Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa Orang Memiliki Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ?

DE Denada Parmadita Gantari 6 years ago Resolved

Obsessive compulsive disorder (OCD) atau yang dalam bahasa indonesia memiliki arti gangguan obsesif kompulsif adalah sebuah penyakit psikologis dimana penderita mengalami perubahan pada pikiran yang obsesif dan tindakan yang kompulsif. Gangguan psikologis ini akan ditandai dengan munculnya sebuah ketakutan pada pikiran (obsesif) penderita yang berakibat pada tindakan pencegahan yang berlebihan (kompulsif).

Apa saja penyebab Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ?

24

Ada satu jenis pergulatan mental yang sering disalahpahami oleh banyak orang.

Sebagian orang menganggapnya sekadar kebiasaan aneh. Ada yang menyebutnya terlalu perfeksionis. Ada pula yang menganggapnya hanya soal “terlalu bersih” atau “terlalu teliti”.

Namun bagi orang yang benar-benar mengalaminya, pengalaman itu jauh lebih kompleks.

Ia bukan sekadar kebiasaan.
Ia bukan sekadar sifat.

Ia adalah siklus pikiran yang terasa seperti tidak pernah berhenti.

Kondisi ini dikenal sebagai , atau sering disingkat OCD.

Untuk memahami mengapa seseorang mengalami OCD, kita perlu melihatnya dari beberapa lapisan sekaligus: cara kerja otak, sistem saraf, pola pikir manusia, pengalaman hidup, serta bagaimana tubuh merespons rasa takut.

Karena pada akhirnya, OCD bukan hanya soal pikiran yang berulang.

Ia adalah interaksi rumit antara otak, emosi, dan mekanisme pertahanan diri manusia.


Ketika Pikiran Tidak Mau Pergi

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat rapi. Ia selalu datang tepat waktu, rumahnya bersih, pekerjaannya terorganisir.

Namun suatu hari ia bercerita sesuatu yang cukup menggetarkan.

Ia mengatakan bahwa setiap kali menyentuh gagang pintu di tempat umum, pikirannya langsung dipenuhi bayangan tentang kuman dan penyakit.

Bukan sekadar rasa khawatir biasa.

Melainkan gambaran yang sangat jelas, seolah-olah sesuatu yang berbahaya sedang menempel di tangannya.

Ia mencoba mengabaikan pikiran itu.

Namun semakin ia mencoba melupakannya, pikiran tersebut justru semakin kuat.

Akhirnya ia merasa harus mencuci tangan.

Sekali.

Lalu dua kali.

Lalu tiga kali.

Namun bahkan setelah itu, rasa tidak nyaman itu sering masih tertinggal.

Dan siklus itu terus berulang.

Inilah inti dari OCD.

Ada dua komponen utama dalam kondisi ini:

obsession dan compulsion.

Obsesi adalah pikiran, gambaran, atau dorongan yang muncul berulang-ulang dan terasa mengganggu.

Sedangkan kompulsi adalah tindakan atau ritual yang dilakukan untuk meredakan kecemasan akibat obsesi tersebut.


Otak yang Terjebak dalam Alarm

Untuk memahami OCD lebih dalam, kita perlu melihat bagaimana otak manusia memproses rasa takut.

Dalam keadaan normal, otak memiliki sistem yang berfungsi seperti alarm.

Ketika kita menghadapi sesuatu yang berpotensi berbahaya—misalnya api, kendaraan yang melaju cepat, atau situasi yang mengancam—otak akan mengaktifkan respons kewaspadaan.

Respons ini melibatkan berbagai bagian otak, termasuk amygdala, prefrontal cortex, dan basal ganglia.

Sistem ini sebenarnya sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Namun pada OCD, penelitian menunjukkan bahwa sistem ini dapat menjadi terlalu aktif.

Beberapa studi neuroimaging menemukan adanya aktivitas berlebihan dalam sirkuit yang dikenal sebagai cortico-striato-thalamo-cortical circuit.

Sirkuit ini berperan dalam mengatur kebiasaan, pengambilan keputusan, dan deteksi kesalahan.

Ketika sirkuit ini menjadi terlalu aktif, otak dapat terus-menerus mengirimkan sinyal bahwa ada sesuatu yang salah.

Bahkan ketika secara objektif tidak ada bahaya nyata.

Seolah-olah alarm di otak terus berbunyi, meskipun rumah sebenarnya aman.


Peran Neurotransmitter

Selain struktur otak, ada juga faktor kimia yang berperan penting.

Penelitian menunjukkan bahwa sistem neurotransmitter—terutama serotonin—memiliki keterkaitan dengan OCD.

Serotonin adalah zat kimia di otak yang membantu mengatur suasana hati, kecemasan, dan kontrol impuls.

Dalam berbagai penelitian farmakologi yang dibahas dalam buku Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry, obat yang memengaruhi sistem serotonin sering menunjukkan efektivitas dalam mengurangi gejala OCD.

Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan pada regulasi serotonin mungkin menjadi salah satu faktor biologis yang terlibat.

Namun penting untuk dipahami bahwa OCD hampir tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal.

Ia biasanya muncul dari kombinasi kompleks antara faktor biologis dan pengalaman hidup.


Peran Genetik

Penelitian keluarga dan studi kembar menunjukkan bahwa faktor genetik juga memainkan peran.

Jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan OCD, kemungkinan untuk mengalami kondisi yang sama cenderung lebih tinggi dibanding populasi umum.

Namun gen bukanlah takdir yang mutlak.

Gen hanya menciptakan kerentanan.

Lingkungan, pengalaman hidup, dan cara seseorang belajar merespons kecemasan juga sangat memengaruhi apakah kerentanan tersebut berkembang menjadi gangguan nyata atau tidak.


Belajar dari Rasa Takut

Ada satu aspek psikologis yang sangat menarik dalam OCD.

Sering kali, ritual kompulsif sebenarnya memberikan rasa lega sementara.

Misalnya seseorang merasa cemas karena takut rumahnya tidak terkunci.

Ia kemudian kembali memeriksa pintu.

Ketika melihat bahwa pintu terkunci, kecemasan itu mereda.

Otak kemudian belajar sesuatu dari pengalaman ini.

Ia belajar bahwa memeriksa pintu mengurangi kecemasan.

Akibatnya, di masa depan, dorongan untuk memeriksa akan muncul lagi.

Dan siklus itu semakin menguat.

Dalam psikologi perilaku, fenomena ini dikenal sebagai negative reinforcement.

Tindakan yang mengurangi kecemasan cenderung diulang kembali.

Namun dalam jangka panjang, pola ini justru memperkuat siklus OCD.


Hubungan OCD dengan Kepribadian

Banyak orang dengan OCD memiliki karakteristik tertentu dalam cara berpikir.

Mereka sering memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi.

Mereka juga cenderung sangat sensitif terhadap kemungkinan membuat kesalahan.

Dalam beberapa penelitian psikologi, ditemukan bahwa individu dengan OCD sering mengalami apa yang disebut inflated responsibility.

Mereka merasa bertanggung jawab secara berlebihan terhadap kemungkinan bahaya.

Misalnya seseorang mungkin berpikir:

“Jika aku tidak memeriksa kompor ini berkali-kali, mungkin rumah akan terbakar dan itu akan menjadi kesalahanku.”

Padahal secara rasional, kemungkinan itu sangat kecil.

Namun bagi seseorang yang mengalami OCD, pikiran itu terasa sangat nyata.


OCD Bukan Sekadar “Terlalu Rapi”

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah menganggap OCD hanya berkaitan dengan kebersihan atau kerapian.

Padahal obsesi dalam OCD bisa sangat beragam.

Beberapa orang mengalami obsesi tentang kontaminasi.

Sebagian lainnya mengalami obsesi tentang keselamatan.

Ada juga yang mengalami pikiran mengganggu tentang moralitas, agama, atau bahkan kekerasan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai pribadi mereka.

Yang membuat kondisi ini sangat menyiksa adalah kenyataan bahwa banyak orang dengan OCD sadar bahwa pikiran mereka tidak rasional.

Namun kesadaran itu tidak cukup untuk menghentikannya.

Pikiran tersebut tetap muncul, berulang-ulang.


Rasa Lelah yang Tidak Terlihat

Ada satu hal yang jarang dibicarakan tentang OCD.

Kelelahan mental.

Bayangkan jika pikiran Anda terus-menerus mengulang kekhawatiran yang sama.

Bayangkan jika Anda merasa harus melakukan ritual tertentu agar kecemasan mereda.

Dan bayangkan jika siklus itu terjadi setiap hari.

Tidak mengherankan jika banyak orang dengan OCD akhirnya merasa sangat lelah secara emosional.

Karena hidup mereka sering terasa seperti pertempuran yang tidak terlihat oleh orang lain.


Perspektif Ilmu Kedokteran Jiwa Modern

Dalam klasifikasi kesehatan mental modern seperti , OCD ditempatkan dalam kelompok gangguan yang berkaitan dengan obsesi dan kompulsi.

Penelitian dalam bidang neuroscience, psikologi klinis, dan farmakologi terus berusaha memahami kondisi ini dengan lebih baik.

Buku-buku rujukan seperti:

  • Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry
  • Obsessive-Compulsive Disorder: Theory, Research, and Treatment oleh Frost & Steketee
  • Brain Lock oleh Jeffrey Schwartz

memberikan gambaran yang semakin jelas bahwa OCD adalah kondisi yang melibatkan interaksi kompleks antara otak, perilaku, dan pengalaman emosional manusia.


Refleksi

Ketika seseorang melihat orang lain mencuci tangan berkali-kali, memeriksa pintu berulang-ulang, atau melakukan ritual tertentu, mungkin mudah bagi orang luar untuk berpikir bahwa itu hanya kebiasaan aneh.

Namun di balik perilaku tersebut sering ada sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ada kecemasan yang terus berputar.

Ada pikiran yang sulit dihentikan.

Ada upaya yang sangat keras untuk menciptakan rasa aman di dalam pikiran sendiri.

Dan mungkin di situlah salah satu hal paling penting untuk diingat tentang kondisi seperti OCD.

Bahwa sering kali manusia tidak sedang memilih untuk melakukan sesuatu yang aneh—mereka hanya sedang mencoba bertahan dari pikiran yang tidak berhenti mengetuk pintu kesadaran mereka.

Ada satu pengalaman manusia yang sering disalahpahami.

Seseorang memeriksa pintu rumah berkali-kali sebelum tidur.
Seseorang mencuci tangan berulang kali sampai kulitnya kering.
Seseorang tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang sebenarnya sangat kecil.

Orang di sekitarnya kadang berkata dengan ringan:

“Ah, kamu terlalu perfeksionis.”
“Atau kamu cuma terlalu khawatir.”

Namun bagi sebagian orang, pengalaman itu jauh lebih berat daripada sekadar kebiasaan atau sifat teliti.

Itu adalah sesuatu yang terus kembali, berulang, dan terasa hampir mustahil dihentikan.

Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: mengapa seseorang bisa mengalami OCD?

Jawaban yang jujur sebenarnya tidak sederhana.

Tidak ada satu penyebab tunggal.

Sebaliknya, OCD biasanya lahir dari kombinasi yang rumit antara biologi otak, pola pikir, pengalaman hidup, dan cara seseorang memaknai rasa takut.


Ketika Pikiran Tidak Mau Diam

Untuk memahami OCD, pertama-tama kita perlu memahami dua komponen utama di dalamnya:

obsesi dan kompulsi.

Obsesi adalah pikiran yang muncul berulang-ulang, sering kali tidak diinginkan, dan terasa mengganggu.

Contohnya:

ketakutan bahwa tangan masih kotor
pikiran bahwa pintu belum terkunci
bayangan buruk tentang sesuatu yang menimpa orang yang dicintai

Pikiran-pikiran ini sering muncul tanpa diundang.

Yang membuatnya sangat melelahkan adalah fakta bahwa seseorang biasanya menyadari bahwa pikiran itu berlebihan, tetapi tetap sulit menghentikannya.

Lalu muncul kompulsi.

Kompulsi adalah tindakan yang dilakukan untuk meredakan kecemasan akibat obsesi.

Mencuci tangan.
Memeriksa sesuatu berulang kali.
Mengulang doa atau kata-kata tertentu di dalam pikiran.
Menata benda secara sangat presisi.

Tindakan ini memberi rasa lega—tetapi hanya sementara.

Dan di sinilah siklus OCD terbentuk:

obsesi → kecemasan → kompulsi → lega sementara → obsesi kembali.

Siklus ini bisa berlangsung puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari.


Peran Otak dalam OCD

Salah satu penjelasan penting datang dari penelitian neurosains.

Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa beberapa bagian otak yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan deteksi kesalahan bekerja secara berbeda pada orang dengan OCD.

Sirkuit yang sering dibahas adalah hubungan antara:

orbitofrontal cortex
anterior cingulate cortex
dan basal ganglia

Bagian-bagian ini berperan dalam mendeteksi ancaman dan memutuskan apakah suatu tindakan sudah selesai atau belum.

Pada sebagian orang dengan OCD, sistem ini tampak seperti alarm yang terlalu sensitif.

Bayangkan sebuah alarm kebakaran yang terus berbunyi bahkan ketika hanya ada sedikit asap dari dapur.

Alarm itu tidak rusak sepenuhnya.

Ia hanya terlalu sensitif.

Begitu pula dengan sebagian mekanisme di otak yang terlibat dalam OCD.

Sinyal “bahaya” atau “belum selesai” muncul terus-menerus.

Itulah sebabnya seseorang bisa terus merasa:

“mungkin pintu belum terkunci dengan benar”

meskipun secara logika ia tahu bahwa pintu sudah terkunci.


Faktor Genetik

Penelitian juga menunjukkan bahwa OCD memiliki komponen genetik.

Jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan OCD, kemungkinan mengalami kondisi serupa sedikit lebih tinggi dibanding populasi umum.

Namun genetika bukanlah takdir mutlak.

Banyak orang dengan kerentanan genetik tidak pernah mengalami OCD.

Ini menunjukkan bahwa gen hanya membuka kemungkinan, bukan menentukan sepenuhnya.

Lingkungan dan pengalaman hidup tetap memainkan peran penting.


Peran Cara Berpikir

Di luar faktor biologis, psikologi kognitif memberikan pemahaman yang sangat menarik tentang OCD.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya semua orang pernah mengalami pikiran aneh atau mengganggu.

Misalnya:

tiba-tiba membayangkan menjatuhkan ponsel dari balkon
atau pikiran absurd yang muncul begitu saja

Namun kebanyakan orang tidak terlalu memikirkannya.

Pikiran itu datang dan pergi.

Pada orang dengan OCD, prosesnya berbeda.

Pikiran itu dianggap sangat penting atau berbahaya.

Misalnya:

“Jika aku memikirkan hal buruk ini, berarti aku mungkin benar-benar bisa melakukannya.”

Atau:

“Jika aku tidak memastikan semuanya sempurna, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Psikolog Paul Salkovskis menjelaskan bahwa interpretasi terhadap pikiran itulah yang sering membuat obsesi menjadi semakin kuat.

Pikiran yang dianggap penting akan diperhatikan lebih intens.

Semakin diperhatikan, semakin sering ia muncul.


Kebutuhan Akan Kepastian

Hal lain yang sering muncul pada OCD adalah kesulitan menerima ketidakpastian.

Banyak orang sebenarnya bisa hidup dengan sedikit ketidakpastian.

Mungkin pintu sudah terkunci.
Mungkin belum.

Namun bagi seseorang dengan OCD, ketidakpastian kecil itu bisa terasa sangat mengganggu.

Maka muncul dorongan untuk memastikan.

Memeriksa lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.

Namun anehnya, semakin sering memeriksa, semakin kuat rasa ragu itu.

Karena otak belajar bahwa setiap rasa ragu harus diatasi dengan ritual tertentu.

Tanpa disadari, ritual itu justru memperkuat siklus OCD.


Pengalaman Hidup dan Rasa Tanggung Jawab

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa banyak orang dengan OCD memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi.

Mereka merasa harus mencegah segala kemungkinan buruk.

Bahkan kemungkinan yang sangat kecil.

Misalnya:

“Jika aku tidak memeriksa kompor, mungkin rumah bisa terbakar.”

Logika ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah.

Namun pada OCD, rasa tanggung jawab itu menjadi sangat ekstrem.

Seolah-olah seseorang bertanggung jawab atas segala kemungkinan yang bisa terjadi di dunia.

Dan ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas terlalu banyak hal, pikiran bisa menjadi sangat tegang.


OCD dan Keinginan untuk Menjadi Aman

Ada satu cara yang cukup manusiawi untuk melihat OCD.

Banyak perilaku dalam OCD sebenarnya berawal dari keinginan untuk merasa aman.

Memastikan pintu terkunci adalah tindakan wajar.
Mencuci tangan setelah memegang sesuatu yang kotor juga wajar.

Namun pada OCD, keinginan untuk aman berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah benar-benar puas.

Seperti seseorang yang terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri:

“Apakah aku sudah cukup memastikan?”

Dan setiap kali jawaban itu muncul, rasa ragu datang kembali.


Pergulatan yang Tidak Terlihat

Banyak orang dengan OCD terlihat sangat normal dari luar.

Mereka bekerja.
Belajar.
Berinteraksi dengan orang lain.

Namun di dalam pikirannya, bisa terjadi pergulatan yang sangat melelahkan.

Pikiran berulang yang sulit dihentikan.

Ritual yang harus dilakukan agar kecemasan mereda.

Kadang hal ini terjadi begitu sering sehingga menghabiskan banyak energi mental.

Yang membuat pengalaman ini sangat berat adalah kenyataan bahwa banyak orang dengan OCD menyadari bahwa ketakutannya tidak sepenuhnya rasional.

Namun menyadari tidak selalu berarti mampu menghentikan.

Dan di situlah letak kelelahan psikologisnya.


Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). American Psychiatric Publishing.

Salkovskis, P. M. (1999). Understanding and treating obsessive-compulsive disorder. Behaviour Research and Therapy.

Rachman, S. (2002). A Cognitive Theory of Compulsive Checking. Behaviour Research and Therapy.

Abramowitz, J. S. (2006). Understanding and Treating Obsessive-Compulsive Disorder. Lawrence Erlbaum Associates.

Stein, D. J., & Fineberg, N. A. (2007). Obsessive-Compulsive Disorder. Oxford University Press.


Kadang orang membayangkan pikiran manusia seperti sesuatu yang sepenuhnya bisa dikendalikan.

Seolah kita bisa memilih dengan mudah pikiran mana yang datang dan mana yang pergi.

Namun kenyataannya pikiran sering jauh lebih liar daripada yang kita sadari.

Ia bisa berlari ke arah yang tidak kita inginkan.

Ia bisa kembali membawa pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Dan mungkin di situlah sesuatu yang menarik tentang memahami OCD:

bahwa di balik perilaku yang terlihat aneh atau berlebihan, sering ada seseorang yang sebenarnya hanya sedang mencoba merasa aman di dalam pikirannya sendiri.

Dan kadang usaha itu terasa seperti berjalan di sebuah lingkaran yang sangat sulit dihentikan.

Penyebab dari gangguan Obsessive compulsive disorder (OCD) belum benar-benar diketahui darimana asalnya. Namun beberapa penelitian ada yang menyebutkan kemungkinan dari penyebab tersebut, seperti :

  • Faktor genetik dan keturunan, namun faktor genetik yang spesifik belum teridentifikasi. Memiliki orangtua atau anggota keluarga lain dapat meningkatkan resiko terkena gangguan OCD.
  • Fungsi otak yang abnormal pada senyawa kimia, struktur maupun fungsinya.
  • Keyakinan yang terdistorsi dapat memperkuat dan mempertahankan gejala-gejala OCD.
  • Ketakutan yang obsesif dan perilaku kompulsif dapat dipelajari dari memperhatikan anggota keluarga yang juga memiliki gejala OCD ataupun dipelajari seiring berjalannya waktu
  • Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, perubahan hormon, dan kepribadian. Saat mengalami kejadian yang penuh tekanan atau traumatis, mungkin dapat memicu pikiran yang mengganggu, ritual-ritual maupun karakteristik emosional dri OCD.
  • Hasil dari perilak yangg dipelajari, yang menjadi kebiasaan dan terulang saat mencoba meringankan anxiety.
  • Pengaruh gangguan mental lainnya seperti depresi, penggunaan narkoba maupun alkohol, dan penyakit tic.

Sumber :
Obsessive-compulsive disorder (OCD)
Obsessive compulsive disorder

Gangguan Obsesif Kompulsif atau Obsessive-compulsive disorder (OCD) yaitu sebuah gangguan kecemasan, dimana seseorang merasa terperangkap didalam pikiran yang repetitif dan bertahan lama (obsesi) serta perilaku berulang dan diritualkan (kompulsi) untuk mengurangi kecemasan.  Jika ditelaah lebih lanjut definisi obsesi (obsession) yaitu pikiran, dorongan atau gambaran mental yang berulang, presisten dan tidak di ingikan dan sulit dikendalikan. sedangkan kompulsi (compulsion) merupakan perilaku yang berulang dan terpaksa melakukannya seperti mencuci tangan berkali-kali.

Beberapa penyebab terjadinya Obsessive-compulsive disorder (OCD) adalah sebagai berikut:

  1. Kecemasan
  2. Faktor genetik dan keturunan
  3. Kelainan struktural dan fungsional di otak
  4. Peristiwa hidup yang penuh tekanan

Beberapa penyebab tersebut dapat saling berinteraksi dan menyebabkan gangguan Obsessive-compulsive disorder (OCD) 

Refrensi:

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/obsessive-compulsive-disorder#causes-of-ocd