Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa Banyak Orang Jenius Terkena Gangguan Mental?

DA Damaris Samira Eliana 6 years ago Resolved

Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa tokoh-tokoh genius yang mampu mengubah sejarah biasanya punya kecenderungan mengidap gangguan jiwa atau gangguan kepribadian. Misalnya, Vincent Van Gogh, yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, Charles Darwin, ilmuwan yang mempopulerkan teori evolusi, mengidap fobia dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), John Nash, seorang pakar matematika dan ekonomi pemenang Hadiah Nobel, yang ternyata menyandang skizofrenia.

Jadi, apakah semakin jenius kemampuan otak seseorang, ia akan semakin rentan kena gangguan jiwa?

21

Ada sebuah pertanyaan yang sudah berulang kali muncul dalam sejarah pemikiran manusia: mengapa begitu banyak orang yang dianggap jenius justru terlihat bergumul dengan gangguan mental?

Pertanyaan ini sering muncul ketika orang membaca kisah-kisah tokoh besar dalam sejarah—seniman, ilmuwan, penulis, atau pemikir yang menghasilkan karya luar biasa, tetapi di balik kecemerlangan itu ada kehidupan batin yang tidak selalu tenang.

Beberapa nama sering disebut dalam diskusi semacam ini: Vincent van Gogh dengan gejolak emosinya, Virginia Woolf dengan depresi yang mendalam, atau matematikawan John Nash yang bergumul dengan skizofrenia. Kisah-kisah seperti ini membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah ada hubungan antara kecerdasan yang luar biasa dengan kerentanan psikologis?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban sederhana. Namun ketika psikologi mencoba menelusurinya lebih dalam, muncul beberapa pola yang cukup menarik.

Dan salah satu hal pertama yang perlu dipahami adalah ini: kejeniusaan bukan hanya soal kemampuan berpikir cepat atau menghafal banyak informasi. Ia sering berkaitan dengan cara pikiran memproses dunia dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.

Intensitas inilah yang kadang menjadi sumber kreativitas besar—tetapi juga bisa menjadi sumber kelelahan batin yang dalam.


Pikiran yang Terlalu Aktif

Banyak orang yang sangat kreatif atau sangat cerdas memiliki pola berpikir yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Ide muncul dengan cepat.
Pertanyaan muncul tanpa henti.
Hubungan antara berbagai konsep terlihat lebih jelas bagi mereka dibandingkan kebanyakan orang.

Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, yang meneliti kreativitas selama puluhan tahun, menemukan bahwa individu kreatif sering memiliki sistem kognitif yang sangat aktif. Pikiran mereka terus memproduksi kemungkinan, pola, dan gagasan baru (Csikszentmihalyi, 1996).

Namun ada sisi lain dari kondisi ini.

Pikiran yang terus bergerak tanpa henti bisa menjadi tempat yang sangat melelahkan untuk ditinggali.

Sebagian orang menggambarkannya seperti memiliki radio di kepala yang tidak pernah dimatikan.


Sensitivitas Emosional yang Tinggi

Ada satu karakteristik lain yang sering muncul pada individu dengan kreativitas tinggi: sensitivitas emosional yang sangat kuat.

Mereka tidak hanya memikirkan dunia dengan intensitas tinggi. Mereka juga merasakannya dengan intensitas yang sama.

Hal-hal yang bagi orang lain terasa biasa saja dapat terasa sangat kuat bagi mereka.

Keindahan bisa terasa lebih indah.
Kesedihan bisa terasa lebih dalam.
Kekecewaan bisa terasa lebih menghancurkan.

Psikolog Kazimierz Dabrowski menyebut fenomena ini sebagai overexcitabilities, yaitu kecenderungan individu berbakat untuk mengalami rangsangan emosional, intelektual, dan sensorik secara lebih intens dibandingkan orang lain (Dabrowski, 1964).

Dalam beberapa kasus, sensitivitas ini menjadi bahan bakar kreativitas.

Namun dalam situasi lain, ia juga membuat seseorang lebih rentan terhadap kecemasan, depresi, atau kelelahan emosional.


Isolasi Sosial

Ada satu pengalaman lain yang sering muncul dalam kehidupan orang-orang yang sangat cerdas atau sangat kreatif: perasaan terasing.

Ketika cara berpikir seseorang sangat berbeda dari orang di sekitarnya, komunikasi bisa menjadi sulit.

Percakapan sehari-hari mungkin terasa dangkal bagi mereka.
Ide-ide yang mereka anggap menarik mungkin tidak dipahami oleh orang lain.

Lama-kelamaan, sebagian orang mulai merasa seperti hidup di dunia yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang.

Psikolog sosial Mark Snyder menjelaskan bahwa kebutuhan manusia untuk merasa dimengerti adalah bagian penting dari kesejahteraan psikologis (Snyder & Lopez, 2002).

Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, perasaan kesepian dapat berkembang bahkan di tengah lingkungan sosial yang ramai.

Kesepian intelektual sering kali tidak terlihat dari luar, tetapi dapat terasa sangat nyata bagi orang yang mengalaminya.


Hubungan Antara Kreativitas dan Bipolar

Salah satu penelitian paling terkenal tentang hubungan antara kreativitas dan gangguan mental dilakukan oleh Kay Redfield Jamison.

Dalam bukunya Touched with Fire, Jamison meneliti banyak tokoh kreatif dalam sejarah dan menemukan pola yang cukup menarik: tingkat gangguan bipolar tampak lebih tinggi pada individu dengan kreativitas artistik yang luar biasa (Jamison, 1993).

Gangguan bipolar ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem—periode energi dan kreativitas tinggi yang disebut mania, diikuti oleh periode depresi yang dalam.

Pada fase mania ringan, sebagian orang mengalami peningkatan energi, kepercayaan diri, dan aliran ide yang sangat cepat.

Kondisi ini kadang berkaitan dengan produktivitas kreatif yang luar biasa.

Namun sisi lain dari gangguan ini adalah fase depresi yang sangat berat.

Dan sering kali fase inilah yang paling menghancurkan.


Perfeksionisme yang Tidak Pernah Puas

Banyak orang jenius juga memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri mereka sendiri.

Karya yang bagi orang lain sudah terlihat luar biasa bisa terasa belum cukup bagi mereka.

Mereka melihat kekurangan yang tidak dilihat orang lain.
Mereka mengejar kesempurnaan yang hampir mustahil dicapai.

Psikolog Gordon Flett dan Paul Hewitt menjelaskan bahwa perfeksionisme maladaptif dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan (Flett & Hewitt, 2002).

Ketika seseorang terus-menerus merasa bahwa apa yang mereka lakukan belum cukup baik, kelelahan emosional bisa muncul perlahan.

Kadang kecerdasan yang sangat tinggi justru membuat seseorang lebih sadar akan semua kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi.


Otak yang Berbeda Cara Kerjanya

Penelitian dalam neuroscience juga mulai menunjukkan bahwa beberapa individu dengan kreativitas tinggi memiliki pola konektivitas otak yang berbeda.

Studi oleh Nancy Andreasen menemukan bahwa individu kreatif sering menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dalam jaringan otak yang berkaitan dengan asosiasi bebas dan imajinasi (Andreasen, 2011).

Jaringan ini memungkinkan seseorang menghubungkan ide-ide yang tampaknya tidak berkaitan.

Namun pola konektivitas yang sangat fleksibel ini juga dapat berkaitan dengan kerentanan terhadap gangguan mood atau gangguan pemikiran tertentu.

Dengan kata lain, mekanisme otak yang memungkinkan kreativitas besar kadang juga membawa kerentanan tertentu.


Mitos yang Perlu Diluruskan

Meskipun hubungan antara kreativitas dan gangguan mental sering dibahas, penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini.

Tidak semua orang jenius mengalami gangguan mental.
Dan tidak semua gangguan mental berkaitan dengan kejeniusaan.

Sebagian penelitian bahkan menunjukkan bahwa kondisi psikologis yang stabil sering kali lebih mendukung produktivitas kreatif dalam jangka panjang.

Namun kisah-kisah tentang tokoh kreatif yang bergumul dengan penderitaan emosional tetap meninggalkan kesan kuat dalam budaya manusia.

Mungkin karena kisah-kisah tersebut mencerminkan sesuatu yang sangat manusiawi: hubungan antara kepekaan, kreativitas, dan kerentanan.


Referensi

Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and Invention.

Jamison, K. R. (1993). Touched with Fire: Manic-Depressive Illness and the Artistic Temperament.

Dabrowski, K. (1964). Positive Disintegration.

Andreasen, N. C. (2011). The Creating Brain: The Neuroscience of Genius.

Flett, G. L., & Hewitt, P. L. (2002). Perfectionism: Theory, Research, and Treatment.

Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (2002). Handbook of Positive Psychology.


Ketika seseorang mencoba memahami hubungan antara kejeniusaan dan gangguan mental, ada satu hal yang sering muncul sebagai refleksi yang cukup sunyi.

Mungkin kecerdasan yang sangat tinggi bukan hanya tentang kemampuan melihat lebih jauh dari orang lain.

Kadang ia juga berarti merasakan dunia dengan kedalaman yang tidak selalu mudah ditanggung.

Dan di titik tertentu, kita mungkin mulai menyadari sesuatu yang cukup sederhana namun juga cukup berat untuk diterima:

bahwa pikiran yang mampu menciptakan keindahan besar bagi dunia kadang juga menjadi tempat yang paling sunyi bagi orang yang memilikinya.

Ada sebuah gambaran yang cukup sering muncul dalam sejarah manusia: sosok yang sangat brilian, pemikir yang melampaui zamannya, seniman yang menghasilkan karya luar biasa—tetapi pada saat yang sama hidupnya dipenuhi pergulatan mental yang berat.

Ketika orang mempelajari kehidupan beberapa tokoh besar dalam sejarah, pola ini terasa berulang. Kecerdasan luar biasa sering berjalan berdampingan dengan kesepian yang dalam, sensitivitas emosional yang kuat, atau bahkan gangguan psikologis yang nyata.

Pertanyaan pun muncul secara alami:
Mengapa hal ini sering terjadi?

Apakah ada hubungan antara kejeniusannya dengan penderitaan mental yang dialami?

Jawaban jujurnya tidak sederhana. Namun beberapa dekade penelitian dalam psikologi, neurosains, dan psikiatri mulai memberikan gambaran yang cukup menarik tentang hubungan antara kecerdasan tinggi dan kerentanan mental.

Hubungan ini tidak bersifat mutlak, tetapi ada pola-pola tertentu yang cukup sering muncul.


Sensitivitas Mental yang Lebih Tinggi

Ada satu kisah yang pernah teringat ketika membicarakan topik ini.

Saya pernah mengenal seseorang yang secara intelektual sangat luar biasa. Ia mampu memahami konsep-konsep kompleks dengan sangat cepat. Dalam percakapan biasa pun, pikirannya bergerak jauh lebih cepat daripada kebanyakan orang di sekitarnya.

Namun ada satu hal yang cukup mencolok.

Ia merasakan banyak hal dengan sangat intens.

Kritik kecil bisa menghantui pikirannya selama berhari-hari. Ia memikirkan makna hidup, kematian, dan masa depan dengan kedalaman yang jarang ditemui pada orang lain.

Ia pernah mengatakan sesuatu yang cukup sederhana tetapi sangat jujur:

“Kadang rasanya seperti otak saya tidak pernah berhenti berpikir.”

Pengalaman seperti ini tidak jarang ditemukan pada individu dengan kecerdasan tinggi.

Dalam buku The Gifted Adult karya Mary-Elaine Jacobsen, dijelaskan bahwa banyak individu dengan kemampuan intelektual tinggi memiliki sensitivitas emosional dan kognitif yang lebih kuat dibandingkan populasi umum.

Hal ini sering disebut sebagai overexcitability, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Kazimierz Dabrowski.

Menurut teori ini, individu berbakat sering memiliki intensitas yang tinggi dalam lima area: intelektual, emosional, imajinatif, sensorik, dan psikomotor.

Intensitas ini dapat menjadi sumber kreativitas dan pemikiran mendalam.

Namun pada saat yang sama, ia juga dapat menjadi sumber kelelahan mental.


Otak yang Terus Bekerja

Otak manusia yang sangat aktif secara kognitif sering kali juga memiliki aktivitas yang tinggi dalam jaringan saraf tertentu.

Salah satu jaringan yang menarik perhatian para peneliti adalah default mode network (DMN).

Jaringan ini aktif ketika seseorang sedang berpikir secara internal—merenung, membayangkan masa depan, memikirkan identitas diri, atau menganalisis pengalaman hidup.

Dalam beberapa penelitian neurosains, ditemukan bahwa individu dengan kreativitas dan kecerdasan tinggi sering menunjukkan aktivitas DMN yang lebih kompleks.

Namun ada sisi lain dari fenomena ini.

DMN juga berperan dalam rumination, yaitu kecenderungan untuk terus memikirkan masalah atau pengalaman negatif secara berulang.

Rumination merupakan salah satu faktor penting dalam gangguan seperti depresi dan kecemasan.

Otak yang sangat aktif dalam refleksi diri dapat menjadi sumber wawasan besar, tetapi juga bisa menjadi sumber penderitaan mental.


Hubungan Antara Kreativitas dan Gangguan Mood

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara kreativitas tinggi dan gangguan mood tertentu, terutama gangguan bipolar.

Dalam buku Touched with Fire oleh Kay Redfield Jamison, dijelaskan bahwa tingkat gangguan bipolar pada seniman, penulis, dan musisi jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Jamison menunjukkan bahwa fase hipomania—fase energi tinggi dan ide yang mengalir sangat cepat—kadang dapat meningkatkan kreativitas.

Namun fase tersebut juga sering diikuti oleh periode depresi yang sangat berat.

Hal ini tidak berarti bahwa gangguan mood diperlukan untuk menjadi kreatif.

Tetapi penelitian menunjukkan bahwa beberapa mekanisme biologis yang mendasari kreativitas mungkin memiliki hubungan dengan sistem regulasi mood.


Kesadaran Eksistensial yang Lebih Dalam

Individu dengan kecerdasan tinggi sering memiliki kecenderungan untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan.

Pertanyaan seperti:

Apa makna hidup?
Mengapa manusia menderita?
Apa yang sebenarnya penting dalam hidup?

Pertanyaan semacam ini mungkin terdengar filosofis, tetapi bagi sebagian orang ia muncul dengan intensitas yang sangat nyata.

Ada seseorang yang pernah mengatakan bahwa sejak remaja ia sering merasa terasing dari dunia di sekitarnya.

Bukan karena ia tidak memiliki teman, tetapi karena cara ia memandang kehidupan terasa berbeda dari kebanyakan orang.

Ia sering memikirkan hal-hal yang orang lain jarang pikirkan.

Pengalaman seperti ini kadang disebut sebagai existential awareness—kesadaran yang sangat kuat tentang kompleksitas dan ketidakpastian kehidupan.

Kesadaran ini dapat memperkaya pemikiran seseorang.

Namun pada saat yang sama, ia juga dapat membawa beban emosional yang tidak ringan.


Tekanan Sosial dan Kesepian

Faktor lain yang cukup penting adalah isolasi sosial.

Individu dengan kecerdasan yang sangat tinggi kadang merasa sulit menemukan orang lain yang benar-benar memahami cara berpikir mereka.

Akibatnya, mereka dapat merasa terpisah dari lingkungan sosial di sekitarnya.

Kesepian intelektual ini sering tidak terlihat oleh orang lain.

Dari luar, seseorang mungkin tampak sukses dan produktif.

Namun di dalam dirinya, ia merasa tidak benar-benar dimengerti oleh siapa pun.

Kesepian seperti ini dapat menjadi faktor risiko bagi berbagai masalah psikologis.


Perfeksionisme dan Tekanan Diri

Banyak individu berbakat memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri.

Perfeksionisme dapat mendorong seseorang menghasilkan karya luar biasa.

Namun perfeksionisme juga memiliki sisi gelap.

Dalam buku Perfectionism: Theory, Research, and Treatment oleh Gordon Flett dan Paul Hewitt, dijelaskan bahwa perfeksionisme yang ekstrem sering berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan kelelahan mental.

Ketika standar yang ditetapkan terhadap diri sendiri terlalu tinggi, kegagalan kecil pun dapat terasa seperti bencana besar.


Kerentanan Biologis yang Mungkin Tumpang Tindih

Beberapa penelitian genetika menunjukkan bahwa faktor biologis yang berkaitan dengan kreativitas mungkin juga memiliki hubungan dengan kerentanan terhadap gangguan mental tertentu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience menemukan adanya hubungan genetik antara kreativitas dan gangguan seperti skizofrenia dan bipolar.

Namun hubungan ini bersifat kompleks.

Gen yang meningkatkan kemampuan berpikir asosiatif dan imajinasi dapat menjadi kekuatan besar dalam kreativitas.

Tetapi dalam kondisi tertentu, mekanisme yang sama juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan persepsi atau regulasi mood.


Refleksi

Ketika kita melihat kehidupan banyak tokoh besar dalam sejarah, sering muncul gambaran yang hampir paradoksal.

Kecerdasan luar biasa sering berjalan berdampingan dengan pergulatan mental yang tidak kalah besar.

Namun mungkin hubungan ini bukan sekadar kebetulan.

Kemampuan untuk melihat dunia dengan kedalaman yang luar biasa sering berarti merasakan kehidupan dengan intensitas yang sama besar.

Pikiran yang mampu menjelajahi ide-ide paling kompleks kadang juga menjadi tempat lahirnya kegelisahan yang paling dalam.

Dan mungkin di situlah letak salah satu misteri paling menarik tentang manusia: bahwa kemampuan yang membuat seseorang mampu memahami dunia dengan cara yang sangat mendalam kadang juga membuatnya harus memikul beban emosional yang tidak semua orang sanggup merasakannya.

Referensi:

Jamison, K. R. (1993). Touched with Fire: Manic-Depressive Illness and the Artistic Temperament

Jacobsen, M. (2000). The Gifted Adult

Flett, G., & Hewitt, P. (2002). Perfectionism: Theory, Research, and Treatment

Sadock, B., Sadock, V., & Ruiz, P. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry

Penelitian membandingkan data dari 3,715 anggota American Mensa Society (2 % orang-orang dengan nilai tertinggi dari tes intelegensi) dengan data survey nasional untuk memeriksa kemungkinan beberapa penyakit pada intelegensi yang lebih tinggi dibandingkan populasi rata-rata. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan intelegensi yang lebih tinggi memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi didiagnosis mengidap autism spectrum disorder (ASD), 80% kemungkinan didiagnosis memiliki ADHD, 83% kemungkinan didiagnosis anxiety, dan 182% kemungkinan mengalami setidaknya satu gangguan mood.

Penelitian lain menunjukkan bahwa orangg yang memiliki intelegensi lebih tinggi memiliki kecenderungan mengalami "terlalu banyak rangsangan intelektual" dan hiper-reaktivitas sistem saraf pusat. Hal itu juga membuat orang dengan IQ tinggi memiliki kesadaran yang lebih tinggi dimana hal itu membantu kreatifitas dan pekerjaan artistik mereka. Namun hiper-reaktivitas itu juga dapat menyebabkan depresi mendalam dan kesehatan mental yang buruk. Hal ini ditemukan pada penyair, penulis novel, dan orang-orang dengan intelegensi verbal yang tinggi. Respon emosi intens mereka pada lingkungan meningkatkan kecenderungan untuk menjadi khawatir dan berpikir mendalam dimana keduanya dapat mengarah pada gangguan depresi dan anxiety.

Penelitian-penelitian terdahulu juga menunjukkan fenomena teori Hyper Brain / Hyper body pada integrasi. Teori ini menyatakan bahwa memiliki intelegensi tinggi ada hubungannya dengan "terlalu banyak rangangan" fisik dan psikis atau disingkat OE (overexcitabilitie). OE merupakan reaksi intens yang tidak biasa pada ancaman ataupun hinaan dari lingkungan. Contohnya seperti suara yang mengagetkan hingga konfrontasi dengan orang lain.

Sehingga dari penelitian-penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa orang dengan kemampuan intelegensi yang lebih tinggi memang lebih rawan mengalami gangguan mental.

Sumber :
Bad News for the Highly Intelligent
Why highly intelligent people suffer from more mental and physical disorders