Ada satu kisah yang selalu teringat setiap kali pertanyaan seperti ini muncul.
Saya pernah mengenal seseorang yang terlihat sangat rasional ketika berbicara tentang keluarganya. Ia bisa menjelaskan kronologi perceraian orang tuanya dengan tenang, tanpa suara bergetar, tanpa air mata. Seolah semuanya sudah selesai. Namun ketika ditanya lebih dalam—“sekarang hubungannya bagaimana dengan salah satu orang tua?”—ia terdiam cukup lama.
Lalu ia menjawab pelan,
“Tidak ada masalah… tapi juga tidak dekat.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sering kali menyimpan sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada konflik terbuka.
Karena dalam banyak kasus, ketidakmampuan untuk dekat bukanlah tanda tidak peduli—melainkan tanda bahwa ada sesuatu di dalam diri yang belum pernah benar-benar aman untuk mendekat.
Kedekatan Tidak Selalu Soal Niat
Banyak orang berpikir bahwa hubungan dengan orang tua setelah perceraian adalah soal pilihan: mau dekat atau tidak. Namun kenyataannya, kedekatan emosional bukan sesuatu yang bisa diputuskan hanya dengan kehendak.
Seseorang bisa saja ingin dekat, tetapi tubuhnya menolak.
Bisa saja tidak ada kebencian, tetapi juga tidak ada rasa hangat.
Ini karena kedekatan adalah pengalaman yang melibatkan seluruh sistem—emosi, ingatan, bahkan respons biologis di dalam tubuh.
Dalam literatur tentang keterikatan (attachment theory) yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan anak dengan orang tua membentuk pola dasar tentang bagaimana seseorang mengalami kedekatan. Jika dalam fase penting kehidupan hubungan itu diwarnai oleh ketegangan, ketidakpastian, atau luka, maka sistem internal akan belajar satu hal:
“Dekat itu tidak selalu aman.”
Dan pelajaran ini tidak hilang begitu saja hanya karena waktu telah berlalu.
Perceraian: Bukan Hanya Perpisahan, Tetapi Perubahan Ikatan
Perceraian orang tua sering dipahami sebagai peristiwa eksternal—dua orang dewasa yang memutuskan berpisah. Namun bagi seorang anak, peristiwa ini jauh lebih dalam.
Ia adalah perubahan struktur emosional yang selama ini menjadi dasar rasa aman.
Dalam banyak situasi, perceraian tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia sering didahului oleh konflik, ketegangan, bahkan diam yang penuh tekanan. Anak menyerap semua itu, meskipun tidak selalu memahaminya secara kognitif.
Dan ketika perceraian benar-benar terjadi, anak dihadapkan pada realitas baru: harus “berpihak”, harus menyesuaikan diri, atau bahkan harus menekan perasaan sendiri agar tidak menambah beban orang tua.
Dalam kondisi seperti ini, hubungan dengan salah satu orang tua bisa menjadi rumit.
Bukan karena tidak sayang.
Tetapi karena hubungan itu membawa terlalu banyak lapisan emosi yang tidak pernah selesai.
Loyalitas yang Terbelah
Ada fenomena yang sering muncul tetapi jarang disadari: split loyalty atau loyalitas yang terbelah.
Seorang anak, secara alami, ingin mencintai kedua orang tuanya. Namun dalam situasi perceraian—terutama jika disertai konflik—anak sering merasa bahwa mencintai satu pihak berarti “mengkhianati” yang lain.
Perasaan ini tidak selalu disampaikan secara eksplisit. Kadang hanya berupa isyarat halus, komentar kecil, atau bahkan ekspresi nonverbal yang membuat anak merasa harus memilih.
Akibatnya, hubungan dengan salah satu orang tua bisa menjadi kaku.
Bukan karena tidak ingin dekat, tetapi karena kedekatan itu terasa seperti risiko emosional.
Otak yang Mengasosiasikan Kedekatan dengan Luka
Dalam banyak penelitian tentang trauma relasional, ditemukan bahwa pengalaman menyakitkan yang melibatkan orang terdekat memiliki dampak yang berbeda dibandingkan trauma yang bersifat impersonal.
Joseph LeDoux, dalam The Emotional Brain, menjelaskan bagaimana otak emosional menyimpan asosiasi antara pengalaman dan respons. Jika kedekatan di masa lalu sering diikuti oleh rasa sakit—pertengkaran, penolakan, atau ketegangan—maka otak belajar menghubungkan kedekatan dengan ancaman.
Sehingga ketika seseorang mencoba mendekat kembali, tubuh bisa merespons dengan:
- ketegangan
- keinginan menjauh
- perasaan tidak nyaman tanpa alasan jelas
Ini bukan karena tidak ada rasa sayang, tetapi karena sistem saraf sedang mencoba melindungi diri.
Kehilangan Versi Orang Tua yang Dulu
Ada satu hal yang sering tidak disadari: dalam perceraian, yang hilang bukan hanya keutuhan keluarga, tetapi juga “versi” orang tua yang pernah dikenal.
Seseorang mungkin merasa sulit dekat dengan salah satu orang tua karena secara tidak sadar ia masih menyimpan gambaran tentang siapa orang tua itu dulu—sebelum perceraian.
Dan ketika realitas sekarang berbeda, muncul jarak yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah yang dihadapi sekarang adalah orang yang sama, tetapi tidak sepenuhnya sama.
Dalam banyak kasus, ini menciptakan ambivalensi: ingin dekat, tetapi juga merasa asing.
Mekanisme Pertahanan yang Tidak Disadari
Dalam dunia kesehatan jiwa, ada konsep tentang defense mechanisms—cara-cara tidak sadar yang digunakan pikiran untuk melindungi diri dari rasa sakit.
Salah satu bentuknya adalah emotional distancing—menjaga jarak emosional agar tidak terluka.
Seseorang yang pernah mengalami luka dalam hubungan dengan orang tua bisa mengembangkan mekanisme ini tanpa sadar. Ia tetap berinteraksi, tetap berkomunikasi, tetapi ada batas yang tidak terlihat.
Batas ini bukan dibuat dengan sengaja.
Ia terbentuk sebagai respons terhadap pengalaman.
Karena bagi sebagian diri, menjaga jarak terasa lebih aman daripada membuka kembali kemungkinan terluka.
Tubuh Mengingat, Bahkan Ketika Pikiran Sudah Memaafkan
Ada kalimat yang sering terdengar:
“Secara logika sudah tidak masalah, tapi tetap tidak bisa dekat.”
Ini adalah fenomena yang sangat nyata.
Bessel van der Kolk, dalam The Body Keeps the Score, menekankan bahwa tubuh menyimpan pengalaman emosional dalam bentuk sensasi, bukan hanya ingatan. Artinya, seseorang bisa saja sudah memahami, bahkan memaafkan secara kognitif, tetapi tubuhnya masih merespons seolah luka itu belum sepenuhnya selesai.
Ketika bertemu atau berinteraksi dengan orang tua tersebut, mungkin muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Bukan karena ada konflik saat ini.
Tetapi karena ada jejak lama yang masih aktif di dalam sistem saraf.
Perubahan Peran yang Mengaburkan Hubungan
Dalam beberapa kasus, setelah perceraian, anak secara tidak sadar mengambil peran yang lebih besar—menjadi penenang, menjadi pendengar, bahkan menjadi “pengganti” pasangan dalam hal emosional.
Ini disebut sebagai parentification.
Ketika hal ini terjadi, hubungan anak dengan orang tua berubah dari hubungan yang setara secara emosional menjadi hubungan yang berat sebelah.
Akibatnya, kedekatan menjadi sulit.
Karena untuk benar-benar dekat, seseorang perlu merasa aman untuk menjadi diri sendiri—bukan menjadi penopang bagi orang lain.
Dan ketika sejak kecil seseorang terbiasa menahan diri demi orang tua, kedekatan justru terasa melelahkan.
Kedekatan Membutuhkan Rasa Aman, Bukan Sekadar Waktu
Ada anggapan bahwa waktu akan memperbaiki segalanya. Namun dalam konteks hubungan emosional, waktu saja tidak selalu cukup.
Yang lebih penting adalah apakah sistem di dalam diri merasa aman.
Karena kedekatan bukan hanya soal seberapa sering bertemu, tetapi seberapa aman seseorang merasa ketika membuka diri.
Dan rasa aman ini tidak bisa dipaksakan.
Ia terbentuk perlahan, sering kali melalui pengalaman yang konsisten dan tidak mengancam.
Ketika Jarak Menjadi Cara Bertahan
Pada akhirnya, penting untuk memahami bahwa jarak emosional bukan selalu sesuatu yang “salah”.
Dalam banyak kasus, ia adalah cara seseorang bertahan.
Cara untuk menjaga diri tetap stabil.
Cara untuk menghindari luka yang mungkin terlalu berat jika disentuh kembali.
Dan sering kali, jarak itu bukan tanda ketiadaan cinta—melainkan bentuk cinta yang tidak menemukan cara untuk hadir dengan aman.
Referensi
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR)
- John Bowlby. Attachment and Loss
- Bessel van der Kolk. The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma
- Joseph LeDoux. The Emotional Brain: The Mysterious Underpinnings of Emotional Life
- Bruce D. Perry & Maia Szalavitz. The Boy Who Was Raised as a Dog
- Judith Herman. Trauma and Recovery
- Stephen Porges. The Polyvagal Theory
Mungkin yang membuat hubungan terasa jauh bukan karena tidak ada keinginan untuk dekat, tetapi karena ada bagian dari diri yang masih mengingat bagaimana rasanya terluka di tempat yang seharusnya paling aman.
Dan di antara keinginan untuk mendekat dan dorongan untuk menjauh itu, ada satu ruang sunyi yang sering tidak terlihat—
ruang di mana seseorang diam-diam bertanya,
apakah kali ini, jika aku mendekat… aku akan tetap aman.