Kenapa aku merasa harus memilih salah satu pihak setelah perceraian orang tua?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Aku dulu juga hidup dengan perasaan seperti sedang ditarik dari dua arah, seolah ada dua tangan tak terlihat yang sama-sama meminta digenggam, tapi aku hanya punya satu hati. Setelah orang tuaku bercerai, tidak ada yang secara eksplisit berkata, “Pilih aku.” Tapi entah kenapa, rasa harus memilih itu hadir begitu saja, tumbuh pelan-pelan di dalam dada, seperti kabut yang tidak langsung terlihat tapi membuat napas terasa lebih berat.
Aku ingat satu sore yang sangat biasa, tapi membekas. Ayah menelepon, suaranya terdengar berusaha ringan, menanyakan kabar. Tak lama setelah itu, ibu mengirim pesan: “Kamu hari ini ke mana?” Dua hal kecil. Tidak ada konflik. Tidak ada nada marah. Tapi dadaku mendadak sesak. Aku merasa bersalah hanya karena menjawab salah satu lebih dulu. Di situ aku sadar: ini bukan soal mereka, ini soal luka di dalam diriku yang belum punya bahasa.
Perasaan harus memilih salah satu pihak setelah perceraian sering kali tidak datang dari tuntutan nyata, melainkan dari ketakutan yang tumbuh diam-diam. Ketakutan bahwa jika kita terlalu dekat dengan satu, kita akan menyakiti yang lain. Ketakutan bahwa cinta kita punya kuota, seolah jika diberikan lebih ke satu pihak, yang lain akan kehabisan. Dan yang paling menyakitkan: ketakutan bahwa keberpihakan kita akan menjadi bukti siapa yang “lebih dicintai”.
Aku tumbuh di rumah di mana pertengkaran sering diakhiri dengan diam. Tidak ada dialog panjang, tidak ada klarifikasi. Jadi ketika perceraian terjadi, otakku yang masih belajar memahami dunia langsung mengambil kesimpulan sederhana tapi keliru: kalau orang dewasa saja bisa saling meninggalkan, maka aku harus ekstra hati-hati agar tidak menjadi alasan seseorang merasa kalah atau ditinggalkan lagi. Dari sanalah rasa harus memilih itu berakar.
Ada masa di mana aku mulai menyensor ceritaku sendiri. Kalau sedang bahagia bersama ibu, aku mengecilkan ceritanya saat bertemu ayah. Kalau aku tertawa lepas dengan ayah, ada bagian diriku yang merasa harus menebusnya dengan lebih sering menghubungi ibu. Aku hidup dalam keseimbangan palsu, seperti penari di tali tipis, takut jatuh ke salah satu sisi.
Yang membuat semuanya semakin rumit adalah fakta bahwa orang tua juga terluka. Mereka membawa kesedihan masing-masing, dan tanpa sengaja, anak sering menjadi cermin tempat luka itu dipantulkan. Bukan karena mereka jahat, tapi karena manusia yang patah hati sering kali tidak sadar bahwa diamnya, tatapannya, atau kalimat kecil seperti “Sekarang kamu lebih sering sama dia ya” bisa menjadi beban emosional yang besar.
Aku pernah duduk di kamar, lampu dimatikan, hanya suara kipas angin yang berputar pelan. Aku bertanya pada diri sendiri, “Kenapa aku merasa menjadi anak yang tidak setia, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun?” Pertanyaan itu tidak langsung terjawab. Butuh waktu lama sampai aku memahami bahwa rasa harus memilih itu bukan tanda pengkhianatan, tapi tanda loyalitas yang terlalu besar sampai lupa pada diri sendiri.
Sebagai anak, kita sering belajar mencintai dengan cara membaca suasana. Kita belajar menyesuaikan diri agar tidak menambah luka. Tapi setelah perceraian, kemampuan itu berubah menjadi hiper-kesadaran emosional. Kita terlalu peka. Terlalu cepat menyimpulkan. Terlalu sering menyalahkan diri sendiri. Dan dari sanalah muncul ilusi bahwa kita sedang berada di medan perang yang menuntut kita menentukan kubu.
Padahal, kenyataannya, kita bukan bagian dari konflik mereka. Kita lahir dari cinta mereka, bukan dari perpisahan mereka. Tapi luka sering membuat garis itu kabur. Aku butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa mencintai ayah tidak mengurangi cintaku pada ibu, dan sebaliknya. Cinta bukan kue yang habis jika dibagi, tapi perasaan itu sering kalah oleh rasa bersalah yang tidak pernah diajarkan cara mengelolanya.
Ada satu pengalaman kecil tapi sangat membekas. Suatu hari aku sedang duduk bersama ibu, menonton acara televisi yang sebenarnya tidak menarik. Kami tidak banyak bicara. Tapi ada rasa tenang. Lalu ibu berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Yang penting kamu baik-baik saja.” Kalimat itu sederhana, tapi untuk pertama kalinya aku merasa tidak sedang diuji untuk memilih. Aku hanya diminta untuk ada. Untuk hidup. Untuk menjadi diriku sendiri.
Namun tidak selalu seindah itu. Ada hari-hari ketika rasa bersalah kembali datang tanpa permisi. Ketika aku bertanya dalam hati apakah keputusanku akan disalahartikan. Apakah jarakku akan dianggap keberpihakan. Apakah keheninganku akan ditafsirkan sebagai penolakan. Hidup setelah perceraian orang tua sering kali penuh dengan tafsir, dan kita lelah menjadi teks yang terus dibaca orang lain dengan makna yang berbeda-beda.
Aku mulai menyadari bahwa rasa harus memilih juga muncul karena kita ingin memulihkan sesuatu yang tidak bisa kita pulihkan. Seolah dengan memilih satu pihak, kita bisa membuat segalanya lebih jelas, lebih rapi, lebih masuk akal. Padahal, perceraian memang tidak rapi. Ia meninggalkan ruang kosong, pertanyaan tanpa jawaban, dan perasaan yang saling bertabrakan.
Yang jarang dibicarakan adalah betapa anak sering memikul tanggung jawab emosional yang seharusnya bukan miliknya. Kita merasa harus adil, harus seimbang, harus bijak sebelum waktunya. Kita menjadi dewasa terlalu cepat, bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa. Dan dalam proses itu, kita lupa bertanya: “Apa yang sebenarnya aku rasakan?” bukan “Apa yang seharusnya aku lakukan?”
Aku pernah mencoba membicarakan ini dengan seorang teman yang juga berasal dari keluarga bercerai. Ia berkata, “Aku merasa seperti jika aku bahagia dengan satu orang tua, aku sedang mengkhianati yang lain.” Kalimat itu menghantamku, karena aku tahu persis rasanya. Rasa bersalah itu tidak rasional, tapi sangat nyata. Ia tidak hilang hanya karena kita tahu secara logika bahwa kita tidak salah.
Perlahan, yang membantuku bukan nasihat besar atau teori rumit, tapi kejujuran kecil pada diri sendiri. Mengakui bahwa aku lelah. Bahwa aku bingung. Bahwa aku ingin mencintai tanpa merasa bersalah. Dari situ, aku mulai memberi ruang pada perasaan tanpa langsung menghakiminya. Aku tidak langsung merasa bebas, tapi aku merasa sedikit lebih jujur.
Dan dari kejujuran itu, muncul pemahaman yang sangat sederhana tapi mengubah caraku melihat semuanya: aku tidak harus memilih, karena aku bukan hakim atas kisah mereka. Aku hanya anak yang kebetulan tumbuh di tengah perpisahan. Tugasku bukan menimbang siapa yang benar, tapi menjaga diriku agar tidak ikut hancur.
Hari ini, rasa harus memilih itu belum sepenuhnya hilang. Kadang ia muncul dalam bentuk halus, seperti bisikan kecil di kepala. Tapi sekarang aku mengenalinya. Aku tahu itu datang dari luka lama, bukan dari kenyataan saat ini. Dan mengenali itu saja sudah membuatku sedikit lebih ringan.
Mungkin jika kamu membaca ini sambil diam-diam menahan sesak di dada, aku ingin kau tahu satu hal: perasaanmu masuk akal, meski menyakitkan. Kau tidak lemah karena merasa terbelah. Kau tidak egois karena ingin adil. Kau hanya manusia yang tumbuh di tengah cinta yang berubah bentuk.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan sampai pada titik di mana kita bisa berkata dalam hati: aku boleh mencintai tanpa memilih, karena hatiku tidak diciptakan untuk menjadi medan perang.
“Tidak semua perpisahan menuntut keberpihakan; sebagian hanya meninggalkan luka yang ingin dimengerti, bukan diadili.”
Perasaan harus memilih salah satu pihak setelah orang tua bercerai bukanlah reaksi yang muncul begitu saja. Ia tumbuh perlahan dari dinamika emosional yang kompleks, dari bahasa yang tak terucap, dari tatapan penuh harap, dari diam yang terasa menekan. Banyak anak dari keluarga yang bercerai tidak pernah diminta secara eksplisit untuk memilih, tetapi tetap merasa seolah ada tuntutan tak kasat mata yang mengharuskan mereka berpihak.
Dalam psikologi keluarga, kondisi ini dikenal sebagai konflik loyalitas. Istilah ini banyak dibahas oleh Judith Wallerstein, seorang psikolog yang meneliti dampak jangka panjang perceraian terhadap anak. Konflik loyalitas terjadi ketika anak merasa bahwa mencintai satu orang tua berarti mengkhianati yang lain. Padahal, secara emosional, anak membutuhkan keduanya.
Perasaan harus memilih sering kali muncul bukan karena anak ingin memilih, melainkan karena sistem keluarga yang berubah membuat posisi anak menjadi tidak aman. Perceraian mengubah struktur, peran, dan keseimbangan emosi dalam keluarga. Anak yang sebelumnya berada di posisi “anak” kini tanpa sadar terdorong masuk ke wilayah konflik orang dewasa.
Setelah perceraian, banyak orang tua mengalami luka, marah, kecewa, atau rasa gagal. Dalam kondisi rapuh ini, anak sering menjadi tempat sandaran emosional. Kadang orang tua bercerita terlalu banyak, mengeluh tentang pasangannya, atau menunjukkan kesedihan yang dalam di hadapan anak.
Menurut Salvador Minuchin, tokoh penting dalam terapi keluarga struktural, ketika batas antara peran orang tua dan anak menjadi kabur, anak bisa mengalami apa yang disebut parentification, yaitu kondisi ketika anak secara emosional mengambil peran orang dewasa. Anak merasa harus menenangkan, melindungi, atau bahkan “membela” salah satu orang tua.
Di sinilah benih perasaan harus memilih mulai tumbuh. Anak tidak ingin melukai orang tua yang sedang terluka. Ia merasa jika ia dekat dengan pihak lain, maka ia telah mengkhianati yang sedang bersedih. Perasaan ini sering kali tidak disadari secara rasional, tetapi dirasakan sebagai kecemasan, rasa bersalah, dan kebingungan yang menetap.
John Bowlby, melalui teori attachment, menjelaskan bahwa anak memiliki kebutuhan dasar akan rasa aman dan keterikatan. Ketika keluarga utuh, rasa aman itu relatif stabil. Namun setelah perceraian, dunia emosional anak terguncang. Apa yang dulu dianggap pasti kini menjadi rapuh.
Dalam kondisi ini, anak menjadi sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan. Ia takut kehilangan cinta, takut ditinggalkan, takut tidak lagi dianggap penting. Ketakutan ini membuat anak secara tidak sadar berusaha mempertahankan keterikatan dengan cara “memilih” pihak yang ia rasa paling membutuhkan atau paling rentan.
Bagi sebagian anak, memilih bukan tentang siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang jika ditinggalkan akan terasa paling menyakitkan. Ini adalah respons survival emosional, bukan keputusan moral.
Tidak semua tekanan untuk memilih datang dalam bentuk kata-kata. Justru sering kali tekanan terbesar datang dari hal-hal yang tidak diucapkan. Tatapan kecewa ketika anak menyebut nama orang tua lain. Nada suara yang berubah saat anak bercerita tentang kebahagiaan bersama pihak lain. Sikap dingin yang muncul setelah anak pulang dari rumah ayah atau ibu.
Psikolog Donald Winnicott menekankan bahwa anak sangat peka terhadap atmosfer emosional. Anak bisa merasakan perubahan suasana bahkan tanpa penjelasan verbal. Dalam konteks perceraian, perubahan kecil ini cukup untuk membuat anak merasa bahwa netralitas tidak aman.
Akhirnya, anak belajar bahwa agar tetap diterima, ia harus menyesuaikan diri. Ia mulai menyensor cerita, menahan emosi, bahkan memihak secara diam-diam. Semua ini dilakukan bukan karena ia ingin memusuhi salah satu orang tua, tetapi karena ia ingin bertahan secara emosional.
Perasaan harus memilih hampir selalu diikuti oleh rasa bersalah. Jika anak lebih dekat dengan satu orang tua, ia merasa bersalah pada yang lain. Jika ia mencoba adil, ia merasa tidak sepenuhnya setia pada siapa pun.
Menurut Brené Brown, rasa bersalah yang kronis sering muncul ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain. Anak broken home sering memikul tanggung jawab emosional yang bukan miliknya. Ia merasa bertugas menjaga keseimbangan perasaan orang tua, padahal itu adalah beban yang terlalu berat untuk siapa pun, apalagi anak.
Rasa bersalah ini bisa menetap hingga dewasa. Bahkan ketika konflik orang tua telah lama berlalu, pola internal “aku harus memilih agar tidak melukai siapa pun” tetap hidup. Pola ini sering terbawa ke hubungan romantis, pertemanan, dan dunia kerja.
Erik Erikson menjelaskan bahwa pembentukan identitas yang sehat membutuhkan rasa kontinuitas dan penerimaan. Ketika anak merasa harus memilih antara dua orang tua, identitasnya ikut terbelah.
Sebagian anak merasa bahwa separuh dirinya tidak boleh muncul di hadapan salah satu orang tua. Jika ia mirip ayah, ia menekan sisi itu ketika bersama ibu. Jika ia merasa dekat dengan ibu, ia menyembunyikan kedekatan itu ketika bersama ayah.
Dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan kebingungan identitas. Anak tidak tahu siapa dirinya yang utuh, karena ia terbiasa menyesuaikan diri demi menjaga hubungan. Perasaan harus memilih bukan hanya tentang orang tua, tetapi juga tentang bagian diri mana yang boleh hidup dan mana yang harus disembunyikan.
Banyak anak sebenarnya ingin bersikap netral. Mereka ingin mencintai kedua orang tua tanpa harus memihak. Namun dalam realitas emosional pasca perceraian, netralitas sering terasa berbahaya.
Netral bisa disalahartikan sebagai tidak peduli. Diam bisa dianggap sebagai persetujuan pada pihak lawan. Tidak membela bisa ditafsirkan sebagai pengkhianatan. Dalam situasi seperti ini, anak merasa bahwa tidak memilih justru lebih menyakitkan daripada memilih.
Psikologi trauma menjelaskan bahwa otak dalam kondisi terancam cenderung mencari jalan paling cepat untuk mengurangi stres. Memilih satu pihak sering terasa lebih “aman” secara emosional daripada terus-menerus berada di tengah ketegangan.
Perasaan harus memilih tidak berhenti pada relasi dengan orang tua. Ia sering menjelma menjadi pola dalam hubungan dewasa. Seseorang bisa merasa sulit mengambil keputusan karena takut melukai orang lain. Ia bisa merasa cemas ketika dua orang penting dalam hidupnya tidak akur. Ia bisa merasa bertanggung jawab atas konflik yang bukan miliknya.
Menurut teori relational trauma, pengalaman relasional yang menyakitkan di masa kecil membentuk cara seseorang memahami kedekatan, konflik, dan loyalitas. Anak broken home sering tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat sensitif terhadap konflik dan cenderung mengorbankan diri demi menjaga harmoni.
Hal terpenting yang sering luput disadari adalah ini: perasaan harus memilih bukanlah tanda kelemahan, apalagi kesalahan moral. Ia adalah respons manusiawi terhadap situasi yang membingungkan dan menyakitkan.
Anak tidak seharusnya berada di posisi itu. Perceraian adalah konflik orang dewasa, dan emosi yang menyertainya adalah tanggung jawab orang tua. Ketika anak merasa harus memilih, itu menunjukkan bahwa ia terlalu lama memikul beban yang bukan miliknya.
Psikolog keluarga menekankan bahwa anak berhak mencintai kedua orang tua tanpa syarat dan tanpa harus membuktikan loyalitas. Cinta anak bukanlah sumber daya yang terbatas. Ia tidak habis hanya karena dibagi.
Langkah emosional yang paling sulit namun paling membebaskan adalah melepaskan ilusi bahwa kebahagiaan orang tua ada di tanganmu. Kamu tidak menyebabkan perceraian mereka, dan kamu juga tidak bertanggung jawab memperbaiki luka mereka.
Dengan memahami ini, perlahan rasa harus memilih bisa digantikan oleh pemahaman yang lebih dewasa: bahwa dua hal bisa benar sekaligus. Kamu bisa mencintai ayah dan ibu. Kamu bisa memahami luka masing-masing tanpa harus memihak. Kamu bisa menjaga jarak jika perlu, tanpa harus merasa bersalah.
Ketika perasaan harus memilih mulai disadari dan dipahami, kamu bisa mulai membangun posisi emosional yang lebih sehat. Bukan posisi di tengah konflik, melainkan posisi sebagai dirimu sendiri.
Ini bukan proses instan. Ia sering membutuhkan refleksi mendalam, keberanian untuk mengakui luka, dan kadang bantuan profesional. Namun hasilnya sangat berarti: kebebasan untuk mencintai tanpa takut, untuk dekat tanpa rasa bersalah, dan untuk hidup tanpa terus-menerus merasa harus mengorbankan diri.
Perasaan harus memilih setelah perceraian orang tua bukan tanda bahwa kamu lemah. Justru itu menunjukkan betapa besar kapasitas cintamu. Tantangannya sekarang bukan memilih salah satu, tetapi memilih dirimu sendiri, tanpa harus kehilangan siapa pun.
Ada satu perasaan yang sering muncul diam-diam setelah perceraian orang tua—perasaan bahwa kamu harus memilih. Memilih siapa yang lebih kamu dukung. Memilih siapa yang lebih kamu bela. Memilih siapa yang lebih kamu “miliki”.
Dan yang membuatnya semakin berat adalah: tidak ada yang benar-benar mengajarkan bagaimana menghadapi situasi seperti ini.
Di satu sisi, kamu mencintai keduanya.
Di sisi lain, realitas seperti mendorongmu untuk berpihak.
Itulah kenapa perasaan ini muncul—bukan karena kamu ingin memilih, tapi karena situasi membuat netral terasa seperti pengkhianatan.
Dalam kajian psikologi keluarga, ada konsep yang dikenal sebagai loyalty conflict—konflik kesetiaan yang muncul ketika seseorang merasa harus berpihak pada dua figur yang saling berseberangan. Kelly dan Emery (2003) menjelaskan bahwa anak dalam keluarga yang bercerai sering kali berada dalam posisi psikologis yang rumit: mereka tetap terikat secara emosional pada kedua orang tua, tetapi hubungan antar orang tua sudah terputus atau bahkan penuh ketegangan.
Secara teori, ini terdengar rapi. Tapi dalam kehidupan nyata, ini terasa jauh lebih kacau.
Bayangkan kamu sedang duduk bersama salah satu orang tua, lalu tanpa sadar ia berkata sesuatu seperti:
“Dulu ayahmu memang begitu…”
“Ibumu itu sebenarnya…”
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa. Tapi di dalam dirimu, ada sesuatu yang langsung tegang:
“Kalau aku diam, apakah aku dianggap setuju?”
“Kalau aku membela, apakah aku melukai yang satu lagi?”
Akhirnya, setiap respon terasa seperti pilihan. Dan setiap pilihan terasa seperti pengkhianatan.
Ada pengalaman yang sering muncul, meskipun tidak selalu disadari: kamu perlahan “ditarik” masuk ke dalam konflik yang sebenarnya bukan milikmu.
Dalam teori sistem keluarga yang dikembangkan oleh Bowen (1978), fenomena ini disebut triangulation. Ini terjadi ketika dua orang yang memiliki konflik secara tidak langsung melibatkan pihak ketiga untuk menstabilkan hubungan mereka.
Sering kali, pihak ketiga itu adalah anak.
Bukan dalam bentuk yang kasar atau eksplisit. Tapi lebih halus:
Dan tanpa sadar, kamu mulai merasa:
“Aku harus berada di pihak yang benar.”
Padahal, kamu bahkan tidak pernah memilih untuk berada di dalam situasi itu.
Salah satu hal yang paling menyakitkan adalah ketika cinta terasa seperti sesuatu yang harus diatur, ditakar, bahkan disembunyikan.
Kamu mungkin pernah merasakan:
Ini bukan karena cintamu berkurang. Justru sebaliknya—karena cintamu terlalu besar, kamu jadi takut melukai.
Dalam penelitian panjang tentang dampak perceraian, Wallerstein (2000) menemukan bahwa banyak anak membawa konflik ini hingga dewasa. Mereka belajar untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan cara mengorbankan kenyamanan diri sendiri.
Dan yang sering tidak disadari adalah:
perlahan, kamu belajar bahwa mencintai seseorang bisa berarti menyakiti yang lain.
Di balik dorongan untuk memilih, sering ada ketakutan yang lebih dalam—ketakutan akan kehilangan.
Teori attachment yang dikembangkan oleh Bowlby (1988) menjelaskan bahwa hubungan dengan orang tua membentuk rasa aman dasar dalam diri seseorang. Ketika hubungan itu terguncang, muncul kecemasan yang tidak selalu terlihat di permukaan:
Akhirnya, memilih bukan lagi soal keberpihakan.
Tapi soal bertahan.
Kamu tidak sedang memilih siapa yang lebih kamu cintai.
Kamu sedang berusaha memastikan bahwa kamu tidak kehilangan keduanya.
Secara logika, posisi terbaik mungkin adalah netral. Tidak memihak. Tetap mencintai keduanya.
Tapi dalam realitas emosional, netral sering terasa tidak cukup.
Karena kadang:
Dalam kondisi seperti ini, netral bukan terasa damai—justru terasa rapuh.
Dan di sinilah konflik itu semakin dalam:
kamu ingin adil, tapi dunia di sekitarmu tidak selalu memberi ruang untuk itu.
Ada kisah yang cukup sering terjadi, meskipun jarang diucapkan secara terbuka.
Seseorang berusaha menjaga hubungan dengan kedua orang tuanya yang sudah berpisah. Tapi setiap kali ia terlihat dekat dengan salah satu, yang lain menjadi lebih diam… atau sedikit menjauh.
Akhirnya, ia mulai “mengatur diri”:
Tanpa sadar, hidupnya berubah menjadi ruang negosiasi emosional.
Bukan lagi tentang menjadi diri sendiri, tapi tentang menjaga agar tidak ada yang terluka.
Karena ini bukan hanya tentang situasi sekarang.
Ini tentang struktur hubungan yang berubah.
Dulu, orang tuamu adalah satu kesatuan.
Sekarang, mereka menjadi dua dunia yang berbeda.
Dan kamu—tanpa diminta—berdiri di tengah.
Minuchin (1974) dalam pendekatan structural family therapy menjelaskan bahwa perubahan struktur keluarga akan menggeser peran-peran di dalamnya. Anak sering kali terdorong mengambil peran emosional yang lebih besar dari yang seharusnya.
Itulah kenapa perasaan “harus memilih” terasa begitu nyata.
Karena secara tidak sadar, kamu sedang mencoba menyesuaikan diri dengan sistem yang baru—sistem yang tidak lagi sederhana.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan:
Tidak memilih juga bisa menjadi posisi yang sangat berani.
Tapi sayangnya, itu bukan posisi yang mudah.
Karena kamu mungkin harus menghadapi:
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang penting:
Cintamu tidak pernah diciptakan untuk dibagi dengan cara seperti ini.
Ia tidak bekerja seperti logika benar-salah, atau siapa yang lebih layak.
Ia lebih dekat dengan sesuatu yang tidak bisa dipaksa memilih arah.
Ada kalanya hidup menempatkan seseorang di posisi yang tidak adil—di mana apa pun yang dilakukan tetap terasa salah.
Dan mungkin, di situlah letak kelelahan yang sebenarnya.
Bukan karena kamu tidak tahu harus bagaimana.
Tapi karena tidak ada cara yang benar-benar terasa utuh.
Mungkin yang paling jujur dari semua ini adalah:
kamu tidak pernah benar-benar ingin memilih.
Kamu hanya ingin tetap menjadi anak dari keduanya…
tanpa harus merasa bersalah karena mencintai keduanya sekaligus.
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang dari luar tampak sangat tenang. Ia bekerja dengan baik, memiliki relasi yang cukup luas, dan tidak pernah terlihat meledak-ledak secara emosi. Namun dalam satu percakapan yang lebih dalam, ia mengatakan sesuatu yang sederhana tetapi berat: “Saya capek merasa harus memilih… padahal mereka berdua sama-sama orang tua saya.”
Kalimat itu sering muncul dalam berbagai bentuk pada orang-orang yang tumbuh atau hidup di tengah perceraian orang tua. Dan jika kamu merasakannya juga, penting untuk memahami satu hal terlebih dahulu: perasaan itu bukan kelemahan, melainkan respons yang sangat manusiawi terhadap situasi yang secara emosional kompleks.
Sejak kecil, otak manusia belajar tentang dunia melalui struktur yang paling dekat: keluarga. Dalam banyak literatur, keluarga sering disebut sebagai “sistem emosional pertama” yang membentuk cara seseorang memahami keamanan, kedekatan, dan identitas diri. Murray Bowen, melalui Family Systems Theory, menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga saling terhubung dalam jaringan emosi yang kompleks. Ketika satu bagian berubah drastis—seperti perceraian—maka seluruh sistem ikut terdampak.
Perceraian bukan hanya peristiwa hukum atau sosial. Ia adalah peristiwa biologis dan psikologis. Tubuh dan otak meresponsnya sebagai bentuk kehilangan stabilitas. Ada perubahan dalam rutinitas, dalam dinamika komunikasi, bahkan dalam rasa “rumah”.
Dalam kondisi seperti ini, otak secara alami mencari cara untuk kembali merasa aman. Salah satu cara yang sering muncul adalah dengan mencoba menyederhanakan situasi: membagi dunia menjadi “pihak A” dan “pihak B”. Dan tanpa disadari, muncul dorongan internal untuk memilih.
Ini bukan karena kamu ingin mengkhianati salah satu orang tua. Ini karena otakmu sedang berusaha bertahan.
Ada istilah dalam kajian psikologi keluarga yang disebut sebagai loyalty conflict atau konflik loyalitas. Ini terjadi ketika seseorang merasa bahwa menunjukkan kedekatan kepada satu pihak berarti mengkhianati pihak lain.
Bayangkan seorang anak yang berbicara hangat dengan ibunya, lalu merasa bersalah karena ayahnya mungkin sendirian. Atau sebaliknya, merasa harus menjaga jarak dari salah satu orang tua agar tidak melukai yang lain. Konflik ini tidak selalu diucapkan secara eksplisit, tetapi hidup diam-diam di dalam pikiran dan perasaan.
Dalam banyak kasus yang pernah saya dengar, konflik ini diperkuat oleh hal-hal kecil yang tampaknya sepele: komentar bernada sindiran, ekspresi wajah yang berubah ketika nama mantan pasangan disebut, atau cerita yang secara halus menggiring persepsi anak terhadap salah satu pihak.
Lama-kelamaan, anak—atau bahkan orang dewasa—mulai menginternalisasi pesan itu: “Kalau aku dekat dengan yang satu, aku sedang melukai yang lain.”
Dan dari situlah muncul perasaan harus memilih.
Dari sudut pandang neurobiologi, pengalaman emosional yang intens—termasuk konflik keluarga—akan diproses oleh sistem limbik, khususnya amigdala. Bagian ini berperan dalam mendeteksi ancaman dan memicu respons emosional seperti cemas atau takut.
Ketika perceraian diiringi dengan konflik, pertengkaran, atau ketegangan yang tinggi, otak akan menyimpan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai. Bahkan setelah situasi mereda, tubuh masih bisa bereaksi seolah-olah ancaman itu masih ada.
Itulah sebabnya, dalam situasi tertentu—misalnya ketika harus bertemu kedua orang tua dalam satu waktu—muncul perasaan tidak nyaman, canggung, atau bahkan tegang tanpa alasan yang jelas.
Tubuhmu mengingat sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Dan dalam upaya menghindari ketegangan itu, memilih satu pihak terasa seperti jalan yang lebih “aman”. Setidaknya, ada kejelasan. Setidaknya, tidak perlu menghadapi dua dunia yang terasa bertabrakan.
Ada lapisan lain yang sering tidak disadari: identitas diri.
Seorang anak adalah gabungan dari kedua orang tuanya—secara biologis, emosional, dan bahkan simbolis. Ketika orang tua berpisah, ada bagian dari diri yang terasa ikut terbelah. Memilih salah satu pihak bisa terasa seperti memilih bagian dari diri sendiri, sekaligus menolak bagian yang lain.
Dalam beberapa percakapan yang pernah terjadi, ada yang mengatakan, “Kalau aku membela ayah, aku merasa seperti mengkhianati ibu. Tapi kalau aku memilih ibu, aku seperti menyangkal bagian dari diriku yang berasal dari ayah.”
Ini bukan konflik sederhana. Ini adalah konflik eksistensial.
Karena pada akhirnya, ini bukan hanya tentang memilih orang tua. Ini tentang bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri.
Perceraian sering meninggalkan emosi yang tidak selesai: marah, sedih, kecewa, atau bahkan rasa ditinggalkan. Emosi-emosi ini tidak selalu memiliki ruang untuk diproses dengan sehat, terutama jika lingkungan sekitar lebih fokus pada “melanjutkan hidup” daripada memahami apa yang sebenarnya dirasakan.
Ketika emosi ini tidak terselesaikan, mereka bisa muncul dalam bentuk lain—termasuk kebutuhan untuk berpihak. Memilih satu orang tua bisa menjadi cara untuk menyalurkan emosi tersebut: sebagai bentuk perlindungan, pembelaan, atau bahkan pelampiasan.
Dalam beberapa kasus, seseorang merasa lebih dekat dengan orang tua yang dianggap “terluka”, dan secara tidak sadar mengambil peran sebagai pelindung. Ini dikenal sebagai parentification, di mana anak mengambil peran emosional yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.
Dan tanpa disadari, hubungan yang seharusnya menjadi tempat berteduh berubah menjadi medan peran yang membebani.
Tidak semua tekanan datang dari dalam diri. Lingkungan—baik keluarga besar, teman, maupun masyarakat—sering kali secara tidak langsung memperkuat narasi “memilih pihak”.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kamu ikut siapa?” atau komentar seperti “Kasihan ibumu…” bisa terdengar sederhana, tetapi memiliki dampak yang dalam. Mereka mengarahkan seseorang untuk melihat situasi sebagai dua kubu yang berlawanan, bukan sebagai dua individu yang tetap memiliki hubungan masing-masing.
Dalam situasi seperti ini, memilih bukan lagi sekadar dorongan internal, tetapi juga respons terhadap ekspektasi eksternal.
Di tengah semua ini, ada satu hal yang sering terlewatkan: hubungan antara orang tua yang berakhir tidak otomatis mengakhiri hubungan mereka dengan anak.
Namun, secara emosional, batas ini tidak selalu jelas. Banyak orang yang secara tidak sadar membawa konflik orang tua ke dalam hubungan pribadi mereka dengan masing-masing pihak.
Padahal, secara psikologis, hubungan dengan ayah dan hubungan dengan ibu adalah dua jalur yang berbeda, meskipun berasal dari satu titik yang sama.
Memisahkan kedua jalur ini bukan hal yang mudah. Dibutuhkan waktu, kesadaran, dan sering kali pengalaman berulang untuk memahami bahwa kedekatan dengan satu orang tua tidak harus mengurangi kedekatan dengan yang lain.
Saya teringat pada satu kalimat yang diucapkan dengan sangat pelan oleh seseorang dalam sebuah percakapan panjang: “Mungkin selama ini aku bukan benar-benar ingin memilih… aku hanya ingin berhenti merasa bersalah.”
Kalimat itu mengandung sesuatu yang sangat dalam.
Sering kali, di balik keinginan untuk memilih, sebenarnya ada keinginan untuk menemukan kedamaian. Untuk tidak lagi merasa ditarik ke dua arah. Untuk tidak lagi merasa bahwa setiap langkah harus dihitung agar tidak melukai siapa pun.
Namun kehidupan tidak selalu memberi ruang yang rapi untuk perasaan seperti itu. Kadang, seseorang harus berjalan di antara dua dunia yang tidak lagi bersatu, sambil mencoba tetap utuh di dalam dirinya sendiri.
Dan mungkin, di situlah pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi tentang “harus memilih siapa”, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa tetap menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan kedua sisi yang pernah membentuknya.
American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: APA Publishing, 2022.
Bowen, M. Family Therapy in Clinical Practice. New York: Jason Aronson, 1978.
Siegel, D. J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. New York: Guilford Press, 2012.
Perry, B. D., & Szalavitz, M. The Boy Who Was Raised as a Dog: And Other Stories from a Child Psychiatrist’s Notebook. New York: Basic Books, 2006.
Hetherington, E. M., & Kelly, J. For Better or For Worse: Divorce Reconsidered. New York: W.W. Norton & Company, 2002.
Amato, P. R. (2010). “Research on Divorce: Continuing Trends and New Developments.” Journal of Marriage and Family, 72(3), 650–666.
Minuchin, S. Families and Family Therapy. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1974.
Perasaan harus memilih salah satu pihak setelah perceraian orang tua bukanlah sekadar reaksi emosional yang sederhana, melainkan sebuah beban eksistensial yang dipaksakan oleh keadaan terhadap struktur batin seorang anak. Dalam psikologi, fenomena ini sering kali disebut sebagai konflik loyalitas (loyalty conflict), di mana anak merasa bahwa mencintai salah satu orang tua secara otomatis berarti mengkhianati yang lainnya. Kita merasa harus memilih karena di tengah keruntuhan rumah tangga, netralitas sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian, dan kita dipaksa untuk menjadi hakim atas konflik yang sebenarnya bukan milik kita. Tekanan untuk berpihak ini adalah salah satu warisan paling berat dari perceraian yang tidak tuntas secara emosional, yang jika tidak disadari, akan terus mendikte cara kita menjalin hubungan hingga dewasa.
Ada sebuah fragmen kehidupan yang sangat mendetail yang sering kali dialami oleh mereka yang berada dalam posisi ini: momen di masa kecil atau remaja ketika salah satu orang tua mulai menceritakan "versi kebenaran" mereka tentang mengapa pernikahan itu berakhir. Cerita tersebut biasanya dibumbui dengan rasa sakit, pengkhianatan, dan harapan implisit agar kita memvalidasi penderitaan mereka dengan cara menjauhi pihak lawan. Saat itulah, komunikasi berhenti menjadi sarana berbagi kasih dan berubah menjadi alat rekrutmen emosional. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel dalam karyanya, The Developing Mind, bahwa otak anak sangat bergantung pada koherensi narasi dari pengasuhnya untuk merasa aman. Ketika narasi itu pecah menjadi dua kubu yang saling berperang, anak mengalami fragmentasi internal. Kita merasa harus memilih salah satu narasi agar dunia kita kembali terasa "masuk akal", meskipun harga yang harus dibayar adalah kehilangan separuh dari identitas kita sendiri.
Keharusan untuk memilih ini berakar pada kebutuhan dasar manusia akan rasa aman dan penerimaan. Sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung pada pengasuh, kita memiliki insting untuk menjaga kedekatan dengan pihak yang kita anggap lebih rentan atau pihak yang memiliki kendali lebih besar atas hidup kita. Alice Miller dalam The Drama of the Gifted Child menyoroti bagaimana anak-anak sering kali mengembangkan "antena" yang sangat peka terhadap kebutuhan emosional orang tua mereka. Kita menjadi "anak baik" yang berpihak karena kita takut jika kita tetap netral, kita akan kehilangan perlindungan atau kasih sayang dari kedua belah pihak. Keharusan memilih adalah strategi bertahan hidup agar kita tidak ditinggalkan sendirian di tengah medan perang yang sunyi.
Sering kali, tekanan untuk memilih tidak datang dalam bentuk perintah verbal yang kasar, melainkan melalui isyarat-isyarat halus atau "triangulasi" emosional. Kita mungkin merasakan perubahan suhu ruangan saat kita menceritakan hal positif tentang orang tua yang satu kepada yang lainnya. Kita melihat kekecewaan di mata mereka, atau mendengar desahan napas yang berat. Pesan yang sampai ke batin kita sangat jelas: "Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan menikmati waktu bersamanya." Bessel van der Kolk dalam bukunya yang monumental, The Body Keeps the Score, menekankan bahwa trauma hubungan seperti ini terekam dalam sistem saraf sebagai kondisi stres kronis. Tubuh kita selalu dalam mode hyper-vigilance, memantau setiap kata dan tindakan kita agar tidak menyinggung sensitivitas pihak manapun. Kita merasa terbebani karena setiap interaksi dengan salah satu orang tua terasa seperti tindakan spionase yang membahayakan posisi kita di pihak yang lain.
Observasi terhadap dinamika ini menunjukkan bahwa keharusan memilih menciptakan apa yang disebut sebagai "split loyalty". Anak merasa bahwa jati dirinya adalah kumpulan dari bagian-bagian orang tua mereka. Ketika kita dipaksa menolak salah satu orang tua, secara tidak sadar kita juga menolak bagian dari diri kita sendiri yang menyerupai mereka. Jika kita diberitahu bahwa ayah kita adalah orang yang tidak bertanggung jawab, dan kita melihat sifat-sifat ayah dalam diri kita, maka kita mulai membenci diri sendiri. Gabor Maté dalam In the Realm of Hungry Ghosts sering menyinggung bagaimana ketidakstabilan lingkungan awal dan tekanan emosional dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontak dengan diri mereka yang asli (true self). Kita menjadi asing bagi diri sendiri karena energi kita habis digunakan untuk menavigasi ekspektasi orang tua yang saling bertentangan.
Selain itu, ada fenomena "parentifikasi" di mana anak ditarik untuk menjadi pasangan emosional bagi orang tua yang merasa kesepian atau dikhianati. Dalam peran ini, kita merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Memilih salah satu pihak adalah cara kita untuk "menyelamatkan" orang tua tersebut. Namun, ini adalah beban yang tidak semestinya dipikul oleh pundak seorang anak. Kita merasa cemas dan bersalah jika kita mencoba untuk bersikap netral, karena kita merasa telah membiarkan orang tua kita menderita sendirian. Keharusan memilih adalah manifestasi dari rasa tanggung jawab yang salah tempat—sebuah upaya heroik namun sia-sia untuk menstabilkan orang dewasa yang seharusnya mampu menstabilkan diri mereka sendiri.
Transformasi dari perasaan tertekan menjadi kemerdekaan emosional dimulai saat kita berani melakukan dekonstruksi terhadap konsep loyalitas itu sendiri. Kita harus mulai menyadari bahwa loyalitas kepada orang tua tidak boleh dibayar dengan pengkhianatan terhadap diri sendiri. Langkah pertama yang paling radikal adalah mengakui bahwa kita memiliki hak untuk mencintai kedua orang tua kita secara independen, terlepas dari sejarah konflik di antara mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Judith Viorst dalam Necessary Losses, pertumbuhan emosional sering kali menuntut kita untuk melepaskan peran sebagai "penengah" atau "pelindung" orang tua agar kita bisa tumbuh menjadi individu yang utuh. Kita harus merestui kegagalan hubungan mereka sebagai urusan dewasa yang berada di luar jangkauan tanggung jawab kita.
Proses ini memerlukan keberanian untuk menetapkan batasan (boundaries) yang sangat tegas. Kita harus belajar untuk berkata "tidak" saat salah satu orang tua mencoba menarik kita ke dalam drama mereka atau meminta kita untuk memvalidasi kebencian mereka. Kedaulatan batin kita dimulai saat kita menolak untuk menjadi wadah bagi emosi negatif mereka. Kita mungkin akan menghadapi rasa bersalah yang hebat pada awalnya, karena kita telah terbiasa menjadi "perekat" keluarga. Namun, kita harus memahami bahwa rasa bersalah tersebut adalah tanda bahwa kita sedang melepaskan diri dari pola yang tidak sehat. Netralitas bukanlah bentuk ketidaksetiaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap integritas diri kita sendiri sebagai manusia yang berdaulat.
Membangun kembali hubungan yang sehat dengan kedua orang tua secara terpisah menuntut kita untuk memiliki "kompartemen" emosional yang jelas. Kita berinteraksi dengan ayah berdasarkan hubungan kita dengannya, dan dengan ibu berdasarkan hubungan kita dengannya, tanpa membiarkan bayang-bayang konflik mereka mencemari interaksi tersebut. Ini adalah keterampilan yang sulit dan memerlukan latihan terus-menerus. Kita melatih diri untuk tidak menjadi kurir pesan atau mediator. Kita belajar untuk mengalihkan pembicaraan saat atmosfer mulai menjurus pada penghakiman pihak lain. Dengan cara ini, kita sedang mengklaim kembali ruang emosional kita yang selama ini diduduki oleh perang orang lain. Kita berhenti menjadi bidak dan mulai menjadi arsitek dari kedamaian kita sendiri.
Mencapai tahap di mana kita tidak lagi merasa tertekan untuk memilih adalah tanda dari kematangan yang berwibawa. Kita tidak lagi didefinisikan oleh posisi kita dalam konflik keluarga, melainkan oleh integritas prinsip kita sendiri. Wibawa batin ini muncul ketika kita mampu melihat kedua orang tua kita sebagai manusia biasa yang memiliki luka dan keterbatasan masing-masing. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai pahlawan atau penjahat, melainkan sebagai individu yang gagal dalam pernikahan mereka namun tetap memiliki tempat dalam sejarah hidup kita. Pengampunan yang kita berikan bukan berarti menyetujui perilaku mereka yang memaksa kita memilih, melainkan membebaskan diri kita dari keharusan untuk terus memikul beban tersebut.
Kita menjadi "pemutus rantai" (cycle breaker) yang membawa kesadaran akan pentingnya netralitas emosional ke dalam hubungan-hubungan yang kita bangun sekarang. Kita belajar bahwa cinta yang sehat tidak menuntut eksklusivitas loyalitas yang merusak. Dalam hubungan dengan pasangan atau anak-anak kita nantinya, kita berkomitmen untuk tidak pernah menempatkan mereka dalam posisi di mana mereka harus memilih. Wibawa kita lahir dari keberanian untuk tetap berdiri tegak di tengah tarikan emosional yang berlawanan. Kita menjadi figur yang stabil karena kita telah belajar untuk menemukan pusat gravitasi di dalam diri kita sendiri, bukan pada opini atau perasaan orang lain tentang kita.
Dalam fase ini, kita melihat setiap upaya orang tua untuk memanipulasi loyalitas kita sebagai pengingat akan pentingnya kedaulatan diri. Kita menanggapi upaya tersebut bukan dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang tegas. Kita memahami bahwa perilaku mereka adalah cerminan dari ketidakmampuan mereka untuk memproses duka secara sehat. Dengan tetap tenang, kita sebenarnya sedang memberikan teladan tentang kedewasaan emosional yang mungkin tidak pernah mereka dapatkan. Kita tidak lagi merasa cemas akan kehilangan kasih sayang mereka, karena kita telah menemukan sumber kasih sayang dan validasi yang paling stabil di dalam integritas batin kita sendiri.
Pada akhirnya, keharusan untuk memilih salah satu pihak setelah perceraian orang tua adalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh ketakutan. Saat kita tumbuh dewasa dan meraih kemandirian emosional, kita menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar perlu memilih. Hidup bukan tentang memilih antara hitam dan putih, atau antara ayah dan ibu. Hidup adalah tentang merangkul seluruh spektrum pengalaman kita, termasuk bagian-bagian yang retak dan menyakitkan. Kita melepaskan amarah kepada orang tua kita atas posisi sulit yang mereka berikan pada kita, dan mulai mensyukuri kekuatan batin yang tumbuh dari perjuangan untuk tetap menjadi diri sendiri.
Realitas pengasuhan mengajarkan kita bahwa orang tua adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan besar, termasuk dalam cara mereka melibatkan anak dalam konflik pribadi. Namun, sejarah keluarga kita tidak harus menjadi takdir kita. Kita menutup babak "anak yang terjepit" dan membuka babak "dewasa yang merdeka". Kita melihat ke depan dengan perspektif yang luas, menyadari bahwa kita memiliki kekuatan untuk menulis ulang narasi hidup kita. Kita bukan lagi korban dari perpecahan mereka, melainkan bukti hidup bahwa keutuhan batin bisa dibangun kembali di atas puing-puing masa lalu.
Kita menutup refleksi ini dengan keheningan yang penuh wibawa. Kita berdiri sebagai individu yang utuh, yang mencintai tanpa rasa takut akan pengkhianatan, dan yang setia pada kebenaran batinnya sendiri. Kita telah berhasil menavigasi labirin loyalitas dan keluar sebagai pemenang atas diri kita sendiri. Di pusat keberadaan kita yang paling dalam, kita menemukan bahwa kedamaian sejati muncul bukan saat semua orang setuju dengan kita, melainkan saat kita sudah tidak lagi merasa perlu untuk menyenangkan semua orang dengan mengorbankan integritas kita. Kita aman, kita teguh, dan kita benar-benar merdeka.
Notifications