecil itu ditangani ketika mereka masih anak-anak.
Jika konflik hanya ditekan tanpa dipahami, luka kecil bisa menumpuk.
Namun jika konflik itu dipahami sebagai bagian dari proses belajar hubungan, rivalitas bisa berubah menjadi kedekatan.
Salah satu cara yang sering membantu dalam memahami sibling rivalry adalah melihatnya bukan sebagai masalah perilaku, tetapi sebagai bahasa emosi.
Anak-anak sering belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan perasaan mereka secara verbal.
Ketika mereka merasa cemburu, takut, atau tidak diperhatikan, perasaan itu sering muncul dalam bentuk tindakan.
Mereka mungkin merebut mainan.
Mereka mungkin mengganggu saudara mereka.
Mereka mungkin mencoba menarik perhatian dengan cara yang tidak menyenangkan.
Namun di balik semua itu sering ada pesan emosional yang sederhana:
“Aku juga ingin diperhatikan.”
Penelitian tentang perkembangan emosi anak menunjukkan bahwa pengakuan terhadap perasaan anak sering membantu mengurangi konflik antar saudara (Gottman & DeClaire, 1997).
Ketika seorang anak merasa emosinya dipahami, kebutuhan untuk mengekspresikannya melalui konflik sering berkurang.
Salah satu akar sibling rivalry adalah perasaan bahwa dua saudara sedang bersaing untuk hal yang sama: perhatian, pengakuan, dan nilai diri.
Namun ketika setiap anak memiliki ruang untuk mengembangkan identitasnya sendiri, rivalitas sering berkurang secara alami.
Misalnya, seorang anak mungkin sangat berbakat dalam olahraga. Saudara lainnya mungkin lebih tertarik pada seni atau musik.
Ketika masing-masing anak merasa dihargai atas keunikan mereka, kebutuhan untuk bersaing dengan saudara mereka sering berkurang.
Setiap anak ingin merasa istimewa—bukan karena ia lebih baik dari saudaranya, tetapi karena ia dihargai sebagai dirinya sendiri.
Penelitian tentang dinamika keluarga menunjukkan bahwa diferensiasi identitas dalam keluarga dapat mengurangi konflik antar saudara (Feinberg & Hetherington, 2000).
Dengan kata lain, kedamaian dalam hubungan saudara sering muncul ketika mereka tidak merasa harus menjadi versi yang sama.
Ada sesuatu yang menarik tentang hubungan saudara.
Mereka mungkin bertengkar hebat ketika kecil. Mereka mungkin saling menyalahkan, saling mengejek, bahkan saling menangis karena konflik kecil.
Namun di saat yang sama, mereka juga berbagi sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: sejarah yang sama.
Mereka tumbuh di rumah yang sama.
Mereka mengenal cerita keluarga yang sama.
Mereka menyimpan kenangan yang hanya dipahami oleh mereka.
Kadang rivalitas yang dulu terasa sangat besar perlahan berubah ketika waktu berlalu.
Apa yang dulu terlihat seperti kompetisi sering berubah menjadi nostalgia.
Dan hubungan yang dulu dipenuhi konflik kecil kadang justru menjadi salah satu hubungan paling stabil dalam hidup seseorang.
Dalam banyak keluarga, pertengkaran antar saudara sering dianggap sebagai masalah yang harus dihentikan secepat mungkin.
Namun kadang pertengkaran itu bukan hanya tentang konflik.
Ia juga tentang proses belajar.
Belajar tentang berbagi.
Belajar tentang keadilan.
Belajar tentang bagaimana hidup berdampingan dengan seseorang yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda.
Di balik semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan:
anak-anak yang bertengkar itu sebenarnya sedang belajar sesuatu yang sangat penting tentang hubungan manusia.
Dan mungkin suatu hari, ketika mereka sudah dewasa dan kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda, mereka akan melihat kembali masa kecil itu dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai serangkaian pertengkaran kecil.
Melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang dua manusia yang sejak awal belajar bagaimana hidup bersama—
meskipun mereka tidak selalu tahu caranya.
Adler, A. (1927). Understanding Human Nature. Greenberg.
Dunn, J. (1983). Sibling Relationships in Early Childhood. Child Development.
McHale, S. M., Updegraff, K. A., & Whiteman, S. D. (2012). Sibling Relationships and Influences in Childhood and Adolescence. Journal of Marriage and Family.
Gottman, J., & DeClaire, J. (1997). The Heart of Parenting: Raising an Emotionally Intelligent Child. Simon & Schuster.
Feinberg, M. E., & Hetherington, E. M. (2000). Sibling Differentiation in Adolescence. Journal of Family Psychology.
Ada satu kisah lama yang sering teringat setiap kali topik siblings rivalry dibicarakan.
Suatu hari saya pernah berbincang dengan seseorang yang tampak sangat berhasil dalam hidupnya. Ia memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang terlihat harmonis, dan kehidupan yang bagi banyak orang tampak stabil. Namun ketika percakapan mulai bergerak ke masa kecilnya, ada sesuatu yang berubah dalam nada suaranya.
Ia berkata dengan pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri:
“Lucunya, saya bisa menghadapi banyak masalah dalam hidup. Tapi setiap kali bertemu kakak saya, rasanya saya kembali menjadi anak kecil yang merasa kalah.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada lapisan emosi yang sangat dalam.
Banyak orang mengira persaingan saudara kandung hanyalah bagian kecil dari masa kanak-kanak—sekadar rebutan mainan, perhatian orang tua, atau pertengkaran kecil di rumah. Namun dalam kenyataannya, dinamika itu sering meninggalkan jejak psikologis yang bertahan jauh hingga dewasa.
Siblings rivalry bukan sekadar konflik antara anak-anak dalam satu keluarga. Ia adalah fenomena psikologis yang kompleks, yang melibatkan emosi, perkembangan otak, dinamika keluarga, dan cara manusia membentuk identitas dirinya sejak usia sangat dini.
Dan sering kali, konflik itu tidak benar-benar tentang saudara itu sendiri.
Sering kali ia tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: kebutuhan untuk merasa dilihat, dihargai, dan dicintai.
Dalam banyak keluarga, anak-anak tumbuh dalam ruang yang sama, tetapi pengalaman emosional mereka tidak pernah benar-benar sama.
Setiap anak membawa temperamen yang berbeda, kebutuhan emosional yang berbeda, dan cara yang berbeda dalam memahami perhatian orang tua.
Penelitian perkembangan anak yang dirangkum dalam buku Child Psychiatry and Human Development serta Developmental Psychopathology karya Dante Cicchetti menunjukkan bahwa hubungan saudara kandung merupakan salah satu hubungan sosial paling intens dalam kehidupan manusia.
Anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan saudara mereka dibandingkan dengan hampir siapa pun selain orang tua.
Namun kedekatan ini juga berarti bahwa mereka terus-menerus berada dalam posisi perbandingan.
Siapa yang lebih pintar.
Siapa yang lebih disayang.
Siapa yang lebih berhasil.
Otak anak sangat sensitif terhadap sinyal sosial semacam ini. Sistem saraf yang sedang berkembang—terutama bagian otak seperti amigdala dan sistem limbik—bereaksi kuat terhadap pengalaman diterima atau ditolak.
Dalam buku The Whole-Brain Child, Daniel Siegel menjelaskan bahwa otak anak sangat peka terhadap ancaman sosial, termasuk perasaan tersisih atau kalah dalam kompetisi keluarga.
Bagi seorang anak, perhatian orang tua bukan sekadar kasih sayang. Ia sering terasa seperti sumber keamanan emosional yang terbatas.
Jika seorang anak merasa saudaranya mendapat lebih banyak perhatian, otaknya dapat memproses situasi itu seperti ancaman terhadap rasa aman.
Itulah salah satu alasan mengapa persaingan saudara kandung bisa terasa sangat intens.
Ada satu kisah lain yang sering muncul dalam percakapan tentang hubungan saudara.
Saya pernah mengenal seseorang yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai “anak yang bertanggung jawab”. Ia rajin, disiplin, dan selalu mencoba memenuhi harapan keluarganya.
Namun ia memiliki adik yang jauh lebih spontan dan karismatik.
Di setiap acara keluarga, adiknya selalu menjadi pusat perhatian. Ia pandai bercanda, mudah disukai, dan sering membuat suasana menjadi hidup.
Orang-orang sering berkata dengan nada bercanda:
“Kalau kakaknya serius sekali, tapi adiknya ini yang paling menyenangkan.”
Bagi orang dewasa, komentar semacam itu mungkin terasa ringan.
Namun bagi seorang anak yang sedang membentuk identitas dirinya, komentar seperti itu dapat tertanam sangat dalam.
Beberapa dekade kemudian, orang itu berkata dengan jujur:
“Saya selalu merasa seperti versi yang kurang menarik dari adik saya.”
Kalimat itu menunjukkan sesuatu yang sering tidak terlihat oleh banyak orang.
Persaingan saudara kandung sering kali tidak terjadi karena kebencian, tetapi karena perbandingan yang terus-menerus.
Dan perbandingan adalah salah satu pengalaman emosional paling kuat dalam perkembangan manusia.
Salah satu hal yang menarik dalam ilmu saraf adalah bagaimana otak menyimpan pengalaman masa kecil.
Dalam buku The Body Keeps the Score, Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa pengalaman emosional yang berulang—terutama yang berkaitan dengan hubungan dekat—dapat membentuk pola respons dalam sistem saraf.
Artinya, pengalaman masa kecil tidak hanya menjadi kenangan. Ia juga membentuk cara seseorang bereaksi terhadap dunia.
Anak yang sering merasa kalah dari saudaranya mungkin tumbuh dengan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap kritik atau perbandingan.
Sebaliknya, anak yang selalu dianggap “yang terbaik” mungkin tumbuh dengan tekanan untuk mempertahankan citra tersebut.
Menariknya, dinamika ini sering berlanjut hingga dewasa.
Beberapa saudara tetap terjebak dalam pola lama: satu selalu merasa harus membuktikan diri, sementara yang lain merasa terus dibandingkan.
Padahal mereka sudah hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari masa kecil mereka.
Namun otak manusia sering kali tidak sepenuhnya memisahkan masa lalu dari masa kini.
Dalam banyak kasus, persaingan saudara kandung tidak muncul begitu saja.
Ia sering diperkuat—secara tidak sengaja—oleh dinamika keluarga.
Penelitian yang dirangkum dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan orang tua terhadap anak-anak dapat meningkatkan konflik saudara.
Perbedaan itu tidak selalu disengaja.
Kadang orang tua hanya menyesuaikan pendekatan mereka dengan kepribadian masing-masing anak.
Namun bagi anak, perbedaan itu bisa terasa seperti favoritisme.
Ada anak yang dipuji karena prestasinya.
Ada anak yang dianggap lebih “penurut”.
Ada yang dikenal sebagai “anak yang pintar”.
Ada yang dikenal sebagai “anak yang bandel”.
Label-label ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak yang sedang membentuk identitas diri, label itu dapat menjadi bagian dari cara mereka memahami siapa diri mereka.
Ketika anak merasa harus bersaing untuk mendapatkan pengakuan, hubungan saudara dapat berubah menjadi arena kompetisi yang tak terlihat.
Menariknya, tidak semua persaingan saudara kandung menghilang ketika anak-anak tumbuh dewasa.
Sebagian justru berubah bentuk.
Konflik masa kecil bisa muncul kembali dalam bentuk yang lebih halus: kecemburuan terhadap kesuksesan saudara, jarak emosional dalam keluarga, atau perasaan tidak pernah cukup baik.
Dalam beberapa kasus, hubungan saudara bahkan bisa menjadi sangat tegang ketika orang tua sudah tidak ada.
Hal ini dijelaskan dalam beberapa penelitian psikologi keluarga yang dirangkum dalam buku Family Therapy: Concepts and Methods karya Michael Nichols.
Ketika figur orang tua tidak lagi menjadi pusat keluarga, dinamika lama antara saudara dapat muncul kembali tanpa penyangga.
Kadang konflik yang tampak seperti masalah warisan atau keputusan keluarga sebenarnya memiliki akar yang jauh lebih lama.
Ia mungkin berasal dari perasaan yang belum pernah benar-benar dipahami sejak masa kanak-kanak.
Menariknya, hubungan saudara kandung juga memiliki potensi untuk berubah secara mendalam.
Tidak sedikit orang yang baru memahami saudaranya dengan lebih baik ketika mereka sudah dewasa.
Ketika pengalaman hidup mulai memperlihatkan bahwa setiap orang membawa perjuangan yang berbeda.
Saya pernah mendengar seseorang berkata setelah bertahun-tahun hubungannya dengan saudaranya terasa canggung:
“Dulu saya pikir dia selalu ingin mengalahkan saya. Tapi sekarang saya mulai sadar… mungkin dia hanya ingin diperhatikan juga.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang sangat penting.
Kadang-kadang konflik yang terlihat seperti persaingan sebenarnya adalah dua orang yang sama-sama ingin merasa dicintai.
Namun keduanya tidak pernah benar-benar tahu cara mengungkapkannya.
Jika kita melihat hubungan saudara kandung dari kejauhan, ia sering tampak sederhana.
Dua anak yang tumbuh dalam rumah yang sama.
Namun jika kita melihat lebih dalam, hubungan itu adalah salah satu hubungan paling kompleks dalam kehidupan manusia.
Di dalamnya ada cinta, persaingan, kekaguman, kecemburuan, kenangan masa kecil, dan harapan yang tidak selalu diucapkan.
Kadang seseorang bisa bertahun-tahun hidup tanpa memikirkan dinamika masa kecilnya.
Namun kemudian, dalam satu percakapan sederhana dengan saudara kandung, semua perasaan lama tiba-tiba muncul kembali.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar berlalu.
Dan mungkin di situlah letak pertanyaan yang menarik untuk direnungkan:
Apakah persaingan antara saudara sebenarnya tentang siapa yang lebih unggul?
Ataukah sejak awal ia hanya tentang dua anak yang sama-sama berharap bahwa di dalam keluarga mereka… ada cukup cinta untuk semuanya?
Notifications