Aku akan mencoba berbagi ini dari pengalaman pribadi, dari tempat yang sunyi di mana aku pernah menahan perasaan sendiri bertahun-tahun, karena trauma perceraian orang tua itu bukan hal yang bisa hilang begitu saja. Itu menempel, diam-diam, dan membentuk cara kita melihat dunia—terutama kata-kata orang lain.
Setelah orang tua bercerai, aku sadar satu hal: kata-kata tidak selalu selaras dengan tindakan. Aku melihat janji yang diucapkan dengan mudah—“Aku akan selalu ada untukmu”—tapi kenyataannya, kehadiran itu seringkali tidak konsisten, atau hilang begitu saja ketika situasi menjadi sulit. Dari situ, muncul rasa takut yang dalam: apa yang mereka katakan hanyalah kata, bukan kenyataan. Dan ketika kita tumbuh dengan pengalaman itu, secara halus kita belajar untuk tidak sepenuhnya percaya pada kata-kata, karena kekecewaan menjadi guru yang terlalu keras.
Aku ingat waktu kecil, aku pernah mendengar kedua orang tua saling berjanji pada anak-anak mereka—termasuk aku—bahwa mereka akan menyelesaikan masalah tanpa kita tersakiti. Namun kenyataannya? Janji itu terkadang seperti kaca tipis yang pecah saat ditekan sedikit saja. Setiap pertengkaran yang aku saksikan, setiap malam yang dihabiskan dalam kebingungan apakah mereka akan bertengkar atau diam saja, menanamkan benih keraguan dalam diriku. Kata-kata indah mereka terdengar manis, tapi aku belajar bahwa aku tidak bisa mengandalkan kata-kata itu untuk rasa aman.
Seiring bertambah dewasa, pola ini terbawa ke hubungan lain. Ketika seseorang berkata, “Aku di sini untukmu,” ada bagian dalam diriku yang otomatis bertanya, “Benarkah? Apa yang terjadi jika aku gagal, atau jika situasinya rumit?” Aku melihat kemungkinan terburuk terlebih dahulu, bayangan bahwa kata-kata itu bisa menguap begitu saja. Ini bukan karena orang yang mengucapkannya salah, tapi karena trauma lama mengajarkan kita untuk lebih percaya pada pengalaman daripada janji verbal.
Ada satu pengalaman kecil yang membekas. Seorang teman dekatku pernah berkata dengan tulus, “Aku akan selalu ada untukmu.” Aku mengangguk, tapi hatiku tetap menahan jarak. Ketika aku benar-benar jatuh dalam masalah yang berat, aku mendapati dia ada—tapi rasa cemas dan skeptis itu tetap ada di dalam diriku. Aku sadar bahwa percaya itu bukan soal seberapa tulus kata-kata orang, tapi soal kemampuan diriku menerima bahwa rasa aman bisa datang dari luar pengalaman masa lalu.
Sulit percaya bukan berarti kita dingin atau tidak peka. Justru sebaliknya, itu menunjukkan kepekaan yang lahir dari pengalaman terluka. Otak kita, yang pernah mengalami ketidakpastian ekstrem, belajar untuk “melindungi diri” dengan menunda percaya. Setiap janji di masa kecil yang gagal ditepati, setiap kata-kata yang tidak selaras dengan tindakan, menjadi pelajaran keras: percaya bisa menyakitkan. Dan rasa sakit itu tidak hilang begitu saja; ia berlapis-lapis, dan muncul setiap kali kita mendengar janji yang serupa di kemudian hari.
Aku juga belajar bahwa percaya itu butuh waktu, lebih dari sekadar mendengar kata-kata. Aku mulai menyadari perbedaannya: ada kata-kata yang hanya manis di bibir, dan ada kata-kata yang teruji oleh tindakan dan konsistensi. Setelah trauma, kita tidak langsung bisa percaya pada ucapan manis; kita perlu melihat konsistensi, kesabaran, dan bukti nyata bahwa seseorang benar-benar hadir. Itu proses yang lambat, tapi membangun pondasi kepercayaan yang lebih kokoh daripada sekadar janji verbal.
Dalam perjalanan ini, aku menemukan satu hal lagi: percaya bukan berarti menyerahkan diri tanpa batas. Trauma perceraian orang tua mengajarkan kita untuk membedakan antara kata-kata dan realitas. Aku belajar bahwa menjaga jarak emosional awalnya adalah bentuk perlindungan diri, bukan ketidakpercayaan mutlak pada orang lain. Dengan menjaga batas, aku bisa mengamati, menilai, dan memberi kesempatan pada kata-kata orang lain untuk menjadi bukti nyata, bukan sekadar janji yang hampa.
Aku tidak bisa bilang ini mudah. Masih ada malam-malam ketika aku mendengar kata-kata manis dari seseorang, tapi hatiku menahan napas, takut kecewa. Aku belajar menerima bahwa ketidakpercayaan awal itu wajar; itu bukan kelemahan, tapi bentuk adaptasi dari luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dengan waktu, dan dengan pengalaman konsisten, perlahan-lahan hati ini belajar membuka pintu, tapi tetap menghargai pelajaran masa lalu.
Yang menarik, ketika aku mulai menyadari pola ini, aku juga belajar lebih sabar pada diri sendiri. Aku berhenti memaksa diri untuk percaya instan, dan mulai membedakan antara kata dan bukti, antara janji dan tindakan. Ada kekuatan tersendiri dalam memahami bahwa percaya itu proses, bukan otomatis. Dan proses itu—meski lambat—justru menumbuhkan kedewasaan emosional yang dalam.
Refleksi yang aku bawa ke kehidupan sekarang adalah ini: trauma perceraian orang tua membentuk cara kita merespons kata-kata orang lain, terutama janji tentang kehadiran dan dukungan. Tapi bukan berarti kita terjebak selamanya. Dengan kesadaran, waktu, dan konsistensi, hati yang terluka bisa belajar menerima kata-kata yang sejalan dengan tindakan, tanpa kehilangan kewaspadaan yang pernah dibentuk oleh pengalaman masa lalu. Ini adalah proses panjang, kadang menyakitkan, tapi juga membebaskan.
“Kata-kata bisa datang dan pergi, tapi hati yang pernah terluka memilih untuk menilai kehadiran, bukan janji. Dan dari situ, perlahan-lahan, kepercayaan tumbuh, meski dengan langkah kecil yang hati-hati.”