Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Pertanyaan tentang self injury atau self harm sering muncul dengan nada yang sama: bingung, khawatir, dan kadang sedikit tidak percaya.

Banyak orang bertanya dengan nada seperti ini: “Kenapa seseorang bisa sampai melukai dirinya sendiri? Bukankah itu menyakitkan?”

Pertanyaan itu wajar. Bagi seseorang yang tidak pernah berada di posisi tersebut, tindakan itu terlihat tidak masuk akal. Tubuh manusia secara alami dirancang untuk menghindari rasa sakit. Jadi ketika seseorang justru dengan sengaja menciptakan rasa sakit pada tubuhnya sendiri, hal itu terasa seperti sesuatu yang bertentangan dengan naluri dasar manusia.

Namun semakin lama seseorang mempelajari pergulatan mental manusia, semakin jelas bahwa perilaku ini hampir tidak pernah muncul dari ruang kosong. Self harm biasanya bukan sekadar “ingin menyakiti diri”. Ia sering kali merupakan bahasa terakhir dari rasa sakit yang tidak menemukan cara lain untuk keluar.

Dan di baliknya, ada banyak lapisan: psikologis, biologis, neurologis, dan pengalaman hidup yang saling berkelindan.


Luka yang Tidak Terlihat

Ada satu kisah yang selalu teringat setiap kali membicarakan topik ini.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat tertata. Ia punya pekerjaan stabil, lingkaran pertemanan yang cukup luas, dan jika bertemu orang baru, kesan pertama yang muncul adalah: tenang, rasional, dan dewasa.

Suatu hari, dalam sebuah percakapan yang cukup panjang, ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki kebiasaan menyayat kulitnya sendiri di tempat yang tidak mudah terlihat orang.

Ketika ditanya mengapa, jawabannya sangat sederhana.

“Supaya kepalaku berhenti berisik.”

Kalimat itu terdengar aneh jika tidak memahami konteksnya. Tetapi bagi banyak orang yang pernah berada di kondisi tersebut, kalimat itu sangat masuk akal.

Self harm sering kali bukan tentang rasa sakit fisik. Ia justru tentang mencoba mengendalikan rasa sakit emosional yang terasa jauh lebih tidak tertahankan.


Ketika Emosi Terlalu Besar untuk Ditampung

Dalam banyak penelitian tentang self-injury, salah satu konsep yang sering muncul adalah emotion regulation—kemampuan seseorang untuk mengelola emosi yang intens.

Buku Principles of Neural Science oleh Eric Kandel menjelaskan bahwa emosi bukan hanya pengalaman psikologis, tetapi juga proses biologis yang melibatkan banyak bagian otak: amigdala, prefrontal cortex, hippocampus, dan sistem limbik secara keseluruhan.

Pada orang yang mengalami tekanan mental berat—misalnya trauma masa kecil, depresi, kecemasan berat, atau konflik interpersonal kronis—sistem ini bisa menjadi sangat sensitif.

Amigdala, bagian otak yang berperan dalam memproses rasa takut dan ancaman, dapat menjadi terlalu reaktif. Sementara itu, prefrontal cortex—bagian otak yang membantu kita menenangkan emosi dan berpikir rasional—kadang tidak mampu mengimbangi intensitas emosi tersebut.

Hasilnya adalah keadaan yang sering digambarkan seperti ini:

Emosi terasa terlalu besar untuk ditampung.

Dalam situasi seperti itu, sebagian orang menemukan cara-cara tertentu untuk menurunkan intensitas emosi secara cepat. Ada yang melampiaskannya dengan kemarahan, ada yang dengan penggunaan zat, ada yang dengan perilaku impulsif.

Sebagian lainnya menemukan bahwa rasa sakit fisik dapat mengalihkan rasa sakit emosional.


Mekanisme Biologis yang Jarang Dibicarakan

Hal yang sering tidak disadari adalah bahwa self harm juga memiliki komponen biologis yang cukup nyata.

Ketika tubuh mengalami luka, otak melepaskan berbagai zat kimia, termasuk endorfin dan enkefalin, yang berfungsi sebagai analgesik alami tubuh.

Endorfin ini memiliki efek yang mirip dengan opioid ringan: mengurangi rasa sakit dan menciptakan sensasi lega atau bahkan sedikit euforia.

Dalam buku Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry, dijelaskan bahwa pada sebagian individu yang melakukan self injury berulang, tubuh bisa mulai “mengasosiasikan” perilaku tersebut dengan pelepasan endorfin yang menenangkan.

Akibatnya terbentuk semacam siklus:

emosi yang sangat intens → tindakan melukai diri → pelepasan endorfin → perasaan lega sementara.

Yang membuatnya rumit adalah bahwa rasa lega itu nyata.

Bukan hanya secara psikologis, tetapi juga secara biologis.

Namun rasa lega tersebut biasanya hanya bertahan sebentar. Setelah itu, emosi yang sama bisa kembali muncul, kadang bahkan disertai rasa bersalah atau malu.

Dan siklusnya berulang.


Cara Mengubah Rasa yang Tidak Bisa Diungkapkan

Ada alasan lain yang sering muncul dalam cerita orang-orang yang melakukan self harm: ketidakmampuan mengekspresikan emosi secara verbal.

Banyak orang tumbuh di lingkungan di mana emosi tidak pernah benar-benar diberi ruang.

Anak yang menangis dianggap lemah.
Anak yang marah dianggap tidak sopan.
Anak yang sedih dianggap berlebihan.

Akhirnya mereka belajar satu hal: menyimpan semuanya di dalam.

Namun emosi tidak benar-benar hilang hanya karena disembunyikan. Ia tetap ada, bergerak di bawah permukaan.

Dalam beberapa penelitian tentang non-suicidal self injury (NSSI), ditemukan bahwa banyak individu yang melakukan self harm mengalami kesulitan dalam alexithymia—kesulitan mengenali dan menamai emosi mereka sendiri.

Ketika seseorang tidak bisa mengatakan:

“Aku sedang sangat marah.”
“Aku merasa sangat ditolak.”
“Aku merasa hampa.”

maka tubuh kadang menjadi tempat di mana emosi itu akhirnya muncul.

Luka di kulit menjadi cara tubuh mengatakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan oleh kata-kata.


Menghentikan Rasa Mati di Dalam

Menariknya, tidak semua self harm dilakukan untuk mengurangi emosi yang terlalu kuat.

Sebagian justru dilakukan untuk alasan yang sebaliknya.

Yaitu: mengatasi rasa mati rasa.

Dalam kondisi depresi berat atau trauma kompleks, sebagian orang mengalami fenomena yang disebut emotional numbness.

Mereka tidak merasa sedih.
Tidak merasa bahagia.
Tidak merasa apa-apa.

Segalanya terasa datar.

Beberapa orang menggambarkannya seperti hidup di dalam kabut tebal.

Dalam situasi seperti ini, rasa sakit fisik bisa menjadi cara untuk merasakan sesuatu kembali.

Ada seseorang yang pernah berkata seperti ini dalam sebuah percakapan panjang:

“Ketika itu terjadi, setidaknya aku tahu aku masih hidup.”

Kalimat itu terdengar tragis, tetapi juga sangat jujur.


Trauma yang Tersimpan di Tubuh

Banyak penelitian modern tentang trauma menunjukkan bahwa pengalaman traumatis tidak hanya disimpan dalam ingatan, tetapi juga dalam sistem saraf tubuh.

Buku The Body Keeps the Score karya Bessel van der Kolk menjelaskan bagaimana trauma dapat mengubah cara otak memproses emosi, rasa aman, dan hubungan dengan tubuh sendiri.

Orang yang mengalami trauma—terutama trauma masa kecil—sering memiliki hubungan yang sangat kompleks dengan tubuh mereka.

Sebagian merasa terputus dari tubuhnya.
Sebagian merasa tubuhnya bukan tempat yang aman.

Self harm kadang muncul sebagai cara yang sangat paradoksal untuk mengambil kembali kendali atas tubuh sendiri.

Jika seseorang pernah mengalami pengalaman di mana tubuhnya disakiti oleh orang lain atau oleh situasi yang tidak bisa ia kendalikan, maka melukai diri sendiri bisa terasa seperti:

“Setidaknya kali ini aku yang memutuskan.”

Ini bukan logika yang mudah dipahami dari luar, tetapi bagi sebagian orang yang membawa luka trauma, logika itu sangat nyata.


Antara Self Harm dan Keinginan untuk Mati

Satu hal yang penting dipahami: tidak semua self harm dilakukan dengan niat bunuh diri.

Dalam literatur kesehatan jiwa, ada istilah Non-Suicidal Self Injury (NSSI).

Artinya tindakan melukai diri yang dilakukan tanpa niat untuk mengakhiri hidup.

Justru pada banyak kasus, self harm adalah cara seseorang bertahan hidup.

Ini mungkin terdengar kontradiktif, tetapi banyak orang yang melakukan self harm sebenarnya sedang mencoba menghindari dorongan bunuh diri.

Dengan menciptakan pelepasan emosional melalui rasa sakit fisik, mereka mencoba menurunkan intensitas keinginan untuk benar-benar mengakhiri hidup.

Namun tentu saja, garis antara keduanya kadang bisa menjadi sangat tipis, terutama ketika kondisi mental semakin memburuk.


Dunia yang Terlihat Baik-Baik Saja

Hal lain yang sering mengejutkan banyak orang adalah bahwa self harm tidak selalu terlihat dari luar.

Sebagian orang yang melakukannya justru terlihat sangat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka bekerja.
Mereka bercanda.
Mereka hadir di acara keluarga.

Namun di balik itu semua, ada bagian dari hidup mereka yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

Penderitaan mental sering kali adalah penderitaan yang paling tersembunyi.

Ia tidak selalu memiliki tanda yang mudah dikenali.


Sebuah Refleksi

Semakin lama seseorang memperhatikan pergulatan mental manusia, semakin terlihat bahwa perilaku seperti self harm jarang sekali muncul dari satu sebab tunggal.

Ia biasanya merupakan hasil dari banyak lapisan yang bertumpuk:

pengalaman hidup, trauma, cara otak memproses emosi, sistem hormon, pola hubungan, serta cara seseorang belajar memahami dirinya sendiri sejak kecil.

Ketika seseorang melukai tubuhnya sendiri, yang terlihat oleh dunia hanyalah luka di kulit.

Tetapi hampir selalu ada sesuatu yang jauh lebih dalam di baliknya—sesuatu yang mungkin sudah lama mencoba berbicara, namun tidak pernah benar-benar didengar.

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah “mengapa seseorang melakukan self harm”.

Melainkan pertanyaan yang lebih sunyi:

berapa banyak rasa sakit manusia yang berjalan di sekitar kita setiap hari… tanpa pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

Pertanyaan tentang mengapa seseorang melakukan self injury atau self harm sering kali terdengar sederhana, tetapi jawabannya hampir tidak pernah sederhana. Banyak orang mengira tindakan itu dilakukan karena seseorang ingin mati, ingin mencari perhatian, atau karena mereka “lemah secara mental.” Namun ketika seseorang benar-benar mencoba memahami apa yang terjadi di balik perilaku itu, gambarnya jauh lebih kompleks—dan jauh lebih manusiawi.

Self harm pada dasarnya adalah tindakan sengaja melukai tubuh sendiri—misalnya dengan menggores kulit, memukul diri sendiri, membakar kulit, atau bentuk-bentuk lain—tanpa selalu memiliki niat untuk bunuh diri. Dalam literatur psikologi, perilaku ini sering disebut non-suicidal self-injury (NSSI). Peneliti seperti Matthew Nock dari Harvard University menjelaskan bahwa NSSI adalah perilaku yang dilakukan untuk mengatur emosi yang sangat sulit ditanggung. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut bukan tentang ingin mati, tetapi tentang mencoba bertahan hidup dengan cara yang menyakitkan.

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat lebih dalam ke dalam dunia emosi seseorang.


Ketika Emosi Menjadi Terlalu Penuh

Bayangkan sebuah gelas yang terus diisi air tanpa pernah dikosongkan. Awalnya gelas itu mampu menampung semuanya. Tetapi semakin lama, air mulai meluap.

Banyak orang yang melakukan self harm hidup dengan perasaan yang sangat intens: kesedihan yang menumpuk, rasa bersalah yang tak kunjung reda, kemarahan yang tidak pernah punya ruang untuk keluar, atau rasa hampa yang membuat hidup terasa seperti berjalan tanpa warna.

Dalam buku “Why People Die by Suicide”, psikolog terkenal Thomas Joiner menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa terhubung dan berarti bagi orang lain. Ketika seseorang merasa sepenuhnya sendirian, tidak dipahami, atau menjadi beban bagi orang lain, rasa sakit psikologis bisa menjadi sangat berat.

Dalam kondisi seperti itu, emosi sering terasa seperti badai di dalam dada. Tidak semua orang memiliki keterampilan untuk mengelola badai itu.

Dan di titik itulah sebagian orang menemukan cara yang tidak biasa: melukai tubuh sendiri.

Bagi orang luar, itu terlihat mengerikan. Tetapi bagi orang yang melakukannya, terkadang itu terasa seperti satu-satunya cara untuk mengubah rasa sakit yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret.

Luka fisik bisa terlihat. Luka emosional sering tidak terlihat sama sekali.


Rasa Sakit Fisik yang Menggantikan Rasa Sakit Emosional

Salah satu teori paling terkenal tentang self harm berasal dari penelitian Matthew Nock (2009) dalam Annual Review of Clinical Psychology. Ia menjelaskan bahwa self injury sering berfungsi sebagai strategi regulasi emosi.

Ketika seseorang mengalami emosi yang sangat intens—seperti rasa malu, kecemasan ekstrem, atau kemarahan terhadap diri sendiri—otak berada dalam kondisi hiperaktif. Sistem saraf seperti terus menyala tanpa tombol “off”.

Menariknya, rasa sakit fisik dapat memicu pelepasan endorfin, yaitu zat kimia alami di otak yang dapat meredakan rasa sakit dan menghasilkan sedikit rasa lega. Karena itu, bagi sebagian orang, setelah melukai diri sendiri mereka justru merasakan ketenangan sementara.

Bukan karena mereka menikmati rasa sakit.

Tetapi karena rasa sakit itu memberi jeda dari kekacauan emosi yang lebih besar.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Journal of Abnormal Psychology, ditemukan bahwa banyak individu yang melakukan self injury melaporkan perasaan lega atau tenang setelahnya, meskipun hanya sementara.

Di sinilah paradoksnya:
tindakan yang terlihat destruktif dari luar justru terasa seperti mekanisme bertahan hidup dari dalam.


Ketika Kata-Kata Tidak Pernah Cukup

Ada orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan di mana emosi tidak pernah benar-benar mendapat tempat.

Anak yang menangis mungkin diberi tahu untuk berhenti karena dianggap berlebihan.
Anak yang marah mungkin dimarahi kembali.
Anak yang sedih mungkin dianggap terlalu sensitif.

Seiring waktu, mereka belajar satu hal penting: perasaan tidak aman untuk diungkapkan.

Psikolog Marsha Linehan, pencetus Dialectical Behavior Therapy, menulis banyak tentang bagaimana lingkungan yang invalidating—lingkungan yang secara konsisten menolak atau meremehkan emosi seseorang—dapat membuat individu kesulitan memahami dan mengatur perasaannya sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, emosi sering menumpuk tanpa pernah benar-benar diproses.

Dan ketika emosi tidak punya bahasa, tubuh kadang menjadi tempat di mana perasaan itu akhirnya berbicara.

Self harm sering kali adalah bahasa dari rasa sakit yang tidak pernah berhasil diucapkan dengan kata-kata.


Hukuman untuk Diri Sendiri

Ada juga dimensi lain yang jarang dibicarakan: rasa bersalah dan kebencian terhadap diri sendiri.

Beberapa orang yang melakukan self harm merasa bahwa mereka pantas dihukum. Mereka mungkin membawa beban kesalahan masa lalu, pengalaman traumatis, atau keyakinan bahwa mereka tidak cukup baik.

Dalam buku “Trauma and Recovery”, psikiater Judith Herman menjelaskan bahwa korban trauma sering kali menginternalisasi rasa bersalah, bahkan ketika mereka sebenarnya adalah korban. Rasa bersalah itu kemudian berubah menjadi kemarahan terhadap diri sendiri.

Ketika seseorang merasa dirinya rusak, gagal, atau tidak layak dicintai, melukai diri sendiri bisa terasa seperti bentuk hukuman.

Bukan karena mereka ingin menyakiti diri.

Tetapi karena mereka merasa itulah yang pantas mereka terima.


Rasa Hampa yang Sulit Dijelaskan

Menariknya, self harm tidak selalu berkaitan dengan emosi yang terlalu kuat. Kadang justru sebaliknya: ketiadaan emosi sama sekali.

Beberapa orang menggambarkan pengalaman hidup yang terasa datar, kosong, atau mati rasa. Tidak ada kesedihan yang jelas, tidak ada kebahagiaan yang nyata—hanya kehampaan.

Dalam kondisi ini, melukai diri sendiri bisa menjadi cara untuk merasakan sesuatu.

Rasa sakit fisik memberikan sensasi yang nyata. Ia membuktikan bahwa seseorang masih bisa merasakan sesuatu, bahkan jika yang dirasakan adalah sakit.

Kadang-kadang luka bukan tentang ingin mati, tetapi tentang memastikan bahwa seseorang masih hidup.


Ketika Self Harm Menjadi Siklus

Masalah terbesar dari self injury adalah sifatnya yang bisa membentuk kebiasaan.

Ketika seseorang menemukan bahwa tindakan tersebut memberikan kelegaan sementara, otak mulai mengasosiasikannya sebagai solusi. Ini mirip dengan mekanisme pembelajaran perilaku yang dijelaskan oleh B.F. Skinner dalam teori operant conditioning.

Jika suatu perilaku diikuti oleh pengurangan rasa sakit emosional, otak cenderung mengulang perilaku itu di masa depan.

Akibatnya, self harm bisa berubah menjadi siklus:

emosi berat → melukai diri → merasa lega → rasa bersalah → emosi kembali meningkat → melukai diri lagi.

Dan setiap kali siklus itu terjadi, jalan tersebut menjadi semakin familiar bagi otak.


Hal yang Sering Tidak Dilihat Orang

Ada satu hal yang sering tidak dipahami oleh orang luar.

Banyak orang yang melakukan self harm tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan sangat “normal”. Mereka pergi bekerja, tertawa bersama teman, menjalani rutinitas seperti orang lain.

Tidak semua luka terlihat di permukaan.

Dalam buku “The Body Keeps the Score”, psikiater Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa tubuh sering menyimpan pengalaman emosional yang tidak pernah sepenuhnya diproses. Trauma, rasa malu, dan kesedihan dapat hidup di dalam tubuh bahkan ketika seseorang tampak baik-baik saja dari luar.

Karena itu, tidak jarang seseorang yang tampak kuat sebenarnya sedang membawa beban yang sangat berat sendirian.


Apa yang Sering Dibutuhkan oleh Orang yang Melakukan Self Harm

Ketika orang mengetahui seseorang melakukan self harm, reaksi pertama sering kali adalah panik atau marah.

“Kenapa kamu melakukan ini?”
“Kamu harus berhenti.”
“Ini tidak masuk akal.”

Namun pendekatan seperti ini sering membuat seseorang semakin merasa tidak dipahami.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa yang paling membantu justru bukan ceramah atau tekanan, melainkan kehadiran yang aman.

Seseorang yang bisa mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Seseorang yang tidak langsung mencoba memperbaiki semuanya.
Seseorang yang cukup sabar untuk memahami bahwa rasa sakit emosional tidak bisa diselesaikan dalam satu percakapan.

Karena pada akhirnya, self harm bukan hanya tentang luka di kulit.

Ia adalah cerita tentang perasaan yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.


Sebuah Renungan

Jika ada satu hal yang sering muncul ketika mencoba memahami perilaku ini, itu adalah kenyataan bahwa manusia memiliki cara yang sangat beragam untuk bertahan hidup.

Sebagian orang mengekspresikan rasa sakit dengan air mata.
Sebagian menuliskannya dalam kata-kata.
Sebagian lagi menyimpannya begitu dalam sampai tubuh akhirnya menjadi tempat di mana rasa sakit itu keluar.

Self harm sering kali terlihat seperti tindakan menghancurkan diri sendiri.

Namun jika dilihat lebih dekat, terkadang ia justru adalah upaya seseorang untuk tetap bertahan di tengah rasa sakit yang terasa tak tertahankan.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih dalam bukan hanya “mengapa seseorang melukai dirinya sendiri?”

Melainkan sesuatu yang jauh lebih sunyi dan lebih manusiawi:

rasa sakit seperti apa yang harus dialami seseorang sampai tubuhnya sendiri menjadi tempat terakhir untuk menampungnya.

Aku pernah dekat dengan seseorang yang mengalami self-injury, dan melihatnya membuatku tercengang, bingung, tapi juga penuh rasa ingin memahami. Awalnya aku sulit mengerti: mengapa seseorang bisa dengan sadar melukai diri sendiri? Rasanya bertentangan dengan naluri dasar manusia untuk menjaga tubuh sendiri. Tapi seiring waktu, aku mulai melihat bahwa self-harm sering bukan tentang ingin mati, melainkan cara seseorang mencoba menghadapi rasa sakit yang tak tertahankan di dalam dirinya.

Orang itu bercerita padaku bahwa setiap kali hatinya penuh dengan perasaan tak tertangani—marah, bersalah, sedih, atau hampa, ia merasa tubuhnya adalah satu-satunya hal nyata yang bisa dikendalikan. Menyakiti diri sendiri memberinya rasa lega sementara, seolah rasa sakit fisik bisa menggantikan rasa sakit emosional yang begitu berat dan membingungkan. Aku terkejut, tapi juga mulai memahami bahwa self-harm adalah bentuk bahasa tubuh dan jiwa, cara orang itu berteriak tanpa kata-kata: “Aku kesakitan, tolong lihat aku.”

Selain itu, aku menyadari bahwa self-harm sering muncul dari trauma atau tekanan yang panjang. Orang yang melakukan ini biasanya mengalami kecemasan yang terus-menerus, depresi, atau tekanan sosial dan emosional yang berat, dan mereka belum menemukan cara sehat untuk mengekspresikan perasaan tersebut. Ada rasa malu, takut dihakimi, atau bahkan takut membebani orang lain, sehingga mereka memilih tubuh mereka sendiri sebagai “saluran.” Aku ingat bagaimana teman itu menunduk, menahan air mata, dan berkata: “Aku tidak ingin merepotkan orang lain, tapi aku tidak tahu cara lain untuk bernapas dari sakit ini.”

Aku juga melihat pola bahwa rasa kontrol sangat penting. Dalam hidup yang penuh ketidakpastian—tekanan keluarga, sekolah, pekerjaan, atau hubungan—tubuh menjadi satu-satunya hal yang bisa dikendalikan. Dengan self-injury, mereka merasakan kepastian: aku bisa mengatur rasa sakit ini sendiri, meski hanya sesaat. Bagi mereka, itu bukan kebencian pada diri sendiri, melainkan cara bertahan di tengah ketidakberdayaan yang luar biasa.

Yang membuatku terdiam adalah bagaimana emosi yang tak tersalurkan bisa memaksa tubuh menjadi medium ekspresi. Self-harm sering kali muncul karena seseorang tidak menemukan ruang aman untuk mengekspresikan kemarahan, frustrasi, atau kesedihan. Dan saat mereka mengekspresikannya lewat luka fisik, ada semacam kelegaan sesaat—rasa bahwa mereka terlihat, ada, dan nyata.

Melihat semua ini, aku belajar bahwa kita tidak bisa menilai tindakan ini dengan mudah. Self-injury adalah gejala dari luka yang lebih dalam—emosional, psikologis, dan sosial. Penting untuk menanggapi dengan empati, bukan sekadar marah atau menghakimi. Kadang, yang paling dibutuhkan orang yang melukai diri sendiri hanyalah dilihat, didengar, dan ditemani, meski mereka belum bisa bicara sepenuhnya.

"Luka yang tak terlihat sering berbicara melalui tubuh; biarkan hati menjadi telinga yang mendengar, bukan mata yang menghakimi."

Memahami Self-Injury dan Self-Harm

Self-injury atau self-harm adalah perilaku di mana seseorang secara sengaja melukai dirinya sendiri, baik melalui memotong, membakar, memukul, atau tindakan lain yang menyebabkan cedera fisik. Psikolog Matthew Nock, seorang pakar dalam perilaku ini, menjelaskan bahwa self-harm bukan selalu upaya untuk bunuh diri, tetapi sering merupakan mekanisme untuk mengatasi tekanan emosional yang intens.

Perilaku ini sering muncul pada remaja dan dewasa muda, meskipun dapat terjadi pada berbagai usia. Self-harm biasanya bersifat rahasia, karena pelaku merasa malu atau takut mendapat penilaian negatif. Hal ini membuat fenomena ini sulit dikenali oleh orang sekitar, sekaligus meningkatkan risiko komplikasi psikologis dan fisik.

Fungsi Psikologis dari Self-Harm

Secara psikologis, self-harm memiliki beberapa fungsi, meskipun tampaknya kontradiktif. Menurut buku Why People Hurt Themselves oleh Matthew Nock, perilaku ini biasanya muncul sebagai cara untuk:

  1. Mengurangi atau melepaskan ketegangan emosional yang intens.
  2. Memberikan rasa kontrol ketika hidup terasa tidak terkendali.
  3. Mengungkapkan rasa sakit emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
  4. Mendapatkan perhatian atau dukungan dari orang lain, meski secara tidak langsung.

Self-harm bisa dipahami sebagai strategi coping maladaptif: cara yang tampaknya membantu mengatasi stres jangka pendek, tetapi membawa risiko jangka panjang bagi kesehatan mental dan fisik.

Faktor Emosional dan Mental

Individu yang melakukan self-harm sering mengalami gangguan emosional yang mendalam. Psikolog Linehan, dalam terapi Dialectical Behavior Therapy (DBT), mengamati bahwa banyak pelaku self-harm mengalami kesulitan dalam emotion regulation atau regulasi emosi. Mereka sulit mengenali, mengekspresikan, atau menenangkan perasaan negatif seperti marah, sedih, atau kecewa.

Self-harm memberi sensasi fisik yang dapat menurunkan tingkat kecemasan sementara. Endorfin dan neurotransmitter lain dilepaskan sebagai respons terhadap rasa sakit fisik, sehingga menciptakan perasaan lega sementara. Sayangnya, sensasi ini tidak menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya dan dapat menimbulkan siklus perilaku yang sulit diputus.

Faktor Trauma dan Pengalaman Masa Lalu

Pengalaman traumatis di masa kanak-kanak, seperti pelecehan fisik, emosional, atau seksual, meningkatkan risiko seseorang melakukan self-harm. Penelitian dari Child Abuse & Neglect Journal menunjukkan bahwa individu yang mengalami trauma lebih rentan terhadap perilaku merugikan diri karena mereka belajar bahwa rasa sakit fisik dapat menjadi cara untuk mengelola atau mengekspresikan rasa sakit emosional.

Selain trauma, penolakan sosial, bullying, kehilangan orang yang dicintai, atau pengalaman pengasuhan yang tidak suportif juga dapat memicu perilaku ini. Self-harm menjadi cara untuk mengungkapkan ketidakadilan emosional yang sulit disampaikan secara verbal.

Gangguan Psikologis yang Terkait

Self-harm sering terkait dengan gangguan mental tertentu, meskipun tidak eksklusif. Gangguan borderline personality disorder (BPD) adalah salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan dengan perilaku ini, karena ciri emosional yang labil dan impulsivitas tinggi.

Selain itu, depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), dan gangguan makan juga dapat menjadi faktor risiko. Dalam konteks ini, self-harm bukan sekadar perilaku fisik, tetapi manifestasi dari ketidakmampuan otak dan tubuh mengelola stres emosional yang intens.

Faktor Sosial dan Lingkungan

Lingkungan sosial juga berperan penting. Paparan terhadap teman sebaya yang melakukan self-harm atau representasi media yang glamor dapat menormalisasi perilaku ini bagi individu yang rentan. Psikolog sosial Albert Bandura menekankan konsep social learning, di mana perilaku dipelajari melalui observasi dan pengalaman sosial.

Kondisi sosial yang kurang mendukung, seperti kurangnya komunikasi dalam keluarga atau tekanan akademik dan profesional yang berlebihan, juga meningkatkan risiko. Ketika seseorang merasa tidak ada tempat untuk berbagi perasaan atau mencari bantuan, self-harm sering kali menjadi “jalan keluar” yang tampak paling mudah.

Strategi Mengatasi dan Intervensi

Mengatasi self-harm membutuhkan pendekatan yang komprehensif, melibatkan psikolog, keluarga, dan sistem dukungan sosial. Dialectical Behavior Therapy (DBT) adalah metode yang banyak digunakan, khususnya untuk mereka yang mengalami kesulitan regulasi emosi. DBT mengajarkan keterampilan coping sehat, mindfulness, dan strategi pengelolaan stres.

Selain terapi profesional, membangun jaringan dukungan sosial sangat penting. Teman atau keluarga yang responsif dan non-judgmental dapat memberi ruang aman bagi individu untuk mengekspresikan perasaan tanpa harus melukai diri sendiri.

Strategi lain termasuk menulis jurnal, menyalurkan energi melalui olahraga, seni, atau aktivitas kreatif. Aktivitas ini memungkinkan ekspresi emosional yang aman dan membantu mengurangi ketegangan internal tanpa merugikan diri sendiri.

Pencegahan dan Edukasi

Pencegahan self-harm harus dimulai dari edukasi dan kesadaran emosional sejak dini. Anak dan remaja perlu belajar mengenali emosi, mengekspresikannya dengan cara yang sehat, dan mencari bantuan ketika menghadapi tekanan atau trauma. Program pendidikan emosional di sekolah dan komunitas terbukti efektif meningkatkan keterampilan regulasi emosi dan menurunkan perilaku merugikan diri.

Edukasi juga penting bagi orang tua dan guru untuk mengenali tanda-tanda perilaku self-harm, seperti luka tersembunyi, pakaian menutupi tubuh secara berlebihan, atau perubahan perilaku mendadak. Intervensi dini dapat mencegah eskalasi perilaku dan meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang.

Penutup

Self-injury atau self-harm adalah fenomena kompleks yang berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi, trauma masa lalu, gangguan psikologis, dan faktor sosial. Meskipun terlihat sebagai perilaku fisik, akar masalahnya sangat emosional dan psikologis.

Mengatasi perilaku ini membutuhkan pemahaman, dukungan sosial, terapi profesional, dan strategi coping yang sehat. Dengan pendekatan yang tepat, individu dapat belajar mengelola emosi, membangun keterampilan resilien, dan menemukan cara mengekspresikan diri tanpa merugikan tubuh. Self-harm bukan akhir dari cerita, tetapi panggilan untuk memahami, peduli, dan mencari bantuan yang membangun jalan menuju kesejahteraan emosional dan mental.

Alasan seseorang untuk melukai diri sendiri bisa sangat berbeda dengan orang lain yang melukai diri sendiri. Beberapa alasan yang dilaporkan anak muda sebagai pemicu atau alasan yang mengarahkan mereka pada tindakan menyakiti diri sendiri:

  • kesulitan di rumah
  • pertengkaran atau masalah dengan teman
  • tekanan sekolah
  • intimidasi
  • depresi
  • kecemasan
  • tingkat percaya diri yang rendah
  • transisi dan perubahan, seperti pindah sekolah
  • alkohol dan penggunaan narkoba.

Tidak ada alasan tunggal yang pasti tentang mengapa orang melukai diri sendiri. Hal ini karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang alasan melukai diri sendiri terkait dengan pengalaman tertentu dan merupakan cara menghadapi sesuatu yang terjadi saat ini atau yang terjadi di masa lalu. Sedangkan yang lain alasannya kurang jelas dan bisa lebih sulit dipahami.

Terkadang seseorang mungkin tidak tahu mengapa ia menyakiti diri sendiri. Ini tidak hanya terjadi pada satu orang, tetapi ada banyak orang yang tidak memahami mengapa ia melukai diri. Beberapa alasa umum mengapa orang melukai diri sendiri adalah:

  1. Tekanan di sekolah atau tempat kerja
  2. Bullying
  3. Masalah keuangan
  4. Pelecehan seksual, fisik atau emosional
  5. Kehilangan
  6. Homofobia, bifobia, dan transfobia
  7. Rusaknya suatu hubungan
  8. Kehilangan pekerjaan
  9. Penyakit atau masalah kesehatan
  10. Tingkat percaya diri yang rendah
  11. Peningkatan stres
  12. Depresi, kecemasan, kemarahan atau mati rasa

Selain itu, perilaku minum alkohol atau menggunakan narkoba juga dapat meningkatkan kemungkinan melukai diri sendiri. Terkadang orang yang berbicara tentang melukai diri sendiri  dicap sebagai mencari perhatian. Jika ada yang berkomentar seperti itu, maka akan membuat orang merasa dihakimi dan sendirian. Padahal ada banyak orang menyembunyikan tindakan melukai diri mereka sendiri.

Referensi:

MInd. (2020, May 1). Why do people self-harm? Mind, the Mental Health Charity - Help for Mental Health Problems. https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/self-harm/why-people-self-harm/

Menyakiti diri sendiri adalah ketika seseorang dengan sengaja merusak atau melukai tubuh mereka.

Beberapa alasan mengapa orang mungkin melukai diri sendiri meliputi:

  • Mengekspresikan atau mengatasi tekanan emosional
  • Mencoba untuk merasa memegang kendali
  • Cara menghukum diri sendiri
  • Menghilangkan ketegangan yang tak tertahankan
  • Teriakan minta tolong
  • Respon terhadap pikiran yang mengganggu

Menyakiti diri sendiri mungkin terkait dengan pengalaman buruk yang terjadi sekarang, atau di masa lalu. Tapi terkadang alasannya tidak diketahui. Alasannya juga dapat berubah dari waktu ke waktu dan tidak akan sama untuk semua orang. Menyakiti diri sendiri paling sering digambarkan sebagai cara untuk mengekspresikan atau mengatasi tekanan emosional.

Ada banyak kemungkinan penyebab tekanan emosional. Ini sering merupakan penumpukan dari banyak hal kecil yang membuat orang berpikir tentang melukai diri sendiri.

Beberapa contoh termasuk:

  • Diintimidasi
  • Tekanan di sekolah atau tempat kerja
  • Argumen keluarga atau masalah hubungan
  • Kekhawatiran uang
  • Harga diri yang rendah
  • Berjuang dengan stres, kecemasan dan depresi
  • Kesedihan setelah berkabung atau kehilangan
  • Pelecehan fisik atau seksual
  • Berhubungan dengan sistem peradilan pidana
  • Mengalami kesulitan kesehatan mental yang kompleks yang kadang-kadang menyebabkan perilaku impulsif atau kesulitan mengendalikan emosi, seringkali karena trauma masa lalu

Ada bukti hubungan yang jelas antara pikiran bunuh diri atau bunuh diri dan orang-orang yang sebelumnya telah melukai diri sendiri. Namun, tidak semua orang yang menyakiti diri sendiri ingin mengakhiri hidup mereka. Beberapa orang menggambarkan melukai diri sendiri sebagai cara untuk tetap hidup dengan menanggapi atau mengatasi tekanan emosional yang parah. Sangat penting untuk menemukan dukungan atau perawatan yang tepat untuk membantu menangani penyebab yang mendasarinya dengan cara yang kurang berbahaya.

Dari mentalhelp.net, terdapat 6 alasan kenapa seseorang melakukan self-injury, yaitu :

1. Mengalihkan perhatian atau mengubah fokus perhatian,  mendapatkan kendali atas pikiran ketika mengalami perasaan atau pikiran yang menekan, tak terhindarkan dan berlebihan.

Terkadang orang melukai diri untuk memperoleh kendali dari emosi dan pikiran yang kacau. Individu tsb mengalihkan perhatian dari sesuatu yang menggangu ke yang kurang mengganggu (individu menganggap hal ini adalah self-injury). Individu merasa sakit yang dialami saat self injury akan mengubah hal yang lebih menyakitkan yg memenuhi pikiran.

2. Melepaskan ketegangan yang terkait dengan emosi yang kuat atau pikiran yang berlebihan.

Keadaan individu yang kacau dapat berupa pikiran dan perasaan dari suatu ketegangan,  individu tersebut menganggap self-injury akan menurunkan ketegangan yang diriasa.

3. Merasakan sesuatu yang fisik ketika individu mati rasa.

Kita semua akrab dengan gagasan bahwa mengalami sensasi nyeri itu menyakitkan. Apa yang orang mungkin tidak sadari adalah bahwa tidak merasakan apa-apa juga menyakitkan. Orang-orang yang sebagian besar merasa mati rasa secara emosional sering kali mengalami semacam rasa sakit yang luar biasa. Beberapa dari mereka akan melukai diri sendiri sehingga menimbulkan sensasi kuat yang mampu membawa mereka kembali merasakan sesuatu lagi.

4. Mengekspresikan atau mengomunikasikan emosi (rasa sakit)  yang mereka rasakan dan tidak dapat diungkapkan dengan cara lain.

Terkadang, orang yang melukai diri sendiri tidak pintar dalam memgungkapkan pengalaman batin ataupun luka psikis mereka, apa yang bisa dilakukan untuk mencoba mengatasi pengalaman itu adalah mengungkapkannya secara fisik. Dengan melukai fisik, individu tsb menganggap sebagai alat komunikasi yg mudah dilihat dan memberikan tanda adanya hubungan dari luka emosional yang tidak dapat dilihat.

5. Menghukum diri sendiri.

Beberapa orang yang melukai diri sendiri melakukannya karena mereka berusaha untuk menghukum diri mereka sendiri. Ada saat-saat ketika mereka kewalahan dan perspektif yang ditanamkan ke dalam diri mengambil alih dan kemudian menghukum diri sendiri sebagai penggantinya. Terkadang kebutuhan ini diekspresikan secara fisik, melalui tindakan melukai diri sendiri

6. Untuk mengalami perasaan euforia.

Tindakan melukai diri sendiri berkaitan dengan perasaan euforia atau perasaan menyenangkan yang terjadi tepat setelah mereka melakukan self-injury. Beberapa orang menggambarkan perasaan ini adiktif. Mereka mengingat betapa nikmatnya perasaan itu dan menjadi termotivasi untuk melukai diri sendiri untuk menciptakan kembali perasaan itu.

referensi : https://www.mentalhelp.net/suicide/6-reasons-why-people-self-injure/