Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa kita sering merasa "tertinggal" melihat pencapaian teman di LinkedIn, padahal kita tau setiap orang memiliki garis start dan rintangan yang berbeda?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
23

Ketika Timeline Terasa Seperti Cermin yang Tidak Adil

Ada fase tertentu dalam hidup di mana membuka LinkedIn terasa seperti memasuki ruangan penuh orang-orang yang sedang merayakan sesuatu—promosi, pencapaian, penghargaan, bahkan sekadar pengumuman sederhana yang dikemas dengan bahasa penuh percaya diri. Sementara itu, di sisi lain layar, kita duduk dalam diam, membaca satu per satu, dan tanpa sadar muncul kalimat kecil di kepala: “Seharusnya kita juga sudah sejauh itu.”

Yang membuatnya membingungkan, kita sebenarnya tahu—secara rasional—bahwa setiap orang punya garis start yang berbeda, privilege yang berbeda, bahkan medan tempur yang berbeda. Namun tetap saja, perasaan “tertinggal” itu muncul. Bukan sekali dua kali, tapi berulang, halus, dan kadang sulit dijelaskan.

Perbandingan yang Tidak Pernah Netral

Fenomena ini bukan sekadar soal iri atau tidak bersyukur. Ini lebih dalam dari itu. Dalam psikologi, ada konsep yang disebut social comparison theory, yang menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Tapi yang jarang disadari adalah: perbandingan ini hampir tidak pernah netral.

Kita tidak membandingkan keseluruhan hidup seseorang dengan keseluruhan hidup kita. Kita membandingkan highlight mereka dengan behind-the-scenes kita sendiri. Ini seperti membandingkan trailer film orang lain dengan dokumenter kehidupan pribadi kita yang penuh potongan gagal, ragu, dan trial-error.

Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Leon Festinger, bahwa kebutuhan untuk mengevaluasi diri sering kali membuat kita mencari tolok ukur eksternal. Dan di era digital, LinkedIn menjadi salah satu panggung terbesar untuk itu. Masalahnya, panggung ini bukan realitas utuh—ia adalah versi yang sudah dikurasi.

LinkedIn Bukan Tempat untuk Jujur, Tapi untuk Valid

Ada satu hal yang jarang diakui secara terbuka: LinkedIn tidak didesain untuk kejujuran emosional, melainkan untuk validasi profesional. Orang tidak menulis tentang kegagalan tender yang ke-7, proposal yang ditolak, atau fase menganggur yang membuat krisis identitas. Yang muncul adalah versi yang sudah “layak tampil”.

Ini bukan berarti orang-orang di sana tidak tulus. Tapi ada dorongan sosial yang sangat kuat untuk tampil kompeten. Dalam buku “The Presentation of Self in Everyday Life”, Erving Goffman menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia cenderung memainkan peran seperti aktor di panggung. LinkedIn adalah salah satu panggung paling formal—tempat di mana kita memakai “kostum terbaik” kita.

Ketika kita melihat panggung ini terlalu lama, tanpa sadar kita mulai percaya bahwa itu adalah realitas penuh. Dan di situlah masalahnya dimulai.

Ilusi Kecepatan dan Timeline yang Dipaksakan

Perasaan tertinggal sering kali bukan karena kita benar-benar tertinggal, tapi karena kita merasa harus berada di titik tertentu pada usia tertentu. Ada semacam timeline tidak tertulis yang diam-diam kita serap: usia sekian harus sudah punya jabatan ini, usia sekian harus sudah mencapai itu.

Padahal, jika ditarik mundur sedikit, timeline itu tidak pernah benar-benar objektif. Ia dibentuk oleh lingkungan, budaya, bahkan algoritma yang terus menampilkan pencapaian orang lain.

Dalam “Mindset”, Carol Dweck menyinggung bagaimana pola pikir kita bisa terjebak dalam fixed expectations—bahwa keberhasilan harus terjadi dalam bentuk tertentu dan waktu tertentu. Ketika realitas kita tidak sesuai dengan ekspektasi itu, yang muncul bukan sekadar kecewa, tapi krisis nilai diri.

Yang Sering Terlupakan: Beban yang Tidak Terlihat

Ada satu sudut pandang yang jarang muncul dalam percakapan ini: kita hampir tidak pernah tahu harga yang harus dibayar di balik pencapaian seseorang.

Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang punya akses pendidikan lebih baik, jaringan yang lebih luas, atau bahkan sekadar ruang aman untuk gagal. Ada juga yang harus memikul tanggung jawab keluarga sejak dini, menghadapi keterbatasan finansial, atau berjuang dengan kondisi mental yang tidak terlihat.

Namun LinkedIn tidak menampilkan itu. Ia tidak menunjukkan konteks, hanya hasil. Dan ketika konteks dihilangkan, perbandingan menjadi tidak adil sejak awal.

Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam “Outliers”, bahwa keberhasilan sering kali adalah kombinasi kompleks antara kesempatan, timing, dan konteks—bukan hanya kerja keras individu. Tapi narasi yang sering kita konsumsi di media sosial cenderung menyederhanakan semuanya menjadi “usaha = hasil”.

Kita Tidak Hanya Membandingkan Pencapaian, Tapi Makna Diri

Yang lebih dalam lagi, rasa tertinggal ini sebenarnya bukan tentang pekerjaan atau jabatan. Ia menyentuh sesuatu yang lebih fundamental: perasaan cukup atau tidak cukup sebagai manusia.

Ketika melihat orang lain “lebih maju”, yang terguncang bukan hanya posisi karier, tapi juga identitas. Ada suara kecil yang bertanya: “Apakah kita sudah cukup? Apakah kita sudah benar?”

Dalam “The Gifts of Imperfection”, Brené Brown menulis bahwa manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk merasa layak dan berharga. Ketika kita terus-menerus membandingkan diri dengan standar eksternal, kebutuhan ini menjadi rapuh. Kita mulai mengaitkan nilai diri dengan pencapaian yang terlihat, bukan dengan proses yang dijalani.

Yang Sedikit “Nyentil”: Kita Sebenarnya Tidak Mau Tertinggal, Kita Takut Tidak Terlihat

Ada satu kemungkinan yang tidak nyaman untuk diakui: mungkin yang membuat kita gelisah bukan sekadar tertinggal, tapi takut tidak terlihat.

Di dunia yang semakin terhubung, eksistensi sering kali diukur dari visibilitas. Orang yang sering muncul dengan pencapaian terasa “lebih ada” dibanding yang diam bekerja di balik layar. Ini menciptakan ilusi bahwa yang tidak terlihat berarti tidak berkembang.

Padahal, banyak proses paling penting dalam hidup justru terjadi dalam diam. Fase belajar, gagal, membangun ulang—semuanya jarang terlihat, tapi sangat menentukan.

Namun karena kita hidup di era di mana yang terlihat lebih dihargai, kita mulai meragukan proses yang tidak mendapat sorotan. Dan di situlah rasa tertinggal semakin menguat.

Menutup Jarak Antara Realita dan Persepsi

Perasaan tertinggal itu nyata, dan tidak perlu disangkal. Tapi penting untuk menyadari bahwa ia lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita melihat realita, bukan hanya realita itu sendiri.

LinkedIn, seperti banyak platform lainnya, adalah potongan kecil dari kehidupan yang disusun dengan tujuan tertentu. Ketika kita menggunakannya sebagai cermin utama untuk menilai diri, hasilnya hampir pasti akan bias.

Mungkin yang lebih relevan bukan bertanya “Sejauh apa kita dibanding orang lain?”, tapi “Apakah kita bergerak, meskipun pelan, dari titik kita sendiri?”

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan dengan jalur yang sama. Ia lebih seperti perjalanan dengan peta yang berbeda-beda. Dan dalam perjalanan seperti itu, merasa tertinggal sering kali hanyalah tanda bahwa kita sedang melihat ke arah yang salah.

Penutup: Antara Sunyi dan Progres yang Tidak Terdokumentasi

Tidak semua progres perlu diumumkan. Tidak semua pencapaian harus terlihat. Ada nilai yang justru tumbuh dalam sunyi—ketahanan, kedewasaan, pemahaman diri.

Jika suatu saat membuka LinkedIn dan kembali muncul perasaan itu, mungkin yang perlu diingat bukan bahwa kita harus mengejar lebih cepat, tapi bahwa tidak semua perjalanan memang untuk dipamerkan.

Dan bisa jadi, yang saat ini terasa seperti “tertinggal”, suatu hari akan terlihat sebagai fase paling penting yang diam-diam membentuk arah hidup secara utuh.

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
Gladwell, M. (2008). Outliers: The Story of Success. Little, Brown and Company.
Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection. Hazelden Publishing.

Layar gawai yang menyala di tengah malam sering kali menjadi jendela yang tidak hanya menampilkan profil profesional orang lain, tetapi juga cermin retak yang memantulkan ketidakpastian diri. Ada sebuah paradoks yang ganjil ketika jempol terus menggulir lini masa LinkedIn; secara kognitif, ada kesadaran penuh bahwa apa yang terpampang hanyalah kurasi terbaik dari hidup seseorang—sebuah etalase yang telah dipoles sedemikian rupa. Namun, secara emosional, dada tetap terasa sesak oleh beban yang disebut sebagai perasaan tertinggal. Fenomena ini bukanlah sekadar masalah kurangnya rasa syukur, melainkan sebuah orkestra kompleks yang melibatkan evolusi biologis, neurosains, dan manipulasi arsitektur digital yang memang dirancang untuk memicu rasa haus akan validasi.

Akar dari rasa tertinggal ini dapat ditarik jauh ke masa lalu, ke dalam struktur otak yang dikenal sebagai sistem limbik. Sebagai makhluk sosial, keberlangsungan hidup nenek moyang kita sangat bergantung pada posisi mereka di dalam hierarki kelompok. Leon Festinger, dalam teorinya mengenai Perbandingan Sosial, menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, di era purba, perbandingan ini terjadi dalam kelompok kecil yang nyata, di mana rintangan dan perjuangan setiap anggota terlihat jelas. Namun, algoritma media sosial modern telah menciptakan apa yang sering disebut sebagai perbandingan ke atas yang tak berujung, di mana standar kesuksesan tidak lagi diukur dari tetangga sebelah, melainkan dari ribuan orang asing yang hanya menampilkan puncak gunung es dari pencapaian mereka.

Kondisi ini diperparah oleh cara kerja otak dalam memproses informasi visual. Saat melihat teman lama mendapatkan promosi atau rekan kerja baru meraih pendanaan besar, sirkuit saraf di korteks prefrontal sering kali gagal melakukan kalkulasi objektif mengenai "garis start" yang berbeda. Yang terjadi justru aktivasi pada area yang berhubungan dengan rasa sakit fisik dan kecemburuan sosial. Hal ini mengingatkan pada pemikiran Robert Sapolsky dalam karyanya yang mengeksplorasi perilaku manusia, bahwa otak kita sering kali tidak bisa membedakan antara ancaman fisik yang nyata dengan ancaman terhadap status sosial. Merasa tertinggal di LinkedIn, bagi otak reptil kita, terasa sama mengancamnya dengan diasingkan dari kelompok yang menyediakan sumber daya makanan.

Narasi Kesuksesan Tunggal dan Pengabaian Konteks

Penyebab lain yang membuat perasaan tertinggal ini begitu tajam adalah narasi tunggal yang mendominasi platform profesional tersebut. LinkedIn sering kali menjadi ruang bagi "survivorship bias", di mana hanya mereka yang berhasil yang memiliki suara lantang untuk bercerita. Kita jarang melihat unggahan tentang kegagalan yang memuakkan, malam-malam penuh keraguan, atau privilese yang menjadi bantalan empuk bagi kejatuhan seseorang. Ketidakseimbangan informasi ini menciptakan sebuah distorsi realitas. Kita membandingkan "behind-the-scenes" hidup kita yang berantakan dengan "highlight reel" orang lain yang mengkilap. Dalam psikologi, ini adalah bentuk kegagalan empati terhadap diri sendiri yang dipicu oleh kurangnya transparansi struktural di ruang digital.

Dunia kerja modern sering kali memaksakan definisi kesuksesan yang sangat linear: pendidikan tinggi, kerja di perusahaan prestisius, promosi cepat, dan pengaruh luas. Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran Howard Gardner mengenai kecerdasan majemuk, atau konsep keberbakatan yang beragam, garis start setiap individu bukan hanya soal waktu, tetapi soal kapasitas internal dan dukungan eksternal. Seseorang yang lahir dengan jaring pengaman finansial tentu memiliki keleluasaan untuk mengambil risiko lebih besar dibandingkan mereka yang harus membiayai keluarga sejak usia muda. Namun, di layar LinkedIn, perbedaan "berat beban" ini menjadi tak kasat mata. Yang tertinggal hanyalah data mentah berupa jabatan baru, yang kemudian diproses oleh mentalitas kita sebagai bukti kegagalan pribadi.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan konsep "Status Anxiety" yang dibahas secara mendalam oleh Alain de Botton. Ia berpendapat bahwa dalam masyarakat meritokratis, kegagalan dianggap sebagai dosa pribadi. Karena kita percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama—sebuah mitos yang sering kali menyesatkan—maka ketika melihat orang lain maju lebih cepat, kita cenderung menyimpulkan bahwa kesalahan ada pada etos kerja atau kecerdasan kita sendiri. Kita lupa bahwa faktor keberuntungan, waktu, dan koneksi memainkan peran yang jauh lebih besar daripada yang mau diakui oleh kebanyakan orang di kolom komentar mereka yang penuh dengan jargon produktivitas.

Neuroplastisitas dan Perangkap Dopamin Digital

Setiap kali kita mendapatkan notifikasi atau melihat angka "like" yang tinggi pada unggahan orang lain, otak melepaskan dopamin dalam jumlah kecil yang memicu siklus ketergantungan. Namun, dopamin adalah zat kimia "pencarian", bukan "kepuasan". Ia mendorong kita untuk terus mencari tahu apa yang dilakukan orang lain, yang pada akhirnya justru menurunkan kadar serotonin yang bertanggung jawab atas rasa tenang dan puas. Perasaan tertinggal ini secara harfiah mengubah arsitektur otak kita melalui neuroplastisitas jika dilakukan secara berulang. Semakin sering kita membandingkan diri secara destruktif, semakin kuat jalur saraf "rasa tidak cukup" itu terbentuk, menjadikannya respons otomatis setiap kali kita membuka aplikasi.

Dalam karyanya yang fenomenal, Daniel Siegel menekankan pentingnya integrasi otak untuk mencapai kesehatan mental. Ketika kita merasa tertinggal, terjadi disintegrasi antara otak bagian bawah (emosional) dan otak bagian atas (rasional). Logika kita mungkin berkata, "Dia sukses karena memang bidangnya sedang naik daun," tetapi sistem emosional kita berteriak, "Kenapa bukan aku?" Ketidakmampuan untuk menenangkan sistem emosional ini berasal dari kurangnya praktik kesadaran penuh atau mindfulness dalam berinteraksi dengan teknologi. Kita sering kali menjadi konsumen pasif yang membiarkan arus informasi mendikte harga diri kita, alih-alih menjadi navigator aktif yang mampu menyaring mana informasi yang relevan bagi pertumbuhan kita dan mana yang hanya menjadi polusi mental.

Lebih jauh lagi, perasaan tertinggal ini sering kali berakar pada trauma masa kecil atau pola asuh yang mengedepankan kompetisi sebagai standar kasih sayang. Jika sejak dini seseorang diajarkan bahwa nilai mereka bergantung pada prestasi dibandingkan teman sebaya, maka LinkedIn hanyalah taman bermain baru bagi luka lama tersebut. Gabor Maté sering menyoroti bagaimana lingkungan sosial yang kompetitif dapat memicu stres kronis yang termanifestasi dalam bentuk kecemasan akan status. Rasa tertinggal itu bukan hanya soal pekerjaan saat ini, melainkan tentang kebutuhan mendasar untuk merasa "cukup" yang tidak pernah terpenuhi di masa lalu.

Membangun Benteng Psikologis di Tengah Arus Kompetisi

Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang "penerimaan radikal" sebagaimana yang sering dibahas dalam terapi perilaku dialektis. Menerima bahwa setiap orang memiliki garis start yang berbeda bukan berarti kita menyerah pada keadaan, melainkan mengalokasikan energi yang biasanya habis untuk membenci diri sendiri ke arah tindakan yang lebih produktif dan bermakna. Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu "pencapaian". Jika pencapaian hanya diukur dari pengakuan eksternal di platform digital, maka kita akan selalu menjadi budak dari algoritma yang tidak pernah merasa puas.

Penting untuk diingat bahwa apa yang kita lihat di LinkedIn adalah "persona", sebuah topeng sosial dalam istilah psikologi analitis Carl Jung. Persona berfungsi untuk memfasilitasi interaksi sosial dan profesional, tetapi ia bukanlah keseluruhan dari diri manusia. Ketika kita merasa tertinggal oleh persona orang lain, kita sebenarnya sedang merasa tertinggal oleh sebuah bayangan. Menghabiskan waktu untuk meratapi bayangan tersebut hanya akan menjauhkan kita dari proses aktualisasi diri yang sesungguhnya. Proses ini membutuhkan kesabaran yang sering kali bertentangan dengan kecepatan dunia digital yang menuntut segala sesuatu terjadi secara instan.

Kita harus mulai memandang perjalanan karier sebagai sebuah maraton yang sangat personal, bukan lari sprint di lintasan yang sama. Dalam psikologi positif, konsep "flow" yang diperkenalkan oleh Mihaly Csikszentmihalyi mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ditemukan ketika kita tenggelam dalam aktivitas yang sesuai dengan tantangan dan keterampilan kita sendiri, bukan ketika kita mendapatkan medali untuk balapan yang sebenarnya tidak ingin kita ikuti. Perasaan tertinggal itu perlahan akan memudar ketika fokus beralih dari "siapa yang lebih depan" menjadi "sejauh mana saya telah tumbuh dari titik saya yang kemarin".

Menemukan Kembali Autentisitas di Ruang Artifisial

Mengatasi perasaan tertinggal membutuhkan keberanian untuk menjadi tidak populer di mata sendiri. Ini berarti mengakui bahwa kesuksesan orang lain tidak mengurangi jatah kesuksesan kita sedikit pun. Namun, pengakuan ini sulit dilakukan jika kita terus berada dalam ekosistem yang merayakan hiper-individualisme dan kompetisi tanpa henti. Kita perlu mencari komunitas yang lebih autentik, di mana kegagalan dibicarakan dengan sama terhormatnya dengan keberhasilan. Ruang-ruang seperti ini memungkinkan kita untuk melihat sisi kemanusiaan yang utuh, yang sering kali tergerus oleh antarmuka pengguna yang serba kaku dan formal.

Selain itu, mempraktikkan "digital detox" atau pengaturan batasan yang ketat terhadap konsumsi media sosial profesional bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan kesehatan mental. Otak kita tidak dirancang untuk memproses informasi mengenai ribuan keberhasilan orang lain dalam satu waktu. Memberikan ruang bagi keheningan memungkinkan suara internal kita terdengar lebih jelas, tanpa gangguan sorak-sorai semu dari dunia maya. Seperti yang ditulis oleh Viktor Frankl, di antara stimulus dan respons ada sebuah ruang, dan di dalam ruang itulah terletak kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih respons kita. Rasa tertinggal adalah stimulus, dan bagaimana kita menafsirkan perjalanan hidup kita adalah respons yang menentukan kualitas hidup kita.

Pada akhirnya, LinkedIn hanyalah sebuah alat, bukan kitab suci tentang takdir manusia. Kegelisahan yang muncul saat melihat pencapaian orang lain adalah sinyal bahwa ada bagian dari diri kita yang masih mendambakan validasi eksternal untuk merasa aman. Namun, keamanan yang sejati tidak ditemukan dalam jabatan yang mentereng atau jumlah koneksi yang ribuan, melainkan dalam kedamaian saat menyadari bahwa rintangan yang kita hadapi adalah instruktur terbaik bagi karakter kita. Setiap luka, setiap penundaan, dan setiap belokan tajam dalam hidup kita memberikan kedalaman yang tidak bisa diwakili oleh paragraf biografi yang singkat.

Kita adalah penulis dari cerita kita sendiri, dan sebuah cerita yang menarik jarang sekali memiliki alur yang lurus dan mulus. Keindahan sebuah narasi justru terletak pada perjuangan sang tokoh utama dalam melewati lembah-lembah kesulitan sebelum akhirnya menemukan puncak maknanya sendiri. Jadi, saat berikutnya jempol bergerak menuju aplikasi itu, ingatlah bahwa Anda sedang melihat hasil akhir dari orang lain, sementara Anda masih berada dalam proses penciptaan karya besar Anda sendiri. Jangan biarkan kilau keberhasilan orang lain memadamkan api ketekunan yang sedang Anda bangun dengan susah payah.

Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang tampak sukses di permukaan; dunia membutuhkan lebih banyak orang yang utuh, yang memahami bahwa setiap detik perjuangan mereka memiliki nilai yang tak terukur oleh algoritma mana pun. Keberhasilan yang paling hakiki adalah keberanian untuk terus melangkah di jalur yang kita yakini, meski jalur itu sepi dan tidak terlihat oleh radar pencitraan. Pada titik itu, rasa tertinggal tidak lagi memiliki kuasa atas kita, karena kita tahu bahwa kita sedang berjalan pulang menuju diri kita yang paling sejati.

Perjalanan hidup manusia pada dasarnya adalah upaya untuk menyelaraskan antara ambisi dan penerimaan. Merasa tertinggal adalah pengingat bahwa kita masih peduli pada pertumbuhan, namun membiarkan perasaan itu melumpuhkan langkah adalah sebuah ketidakadilan bagi potensi yang kita miliki. Garis start setiap orang memang berbeda, dan rintangan yang ada sering kali tidak adil, namun di situlah letak martabat manusia: dalam kemampuan untuk menenun makna dari setiap benang nasib yang diberikan, tanpa perlu membandingkan warnanya dengan kain milik tetangga. Di akhir hari, yang terpenting bukanlah siapa yang sampai lebih dulu, melainkan bagaimana kita telah mencintai proses perjalanan itu sendiri dengan segala keunikannya.

Daftar Pustaka

Botton, A. d. (2004). Status Anxiety. Hamish Hamilton.

Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. Harper & Row.

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.

Frankl, V. E. (1946). Man's Search for Meaning. Beacon Press.

Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Basic Books.

Jung, C. G. (1921). Psychological Types. Routledge.

Maté, G. (2022). The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture. Avery.

Sapolsky, R. M. (2017). Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst. Penguin Press.

Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. Bantam Books.