Ada satu perasaan yang sering muncul dalam perjalanan hidup seseorang, tetapi jarang dibicarakan dengan jujur: perasaan bahwa pada akhirnya kita sendirian menghadapi hidup.
Bukan sendirian dalam arti tidak ada manusia lain di dunia ini. Banyak orang tetap memiliki keluarga, teman, bahkan orang-orang yang peduli pada mereka. Namun ada momen-momen tertentu ketika seseorang merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah-olah di titik paling dalam dari pengalaman hidupnya, tidak ada orang yang benar-benar bisa masuk ke ruang itu.
Perasaan itu sering terdengar seperti ini di dalam kepala seseorang:
“Aku merasa ditinggalkan.”
“Atau mungkin lebih tepatnya… aku merasa sendirian menghadapi semuanya.”
Lalu, hampir bersamaan dengan perasaan itu muncul kesadaran lain yang tidak kalah berat:
“Pada akhirnya, aku adalah satu-satunya orang yang bisa menolong diriku sendiri.”
Kalimat ini memiliki dua sisi yang sangat kuat. Di satu sisi, ia terasa seperti kesadaran yang dewasa. Ada semacam penerimaan bahwa hidup tidak selalu bisa diselamatkan oleh orang lain. Namun di sisi lain, kesadaran itu juga bisa terasa sangat sepi.
Seolah-olah seseorang berdiri sendirian di tengah kehidupan yang luas.
Pertanyaan yang muncul kemudian menjadi sangat manusiawi:
Mengapa perasaan seperti ini bisa muncul?
Kebutuhan manusia untuk merasa terhubung
Untuk memahami perasaan ditinggalkan, mungkin perlu kembali pada sesuatu yang sangat mendasar dalam psikologi manusia: kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain.
John Bowlby, melalui teori attachment, menjelaskan bahwa manusia sejak lahir memiliki kebutuhan biologis untuk membentuk ikatan emosional dengan orang lain. Ikatan ini bukan sekadar kenyamanan sosial. Ia adalah bagian dari sistem keselamatan psikologis manusia.
Ketika bayi merasa aman dengan kehadiran orang yang merawatnya, sistem sarafnya belajar bahwa dunia adalah tempat yang relatif aman. Namun ketika pengalaman kedekatan itu tidak selalu konsisten—ketika kehadiran orang lain terasa tidak pasti—pikiran manusia mulai membangun pola yang berbeda.
Seseorang bisa tumbuh dengan perasaan halus bahwa koneksi dengan orang lain tidak sepenuhnya bisa diandalkan.
Ini tidak selalu berarti masa kecil yang sangat buruk. Kadang pengalaman yang terlihat kecil pun dapat membentuk perasaan seperti itu.
Misalnya, tumbuh dalam lingkungan di mana emosi jarang dibicarakan.
Atau memiliki orang tua yang hadir secara fisik tetapi tidak selalu hadir secara emosional.
Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin belajar sesuatu yang sangat sunyi sejak awal kehidupan:
“Jika aku ingin bertahan, aku harus belajar mengandalkan diriku sendiri.”
Keyakinan ini bisa menjadi sumber kekuatan. Banyak orang yang tumbuh dengan pola ini menjadi individu yang sangat mandiri, sangat kuat, dan mampu menghadapi banyak hal sendirian.
Namun di balik kemandirian itu sering tersembunyi sebuah kerinduan yang jarang diakui: kerinduan untuk benar-benar dipahami.
Ketika kemandirian terasa seperti kesepian
Di banyak budaya modern, kemandirian sering dipuji sebagai kualitas yang sangat positif. Kita diajarkan untuk menjadi kuat, tidak bergantung pada orang lain, dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Namun psikolog perkembangan seperti Donald Winnicott pernah menulis sesuatu yang cukup menarik. Ia mengatakan bahwa kemampuan seseorang untuk “berdiri sendiri” secara emosional sebenarnya berkembang dari pengalaman hubungan yang cukup aman dengan orang lain.
Dengan kata lain, seseorang belajar menjadi mandiri bukan karena ia tidak pernah membutuhkan orang lain, tetapi karena pada suatu titik dalam hidupnya ia pernah merasa cukup didukung.
Ketika pengalaman dukungan itu tidak selalu terasa, kemandirian bisa berubah menjadi sesuatu yang sedikit berbeda.
Ia tidak lagi terasa seperti kekuatan yang tenang.
Ia terasa seperti kewajiban yang berat.
Seseorang mungkin berkata kepada dirinya sendiri:
“Aku harus kuat.”
“Aku tidak bisa mengandalkan siapa pun.”
Kalimat-kalimat ini sering terdengar seperti bentuk keberanian. Namun jika didengar lebih dalam, kadang ia juga menyimpan kesedihan yang sangat sunyi.
Mengapa perasaan ditinggalkan bisa muncul bahkan ketika ada orang lain di sekitar kita
Hal lain yang sering membingungkan adalah bahwa perasaan ditinggalkan tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar sendirian.
Seseorang bisa memiliki teman, pasangan, atau keluarga, tetapi tetap merasakan jarak emosional yang sulit dijelaskan.
Psikolog sosial seperti Daniel Siegel menjelaskan bahwa hubungan manusia bukan hanya tentang kehadiran fisik. Yang jauh lebih penting adalah apa yang disebut sebagai emotional attunement—kemampuan untuk benar-benar merasa dipahami oleh orang lain.
Ketika seseorang merasa bahwa emosinya tidak benar-benar dilihat atau didengar, ia bisa mulai merasakan sesuatu yang sangat halus tetapi sangat kuat: kesepian di tengah keramaian.
Ini adalah jenis kesepian yang berbeda dari sekadar tidak memiliki teman.
Ini adalah kesepian karena merasa tidak benar-benar terlihat sebagai diri yang sebenarnya.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin mulai menarik kesimpulan tertentu tentang hidup.
Ia mungkin berpikir bahwa pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa memahami apa yang ia rasakan.
Dan dari sana muncul keyakinan yang sangat kuat:
“Aku harus mengurus diriku sendiri.”
Ada kebenaran di dalam perasaan itu
Menariknya, keyakinan bahwa seseorang harus membantu dirinya sendiri sebenarnya memiliki unsur kebenaran.
Tidak ada orang lain yang bisa sepenuhnya menjalani kehidupan kita.
Tidak ada orang lain yang bisa sepenuhnya mengambil alih pengalaman emosional kita.
Psikolog eksistensial seperti Irvin Yalom sering menulis tentang kenyataan bahwa setiap manusia pada akhirnya menghadapi kehidupan dari dalam dirinya sendiri.
Ada ruang pengalaman yang memang tidak bisa sepenuhnya dimasuki oleh orang lain.
Namun yang sering terjadi adalah pikiran manusia mengubah kenyataan ini menjadi sesuatu yang lebih ekstrem.
Dari kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab atas hidup kita sendiri, pikiran bisa melompat pada kesimpulan yang lebih menyakitkan:
“Aku benar-benar sendirian.”
Padahal dua hal ini tidak selalu sama.
Mengapa perasaan ditinggalkan bisa terasa sangat kuat
Ada satu hal yang menarik dalam psikologi emosi.
Perasaan ditinggalkan sering berkaitan dengan sesuatu yang disebut sebagai attachment wounds—luka emosional yang berkaitan dengan pengalaman keterhubungan.
Luka seperti ini bisa membuat sistem saraf manusia sangat sensitif terhadap tanda-tanda jarak atau penolakan.
Seseorang mungkin mulai merasa bahwa orang lain tidak benar-benar ada untuknya, bahkan dalam situasi yang sebenarnya lebih kompleks.
Bukan karena ia ingin berpikir negatif.
Tetapi karena sistem emosinya telah belajar untuk bersiap menghadapi kemungkinan kehilangan hubungan.
Dalam penelitian tentang trauma relasional, ditemukan bahwa pengalaman ditinggalkan—baik secara nyata maupun emosional—dapat meninggalkan jejak yang sangat dalam pada cara seseorang memandang hubungan di masa depan.
Ia bisa membuat seseorang merasa bahwa koneksi dengan orang lain selalu bersifat sementara.
Dan ketika keyakinan ini mulai tertanam, perasaan kesendirian bisa menjadi sangat kuat.
Namun manusia tidak pernah sepenuhnya sendirian dalam cara yang kita bayangkan
Meskipun ada kebenaran dalam gagasan bahwa setiap orang pada akhirnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, ada juga sesuatu yang penting untuk diingat tentang manusia.
Manusia adalah makhluk yang sangat relasional.
Banyak penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang.
Salah satu penelitian longitudinal paling terkenal dalam psikologi, Harvard Study of Adult Development, yang berlangsung lebih dari 80 tahun, menemukan bahwa kualitas hubungan manusia adalah salah satu faktor paling kuat yang memengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan sepanjang hidup.
Artinya, meskipun seseorang harus berjalan dengan kakinya sendiri, perjalanan itu jarang benar-benar dilakukan sendirian.
Kadang yang membuat seseorang merasa ditinggalkan bukan karena tidak ada orang yang peduli.
Tetapi karena bagian dari dirinya belum pernah benar-benar merasakan pengalaman dipahami dengan utuh.
Dan pengalaman itu memang tidak mudah ditemukan.
Ia membutuhkan hubungan yang jujur, ruang emosional yang aman, dan waktu yang tidak singkat.
Sebuah pemikiran kecil di akhir
Perasaan bahwa kita harus menyelamatkan diri sendiri sering muncul dari pengalaman hidup yang membuat seseorang belajar untuk bertahan tanpa banyak bantuan.
Ada kekuatan di dalam pengalaman itu.
Namun di balik kekuatan itu sering tersembunyi sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk tidak harus selalu kuat sendirian.
Mungkin kenyataannya memang benar bahwa tidak ada orang lain yang bisa sepenuhnya menjalani hidup kita.
Namun pada saat yang sama, manusia juga tidak pernah benar-benar diciptakan untuk menghadapi dunia sepenuhnya sendirian.
Dan mungkin di antara dua kenyataan itulah kehidupan berjalan—
di antara kesadaran bahwa kita harus berdiri dengan kaki kita sendiri,
dan harapan sunyi bahwa suatu hari ada seseorang yang bisa duduk di samping kita,
bukan untuk menyelamatkan hidup kita,
tetapi hanya untuk benar-benar memahami bahwa perjalanan ini tidak selalu mudah.