Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kecanduan internet meskipun sudah ditambahkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai gangguan yang perlu lebih banyak penelitian, namun standarisasi gejala-gejalanya belum ditemukan. Salah satu asesmen untuk mengetahui gejala kecanduan internet diajukan oleh artikel KW Beard pada 2005 dalam CyberPsychology and Behavior.

Terdapat 5 kriteria seseorang dinyatakan kecanduan internet

  • Sibuk dengan Internet (terus-menerus memikirkan penggunaan internet di masa lalu atau rencana penggunaannya di masa depan)
  • Butuh waktu yang sangat lama dalam menggunakan Internet untuk mendapatkan kepuasan
  • Melakukan beberapa upaya yang gagal untuk mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan Internet
  • Gelisah, murung, depresi, atau mudah tersinggung ketika mencoba mengontrol penggunaan Internet
  • Online lebih lama dari yang direncanakan sebelumnya

Sebagai tambahan, Beard juga menganjurkan setidaknya ada salah satu dari tanda-tanda dibawah ini untuk dianggap kecanduan internet

  • Perilaku kecanduan berefek membahayakan atau mempertaruhkan kehilangan hubungan dengan pasangan, pekerjaan, pendidikan, atau peluang karir karena Internet
  • Berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan pengguaan Internet
  • Internet digunakan sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan suasana hati disforik (misalnya rasa bersalah, kecemasan, depresi, ketidakberdayaan)

Sumber : Internet Addiction Disorder

Kecanduan internet atau Internet Addiction adalah gangguan yang terjadi akibat penggunaan internet. Tetapi, Internet Addiction tidak masuk ke dalam list buku DSM-IV sebagai sebuah gangguan. Kategori Internet Addiction yang paling sering diidentifikasi yakni game, jejaringg sosial, email, bloging, belanja online, dan penggunaan internet untuk hal yang tidak pantas seperti pornografi.  

Gejala yang dirasakan ketika seseorang telah kecanduan dengan internet atau internet addiction, sebagai berikut:

  1. Depresi
  2. Ketidakjujuran
  3. Persaan bersalah
  4. Kecemasan
  5. Perasaan euforia saat menggunakan komputer
  6. Ketidakmampuan untuk mempioritaskan jadwal
  7. Isolasi
  8. Tidak ada rasa waktu
  9. Pertahanan
  10. Menghindari pekerjaan
  11. Agitasi
  12. Perubahan suasana hati
  13. Ketakutan
  14. Kesendirian
  15. Bosan dengan tugas rutin
  16. Prokastinasi

Gejala fisik dari gangguan Internet Addiction, sebagai berikut:

  1. Sakit punggung
  2. Sindrom terowongan karpal
  3. Sakit kepala
  4. Insomnia
  5. Gizi buruk
  6. Kerbersihan yang buruk
  7. Sakit leher
  8. Mata kering dan masalah penglihatan lainnya
  9. Penambahan atau penurunan berat badan

  Sumber https://www.psycom.net/iadcriteria.html

Ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah benar-benar kita sadari ketika melakukannya.

Tangan meraih ponsel.
Layar menyala.
Jempol mulai menggulir.

Beberapa menit berlalu. Lalu beberapa menit lagi. Kadang tanpa terasa satu jam sudah lewat. Dan anehnya, setelah semua itu selesai, seseorang mungkin bahkan tidak benar-benar ingat apa saja yang baru saja ia lihat.

Pengalaman seperti ini sangat umum di zaman sekarang. Internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: untuk bekerja, belajar, mencari informasi, berkomunikasi, bahkan sekadar mengisi waktu luang.

Namun ada satu pertanyaan yang semakin sering muncul dalam percakapan tentang kesehatan mental modern:

kapan penggunaan internet berubah dari sekadar kebiasaan menjadi kecanduan?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak sesederhana menghitung berapa jam seseorang menghabiskan waktu di depan layar. Banyak orang bekerja secara online selama berjam-jam setiap hari tanpa mengalami masalah psikologis apa pun.

Yang menjadi perhatian bukan hanya durasi penggunaan, tetapi hubungan emosional seseorang dengan internet itu sendiri.


Ketika Internet Tidak Lagi Sekadar Alat

Pada awalnya, internet adalah alat.

Ia membantu seseorang mengirim pesan, membaca berita, menonton video, atau mencari jawaban atas pertanyaan tertentu.

Namun perlahan-lahan, bagi sebagian orang, internet mulai mengambil peran yang berbeda.

Ia menjadi tempat pelarian.

Tempat untuk menghindari kebosanan.
Tempat untuk menunda pekerjaan.
Tempat untuk meredakan kesepian.
Tempat untuk melupakan perasaan yang tidak nyaman.

Tidak ada yang salah dengan menggunakan internet untuk hiburan. Hampir semua orang melakukannya.

Namun masalah mulai muncul ketika internet menjadi satu-satunya cara seseorang mengatur emosinya.

Ketika rasa bosan muncul, seseorang langsung membuka aplikasi. Ketika merasa cemas, ia menggulir layar tanpa henti. Ketika merasa sedih, ia mencari distraksi digital agar tidak perlu menghadapi perasaannya sendiri.

Dalam penelitian awal tentang kecanduan internet, psikolog Kimberly Young menjelaskan bahwa penggunaan internet dapat menjadi bermasalah ketika seseorang kehilangan kontrol terhadap waktu dan perilakunya secara online (Young, 1998).


Salah Satu Tanda Paling Halus: Kehilangan Kendali atas Waktu

Banyak orang yang awalnya hanya berniat membuka internet “sebentar”.

Sebentar berubah menjadi satu jam.
Satu jam berubah menjadi tiga jam.

Dan setelah itu muncul perasaan yang aneh: seolah waktu hilang begitu saja.

Fenomena ini dikenal sebagai time distortion, yaitu perubahan persepsi terhadap waktu ketika seseorang sangat terlibat dalam aktivitas digital.

Dalam penelitian tentang perilaku adiktif, Mark Griffiths menjelaskan bahwa salah satu ciri utama kecanduan adalah hilangnya kontrol terhadap durasi penggunaan (Griffiths, 2005).

Seseorang mungkin sudah berkali-kali berkata pada dirinya sendiri:

“Hanya lima menit lagi.”

Namun lima menit itu terus bertambah.


Internet sebagai Tempat Pelarian Emosional

Ada pola lain yang sering muncul dalam kecanduan internet.

Internet mulai digunakan sebagai cara untuk menghindari perasaan yang tidak nyaman.

Beberapa orang membuka media sosial setiap kali merasa kesepian. Yang lain menonton video tanpa henti ketika merasa stres atau lelah secara emosional.

Pada titik tertentu, penggunaan internet bukan lagi tentang aktivitas itu sendiri, melainkan tentang menghindari sesuatu yang sedang dirasakan di dalam diri.

Peneliti Mark Davis mengemukakan model kognitif mengenai kecanduan internet yang menjelaskan bahwa individu dengan kesulitan emosional tertentu lebih rentan menggunakan internet sebagai bentuk pelarian psikologis (Davis, 2001).

Dalam konteks ini, internet menjadi semacam anestesi emosional.

Ia tidak benar-benar menyelesaikan masalah, tetapi cukup efektif untuk membuat seseorang lupa sejenak.


Ketika Dunia Online Mulai Menggeser Dunia Nyata

Salah satu tanda yang sering muncul adalah perubahan prioritas.

Hal-hal yang dulu terasa penting mulai tergeser oleh aktivitas online.

Seseorang mungkin mulai menunda pekerjaan karena terlalu lama berada di internet. Waktu tidur berkurang karena terus menonton video atau bermain game.

Hubungan sosial di dunia nyata juga bisa mulai terdampak.

Ada orang yang lebih nyaman berinteraksi melalui layar daripada bertemu langsung dengan orang lain.

Bukan karena mereka tidak peduli pada orang-orang di sekitar mereka, tetapi karena dunia online terasa lebih mudah dikendalikan.

Di internet, seseorang bisa memilih kapan berbicara, kapan menghilang, kapan merespons.

Di dunia nyata, hubungan jauh lebih kompleks.

Dan bagi sebagian orang, kompleksitas itu terasa melelahkan.


Sensasi Dopamin dan Sistem Hadiah Otak

Untuk memahami mengapa internet bisa menjadi sangat menarik, penting melihat bagaimana otak manusia bekerja.

Aktivitas seperti menerima notifikasi, mendapatkan “like”, atau menemukan konten baru dapat memicu pelepasan dopamin di otak.

Dopamin sering disebut sebagai neurotransmitter yang terkait dengan sistem penghargaan (reward system).

Setiap kali seseorang menerima stimulus yang menyenangkan, otak belajar untuk mengulangi perilaku tersebut.

Dalam konteks internet, stimulus ini bisa muncul dalam bentuk yang sangat cepat dan berulang.

Satu video menarik diikuti video berikutnya.
Satu notifikasi diikuti notifikasi lain.

Peneliti Anna Lembke menjelaskan bahwa sistem dopamin manusia berevolusi untuk merespons hadiah yang relatif jarang, sementara teknologi modern menyediakan rangsangan dalam jumlah yang hampir tidak terbatas (Lembke, 2021).

Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan aliran stimulasi yang konstan.


Perasaan Gelisah Ketika Tidak Online

Salah satu tanda yang sering muncul dalam perilaku adiktif adalah munculnya ketidaknyamanan ketika aktivitas tersebut dihentikan.

Dalam konteks internet, beberapa orang merasa gelisah ketika tidak memiliki akses ke perangkat digital mereka.

Ada dorongan untuk terus memeriksa ponsel.

Kadang bahkan tanpa alasan tertentu.

Fenomena ini sering disebut sebagai fear of missing out (FOMO)—kekhawatiran bahwa seseorang mungkin melewatkan sesuatu yang penting jika tidak terus terhubung secara online.

Perasaan ini dapat menciptakan lingkaran perilaku yang sulit diputus.

Semakin sering seseorang memeriksa internet, semakin kuat dorongan untuk melakukannya lagi.


Ironi dari Koneksi Digital

Ada satu ironi yang cukup menarik dalam fenomena kecanduan internet.

Teknologi ini diciptakan untuk menghubungkan manusia.

Namun dalam beberapa kasus, penggunaan yang berlebihan justru membuat seseorang merasa semakin terisolasi.

Penelitian oleh Sherry Turkle menunjukkan bahwa interaksi digital yang terlalu dominan dapat mengurangi kedalaman hubungan sosial di dunia nyata (Turkle, 2011).

Seseorang bisa memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian ketika layar dimatikan.

Karena hubungan manusia sebenarnya tidak hanya membutuhkan komunikasi.

Ia juga membutuhkan kehadiran.


Ketika Internet Menjadi Cermin Emosi Manusia

Hal yang menarik dari fenomena kecanduan internet adalah bahwa ia jarang berdiri sendiri.

Sering kali ia berkaitan dengan kebutuhan emosional yang lebih dalam.

Kebutuhan untuk merasa dihargai.
Kebutuhan untuk merasa terhubung.
Kebutuhan untuk melarikan diri dari tekanan hidup.

Internet hanya menjadi medium tempat kebutuhan-kebutuhan itu mencari jalan keluar.

Dan mungkin di sinilah letak paradoksnya.

Teknologi yang diciptakan untuk membuat hidup lebih mudah kadang juga menjadi tempat di mana manusia berusaha mengisi ruang kosong yang tidak selalu terlihat dari luar.


Referensi

Young, K. S. (1998). Internet Addiction: The Emergence of a New Clinical Disorder. CyberPsychology & Behavior.

Griffiths, M. (2005). A components model of addiction within a biopsychosocial framework. Journal of Substance Use.

Davis, R. A. (2001). A cognitive-behavioral model of pathological Internet use. Computers in Human Behavior.

Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.

Lembke, A. (2021). Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence. Dutton.


Pada akhirnya, mungkin pertanyaan tentang kecanduan internet bukan hanya tentang teknologi.

Ia juga tentang manusia.

Tentang bagaimana kita mencari kenyamanan, distraksi, atau bahkan makna di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

Dan mungkin sesekali ada momen ketika seseorang menutup layar ponselnya, melihat sekeliling, lalu menyadari sesuatu yang sederhana namun cukup dalam:

bahwa di balik semua koneksi digital yang terus mengalir, ada kehidupan nyata yang berjalan pelan-pelan di luar layar—dan sering kali, kita hampir tidak menyadarinya.

Beberapa tahun terakhir, ada satu kebiasaan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan hampir semua orang: membuka layar, menggulir sesuatu, lalu tanpa sadar menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dari yang direncanakan.

Awalnya terasa sepele. Seseorang hanya ingin memeriksa pesan sebentar, membaca berita, atau melihat apa yang sedang terjadi di media sosial. Namun ketika ia mengangkat kepala dari layar, waktu sudah berlalu satu jam. Kadang dua jam.

Ada sebuah percakapan yang pernah saya ingat dengan cukup jelas. Suatu hari saya berbincang dengan seseorang yang hidupnya terlihat sangat produktif. Ia memiliki pekerjaan yang stabil, cukup dikenal di lingkungannya sebagai orang yang rajin, dan dari luar tidak ada tanda bahwa ada sesuatu yang bermasalah.

Namun dalam percakapan yang lebih panjang, ia berkata sesuatu yang menarik.

Ia mengatakan bahwa hampir setiap malam ia berniat tidur lebih awal. Ia sudah mematikan lampu kamar, berbaring, dan berencana hanya melihat ponselnya selama lima menit. Tetapi hampir selalu hal yang sama terjadi: satu video diikuti video lain, satu artikel membuka artikel berikutnya.

Ketika ia akhirnya meletakkan ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul dua atau tiga pagi.

Keesokan harinya ia merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan sedikit kesal pada dirinya sendiri. Tetapi malam berikutnya pola yang sama terulang lagi.

Cerita seperti ini sangat umum di era digital. Tetapi pertanyaannya adalah: kapan kebiasaan menggunakan internet berubah menjadi sesuatu yang dapat disebut sebagai kecanduan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami bagaimana otak manusia merespons teknologi digital, serta bagaimana pola perilaku tertentu dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih sulit dikendalikan.


Internet Bukan Sekadar Teknologi, Tetapi Sistem Stimulus

Internet bukan hanya alat untuk mencari informasi. Ia adalah ekosistem yang dirancang untuk menarik perhatian manusia.

Setiap notifikasi, setiap “like”, setiap video yang muncul berikutnya adalah bagian dari sistem yang bekerja dengan cara yang sangat mirip dengan mekanisme penghargaan di otak manusia.

Di dalam otak terdapat sistem yang sering disebut sebagai reward system, yang melibatkan struktur seperti nucleus accumbens, ventral tegmental area, dan neurotransmiter seperti dopamin.

Sistem ini pada dasarnya dirancang untuk membantu manusia belajar dari pengalaman yang menyenangkan: makanan yang enak, hubungan sosial, keberhasilan, atau penemuan hal baru.

Namun sistem yang sama juga dapat terlibat dalam berbagai bentuk perilaku adiktif.

Ketika seseorang membuka media sosial dan menemukan sesuatu yang menarik, otak melepaskan dopamin dalam jumlah kecil. Dopamin ini bukan sekadar hormon “kesenangan”. Ia juga berfungsi sebagai sinyal pembelajaran yang memberi tahu otak: ini sesuatu yang perlu diulangi.

Masalahnya adalah internet memberikan rangkaian stimulus yang sangat cepat dan sangat variatif. Dalam beberapa menit seseorang bisa melihat puluhan gambar, membaca berbagai cerita, dan menemukan banyak hal yang memicu respons emosional.

Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk menerima aliran stimulus seperti ini secara terus-menerus.


Ketika Kebiasaan Berubah Menjadi Ketergantungan

Tidak semua orang yang sering menggunakan internet dapat dianggap kecanduan. Dalam banyak kasus, penggunaan internet hanyalah bagian dari kehidupan modern.

Namun para peneliti yang mempelajari fenomena ini—termasuk Kimberly Young, salah satu pelopor penelitian tentang Internet Addiction Disorder—mengidentifikasi beberapa tanda yang menunjukkan bahwa penggunaan internet telah berubah menjadi pola yang bermasalah.

Salah satu tanda paling penting adalah hilangnya kontrol.

Seseorang mungkin berniat menggunakan internet hanya sebentar, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Ia berulang kali mencoba mengurangi waktu penggunaan, tetapi selalu kembali pada pola yang sama.

Tanda lain adalah preokupasi mental.

Bahkan ketika tidak sedang online, pikiran seseorang terus kembali pada internet: memikirkan notifikasi yang mungkin muncul, menunggu respons dari orang lain, atau merasa terdorong untuk segera membuka aplikasi tertentu.

Dalam literatur tentang kecanduan perilaku, fenomena ini sering disebut sebagai craving, yaitu dorongan kuat yang muncul dari dalam sistem saraf.


Toleransi Digital

Ada satu konsep yang sering muncul dalam berbagai bentuk kecanduan: toleransi.

Dalam konteks penggunaan internet, toleransi berarti seseorang membutuhkan waktu online yang semakin lama untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sama.

Awalnya mungkin hanya beberapa menit. Kemudian menjadi satu jam. Lalu dua jam.

Hal yang dulunya terasa menarik mungkin mulai terasa membosankan, sehingga seseorang mencari stimulus yang lebih baru, lebih cepat, atau lebih intens.

Penelitian yang dibahas dalam buku Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment oleh Kimberly Young dan Cristiano Nabuco de Abreu menunjukkan bahwa pola ini memiliki kemiripan dengan mekanisme adiksi lain, termasuk kecanduan judi dan permainan video.


Gejala Penarikan (Withdrawal)

Salah satu tanda penting lainnya adalah perasaan tidak nyaman ketika tidak dapat mengakses internet.

Beberapa orang melaporkan merasa gelisah, mudah marah, atau bahkan merasa kosong ketika mereka tidak dapat menggunakan perangkat digital mereka.

Perasaan ini tidak selalu ekstrem, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang terus kembali ke internet sebagai cara meredakan ketidaknyamanan tersebut.

Dari sudut pandang sistem saraf, fenomena ini berkaitan dengan perubahan dalam regulasi dopamin dan mekanisme kebiasaan di otak.


Dampak pada Kehidupan Nyata

Pada titik tertentu, penggunaan internet yang berlebihan mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Beberapa orang mulai mengalami gangguan tidur karena menggunakan perangkat digital hingga larut malam.

Sebagian lainnya merasa sulit berkonsentrasi pada pekerjaan atau studi karena perhatian mereka terus terpecah oleh notifikasi.

Ada juga yang mulai menarik diri dari interaksi sosial di dunia nyata karena merasa lebih nyaman berada di ruang digital.

Yang menarik adalah bahwa banyak orang yang mengalami hal ini sebenarnya menyadari bahwa pola tersebut tidak sehat.

Namun kesadaran saja sering kali tidak cukup untuk mengubah perilaku yang sudah tertanam dalam sistem kebiasaan otak.


Peran Emosi dalam Kecanduan Internet

Internet sering kali tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga sebagai cara melarikan diri dari emosi yang sulit.

Ada seseorang yang pernah bercerita bahwa setiap kali ia merasa cemas atau kesepian, ia langsung membuka ponselnya. Tidak selalu untuk mencari sesuatu yang spesifik—hanya menggulir layar tanpa tujuan.

Setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa internet telah menjadi semacam “penenang instan”.

Fenomena ini sering disebut dalam literatur psikologi sebagai maladaptive coping, yaitu strategi mengatasi emosi yang memberikan kelegaan sementara tetapi tidak benar-benar menyelesaikan sumber masalah.


Mengapa Internet Begitu Sulit Ditinggalkan?

Salah satu alasan utama adalah bahwa internet memberikan kombinasi unik antara stimulasi mental, interaksi sosial, dan hiburan dalam satu tempat.

Selain itu, banyak platform digital menggunakan prinsip desain yang disebut variable reward schedule—mekanisme yang juga digunakan dalam mesin judi.

Artinya, seseorang tidak pernah tahu kapan ia akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Ketidakpastian ini justru membuat otak semakin terdorong untuk terus mencari stimulus berikutnya.

Penelitian dalam bidang neurosains perilaku menunjukkan bahwa pola penghargaan yang tidak dapat diprediksi ini sangat kuat dalam membentuk kebiasaan.


Refleksi

Jika kita melihat fenomena kecanduan internet dengan lebih dalam, mungkin kita akan menyadari bahwa ini bukan sekadar masalah disiplin diri atau kurangnya kontrol.

Ia adalah pertemuan antara otak manusia yang sangat responsif terhadap penghargaan dan teknologi yang dirancang untuk memaksimalkan perhatian manusia.

Dalam kehidupan modern, hampir semua orang hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Layar selalu ada di tangan kita, notifikasi selalu siap muncul kapan saja.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya “kapan seseorang dianggap kecanduan internet”.

Tetapi juga: seberapa sering kita sendiri membuka layar tanpa benar-benar menyadari mengapa kita melakukannya.

Mungkin di situlah salah satu paradoks zaman ini muncul—bahwa teknologi yang dirancang untuk menghubungkan manusia dengan dunia justru kadang membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kecil antara dirinya dan layar yang tidak pernah benar-benar tidur.

Referensi:

Young, K. (1998). Caught in the Net: How to Recognize the Signs of Internet Addiction.

Young, K., & Abreu, C. (2011). Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment.

Grant, J., Potenza, M., Weinstein, A., & Gorelick, D. (2010). Introduction to Behavioral Addictions.

Alter, A. (2017). Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked.