Aku paham betul perasaanmu. Rasa ingin orang tua bisa akur kembali, meski mereka tidak rujuk, adalah sesuatu yang sangat wajar, bahkan manusiawi. Aku pernah ada di posisi itu—menjadi anak yang menatap ketegangan lama di rumah, merasakan dingin yang ditinggalkan perceraian, tapi tetap berharap akan kehangatan yang dulu ada, walaupun bentuknya sudah berbeda.
Aku ingat dulu, saat kecil, rumah kami terasa seperti medan pertempuran emosional. Kata-kata yang tajam, diam yang menusuk, dan tatapan penuh ketegangan seolah menjadi bagian dari ritual sehari-hari. Aku sering duduk di pojok kamar, menahan air mata, sambil membayangkan sebuah dunia di mana orang tua bisa berbicara tanpa benturan, bisa tersenyum tanpa rasa bersalah, bisa berada di ruangan yang sama tanpa memicu ketegangan. Aku ingin mereka bisa akur kembali, meski itu tidak berarti kembali bersama. Aku ingin melihat mereka saling menghormati, saling menertawakan hal-hal kecil, saling mengizinkan ruang masing-masing tanpa rasa permusuhan.
Harapan itu muncul bukan karena aku ingin mengatur hidup mereka, tapi karena aku ingin meredakan luka di hatiku sendiri. Perceraian mereka meninggalkan rasa takut, kebingungan, dan kesepian yang dalam, dan aku percaya—meski mungkin terlalu polos—bahwa jika mereka bisa akur, itu akan membuat dunia di sekitarku lebih aman, lebih tenang. Ada saat-saat ketika aku menangis diam-diam karena menyadari bahwa keinginan itu mungkin tidak realistis, bahwa konflik dan luka masa lalu tidak mudah hilang. Tapi meski begitu, harapan itu tetap ada, tersembunyi di sudut hatiku.
Aku pernah mencoba berbicara pada teman, bahkan pada seorang konselor, tentang keinginanku ini. Mereka berkata, “Mungkin kamu terlalu berharap pada sesuatu yang tidak bisa dikontrol.” Tapi yang mereka tidak sepenuhnya mengerti adalah bahwa harapan itu bukan sekadar soal kontrol, melainkan tentang kebutuhan hati untuk melihat harmoni, walau bentuknya sederhana—seperti orang tua yang bisa menatap satu sama lain tanpa perasaan sakit lama, bisa berbicara tentang hal-hal ringan, atau bisa hadir di momen penting anak mereka tanpa beban permusuhan. Itu saja sudah cukup untuk memberi rasa aman, meski mereka tidak rujuk.
Aku masih ingat satu momen yang sangat membekas. Suatu kali, aku sedang menyiapkan pesta ulang tahun kecil untuk diriku sendiri—hanya beberapa teman dekat. Orang tua datang, masing-masing dengan caranya sendiri. Mereka duduk di sisi yang berbeda, tapi tidak ada tatapan tajam, tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Mereka bahkan bercanda tipis tentang hal-hal sepele. Itu bukan rekonsiliasi, itu bukan rujuk, tapi itu adalah kedamaian yang sangat aku rindukan. Saat itu aku menangis, tapi bukan karena sedih—aku menangis karena melihat bahwa akur itu mungkin, walau bentuknya berbeda, walau tidak sempurna. Itu adalah hadiah bagi hati yang lama merindu.
Harapan seperti ini sering muncul karena anak yang mengalami broken home ingin memperbaiki sesuatu yang seharusnya tidak rusak. Kita ingin melihat orang tua bisa akur karena kita tahu bahwa ketegangan mereka memengaruhi hidup kita. Kita ingin menciptakan ilusi bahwa jika mereka bisa damai, dunia akan terasa aman lagi. Tapi yang sulit adalah memahami bahwa harapan itu tidak selalu sejalan dengan realitas. Orang tua kita memiliki kehidupan, ego, luka, dan pilihan mereka sendiri. Mereka tidak selalu bisa memenuhi harapan kita, tidak selalu bisa menyembuhkan diri mereka sendiri. Dan itu wajar.
Aku juga belajar bahwa rasa ingin orang tua akur itu bukan tanda kelemahan atau ketergantungan, tapi justru bukti kepekaan emosional dan kapasitas kita untuk mencintai. Aku pernah merasa bersalah karena berharap, merasa bahwa aku terlalu menginginkan sesuatu yang bukan hakku untuk dituntut. Tapi kemudian aku menyadari bahwa harap bukan tuntutan. Harapan bisa ada tanpa memaksa, bisa ada tanpa menyakiti, bisa ada sebagai cara hati kita merawat diri sendiri melalui kenyamanan emosional.
Ada hal lain yang juga penting: kita bisa belajar membuat akur itu versi kita sendiri. Aku belajar bahwa akur bukan hanya tentang orang tua berdamai satu sama lain, tapi juga tentang bagaimana aku berdamai dengan hubungan mereka dengan diriku. Aku bisa memilih untuk melihat mereka dengan mata yang lebih netral, menerima kekurangan mereka, dan tetap menjaga jarak emosional saat diperlukan. Dengan begitu, aku membangun semacam kedamaian internal—bisa tetap berharap mereka akur, tapi tidak larut dalam konflik mereka, tidak kehilangan diri sendiri karena luka lama.
Aku ingin menekankan satu hal yang mungkin jarang dibicarakan: harapan itu kadang hadir bersamaan dengan rasa takut. Aku takut berharap terlalu banyak, takut kecewa, takut luka lama kembali terbuka. Tapi aku juga sadar bahwa tanpa harapan, kita seperti kehilangan arah. Kita seperti mengembara di tengah badai emosional tanpa jangkar. Harapan itu memberi titik cahaya, sekecil apapun, yang menuntun kita melewati malam yang gelap dan panjang.
Aku pernah menulis dalam diary: “Aku berharap mereka bisa akur, tapi aku juga belajar menerima jika itu tidak mungkin. Aku belajar bahwa akur bisa berarti hal-hal kecil: tatapan yang tidak menyakitkan, kata-kata ringan yang tidak menusuk, senyum yang muncul tanpa permusuhan. Aku belajar bahwa kedamaian bisa lahir dari hal-hal sederhana, walau tidak sempurna.” Dan itu menjadi semacam mantra bagiku, pengingat bahwa harapan dan penerimaan bisa hidup berdampingan, bahkan dalam situasi yang tampaknya tak adil.
Akhirnya, aku menyadari bahwa wajar dan manusiawi untuk berharap orang tua bisa akur kembali setelah perceraian, walaupun mereka tidak rujuk. Harapan itu adalah bentuk kerinduan akan harmoni, bentuk cinta yang belum pudar, bentuk hati yang ingin berdamai dengan luka masa lalu. Dan kita bisa memelihara harapan itu sambil tetap menjaga diri kita sendiri, sambil tetap belajar untuk tidak larut dalam konflik mereka. Karena pada akhirnya, kedamaian kita tidak sepenuhnya tergantung pada orang lain, tapi pada cara kita melihat, menerima, dan memberi ruang bagi hati kita sendiri untuk bernapas.
“Harapan itu seperti cahaya di jendela rumah yang retak: ia tidak mengubah badai di luar, tapi memberi arah bagi langkah yang lelah untuk menemukan jalan pulang.”