Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Saat menggunakan HP atau media sosial, kamu merasa lebih sering mengontrol atau justru dikontrol? Mengapa seperti itu ?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
39

Dalam interaksi manusia dengan teknologi modern, batasan antara "mengontrol" dan "dikontrol" sering kali menjadi kabur akibat desain algoritma yang mengeksploitasi sistem dopamin manusia. Secara psikologis, banyak individu merasa sedang mengontrol perangkat mereka (subjektif), padahal secara neurologis, mereka sedang merespons stimulasi yang dirancang untuk memicu perilaku kompulsif (objektif).

Berikut adalah dekonstruksi mengapa perasaan "dikontrol" sering kali lebih dominan daripada kendali nyata yang kita miliki:

1. Eksploitasi "Variable Reward" dan Dopamin

Media sosial sering kali menggunakan prinsip intermittent reinforcement atau imbalan variabel. Saat Anda melakukan scrolling, Anda tidak tahu kapan akan menemukan konten yang menarik. Ketidakpastian ini memicu pelepasan dopamin yang kuat, mirip dengan mekanisme mesin judi. Kondisi ini dapat memicu agitasi psikomotor ringan—perasaan gelisah untuk terus mengecek HP—yang menunjukkan bahwa perilaku Anda sedang dikendalikan oleh arsitektur aplikasi, bukan oleh kehendak bebas yang murni.

2. Erosi Lokus Kendali Internal

Ketika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tanpa tujuan yang jelas, mereka mengalami penurunan lokus kendali internal. Mereka merasa menjadi "objek" dari algoritma daripada "subjek" yang berdaulat. Hal ini sering kali diikuti oleh cognitive distortion berupa perasaan bersalah atau tidak berdaya setelah penggunaan yang berlebihan. Penurunan academic self efficacy juga sering terjadi karena waktu yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan intelektual habis tersedot oleh distraksi digital.

3. "Social Comparison" dan Tekanan Psikologis

Media sosial sering kali memaksa pengguna untuk melakukan perbandingan sosial secara otomatis. Melihat keberhasilan atau gaya hidup orang lain dapat memicu stres atau kecemasan sosial. Dalam konteks ini, media sosial "mengontrol" emosi dan persepsi diri Anda. Pengguna sering terjebak dalam good girl syndrome versi digital, di mana mereka merasa harus menampilkan citra sempurna demi mendapatkan validasi eksternal (likes dan comments).

4. Strategi Mengambil Alih Kendali (Mindful Tech)

Untuk beralih dari kondisi dikontrol menjadi mengontrol, diperlukan psikoedukasi diri mengenai digital hygiene. Langkah-langkah kecil seperti mematikan notifikasi, mengatur jadwal penggunaan, atau memilih konten dengan estetika yang menenangkan (seperti penggunaan psikologi warna ii yang lembut pada wallpaper) dapat membantu mengembalikan fokus. Memperkuat adaptabilitas karier melalui penggunaan HP sebagai alat belajar (misalnya mengelola platform WordPress) daripada sekadar alat hiburan pasif adalah kunci utama kedaulatan digital.

Secara filosofis, teknologi adalah pelayan yang baik tetapi tuan yang buruk. Kita merasa dikontrol ketika kita kehilangan "Why" atau tujuan utama saat membuka perangkat tersebut. Sebaliknya, kita mengontrol ketika kita menggunakan media sosial sebagai sarana untuk memperluas jaringan, menyebarkan manfaat, dan menciptakan memori flashbulb yang bermakna bagi orang lain melalui konten yang berkualitas.

Kesimpulannya: **Kesadaran adalah langkah pertama menuju kendali.** Dengan memahami tahap developmental psychology digital kita, kita bisa berhenti menjadi reaktif terhadap algoritma dan mulai menjadi proaktif dalam menciptakan kehidupan yang seimbang di dunia nyata maupun maya.


Daftar Pustaka

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Eyal, N. (2014). Hooked: How to Build Habit-Forming Products. Portfolio.

Newport, C. (2019). Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World. Portfolio.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.

Ada satu momen yang cukup jujur, tapi jarang disadari.

Saat membuka HP “sebentar saja”, lalu tiba-tiba waktu sudah lewat satu jam tanpa benar-benar tahu apa yang dilakukan.

Di titik itu, muncul pertanyaan yang agak mengganggu: sebenarnya kita yang mengontrol, atau justru kita yang sedang dikontrol?

Pengalaman yang Terasa Personal, Tapi Sebenarnya Kolektif

Fenomena ini bukan sesuatu yang unik.

Banyak orang mengalami pola yang sama—membuka satu aplikasi, berpindah ke aplikasi lain, lalu terus berlanjut tanpa tujuan yang jelas.

Secara sadar, kita merasa sedang memilih.
Namun secara pola, ada sesuatu yang seperti “menarik” perhatian kita tanpa disadari.

Jawaban yang Lebih Jujur: Kita Mengontrol di Awal, Tapi Sering Kehilangan Kendali di Tengah

Ketika pertama kali membuka HP, keputusan itu biasanya sadar.

Namun setelah itu, banyak interaksi yang terjadi secara otomatis:

scroll tanpa berpikir,
klik tanpa benar-benar mempertimbangkan,
berpindah tanpa tujuan yang jelas.

Di sini, kontrol mulai bergeser dari kesadaran ke kebiasaan.

Insight yang Jarang Dibicarakan: Platform Tidak Memaksa, Tapi Mendesain Perilaku

Media sosial tidak secara langsung “memaksa” seseorang untuk terus menggunakan.

Namun mereka dirancang untuk memaksimalkan perhatian.

Notifikasi, infinite scroll, algoritma yang menyesuaikan konten—semuanya bekerja untuk membuat seseorang tetap terlibat.

Bukan dengan tekanan, tetapi dengan kenyamanan dan repetisi.

Yang Sering Terlewat: Kebiasaan Lebih Kuat dari Niat

Banyak orang berniat menggunakan HP secara lebih sadar.

Namun niat sering kalah oleh pola yang sudah terbentuk.

Begitu sebuah kebiasaan tertanam, otak cenderung memilih jalur yang paling mudah—dan itu sering berarti kembali ke pola yang sama.

Dampak Psikologis: Overstimulasi Bisa Mengurangi Kemampuan Fokus

Paparan konten yang cepat dan terus-menerus dapat membuat otak terbiasa dengan stimulasi tinggi.

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan fokus lebih dalam terasa lebih berat.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa memicu stres ringan yang tidak selalu disadari, tetapi memengaruhi kualitas perhatian.

Waspada pada Ilusi: “Saya Bisa Berhenti Kapan Saja”

Ada keyakinan umum bahwa penggunaan media sosial sepenuhnya berada dalam kendali pribadi.

Padahal dalam banyak kasus, kontrol itu tidak sekuat yang dibayangkan.

Di sini sering muncul cognitive distortion, seperti illusion of control—di mana seseorang merasa memiliki kendali penuh, padahal perilakunya sudah cukup terpengaruh oleh desain sistem.

Yang Lebih Dalam: Kita Tidak Dikontrol Secara Langsung, Tapi Dibentuk Secara Perlahan

Tidak ada satu momen di mana seseorang “kehilangan kontrol” secara tiba-tiba.

Yang terjadi adalah perubahan kecil yang berulang:

sedikit lebih lama scroll hari ini,
sedikit lebih sering cek notifikasi,
sedikit lebih sulit berhenti.

Dan tanpa disadari, pola itu menjadi default.

Insight yang Lebih Dalam: Kontrol Sejati Bukan pada Penggunaan, Tapi pada Kesadaran Saat Menggunakan

Menghindari HP atau media sosial sepenuhnya mungkin tidak realistis.

Namun yang lebih penting adalah apakah kita sadar saat menggunakannya.

Apakah kita tahu kenapa membuka aplikasi itu?
Atau hanya mengikuti dorongan tanpa refleksi?

Di sinilah perbedaan antara menggunakan secara sadar dan digunakan secara tidak sadar mulai terlihat.

Refleksi yang Lebih Dalam: Kebebasan Tidak Hilang, Tapi Menjadi Lebih Halus

Kita tidak benar-benar kehilangan kebebasan saat menggunakan teknologi.

Namun kebebasan itu menjadi lebih sulit dirasakan, karena distraksi hadir dalam bentuk yang sangat halus dan menarik.

Dan tanpa kesadaran, kita bisa merasa memilih, padahal hanya mengikuti pola.

Penutup: Kita Masih Mengontrol, Tapi Hanya Jika Kita Sadar Sedang Memilih

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita sepenuhnya dikontrol atau tidak.

Tetapi seberapa sering kita benar-benar sadar saat membuat pilihan kecil: membuka, melihat, dan berhenti.

Karena di dunia yang penuh distraksi, kontrol bukan lagi soal kemampuan, tetapi soal kesadaran yang terus dijaga di tengah arus yang terus menarik perhatian.

Daftar Pustaka

Eyal, Nir. Hooked: How to Build Habit-Forming Products. Portfolio, 2014.

Alter, Adam. Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked. Penguin Press, 2017.