Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana rasa trauma "tersimpan" dalam hati kita? Apa hubungan antara trauma psikologis dan respons fisiologis tubuh, dan bagaimana kita bisa mengatasi efek fisik dari trauma ini?

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
41

Ketika seseorang mengalami trauma, reaksi pertama yang umum muncul dari lingkungan adalah saran untuk “melupakan saja,” atau “sudah, jangan dipikirkan terus.” Tapi kenyataannya, trauma bukan hanya ingatan yang bisa disimpan atau dibuang di rak otak seperti buku usang. Trauma adalah sesuatu yang hidup. Ia tidak hanya tertanam di pikiran, tapi juga menetap di tubuh. Dalam cara kita bernapas, dalam postur bahu kita, dalam jantung yang berdebar meski suasana aman. Trauma bisa tidur, tapi ia tak pernah benar-benar hilang — sampai kita benar-benar mengakuinya, menyentuhnya, dan perlahan-lahan merawatnya.


Trauma Bukan Hanya Cerita Lama, Tapi Reaksi Tubuh yang Tak Sempat Pulih

Apa itu trauma?

Dalam psikologi, trauma bukan hanya peristiwa buruk. Trauma adalah apa yang terjadi di dalam diri kita akibat peristiwa tersebut. Dua orang bisa mengalami peristiwa serupa — misalnya kecelakaan, kekerasan, atau kehilangan — namun hanya satu yang mengalami trauma. Artinya, trauma bukan apa yang terjadi, tapi bagaimana tubuh dan jiwa kita merespons dan menyimpannya.

Menurut Dr. Gabor Maté, trauma adalah “luka dalam yang terjadi ketika kita terlalu kesepian dalam penderitaan.” Dan luka ini tidak hanya menetap di pikiran, tapi juga mengganggu sistem saraf, hormon, pencernaan, tidur, dan bahkan postur tubuh. Tubuh mengingat, bahkan ketika pikiran ingin melupakan.


Sistem Saraf: Rumah Pertama Trauma

Ketika tubuh kita menghadapi ancaman, sistem saraf otonom mengambil alih. Dalam kondisi normal, ini membantu kita bertahan hidup. Tapi dalam trauma, sistem ini “terjebak” dalam mode siaga bahkan setelah ancaman berlalu. Inilah mengapa seseorang bisa merasa gelisah, jantung berdebar, atau merasa “tak aman” di tempat yang aman.

Stephen Porges, lewat Teori Polyvagal-nya, menjelaskan bahwa sistem saraf otonom punya tiga jalur utama:

  1. Respons Sosial (Ventral Vagus): tenang, terhubung, aman.
  2. Respons Melawan/Lari (Sympathetic): waspada, siap bertarung atau kabur.
  3. Respons Beku/Tidak Merespons (Dorsal Vagus): mati rasa, kehilangan energi.

Orang yang mengalami trauma sering kali tersangkut pada jalur kedua dan ketiga. Mereka mungkin hidup dalam kecemasan konstan (sympathetic) atau kelelahan kronis dan putus asa (dorsal vagus). Bahkan ketika mereka “tampak baik-baik saja,” sistem dalam tubuhnya sedang membunyikan alarm.


Bagaimana Trauma Tersimpan di Dalam Tubuh?

Dr. Bessel van der Kolk menyebut bahwa trauma adalah gangguan pada pengalaman dan pengolahan emosi yang “membeku” di dalam tubuh. Ia menjelaskan bahwa ketika tubuh tidak bisa merespons ancaman (misalnya, saat anak kecil yang tak bisa lari dari kekerasan), tubuh menyimpan “gerakan yang tertahan” sebagai energi yang terperangkap.

Energi ini bisa muncul kembali dalam bentuk:

  • Nyeri otot tanpa sebab medis jelas.
  • Sulit bernapas lega, terutama saat stres.
  • Postur tubuh menunduk atau tegang.
  • Ketegangan leher dan bahu konstan.
  • Gangguan pencernaan atau sakit kepala kronis.

Tubuh mencoba menyampaikan cerita yang belum sempat kita ceritakan. Dan sayangnya, jika kita terus menekan cerita itu, ia muncul dalam bentuk gejala fisik.


Jantung yang Cepat, Nafas yang Pendek, dan Pikiran yang Tak Bisa Tenang

Mengapa trauma memengaruhi jantung dan pernapasan?

Ketika sistem saraf simpatis aktif karena trauma, tubuh berada dalam mode waspada tinggi: jantung berdetak lebih cepat, otot tegang, dan pernapasan dangkal. Ini adalah respons alami untuk bertahan hidup. Tapi jika sistem ini terus-menerus aktif — bahkan tanpa ancaman nyata — maka tubuh kita hidup dalam kondisi stres kronis.

Stres kronis ini berdampak pada hormon seperti kortisol dan adrenalin. Ketika kadarnya terus tinggi, tubuh menjadi kelelahan. Sistem imun menurun. Konsentrasi kabur. Kita pun merasa hampa dan putus asa — bukan karena tidak kuat, tapi karena tubuh sudah terlalu lama dalam mode bertahan.


Mengapa “Hati” Bisa Terasa Sakit Saat Trauma?

Dalam bahasa kita, kita sering berkata, “Hati saya sakit,” “Perasaan ini menghantam dada,” atau “Saya merasa sesak.” Ini bukan sekadar kiasan. Emosi memang berdiam di tubuh.

Penelitian dalam psikologi somatik menunjukkan bahwa emosi seperti duka, ketakutan, dan rasa malu memiliki lokasi sensorik yang khas di tubuh. Misalnya:

  • Rasa kehilangan sering terasa sebagai tekanan di dada.
  • Rasa malu terasa panas di wajah dan leher.
  • Ketakutan membuat perut melilit.
  • Cemas menetap di bahu dan leher.

Itulah mengapa dalam banyak tradisi kuno maupun pendekatan psikologi modern, tubuh disebut sebagai “peta emosi.” Dan hati, secara fisiologis maupun simbolis, menjadi pusat dari pengalaman emosional terdalam.


Penyembuhan Trauma: Tubuh Harus Dilibatkan

Berbicara tentang trauma tidak cukup untuk menyembuhkannya.

Menurut Peter Levine, pencipta metode Somatic Experiencing, trauma tidak disembuhkan dengan cerita, tapi dengan pengalaman tubuh yang baru. Artinya, untuk benar-benar pulih, kita harus memberikan tubuh kesempatan untuk menyelesaikan siklus respons alaminya yang tertahan.

Beberapa cara yang terbukti efektif dalam mengatasi trauma melalui tubuh:

  1. Somatic Experiencing: membantu tubuh “menyelesaikan” gerakan atau respons yang tertahan saat trauma terjadi.
  2. Trauma-informed Yoga: menggunakan gerakan dan pernapasan untuk menciptakan rasa aman di tubuh.
  3. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing): terapi yang mengaktifkan otak kanan dan kiri untuk memproses ingatan traumatis.
  4. Mindfulness dan Meditasi Tubuh: memperkuat hubungan sadar antara pikiran dan tubuh tanpa menghakimi.

Semuanya bertujuan sama: membantu tubuh mengerti bahwa sekarang sudah aman.


Apa yang Bisa Kita Lakukan, Secara Perlahan?

Penyembuhan trauma bukan tentang melupakan masa lalu, tapi tentang membangun hubungan baru dengan tubuh dan diri sendiri. Itu tidak instan. Tapi ada beberapa langkah yang bisa dimulai hari ini:

  • Mulai dengan mendengarkan tubuh, bukan mengatur atau memaksanya. Apa yang ia rasakan sekarang? Di mana ia tegang? Apa ia ingin istirahat?
  • Latih pernapasan dalam. Satu-satunya cara langsung kita memengaruhi sistem saraf otonom adalah lewat napas. Tarikan dalam dan lambat mengaktifkan jalur ketenangan.
  • Praktikkan self-compassion. Beri izin pada dirimu untuk tidak baik-baik saja. Itu bukan kelemahan, tapi langkah pertama penyembuhan.
  • Ciptakan ritual kecil untuk mendekatkan diri ke tubuh: menyentuh dada saat cemas, membelai lengan saat sedih, berjalan perlahan di pagi hari dengan kesadaran penuh.

Menata Hati, Merawat Tubuh: Jalan Panjang yang Manusiawi

Trauma adalah bekas luka. Tapi luka itu tidak selalu terlihat. Ia bersembunyi di balik senyum, di balik kebaikan yang berlebihan, di balik tubuh yang selalu lelah tanpa sebab. Tapi seperti semua luka, ia bisa sembuh — bukan dengan mengabaikannya, tapi dengan melihatnya, menyapanya, dan memberi waktu.

Tubuh adalah rumah kita. Ia menyimpan segalanya. Tapi rumah juga bisa direnovasi. Hati juga bisa tenang kembali. Dengan pendekatan yang penuh pengertian, terapi yang sesuai, dan keberanian untuk kembali hadir dalam tubuh kita sendiri, kita bisa pulih — sedikit demi sedikit.

Karena pada akhirnya, trauma bukan akhir cerita. Ia adalah bab yang berat, tapi bukan yang terakhir. Dan tubuhmu — yang dulu terluka — juga punya kemampuan luar biasa untuk sembuh. Bahkan mungkin, menjadi lebih kuat dan lembut dari sebelumnya.

Trauma psikologis sering digambarkan seolah-olah “tersimpan” di dalam hati atau pikiran, tetapi sebenarnya, trauma memiliki jejak yang jauh lebih luas daripada sekadar memori emosional. Ia tertanam dalam tubuh, sistem saraf, dan cara kita merespons dunia di sekitar kita. Banyak orang yang mengalami trauma tidak hanya merasakan kesedihan atau kecemasan, tetapi juga sensasi fisik—jantung berdegup kencang saat mengingat pengalaman, otot menegang tanpa sadar, atau pernapasan yang tersendat ketika sesuatu memicu ingatan akan masa lalu. Ini bukan sekadar imajinasi; ada penjelasan biologis dan psikologis yang mendalam di balik fenomena ini.

Trauma sebagai ingatan tubuh

Trauma dapat meninggalkan jejak pada sistem limbik, bagian otak yang bertanggung jawab untuk emosi dan memori, serta sistem saraf otonom, yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Amygdala, misalnya, akan “merekam” pengalaman traumatis dengan intens, sehingga ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkan pada trauma, tubuh bereaksi seolah bahaya masih ada—meskipun situasinya aman secara nyata (van der Kolk, 2014). Inilah yang sering dijelaskan sebagai “trapped in the body”: trauma bukan hanya memori, tetapi pola respons yang tersimpan dalam jaringan saraf dan tubuh.

Dalam praktik sehari-hari, ini terlihat ketika seseorang tiba-tiba merasa panik saat suara keras terdengar atau mengalami ketegangan otot yang terus-menerus meskipun tidak ada ancaman nyata. Tubuh menyimpan memori emosional ini melalui ketegangan, postur, dan bahkan pola pernapasan. Sensorik tubuh—apa yang kita lihat, dengar, atau rasakan—dapat memicu respons ini, kadang lebih kuat daripada ingatan sadar. Karena itu, trauma sering kali terasa “hidup” dan tidak bisa diabaikan hanya dengan mencoba mengingat dan memahami pengalaman itu secara rasional.

Respons fisiologis trauma

Trauma memicu apa yang disebut respon fight, flight, atau freeze. Ketika dihadapkan pada situasi mengancam, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Jika trauma terjadi berulang atau tidak diproses dengan cara yang mendukung, sistem ini bisa menjadi hiperaktif atau malah mati rasa. Akibatnya, seseorang bisa mengalami berbagai manifestasi fisik: insomnia, sakit kepala, gangguan pencernaan, nyeri kronis, atau kelelahan yang tampak tidak beralasan.

Menariknya, studi neuropsikologi menunjukkan bahwa trauma tidak hanya memengaruhi tubuh saat kejadian itu berlangsung, tetapi juga menyusun pola reaktivitas jangka panjang. Amygdala menjadi lebih sensitif, prefrontal cortex yang bertugas menenangkan respons emosional menjadi kurang aktif, sehingga orang yang mengalami trauma sering merasa mudah tersinggung, cemas, atau panik—reaksi yang tampaknya “tidak proporsional” bagi orang lain. Selain itu, hippocampus, yang membantu membedakan masa lalu dan sekarang, dapat mengalami penurunan fungsi, sehingga ingatan traumatis terasa seperti sedang terjadi saat ini (Bremner, 2006).

Mengatasi efek fisik trauma

Menghadapi trauma berarti tidak hanya berbicara tentang memori atau perasaan, tetapi juga mengenali tubuh sebagai bagian integral dari proses penyembuhan. Teknik seperti body scan, yoga trauma-informed, pernapasan sadar, atau latihan grounding bisa membantu seseorang mengakses sensasi tubuh dengan aman, meredakan ketegangan, dan memproses memori emosional secara bertahap. Misalnya, seseorang yang mengalami serangan panik karena trauma masa lalu bisa belajar merasakan denyut jantung, menarik napas panjang, dan mengakui sensasi itu tanpa menolaknya. Dengan konsistensi, tubuh mulai “belajar ulang” bahwa situasi saat ini aman.

Terapi somatik dan pendekatan berbasis sensorik menekankan bahwa trauma bukan hanya cerita untuk didengar, tetapi pengalaman untuk dialami secara aman dalam tubuh. Menyentuh tanah dengan kaki, merasakan tekstur kain, atau menggerakkan tubuh perlahan bisa membantu memecah ketegangan dan memberi sinyal pada sistem saraf bahwa ancaman telah berlalu. Peter Levine, dalam Waking the Tiger (1997), menekankan bahwa tubuh memiliki kapasitas alami untuk menyelesaikan trauma, tetapi perlu dipandu agar energi yang tertahan di tubuh dapat dilepaskan dengan cara yang aman.

Selain itu, dukungan sosial memainkan peran penting dalam meredakan respons fisiologis trauma. Interaksi dengan orang yang aman dan empatik dapat menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan rasa aman internal. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang memiliki jaringan dukungan kuat dapat memproses trauma lebih efektif daripada mereka yang merasa terisolasi.

Trauma dan mindfulness

Mindfulness atau kesadaran penuh juga menjadi jembatan penting antara pikiran dan tubuh. Dengan mempraktikkan kesadaran penuh terhadap sensasi tubuh, perasaan, dan pikiran, seseorang belajar mengamati respons tubuh tanpa reaktivitas berlebihan. Ini memberikan ruang bagi tubuh untuk menyesuaikan diri, dan secara bertahap, respons fisiologis yang dulu otomatis terhadap trauma menjadi lebih terkontrol. Penelitian menunjukkan bahwa latihan mindfulness secara signifikan menurunkan gejala PTSD, depresi, dan kecemasan, serta menormalkan respons sistem saraf otonom (Kabat-Zinn, 1990).

Membangun rasa aman internal

Salah satu tantangan terbesar dalam proses penyembuhan trauma adalah membangun rasa aman internal. Trauma sering membuat seseorang merasa dunia berbahaya dan tubuh tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, praktik rutin yang menekankan self-compassion, afirmasi, dan penguatan batas-batas pribadi menjadi krusial. Ketika tubuh belajar bahwa lingkungan internal dan eksternal aman, respons fisiologis yang dulu hiperaktif mulai menenangkan diri.

Refleksi akhir

Trauma bukan hanya memori atau peristiwa yang lampau; ia adalah pola yang tertanam dalam tubuh, sistem saraf, dan cara kita merasakan dunia. Menghadapi trauma berarti hadir dengan tubuh kita, memperhatikan sensasi fisik, dan memberi diri kita ruang untuk memproses pengalaman itu secara bertahap. Ini bukan perjalanan yang instan, tetapi melalui kesadaran, gerakan, dukungan, dan rasa aman internal, kita mulai mengubah cara tubuh menahan trauma, dan akhirnya, kita belajar bahwa pemulihan bukan berarti melupakan, tetapi mampu hidup dengan trauma tanpa membiarkannya menguasai tubuh dan pikiran kita.

Referensi:

  • van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.
  • Bremner, J. D. (2006). Trauma, Memory, and Dissociation. Harvard Review of Psychiatry, 14(5), 236–246.
  • Levine, P. (1997). Waking the Tiger: Healing Trauma. North Atlantic Books.
  • Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living. Dell Publishing.

Pemikiran reflektif:
Mungkin yang paling sulit adalah menerima bahwa tubuh kita menyimpan sejarah kita sendiri—bahwa rasa takut, ketegangan, dan kesedihan bisa tetap hidup dalam jaringan saraf, bahkan ketika kita ingin melupakannya. Tetapi di sisi lain, kesadaran akan hal ini memberi kita kunci: pemulihan tidak datang dari menghapus trauma, tetapi dari belajar mendengarkan tubuh, memberi ruang, dan perlahan membangun kembali rasa aman yang tulus dari dalam diri sendiri.

Trauma psikologis sering digambarkan sebagai luka yang tidak terlihat, tetapi efeknya bisa terasa sangat nyata, bahkan hingga ke tubuh. Saya pernah mengenal seseorang yang tampak tenang, rapi, dan penuh senyum di hadapan orang lain. Namun, setiap kali ia menghadapi situasi tertentu—misalnya mendengar suara keras atau mengalami konfrontasi—tubuhnya bereaksi dengan tegang, jantung berdebar, dan napas tersengal. Ketika ia berbicara tentang pengalaman masa kecilnya yang traumatis, terlihat jelas bahwa rasa takut dan cemas yang dulu dialami masih “tersimpan” dalam tubuhnya, meski ingatan sadar mungkin sudah tertutup atau teredam. Inilah inti dari bagaimana trauma psikologis bisa tertanam dalam sistem saraf dan memengaruhi respons fisiologis tubuh.

Secara biologis, trauma memicu respons fight-or-flight yang dikendalikan oleh amigdala, bagian otak yang memproses ancaman emosional. Ketika seseorang mengalami trauma, amigdala menjadi sangat waspada, dan respons ini bisa menetap lama setelah kejadian awal. Korteks prefrontal, yang biasanya mengatur penilaian dan kontrol emosi, bisa menjadi kurang efektif dalam menenangkan amigdala yang “terprogram” untuk merespons bahaya. Hasilnya, individu bisa merasakan ketegangan fisik, kecemasan, atau hipervigilance bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman (van der Kolk, 2014). Tubuh menyimpan trauma melalui perubahan fisiologis, hormon, dan bahkan pola napas, otot, dan sistem saraf otonom.

Trauma juga memiliki dampak kronis pada hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Seseorang yang mengalami trauma jangka panjang sering melaporkan gejala fisik: nyeri otot tanpa sebab jelas, sakit kepala, gangguan pencernaan, atau kelelahan ekstrem. Saya pernah berbincang dengan seseorang yang menderita nyeri kronis di punggung dan bahu, yang akhirnya diketahui berkaitan dengan ketegangan otot yang terjadi akibat kecemasan dan trauma masa lalu. Dalam banyak kasus, ketegangan fisik ini adalah “bahasa tubuh” dari pengalaman emosional yang belum selesai. Tubuh mengekspresikan ketakutan, kesedihan, dan kemarahan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.

Selain itu, trauma dapat mengubah cara otak memproses memori. Kenangan traumatis sering tersimpan sebagai fragmen sensorik: suara, bau, atau sensasi fisik tertentu dapat memicu ingatan emosional yang intens. Seseorang bisa merasakan kembali ketakutan atau kesedihan masa lalu seolah itu terjadi saat ini. Dalam konteks ini, rasa trauma yang tersimpan tidak hanya psikologis tetapi juga fisik, karena tubuh merespons seolah ancaman masih ada.

Mengatasi efek fisik dari trauma membutuhkan pendekatan yang holistik, yang menggabungkan pemahaman emosional dengan perawatan tubuh. Salah satu cara yang banyak orang temukan efektif adalah teknik regulasi fisiologis. Misalnya, pernapasan lambat dan sadar—seperti teknik 4-7-8 atau pernapasan diafragma—bisa menenangkan sistem saraf otonom dan mengurangi hipervigilance. Saya pernah bertemu seseorang yang setiap kali merasa panik, melakukan latihan pernapasan ini dan merasakan jantung yang berdebar perlahan menenangkan. Ini adalah contoh bagaimana kita bisa “berbicara” dengan tubuh untuk menenangkan respons trauma yang tersimpan.

Aktivitas fisik juga memainkan peran penting. Olahraga ringan, yoga, atau latihan peregangan tidak hanya memperkuat tubuh, tetapi juga membantu melepaskan ketegangan yang tertahan. Dalam beberapa studi, terapi berbasis gerakan, seperti somatic experiencing atau trauma-informed yoga, menunjukkan bahwa tubuh bisa belajar melepaskan emosi yang tersimpan secara aman, tanpa harus mengulang trauma secara sadar (Levine, 2010). Saya pernah mengenal seseorang yang rutin melakukan yoga dan meditasi gerakan, dan melaporkan bahwa otot-ototnya terasa lebih rileks, napas lebih mudah, dan kecemasan berkurang meski masalah emosional belum sepenuhnya terselesaikan.

Selain itu, ekspresi kreatif—menulis, melukis, atau musik—bisa menjadi sarana untuk menyalurkan emosi yang sulit diucapkan. Banyak orang trauma menemukan bahwa ketika mereka menuangkan perasaan ke medium kreatif, tubuh dan pikiran bekerja bersama untuk mengolah pengalaman yang tersimpan. Dalam cara ini, trauma tidak hilang, tetapi energi emosionalnya bisa dilepaskan dengan aman, memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih.

Interaksi sosial yang aman juga penting. Trauma sering membuat individu merasa terasing atau tidak aman dalam hubungan. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang awalnya sulit mempercayai orang lain karena pengalaman pengkhianatan masa lalu. Namun, melalui hubungan yang stabil dan empatik—meski singkat—ia mulai merasa aman, dan respons fisiologisnya terhadap stres menurun. Rasa aman emosional dari hubungan interpersonal mendukung tubuh untuk melepaskan ketegangan yang lama tersimpan.

Namun, penting untuk diingat bahwa proses ini bukan tentang menghapus trauma. Trauma meninggalkan jejak yang bisa dirasakan sepanjang hidup, tetapi kita bisa belajar mengelola respons tubuh dan pikiran terhadap trauma, sehingga pengalaman tersebut tidak lagi mengontrol hidup sehari-hari. Strategi yang efektif melibatkan kombinasi: teknik pernapasan dan relaksasi, aktivitas fisik, ekspresi kreatif, dan hubungan sosial yang aman, disertai refleksi diri yang jujur. Dengan waktu dan konsistensi, tubuh mulai belajar bahwa lingkungan aman, dan respons fight-or-flight yang dulu dominan bisa dikurangi.

Refleksi terakhir yang ingin saya tinggalkan adalah: trauma yang tersimpan bukan tanda kelemahan. Ia adalah bukti dari kapasitas manusia untuk bertahan menghadapi pengalaman yang luar biasa berat. Tubuh dan pikiran kita menyimpan trauma sebagai bentuk memori, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam—untuk merawat diri, dan menemukan cara-cara kreatif untuk pulih. Dalam kesadaran dan perawatan yang konsisten, luka yang tidak terlihat ini bisa diubah menjadi sumber kekuatan dan pemahaman diri yang lebih dalam.

Referensi:

  1. van der Kolk, B.A. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Penguin Books.
  2. Levine, P.A. (2010). In an Unspoken Voice: How the Body Releases Trauma and Restores Goodness. North Atlantic Books.
  3. Sapolsky, R.M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers (3rd ed.). Holt Paperbacks.
  4. Davidson, R.J., & McEwen, B.S. (2012). Social influences on neuroplasticity: stress and interventions to promote well-being. Nature Neuroscience, 15(5), 689–695.