Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Aku mengerti rasa itu—rasa selalu waspada, selalu menafsirkan setiap kata, setiap diam, setiap gerakan orang lain sebagai pertanda bahwa mereka akan pergi, meninggalkanmu seperti yang dulu terjadi dengan orang tua. Aku pernah berada di posisi itu. Rasanya seperti berjalan di atas es tipis setiap kali membangun hubungan, tidak peduli apakah itu persahabatan, percintaan, atau sekadar interaksi keluarga. Ada perasaan yang terus menerus berbisik: “Ini akan berakhir. Mereka akan meninggalkanmu.”

Ketika orang tua bercerai, kita tidak hanya kehilangan sosok orang tua seperti dulu; kita juga kehilangan rasa aman yang dulu dianggap normal. Aku ingat, ketika aku masih remaja, setiap kali ayah atau ibu pergi ke luar kota, aku merasakan panik yang tidak rasional, detak jantung seperti mau meledak, dan pikiran yang terus berkata: “Mereka akan pergi selamanya.” Hal-hal kecil seperti jarang dihubungi, perubahan nada bicara, atau kesibukan yang meningkat langsung menjadi tanda peringatan di radar emosionalku, meski tidak ada bahaya nyata.

Trauma itu menempel dengan cara yang halus tapi kuat. Otak kita belajar mengantisipasi kehilangan, karena itulah yang terjadi pada kita saat trauma pertama kali terbentuk. Saat orang tua bercerai, anak-anak tidak diberi manual untuk menghadapi perasaan itu. Tidak ada yang mengajarkan: “Ini wajar, dan ini bisa sembuh.” Yang ada hanyalah rasa sakit yang harus ditelan sendiri, atau disembunyikan agar tidak menambah beban orang tua. Dan hasilnya adalah ketakutan kronis akan ditinggalkan, yang menjadi filter melalui mana kita menilai setiap hubungan setelahnya.

Aku sendiri menyadari bahwa waspada itu sering muncul ketika ada ketidakpastian kecil. Misalnya, ketika seorang teman lama tiba-tiba jarang membalas pesan, atau pasangan sedang sibuk dan tidak sempat menelepon, aku langsung menafsirkan sebagai awal dari pengabaian, meski logikaku tahu itu bukan berarti mereka pergi selamanya. Aku bahkan pernah menarik diri dari hubungan dekat hanya karena merasakan gelombang kecil ketidakpastian, takut luka lama terulang. Itu melelahkan—secara emosional dan fisik—karena kita hidup dalam mode siaga terus-menerus, tidak pernah bisa benar-benar santai.

Yang membantu aku sedikit demi sedikit adalah menyadari pola ini, tanpa menghakimi diri sendiri. Aku menulis jurnal tentang perasaan itu, menamai rasa takut, dan mencoba melihat apakah itu reaksi terhadap situasi sekarang atau bayangan masa lalu. Misalnya, aku menulis: “Aku merasa cemas karena teman A tidak membalas pesan, tapi apakah ini benar-benar pengabaian atau aku hanya mengingat trauma lama saat ayah tidak pulang tepat waktu?” Dengan menulis, aku bisa memisahkan antara realitas sekarang dan trauma yang masih tersisa. Itu memberi aku ruang untuk bernapas.

Aku juga belajar bahwa mendekat pada orang lain membutuhkan keberanian—terutama ketika kita membawa luka lama. Aku pernah mencoba menjalin hubungan yang sehat, tapi setiap kali rasa takut muncul, aku menutup diri dan menarik diri sebelum orang lain bisa melihat sisi rapuhku. Tapi pengalaman itu mengajarkan aku bahwa keintiman sejati tidak bisa dibangun tanpa kerentanan. Aku belajar sedikit demi sedikit untuk berkata jujur: “Aku takut ditinggalkan, tapi aku ingin tetap mencoba.” Itu bukan kelemahan; itu adalah kekuatan yang lahir dari kesadaran.

Yang membuat rasa takut itu bertahan lama adalah perasaan tidak berdaya saat trauma pertama kali terjadi. Saat orang tua bercerai, kita tidak memiliki kontrol. Semua keputusan, semua perubahan dalam hidup kita, terjadi di luar kendali kita, dan rasa sakit itu menjadi pengingat terus-menerus bahwa dunia tidak bisa diandalkan. Aku dulu menafsirkan segala ketidakpastian sebagai bahaya, karena tubuh dan pikiran kita dilatih untuk mengantisipasi kehilangan. Bahkan ketika kita dewasa dan memiliki kontrol lebih besar, otak kita masih menyimpan pola itu.

Aku menemukan cara lain yang membantu: menetapkan batas aman dalam hubungan. Aku belajar untuk mengenali tanda-tanda hubungan sehat—bukan dari ketidakhadiran rasa takut, tapi dari cara orang lain menanggapi perasaan kita. Misalnya, ketika aku mengungkapkan kecemasan, jika orang tersebut mendengarkan tanpa menghakimi, itu menenangkan. Itu adalah bentuk keamanan baru yang bisa kita pelajari, berbeda dari keamanan yang dulu hilang.

Aku juga menyadari bahwa waspada bukan berarti selalu salah. Itu mekanisme pertahanan yang pernah menyelamatkan kita, hanya saja sekarang kadang berlebihan. Aku belajar untuk menghormati rasa takut itu tanpa membiarkannya mengendalikan semua keputusan. Aku memberi diri sendiri izin untuk merasakan cemas, tapi tetap mencoba berinteraksi dengan orang lain, tetap membangun kepercayaan, dan tetap membuka hati.

Satu hal yang sangat membantu adalah berbicara dengan orang yang bisa mengerti trauma ini. Aku pernah pergi ke konseling, dan berbicara tentang rasa takut ditinggalkan membuatku tersadar: aku tidak sendirian, dan perasaan ini wajar. Ada orang lain yang merasakan hal sama, dan itu mengurangi beban internal yang selama ini kurasakan. Aku menyadari bahwa berbagi pengalaman itu bukan kelemahan, tapi bagian dari proses menyembuhkan trauma yang menempel begitu lama.

Aku ingin menekankan satu hal: tidak apa-apa merasa takut, tapi jangan biarkan rasa takut itu menutup seluruh hidupmu. Aku pernah berada di fase di mana aku menolak semua kedekatan karena takut ditinggalkan. Itu membuat aku sendiri dan terisolasi, meski secara logika aku tahu hubungan yang sehat mungkin ada. Perlahan, aku belajar untuk membuka diri sedikit demi sedikit, mencoba, dan menerima bahwa ketakutan adalah bagian dari proses penyembuhan, bukan penghalang mutlak.

Ketika aku menulis tentang pengalaman ini, aku melihat benang merah: trauma membuat kita mengantisipasi pengulangan luka lama, dan itu wajar. Tapi setiap langkah kecil untuk mempercayai, setiap momen keberanian untuk membuka diri, adalah kemenangan atas masa lalu. Kita tidak bisa menghapus kenangan atau rasa sakit, tapi kita bisa mengubah cara kita meresponsnya, memilih untuk tetap hadir, tetap mencoba, dan tetap membiarkan diri dicintai.

“Ketakutan yang menempel di hati bukanlah penjara; ia adalah jejak jalan yang pernah kita lalui, yang mengajarkan kita untuk menapak lebih hati-hati, tapi tetap maju.”

Mengapa Kita Selalu Waspada Terhadap Ancaman Kehilangan Setelah Perceraian Orang Tua

Bagi banyak orang yang tumbuh dalam keluarga broken home, rasa waspada terhadap kemungkinan ditinggalkan menjadi pengalaman yang begitu akrab sehingga terasa alami, meskipun di kehidupan dewasa situasinya tidak selalu mengancam. Perasaan ini bukan sekadar reaksi emosional spontan, melainkan pola yang terbentuk dari pengalaman masa kecil yang penuh ketidakstabilan, ketidakpastian, dan konflik. Waspada berlebihan terhadap kehilangan atau penolakan adalah cara otak mencoba melindungi diri dari rasa sakit yang pernah dialami saat orang tua bercerai.

John Bowlby, pendiri teori attachment, menjelaskan bahwa anak-anak mengembangkan model mental internal berdasarkan interaksi awal mereka dengan orang tua. Ketika anak menyaksikan perceraian, perpisahan, atau pertengkaran yang berkepanjangan, mereka belajar bahwa hubungan yang dekat bisa tiba-tiba hilang atau menjadi tidak aman. Akibatnya, mereka tumbuh dengan “attachment anxiety” atau kecemasan keterikatan, di mana rasa takut akan ditinggalkan selalu ada, bahkan ketika situasi saat ini aman.

Dampak Trauma Perceraian Orang Tua

Trauma perceraian orang tua bukan hanya soal ingatan akan konflik atau perceraian itu sendiri. Trauma ini membentuk respons emosional dan fisiologis yang dapat bertahan lama. Amygdala, pusat emosi di otak, menyimpan memori emosional dari pengalaman tersebut. Saat individu menghadapi situasi yang mirip—misalnya pasangan jarang menghubungi atau teman tampak menjauh—amygdala bisa mengaktifkan respons “fight, flight, or freeze,” memicu rasa cemas, gelisah, atau waspada berlebihan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga bercerai lebih rentan terhadap kecemasan, terutama terkait hubungan interpersonal. Mereka sering menafsirkan perilaku netral atau ambigu sebagai tanda penolakan atau kemungkinan ditinggalkan. Misalnya, jika pasangan atau teman tidak langsung merespons pesan, mereka mungkin langsung merasa diabaikan, meski sebenarnya tidak ada niat buruk.

Pola Keterikatan yang Membentuk Kewaspadaan

Anak dari keluarga broken home sering mengembangkan pola keterikatan yang tidak aman. Ada tiga tipe yang paling umum: anxious-preoccupied, avoidant-dismissive, dan fearful-avoidant.

Individu dengan anxious-preoccupied attachment biasanya selalu mencari kepastian dari orang lain dan sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan. Mereka cenderung overthink setiap interaksi, bertanya-tanya apakah mereka cukup dicintai atau akan ditinggalkan.

Mereka dengan avoidant-dismissive attachment cenderung menolak kebutuhan emosionalnya sendiri dan menarik diri dari kedekatan, karena belajar bahwa terlalu dekat bisa berisiko kehilangan.

Sementara itu, fearful-avoidant attachment menggabungkan kedua pola ini: mereka rindu kedekatan tetapi takut akan ditinggalkan, sehingga sering merasa cemas sekaligus defensif dalam hubungan.

Dengan mengenali tipe keterikatan ini, seseorang dapat lebih memahami mengapa mereka selalu waspada terhadap kemungkinan kehilangan dan mulai mencari strategi untuk meredakan kecemasan itu.

Mengapa Waspada Jadi Respons Alamiah

Waspada terhadap kemungkinan ditinggalkan bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan. Secara evolusi, ini adalah mekanisme bertahan hidup. Saat anak menyaksikan orang tua bercerai, sistem sarafnya belajar bahwa perhatian dan kepedulian bisa hilang tanpa peringatan. Untuk “bertahan,” anak mengembangkan sensitifitas berlebih terhadap sinyal sosial.

Di masa dewasa, meski tidak ada ancaman nyata, tubuh dan pikiran masih bereaksi seolah-olah ancaman itu nyata. Hal ini disebut hypervigilance, yang banyak dijelaskan dalam literatur psikologi trauma, termasuk karya Bessel van der Kolk dalam The Body Keeps the Score. Hypervigilance ini membuat seseorang selalu memperhatikan perilaku orang di sekitarnya, menilai setiap perubahan nada suara, ekspresi wajah, atau jarak emosional, sebagai potensi risiko ditinggalkan.

Dampak pada Hubungan Dewasa

Kewaspadaan berlebihan terhadap kehilangan dapat memengaruhi hubungan romantis, persahabatan, bahkan hubungan keluarga. Individu yang terlalu waspada mungkin sering menguji loyalitas pasangan, menghindari keterbukaan karena takut disakiti, atau bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil. Hal ini bisa menciptakan lingkaran yang memicu ketegangan, di mana pasangan atau teman merasa lelah dengan reaksi intens, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kecemasan dan rasa takut ditinggalkan.

Psikolog klinis Susan Johnson, melalui Emotionally Focused Therapy, menekankan pentingnya membedakan antara rasa takut yang berasal dari pengalaman masa lalu dan situasi nyata saat ini. Dengan kesadaran ini, individu dapat belajar merespons hubungan dengan cara yang lebih adaptif, tanpa membiarkan trauma masa lalu mengendalikan interaksi mereka.

Strategi Mengurangi Kewaspadaan Berlebihan

Salah satu cara efektif untuk mengurangi waspada yang berlebihan adalah dengan meningkatkan self-awareness dan regulasi emosi. Teknik mindfulness dan meditasi terbukti membantu menenangkan sistem saraf dan menurunkan respons hiperaktif terhadap potensi ancaman. Menyadari bahwa perasaan takut ditinggalkan adalah respons yang berasal dari pengalaman masa lalu, bukan realitas saat ini, adalah langkah awal yang penting.

Terapi kognitif-perilaku (CBT) juga membantu dengan memberikan alat untuk mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan pola yang lebih realistis. Misalnya, alih-alih berpikir, “Jika dia tidak membalas pesan, berarti dia akan meninggalkanku,” individu belajar untuk berpikir, “Respons lambat ini mungkin karena kesibukan, bukan tanda penolakan.”

Selain itu, membangun hubungan dengan komunikasi terbuka dan kepercayaan bertahap sangat penting. Mengungkapkan kebutuhan emosional, menetapkan batasan sehat, dan menerima bahwa hubungan tidak selalu sempurna, membantu mengurangi rasa takut yang berlebihan.

Membentuk Keamanan Emosional

Salah satu konsep penting adalah membangun secure base, yaitu lingkungan emosional di mana seseorang merasa aman untuk mengekspresikan diri. Secure base bisa berasal dari pasangan, teman dekat, mentor, atau komunitas yang mendukung. Anak broken home yang belajar membangun secure base dapat mulai melepaskan rasa takut ditinggalkan secara berlebihan, karena mereka mengetahui bahwa mereka memiliki ruang aman untuk diterima dan dicintai.

Selain itu, kesadaran akan resilience atau ketahanan emosional membantu memahami bahwa pengalaman masa lalu tidak mendefinisikan masa depan. Trauma yang dialami bisa menjadi landasan untuk empati, pengertian, dan kedalaman emosional yang lebih besar dalam hubungan dewasa.

Kesimpulan

Selalu waspada terhadap kemungkinan ditinggalkan adalah respons alami dari anak yang pernah menyaksikan perceraian orang tua. Hal ini muncul dari pola keterikatan, trauma emosional, dan mekanisme bertahan hidup yang terbentuk sejak masa kecil. Namun, kewaspadaan ini tidak harus menjadi hambatan permanen dalam membangun hubungan yang sehat.

Dengan kesadaran diri, regulasi emosi, terapi atau konseling, dan membangun secure base dalam hubungan, seseorang dapat belajar membedakan antara rasa takut yang berasal dari masa lalu dan situasi nyata saat ini. Trauma masa kecil dapat diubah menjadi kekuatan, memungkinkan individu untuk menjalin hubungan dewasa yang aman, penuh kepercayaan, dan harmonis, tanpa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan ditinggalkan.

Dalam perjalanan ini, penting untuk diingat bahwa prosesnya membutuhkan waktu dan kesabaran. Menerima bahwa rasa waspada adalah bagian dari pengalaman, sambil belajar menanganinya dengan bijak, adalah langkah konkret menuju kedamaian emosional dan hubungan yang sehat.