Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Iya. Sangat wajar. Dan sering kali, perasaan itu jauh lebih rumit daripada sekadar “pilih ayah atau ibu”.

Aku tahu rasanya—bukan dari buku, bukan dari teori, tapi dari malam-malam panjang ketika satu rumah terasa lebih sunyi daripada seharusnya, dan rumah lain terasa terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kita minta untuk dipahami.

Setelah orang tua bercerai, kita tidak hanya kehilangan satu rumah. Kita kehilangan rasa pulang yang utuh. Dan sejak itu, tinggal bukan lagi soal alamat, tapi soal di mana tubuh dan hati bisa bernapas tanpa terus berjaga-jaga.

Aku ingat betul saat pertama kali menyadari bahwa aku lebih nyaman tinggal dengan salah satu orang tua. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada keputusan besar. Hanya kumpulan hal-hal kecil yang terus berulang. Nada suara yang lebih tenang. Tidak perlu menyiapkan topeng. Tidak harus membaca suasana setiap kali membuka pintu kamar. Tidak merasa menjadi pengingat hidup dari kegagalan masa lalu seseorang.

Dan justru di situ rasa bersalah mulai muncul.

Karena dalam kepala kita, kenyamanan sering disalahartikan sebagai ketidaksetiaan. Seolah merasa aman di satu tempat berarti mengkhianati tempat lain. Padahal kenyamanan tidak selalu lahir dari cinta yang lebih besar. Kadang ia lahir dari luka yang lebih sedikit terbuka.

Perceraian mengubah rumah menjadi ruang emosional yang berbeda-beda. Satu rumah mungkin dipenuhi kesedihan yang tak terucap. Rumah lain mungkin dipenuhi kemarahan yang masih mentah. Ada rumah yang sunyinya menekan. Ada rumah yang terlalu ramai oleh cerita masa lalu. Dan di tengah semua itu, kita hanya anak yang mencoba bertahan tanpa panduan.

Merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua sering kali bukan karena orang tua yang lain buruk. Tapi karena dinamika emosional di sana terlalu berat untuk kita pikul setiap hari.

Aku pernah tinggal di rumah yang setiap sudutnya seperti membawa gema konflik lama. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada pertengkaran. Tapi udara selalu tegang. Setiap percakapan terasa harus hati-hati. Setiap tawa terasa sedikit bersalah. Aku hidup dalam mode siaga, bahkan saat sedang duduk diam.

Sementara di rumah yang lain, aku bisa diam tanpa dianggap bermasalah. Bisa lelah tanpa ditanya berulang kali. Bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menjelaskan kenapa aku tidak sedang “baik-baik saja”. Itu bukan tentang siapa yang lebih aku cintai. Itu tentang di mana aku tidak harus terus menahan napas.

Dan itu penting. Sangat penting.

Yang jarang dibicarakan adalah bagaimana setelah perceraian, anak sering menjadi cermin bagi luka orang tuanya. Tinggal dengan salah satu orang tua kadang berarti harus menjadi saksi harian kesedihan mereka. Harus siap mendengar keluhan, penyesalan, atau bahkan diam yang berat. Dan tidak semua anak punya kapasitas emosional untuk itu—bukan karena lemah, tapi karena batas manusiawi.

Memilih tinggal dengan satu orang tua sering kali adalah bentuk perlindungan diri yang sunyi. Kita tidak sedang egois. Kita sedang mencoba tetap waras.

Aku tahu rasa bersalah itu. Rasa bersalah yang datang diam-diam, biasanya malam hari. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa aku anak yang buruk?” atau “Apa aku terlalu mementingkan diriku sendiri?” muncul tanpa diundang. Dan ironisnya, pertanyaan-pertanyaan itu justru lahir dari rasa peduli yang besar, bukan dari ketidakpedulian.

Karena kalau kita benar-benar tidak peduli, kita tidak akan merasa seberat ini.

Kenyamanan emosional bukanlah kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar. Terutama bagi anak yang tumbuh di tengah perpisahan. Tubuh dan jiwa kita sudah cukup lama belajar hidup dalam ketidakpastian. Jadi ketika akhirnya menemukan satu ruang yang sedikit lebih stabil, wajar jika kita ingin bertahan di sana.

Aku juga belajar satu hal pahit: tidak semua orang tua siap menerima versi anak yang sedang berusaha menyembuhkan diri. Kadang kehadiran kita justru memicu luka mereka. Kadang ketidakhadiran kita memicu rasa kehilangan yang mereka salah pahami. Dan di antara dua kemungkinan itu, anak sering terjebak—merasa apa pun yang dipilih pasti menyakiti seseorang.

Tapi kenyataannya, tidak semua rasa sakit bisa kita cegah, dan itu bukan tanggung jawab kita sepenuhnya.

Merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua tidak berarti kita berhenti mencintai yang lain. Cinta tidak selalu diukur dari jarak fisik atau frekuensi tinggal. Kadang cinta justru bertahan karena ada jarak yang sehat. Jarak yang mencegah luka baru. Jarak yang memberi ruang untuk bernapas.

Aku pernah mencoba memaksakan diri tinggal di tempat yang tidak membuatku nyaman, hanya demi “adil”. Tapi yang terjadi justru aku menjadi lebih dingin, lebih tertutup, dan lebih jauh secara emosional. Dan saat itu aku sadar, kedekatan yang dipaksakan hanya menghasilkan kehadiran tanpa koneksi.

Sebaliknya, ketika aku tinggal di tempat yang lebih aman bagiku, hubunganku dengan orang tua yang lain justru perlahan membaik. Tidak sempurna. Tidak instan. Tapi lebih jujur. Karena aku datang bukan dari kelelahan, melainkan dari pilihan.

Ada satu kesalahpahaman besar tentang anak dari keluarga bercerai: bahwa kita harus selalu bijak, selalu adil, selalu mengerti. Padahal kita juga kehilangan. Kita juga berduka. Kita juga butuh ruang untuk tidak kuat.

Dan memilih kenyamanan bukanlah bentuk pengkhianatan. Ia adalah cara bertahan hidup yang paling sunyi dan paling jujur.

Jika kamu merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua, mungkin itu karena di sanalah kamu bisa menjadi dirimu yang paling utuh saat ini. Dan “saat ini” itu penting. Hidup tidak selalu menuntut kita untuk punya jawaban permanen. Kadang cukup dengan keputusan yang membuat hari ini lebih bisa dijalani.

Aku tidak akan bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku percaya satu hal: kamu tidak salah hanya karena ingin merasa aman.

Mungkin suatu hari, dinamika akan berubah. Mungkin rasa nyaman itu akan berpindah. Mungkin tidak. Tapi tidak ada yang perlu dibenarkan dari perasaan yang tumbuh sebagai respons atas luka.

Dan jika kamu masih merasa bersalah, mungkin itu tanda bahwa hatimu masih penuh cinta—bukan tanda bahwa pilihanmu keliru.

Aku ingin meninggalkan satu pemikiran, bukan sebagai jawaban mutlak, tapi sebagai teman duduk di sampingmu saat perasaan itu datang pelan-pelan.

Bahwa mungkin, rumah bukan tentang siapa yang kita tinggali, tapi di mana kita tidak perlu mengecilkan diri agar bisa diterima.

“Kadang kita memilih satu tempat untuk tinggal, bukan karena cinta kita terbagi, tapi karena jiwa kita butuh ruang untuk pulih tanpa merasa bersalah.”

Perceraian Orang Tua dan Perubahan Rasa Aman dalam Diri Anak

Perceraian orang tua hampir selalu mengguncang fondasi rasa aman seorang anak, tak peduli berapa pun usianya saat peristiwa itu terjadi. Keluarga adalah tempat pertama di mana seseorang belajar tentang stabilitas, kelekatan, dan makna pulang. Ketika orang tua berpisah, rumah tidak lagi menjadi satu ruang yang utuh, melainkan terbelah—secara fisik, emosional, dan simbolik. Di sinilah perasaan nyaman mulai mencari tempat baru untuk berlabuh.

Dalam psikologi perkembangan, rasa aman atau emotional security sangat berkaitan dengan konsistensi figur pengasuh. John Bowlby, melalui teori attachment, menjelaskan bahwa manusia secara naluriah mencari kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman. Ketika perceraian terjadi, sistem kelekatan ini terguncang. Anak, bahkan yang sudah dewasa, sering kali merasa harus “memilih” di mana ia bisa merasa paling tenang, paling sedikit konflik, dan paling tidak terjebak dalam ketegangan emosional orang tua.

Merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua bukanlah tanda ketidakadilan atau ketidaksetiaan. Ini sering kali merupakan respons adaptif terhadap lingkungan yang berubah. Psikologi melihatnya sebagai upaya diri untuk memulihkan rasa stabilitas yang hilang. Anak tidak sedang menolak orang tua yang lain, melainkan sedang mencari ruang bernapas.

Dinamika Emosi yang Tidak Seimbang Setelah Perceraian

Setelah perceraian, jarang sekali kedua orang tua berada dalam kondisi emosional yang sama. Salah satu mungkin lebih tenang, lebih menerima, atau lebih mampu menahan emosi. Yang lain mungkin masih menyimpan amarah, kesedihan, atau rasa ditinggalkan. Anak, dengan sensitivitas emosional yang sering kali lebih tajam dari yang disadari orang dewasa, akan merasakan perbedaan ini dengan jelas.

Menurut Salvador Minuchin dalam pendekatan structural family therapy, keluarga pasca-perceraian sering mengalami pergeseran batas emosional. Anak bisa tanpa sadar terseret ke dalam konflik emosional orang tua, menjadi tempat curhat, penenang, atau bahkan sekutu. Dalam situasi seperti ini, tinggal dengan orang tua yang emosinya lebih stabil sering terasa jauh lebih aman. Bukan karena cinta lebih besar, tetapi karena beban emosional lebih ringan.

Rasa nyaman juga berkaitan dengan predictability. Orang tua yang mampu menjaga rutinitas, tidak sering meluapkan konflik, dan tidak menjadikan anak sebagai penyangga emosional akan lebih mudah menjadi tempat bernaung. Otak manusia, menurut riset neuropsikologi, sangat menyukai lingkungan yang dapat diprediksi karena mengurangi respons stres. Maka wajar jika tubuh dan pikiranmu secara otomatis memilih tempat yang terasa lebih tenang.

Rasa Bersalah yang Sering Mengiringi Pilihan Ini

Meski secara psikologis wajar, memilih tinggal atau lebih dekat dengan satu orang tua sering disertai rasa bersalah yang mendalam. Banyak anak broken home merasa seolah-olah mereka sedang mengkhianati salah satu pihak. Rasa bersalah ini tidak muncul begitu saja; ia tumbuh dari loyalitas ganda yang terbelah.

Ivan Boszormenyi-Nagy, pencetus konsep invisible loyalties, menjelaskan bahwa dalam keluarga, terutama yang mengalami konflik, anak sering memikul loyalitas yang tidak terlihat. Anak merasa bertanggung jawab menjaga keseimbangan emosional orang tua. Ketika ia memilih satu pihak, meski demi kesehatan mentalnya sendiri, ia merasa telah melanggar kontrak moral tak tertulis.

Rasa bersalah ini sering diperparah oleh pesan implisit atau eksplisit dari orang tua. Kalimat-kalimat seperti “Kamu sekarang jarang ke sini,” atau “Ayah/ibu sendirian sekarang,” meski tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, bisa memperkuat perasaan bahwa kenyamanan diri sendiri dibayar dengan kesedihan orang tua.

Namun dari perspektif psikologi klinis, rasa bersalah ini tidak selalu rasional. Ia lebih sering merupakan hasil dari parentification, yaitu kondisi ketika anak mengambil peran emosional yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa. Dalam jangka panjang, memaksakan diri untuk netral atau adil secara emosional justru bisa melukai kesehatan mentalmu.

Kenyamanan Bukan Penolakan, Melainkan Bentuk Perlindungan Diri

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai berarti berkorban tanpa batas. Dalam konteks keluarga yang bercerai, keyakinan ini bisa berubah menjadi tuntutan batin yang kejam: aku harus hadir untuk semua orang, aku tidak boleh memilih, aku tidak boleh menghindar. Padahal, psikologi modern memandang batasan sebagai bagian penting dari cinta yang sehat.

Menurut konsep self-preservation dalam psikologi humanistik, menjaga diri bukanlah tindakan egois, melainkan kebutuhan dasar. Ketika kamu merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua, itu sering kali berarti sistem sarafmu sedang mencari regulasi. Lingkungan yang penuh konflik, sindiran, atau ketegangan emosional dapat memicu respons fight-or-flight yang kronis. Dalam jangka panjang, ini berhubungan dengan kecemasan, depresi, dan kelelahan emosional.

Kenyamanan yang kamu cari bukanlah bentuk penolakan terhadap orang tua yang lain, melainkan upaya melindungi diri dari overstimulasi emosional. Carl Rogers menekankan pentingnya congruence, yaitu keselarasan antara perasaan internal dan pilihan eksternal. Memaksa diri tinggal di lingkungan yang terus menggerus ketenangan batin hanya demi terlihat “adil” justru menciptakan ketidaktulusan dalam relasi.

Ikatan dengan Orang Tua Tidak Selalu Harus Simetris

Salah satu mitos terbesar dalam keluarga pasca-perceraian adalah gagasan bahwa hubungan dengan kedua orang tua harus selalu seimbang secara waktu, perhatian, dan kedekatan emosional. Psikologi relasi melihat bahwa hubungan manusia jarang sekali simetris, dan itu bukanlah masalah.

Setiap hubungan dibentuk oleh konteks, pengalaman, dan dinamika emosi yang berbeda. Hubunganmu dengan ibu dan ayah adalah dua relasi yang unik, dengan sejarah dan luka masing-masing. Merasa lebih nyaman dengan satu orang tua tidak berarti kamu mencintai yang lain lebih sedikit; bisa jadi bentuk cinta dan kedekatannya saja yang berbeda.

Donald Winnicott, melalui konsep good enough parent, menjelaskan bahwa orang tua tidak harus sempurna untuk dicintai, dan anak tidak harus merespons secara ideal untuk menjadi anak yang baik. Relasi yang sehat justru memberi ruang bagi ketidakseimbangan yang manusiawi.

Dalam banyak kasus, jarak sementara dengan salah satu orang tua justru memungkinkan relasi jangka panjang yang lebih sehat. Dengan memberi ruang pada diri sendiri, kamu mengurangi risiko membangun hubungan yang penuh kepahitan atau kepura-puraan.

Trauma Relasional dan Pilihan Tinggal

Perceraian bukan hanya peristiwa hukum atau sosial; ia adalah pengalaman relasional yang sering meninggalkan jejak traumatis. Trauma relasional, menurut Judith Herman, muncul ketika sumber rasa aman justru menjadi sumber ketidakstabilan. Anak yang tumbuh dalam konflik berkepanjangan sering mengembangkan kepekaan berlebih terhadap suasana emosional.

Dalam konteks ini, memilih tinggal dengan satu orang tua bisa menjadi cara bawah sadar untuk menghindari pemicu trauma. Jika salah satu orang tua masih memicu ingatan konflik, pertengkaran, atau rasa tidak berdaya di masa lalu, tubuhmu akan merespons dengan penolakan atau keinginan menjauh, bahkan sebelum pikiran sempat memberi alasan logis.

Respons ini bukan kelemahan, melainkan mekanisme bertahan hidup. Trauma-informed psychology menekankan bahwa penyembuhan membutuhkan rasa aman. Tanpa rasa aman, otak sulit memproses emosi dan membangun kedekatan yang sehat.

Hak Anak Dewasa untuk Memilih Lingkungan Emosionalnya

Sering kali, anak—bahkan yang sudah dewasa—masih diperlakukan seolah tidak berhak memilih. Padahal, dalam psikologi perkembangan dewasa, salah satu tugas penting adalah membangun otonomi emosional. Erik Erikson menyebut fase ini sebagai perjuangan antara intimacy dan isolation, di mana individu belajar membangun kedekatan tanpa kehilangan diri sendiri.

Menentukan dengan siapa kamu tinggal atau lebih banyak menghabiskan waktu adalah bagian dari otonomi itu. Ini bukan soal memutus hubungan, melainkan mengatur jarak yang sehat. Banyak psikolog keluarga menekankan bahwa hubungan yang dipaksakan atas dasar rasa bersalah jarang bertahan lama dan sering berubah menjadi hubungan yang dingin atau penuh kemarahan tersembunyi.

Dengan memilih lingkungan yang membuatmu lebih stabil, kamu justru sedang membangun fondasi agar suatu hari bisa berelasi dengan kedua orang tua dari posisi yang lebih dewasa dan utuh.

Ketika Masyarakat Memperkeruh Rasa Bersalah

Di luar dinamika keluarga, tekanan sosial sering memperparah dilema ini. Norma budaya yang menekankan bakti tanpa syarat kepada orang tua bisa membuat pilihan personal terasa seperti dosa moral. Komentar dari keluarga besar, tetangga, atau bahkan teman sering kali tidak mempertimbangkan kompleksitas emosional yang kamu alami.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa stigma dan penilaian eksternal dapat meningkatkan internalized shame. Rasa malu yang terinternalisasi ini membuat seseorang meragukan keabsahan kebutuhannya sendiri. Padahal, kebutuhan akan rasa aman dan kenyamanan adalah kebutuhan universal, bukan kemewahan.

Menyadari bahwa tidak semua orang memahami posisi emosionalmu adalah langkah penting. Validasi tidak selalu datang dari luar; sering kali ia perlu dibangun dari dalam, dengan memahami bahwa pilihanmu berakar pada kebutuhan psikologis yang sah.

Membangun Relasi dengan Cara yang Lebih Sehat ke Depan

Merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua tidak harus menjadi keputusan permanen atau hitam-putih. Psikologi relasional melihat hubungan sebagai proses yang dinamis. Ada masa mendekat, ada masa menjauh, dan keduanya bisa sama-sama bermakna.

Yang terpenting adalah kejujuran emosional, pertama-tama pada diri sendiri. Mengakui bahwa kamu butuh jarak bukan berarti kamu tidak peduli. Justru dengan mengakui keterbatasan diri, kamu memberi peluang bagi hubungan yang lebih jujur dan tidak dipenuhi kepura-puraan.

Banyak buku psikologi keluarga menekankan bahwa relasi yang sehat dibangun bukan dari pengorbanan diri yang berlebihan, tetapi dari kehadiran yang utuh. Untuk bisa hadir secara utuh, kamu perlu berada di tempat—secara fisik dan emosional—yang memungkinkanmu bernapas.

Merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua setelah perceraian bukanlah kesalahan. Ia adalah sinyal dari tubuh dan jiwamu tentang di mana kamu bisa bertumbuh, memulihkan diri, dan perlahan-lahan membangun makna baru tentang keluarga, cinta, dan rumah.

Kenyamanan yang Datang Bersama Rasa Bersalah

Ada satu perasaan yang sering muncul diam-diam setelah perceraian orang tua: merasa lebih nyaman dengan salah satu, tetapi di saat yang sama dihantui rasa bersalah.

Seolah-olah kenyamanan itu tidak sepenuhnya “boleh” dirasakan.

Mungkin muncul pikiran seperti:

  • “Kenapa aku lebih betah di sini?”
  • “Apakah ini berarti aku tidak sayang yang satunya?”
  • “Apakah aku sedang memilih?”

Padahal sebenarnya, kenyamanan bukanlah bentuk pengkhianatan. Ia lebih sering merupakan respons alami dari tubuh dan hati yang mencari tempat paling aman untuk bertahan.


Rumah yang Memberi Rasa Aman, Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Dalam pengalaman banyak orang, kenyamanan setelah perceraian sering kali tidak ditentukan oleh siapa orang tuanya, tetapi oleh bagaimana suasana yang tercipta.

Ada rumah yang:

  • lebih tenang
  • lebih bisa diprediksi
  • lebih sedikit konflik
  • atau lebih memberi ruang untuk menjadi diri sendiri

Dan tanpa perlu berpikir panjang, tubuh akan memilih tempat seperti itu.

Karena pada dasarnya, manusia—terutama setelah melalui masa penuh ketegangan—akan secara alami mencari regulasi emosi.

Tempat di mana:

  • napas terasa lebih lega
  • pikiran tidak terus waspada
  • dan tubuh tidak harus siaga setiap saat

Kenyamanan sering kali adalah tanda bahwa tubuh merasa lebih aman, bukan bahwa hati sedang memilih siapa yang lebih dicintai.


Ikatan Emosional yang Terbentuk dari Pengalaman

Kedekatan dengan orang tua tidak hanya dibangun dari status “ayah” atau “ibu,” tetapi dari pengalaman sehari-hari:

  • siapa yang hadir saat dibutuhkan
  • siapa yang mendengarkan
  • siapa yang memberikan rasa aman secara konsisten

Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan yang terasa aman (secure attachment) terbentuk dari konsistensi dan kehangatan.

Setelah perceraian, sering kali salah satu orang tua menjadi lebih dominan dalam peran ini.

Bukan berarti yang lain tidak peduli. Tapi dinamika hidup membuat keterlibatan menjadi tidak seimbang.

Sehingga perlahan, tanpa disadari, hati mulai “berlabuh” lebih kuat pada satu tempat.

Dan itu bukan keputusan sadar. Itu proses yang terjadi perlahan, hampir seperti air yang mengalir ke tempat yang paling rendah.


Menghindari Luka yang Pernah Terjadi

Ada juga kemungkinan lain yang lebih sunyi.

Kenyamanan dengan satu orang tua bisa jadi bukan hanya karena kehangatan yang diberikan, tetapi juga karena ketiadaan luka tertentu.

Misalnya:

  • tidak ada konflik besar dengan orang tua tersebut
  • tidak ada kenangan yang terlalu menyakitkan
  • atau tidak ada perasaan ditinggalkan atau disakiti

Sebaliknya, dengan orang tua yang lain, mungkin ada memori yang lebih kompleks:

  • pertengkaran
  • rasa kecewa
  • atau jarak emosional yang belum terjelaskan

Akhirnya, seseorang merasa lebih nyaman di satu tempat bukan hanya karena itu lebih baik, tetapi juga karena itu terasa lebih aman dari rasa sakit yang belum selesai.


Loyalitas yang Diam-Diam Bekerja

Perasaan lebih nyaman dengan satu orang tua sering kali juga beriringan dengan konflik batin yang tidak terlihat.

Ada bagian dalam diri yang mungkin berkata:

  • “Aku harus adil.”
  • “Aku tidak boleh condong.”
  • “Aku harus tetap sayang keduanya sama rata.”

Namun realitas emosi tidak selalu bisa diatur seperti itu.

Kenyamanan tidak bisa dipaksa menjadi seimbang.

Dan di sinilah sering muncul dilema: antara kejujuran perasaan dan rasa tanggung jawab moral sebagai anak.

Perasaan nyaman tidak selalu datang dengan rasa tenang. Kadang ia datang bersama rasa bersalah yang sulit dijelaskan.


Ketika Satu Hubungan Menjadi Tempat Pulih

Ada satu hal yang jarang disadari: setelah mengalami situasi emosional yang berat, seseorang sering membutuhkan satu hubungan yang menjadi “anchor” atau jangkar.

Tempat di mana ia bisa:

  • kembali stabil
  • merasa diterima
  • dan tidak perlu terlalu banyak menjelaskan diri

Dalam konteks perceraian orang tua, sering kali salah satu orang tua secara tidak sadar menjadi jangkar ini.

Bukan karena ia sempurna, tetapi karena di sanalah proses pemulihan terasa mungkin.

Dan ketika seseorang menemukan tempat seperti itu, wajar jika ia merasa lebih nyaman tinggal di sana.


Ilustrasi yang Sering Terjadi

Ada seseorang yang setelah perceraian orang tuanya memilih tinggal bersama ibunya. Di rumah itu, suasananya sederhana, kadang bahkan penuh keterbatasan.

Namun ia merasa lebih tenang.

Ia bisa tidur tanpa khawatir akan pertengkaran. Ia bisa berbicara tanpa takut disalahpahami.

Sementara ketika mengunjungi ayahnya, rumahnya lebih besar, lebih lengkap, tetapi ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

Setiap percakapan terasa canggung. Ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan.

Akhirnya, ia lebih memilih tinggal bersama ibunya.

Bukan karena ia tidak mencintai ayahnya.

Tetapi karena di satu tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri, sementara di tempat lain ia merasa harus menjaga sesuatu yang tidak terlihat.


Kenyamanan Tidak Selalu Simetris

Ada anggapan bahwa cinta kepada orang tua harus terasa sama besar dan sama bentuknya.

Namun dalam kenyataannya, hubungan manusia jarang sekali simetris.

Seseorang bisa:

  • lebih dekat dengan satu orang tua
  • lebih nyaman berbagi dengan yang lain
  • atau memiliki jenis kedekatan yang berbeda dengan masing-masing

Dan semua itu tidak mengurangi makna hubungan yang ada.

Karena cinta tidak selalu diukur dari seberapa seimbang ia dirasakan, tetapi dari bagaimana ia tetap ada meskipun bentuknya berubah.


Rasa Nyaman Sebagai Mekanisme Bertahan

Dalam perspektif yang lebih dalam, kenyamanan ini juga bisa dilihat sebagai bentuk adaptasi.

Setelah mengalami perubahan besar seperti perceraian, seseorang secara tidak sadar akan:

  • mencari stabilitas
  • menghindari sumber stres
  • dan mendekat pada apa yang terasa lebih mudah dijalani

Ini adalah cara tubuh dan pikiran bertahan.

Bukan kelemahan, bukan egoisme, tetapi mekanisme alami untuk menjaga diri tetap utuh di tengah perubahan.


Ketika Perasaan Tidak Perlu Dipaksakan

Sering kali, yang membuat situasi ini terasa berat bukanlah kenyamanan itu sendiri, tetapi penilaian terhadapnya.

Seolah-olah ada standar bahwa:

  • harus adil
  • harus seimbang
  • harus sama rata

Padahal perasaan manusia tidak bekerja seperti sistem matematika.

Ia lebih seperti lanskap: tidak rata, tidak simetris, tetapi memiliki bentuknya sendiri.

Dan mungkin yang paling penting untuk dipahami adalah ini:

Perasaan nyaman tidak pernah muncul untuk menyakiti siapa pun. Ia muncul untuk melindungi sesuatu di dalam diri yang pernah merasa tidak aman.


Referensi

  • Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
  • Ainsworth, M. D. S. (1978). Patterns of Attachment. Lawrence Erlbaum Associates.
  • Kelly, J. B., & Emery, R. E. (2003). “Children’s Adjustment Following Divorce: Risk and Resilience Perspectives.” Family Relations, 52(4), 352–362.
  • Amato, P. R. (2000). “The Consequences of Divorce for Adults and Children.” Journal of Marriage and Family, 62(4), 1269–1287.
  • Hetherington, E. M., & Kelly, J. (2002). For Better or For Worse: Divorce Reconsidered. W.W. Norton & Company.
  • Siegel, D. J. (2012). The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press.

Ada kalanya seseorang menemukan ketenangan di satu sisi, sementara sisi lainnya tetap terasa seperti ruang yang belum selesai dijelajahi. Bukan karena yang satu lebih layak dicintai, tetapi karena di situlah hatinya bisa beristirahat tanpa harus berjaga. Dan mungkin, dalam diam, itu bukan tentang memilih di antara dua orang tua—melainkan tentang mencari satu tempat di mana dirinya sendiri akhirnya merasa tidak perlu terpecah lagi.

Rasa nyaman yang muncul ketika tinggal hanya dengan satu orang tua setelah sebuah perceraian sering kali memicu konflik batin yang mendalam bagi seorang anak. Ada rasa bersalah yang membayangi, sebuah pertanyaan moral tentang apakah kita telah menjadi anak yang "tidak adil" atau kurang berbakti. Namun, realitas psikologis pengasuhan jauh melampaui konsep kesetiaan matematis. Kenyamanan tersebut bukanlah indikasi pengkhianatan emosional, melainkan respons alami sistem saraf terhadap lingkungan yang akhirnya memiliki konsistensi dan keamanan yang dapat diprediksi. Bagi batin yang telah lama terpapar pada volatilitas konflik domestik, kehadiran satu orang tua yang mampu memberikan stabilitas terasa jauh lebih menyehatkan daripada kehadiran dua orang tua yang terus-menerus menciptakan medan perang emosional.

Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mendetail: sebuah sore di sebuah rumah tangga yang kini hanya dihuni oleh dua orang. Tidak ada lagi suara pintu yang dibanting, tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara meja makan yang membuat makanan terasa hambar, dan tidak ada lagi kewaspadaan ekstrem (hyper-vigilance) untuk membaca raut wajah yang bisa berubah menjadi badai dalam seketika. Di sana, di bawah satu atap yang lebih sunyi, seorang anak akhirnya bisa menghela napas panjang tanpa takut paru-parunya akan menghirup sisa-sisa kemarahan orang lain. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel dalam karyanya, The Developing Mind, bahwa otak kita merespons "keselarasan" (attunement) emosional. Jika tinggal dengan satu orang tua memungkinkan terjadinya koneksi yang lebih dalam dan tenang tanpa gangguan konflik eksternal, maka sistem saraf kita akan secara otomatis memilih lingkungan tersebut sebagai pelabuhan. Rasa nyaman itu adalah sinyal dari otak kita bahwa bahaya telah mereda.

Ketertarikan pada satu figur pengasuh pasca-perceraian sering kali berakar pada konsep kelekatan (attachment) yang lebih fungsional. Dalam dinamika keluarga yang hancur, biasanya ada satu pihak yang secara tidak sadar bertindak sebagai "jangkar" emosional. Pihak inilah yang mampu meregulasi emosinya sendiri sehingga anak tidak perlu memikul beban untuk menjadi penengah atau penyelamat. Alice Miller dalam The Drama of the Gifted Child menekankan betapa besarnya harga yang harus dibayar oleh seorang anak ketika ia dipaksa untuk terus-menerus memahami dan menenangkan kedua orang tuanya yang berkonflik. Ketika struktur itu pecah, dan anak hanya perlu berinteraksi dengan figur yang lebih stabil, duka yang tadinya mencekam akan mulai mencair menjadi rasa aman yang otentik. Kita merasa lebih nyaman bukan karena kita berhenti mencintai pihak yang lain, melainkan karena kita akhirnya memiliki ruang untuk mencintai diri kita sendiri tanpa distraksi drama orang dewasa.

Geometri Keamanan dan Reduksi Beban Emosional

Memilih untuk merasa lebih nyaman dengan satu pihak juga merupakan bentuk efisiensi emosional. Bessel van der Kolk dalam bukunya yang fenomenal, The Body Keeps the Score, menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam menanggung stres kronis. Tinggal di antara dua orang tua yang berada dalam konflik pasca-perceraian—seperti dalam pola pengasuhan bersama yang penuh ketegangan—sering kali membuat tubuh tetap berada dalam kondisi siaga satu. Setiap perpindahan rumah atau setiap interaksi antara keduanya menjadi pemicu trauma (trigger). Maka, ketika seorang anak merasakan kenyamanan yang lebih besar saat hanya berada di satu sisi, itu adalah upaya tubuh untuk mengurangi "beban alostatik" atau akumulasi stres pada sistem biologisnya. Keheningan di satu rumah menjadi obat bagi kebisingan yang pernah dialami di rumah yang utuh namun beracun.

Perlu disadari bahwa rumah yang utuh secara fisik tidak selalu berarti rumah yang utuh secara psikologis. Banyak dari kita yang menghabiskan masa kecil dalam rumah yang lengkap namun secara emosional sangat "dingin" atau "meledak-ledak". Perceraian, dalam banyak kasus, justru memberikan batas (boundary) yang jelas yang sebelumnya tidak pernah ada. Dengan tinggal bersama satu orang tua, batasan tersebut menjadi lebih nyata. Kita tidak lagi ditarik ke dalam fenomena triangulasi, di mana anak dijadikan senjata atau tameng oleh salah satu pihak untuk menyerang pihak lain. Gabor Maté dalam In the Realm of Hungry Ghosts sering menyoroti bagaimana stabilitas lingkungan primer sangat menentukan kesehatan mental jangka panjang. Jika tinggal dengan satu orang tua berarti berakhirnya manipulasi emosional dan tuntutan kesetiaan yang mustahil, maka kenyamanan tersebut adalah bentuk kesehatan mental yang sedang dipulihkan.

Selain itu, kenyamanan ini sering kali berkaitan dengan "ketersediaan emosional" yang lebih murni. Saat orang tua masih bersama namun tidak bahagia, mereka cenderung terdistraksi oleh penderitaan mereka masing-masing. Setelah berpisah, salah satu orang tua mungkin menemukan kembali kedamaian batinnya, yang kemudian terpancar dalam cara mereka mengasuh. Anak akhirnya mendapatkan perhatian yang tulus, bukan perhatian yang terbagi atau yang tercemar oleh kemarahan kepada pasangan. Observasi mendetail terhadap momen-momen kecil—seperti percakapan sebelum tidur yang tenang atau sarapan pagi tanpa ketegangan—menunjukkan bahwa kualitas hubungan jauh lebih penting daripada kuantitas figur yang hadir di ruangan. Kita tidak merindukan "keluarga utuh" yang penuh luka; kita mendambakan "kehadiran yang utuh" meskipun itu hanya berasal dari satu jiwa.

Dekonstruksi Rasa Bersalah dan Reklamasi Ruang Pribadi

Hambatan terbesar untuk menikmati kenyamanan ini adalah rasa bersalah yang sering kali diinduksi oleh norma sosial atau tekanan dari pihak orang tua yang merasa ditinggalkan. Masyarakat sering kali memberikan label "anak durhaka" atau "anak yang tidak adil" jika kita menunjukkan preferensi tinggal yang jelas. Namun, kedewasaan yang berwibawa menuntut kita untuk berani melihat kebenaran batin kita sendiri. Judith Viorst dalam Necessary Losses mengingatkan bahwa pertumbuhan sejati mengharuskan kita untuk melepaskan ilusi bahwa kita bisa memuaskan semua orang, termasuk orang tua kita. Kita harus merestui hak kita untuk mencari lingkungan yang paling mendukung pertumbuhan jiwa kita. Merasa nyaman dengan satu orang tua adalah pengakuan bahwa kita adalah individu yang berdaulat, bukan properti yang harus dibagi rata.

Penyembuhan dari rasa bersalah ini dimulai dengan memahami bahwa cinta dan tempat tinggal adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa tetap mencintai orang tua yang tidak kita tinggali, namun secara sadar mengakui bahwa dinamika hidup bersamanya mungkin tidak sehat bagi kita saat ini. Keberanian untuk menetapkan batasan ini adalah tanda dari kedaulatan batin. Kita berhenti menjadi kurir emosional dan mulai membangun ruang pribadi (personal space) yang suci. Di rumah di mana kita merasa nyaman, kita tidak perlu lagi memakai topeng atau berjalan di atas kulit telur (walking on eggshells). Kita bisa menjadi diri sendiri yang rapuh, yang gagal, atau yang sedang bertumbuh tanpa takut akan penghakiman atau ledakan emosional yang tak terduga.

Dalam proses reklamasi ruang pribadi ini, kita belajar untuk menghargai rutinitas yang stabil. Di bawah asuhan satu orang tua yang stabil, kita mungkin menemukan keteraturan yang dulu tidak pernah ada—makan malam pada jam yang sama, rumah yang lebih rapi, atau atmosfer yang lebih ceria. Hal-hal kecil ini memberikan sinyal kepada otak bahwa dunia ini dapat diprediksi (predictable). Ketidakteraturan adalah musuh utama rasa aman, dan bagi anak broken home, stabilitas adalah kemewahan yang tak ternilai harganya. Kenyamanan tersebut adalah bukti bahwa kita akhirnya berhasil keluar dari mode bertahan hidup (survival mode) dan mulai masuk ke dalam mode untuk benar-benar hidup.

Membangun Kedaulatan Batin dan Integritas Diri

Mencapai tahap di mana kita tidak lagi merasa perlu membenarkan rasa nyaman kita kepada siapa pun adalah tanda dari kematangan yang mendalam. Kita menyadari bahwa integritas diri kita tidak ditentukan oleh struktur keluarga masa lalu, melainkan oleh keputusan sadar yang kita buat hari ini untuk menjaga kesehatan mental kita. Wibawa batin muncul ketika kita mampu berkata, "Aku memilih tinggal di sini karena di sinilah aku bisa bertumbuh dengan baik," tanpa rasa benci kepada pihak lain, namun dengan ketegasan yang tenang. Kita menjadi arsitek bagi kebahagiaan kita sendiri, memahami bahwa sebuah bangunan yang kokoh memerlukan fondasi yang tenang, bukan fondasi yang terus-menerus diguncang oleh gempa konflik orang lain.

Kita juga belajar untuk mengembangkan empati yang lebih matang terhadap kedua orang tua. Dengan merasa aman di satu tempat, kita memiliki cadangan energi emosional untuk melihat kedua orang tua kita sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Kita berhenti mengharapkan mereka untuk bersatu kembali dalam harmoni yang palsu, dan mulai menerima realitas mereka apa adanya. Kematangan ini memungkinkan kita untuk menjalin hubungan dengan pihak yang tidak kita tinggali tanpa beban "harus merasa nyaman di sana". Kita bisa berkunjung, kita bisa mencintai, namun kita tahu di mana tempat kita benar-benar bisa pulang dan beristirahat. Keamanan adalah kemampuan untuk membedakan antara "tugas sebagai anak" dan "kebutuhan sebagai manusia".

Pilihan untuk merasa nyaman dengan satu figur pengasuh adalah bentuk adaptasi yang cerdas terhadap sejarah yang pahit. Kita menggunakan sisa-sisa reruntuhan masa lalu untuk membangun rumah baru yang lebih terang. Kita menjadi "pemutus rantai" (cycle breaker) yang memastikan bahwa pola asuh yang penuh tekanan tidak akan berlanjut. Kita menghargai setiap detik kedamaian yang kita miliki sekarang, menyadari bahwa kedamaian itu adalah hasil dari perjuangan batin yang panjang. Wibawa kita lahir dari keberhasilan kita untuk tetap utuh, untuk tetap lembut, dan untuk tetap mampu mempercayai orang lain meskipun kita berasal dari keluarga yang terpecah. Kita bukan lagi korban dari perceraian; kita adalah penyintas yang telah menemukan kedaulatannya kembali.

Filosofi Kepulangan dan Kesunyian yang Memberkati

Pada akhirnya, merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua saja adalah sebuah tindakan kepulangan kepada diri sendiri. Kita melepaskan tuntutan sosial yang melelahkan dan memilih kejujuran emosional. Kita menyadari bahwa rumah sejati bukan dibangun dari jumlah orang yang ada di dalamnya, melainkan dari kualitas kedamaian yang tercipta di antara penghuninya. Jika satu orang tua mampu menyediakan ruang di mana napas bisa mengalir bebas dan mimpi bisa tumbuh tanpa ketakutan, maka di situlah letak keberkatan hidup kita. Kita tidak lagi mencari validasi eksternal untuk rasa nyaman yang kita rasakan, karena kita tahu bahwa kedamaian batin tidak memerlukan persetujuan dari siapa pun.

Realitas pengasuhan yang gagal mengajarkan kita bahwa terkadang, perpisahan adalah satu-satunya jalan menuju penyembuhan. Kita menutup pintu pada masa lalu yang penuh kebisingan dan membuka jendela bagi kesunyian yang menenangkan. Kesunyian di satu rumah itu bukanlah kehampaan, melainkan ruang kosong yang siap diisi dengan tawa yang tulus, percakapan yang bermakna, dan pertumbuhan yang tak terhambat. Kita menerima bahwa sejarah kita mungkin tidak sempurna, namun masa depan kita adalah sebuah kemungkinan yang murni dan luas. Di bawah atap yang tenang itu, kita belajar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan yang berani untuk tetap setia pada kesejahteraan jiwa kita sendiri.

Kita menutup refleksi ini dengan pemahaman bahwa rasa aman adalah hak prerogatif setiap jiwa. Kita telah melakukan perjalanan jauh melalui badai domestik dan akhirnya menemukan pulau yang tenang. Kita memeluk kenyamanan itu tanpa rasa malu, tanpa keraguan, dan dengan martabat yang penuh. Kita berdiri tegak, memandang cakrawala hidup kita yang baru, menyadari bahwa meskipun kita hanya memiliki satu jangkar, jangkar itu sudah cukup untuk menahan kita agar tidak terbawa arus penderitaan yang sama. Kita aman. Kita utuh. Dan di bawah atap yang kita pilih sendiri, kita akhirnya benar-benar pulang.


Daftar Pustaka

  • Maté, G. (2008). In the Realm of Hungry Ghosts: Close Encounters with Addiction. North Atlantic Books.
  • Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. Basic Books.
  • Siegel, D. J. (1999). The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press.
  • Van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.
  • Viorst, J. (1986). Necessary Losses: The Loves, Illusions, Dependencies, and Impossible Expectations That All of Us Have to Give Up in Order to Grow. Simon & Schuster.

Kebutuhan dasar manusia bukanlah keutuhan struktur formal sebuah keluarga, melainkan stabilitas emosional yang dapat diprediksi. Ketika sebuah pernikahan runtuh, sering kali yang paling dirindukan oleh jiwa bukanlah keberadaan dua orang tua di bawah satu atap, melainkan ketiadaan ketegangan yang selama ini menghimpit oksigen di dalam rumah. Rasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua saja pasca-perceraian bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap pihak lain, melainkan sebuah upaya biologis dan psikologis untuk mereklamasi rasa aman yang sempat hilang dalam badai konflik. Kita cenderung memilih tempat di mana sistem saraf kita tidak perlu terus-menerus berada dalam mode waspada, dan sering kali, kedamaian itu justru ditemukan dalam kesunyian rumah dengan orang tua tunggal daripada dalam hiruk-pikuk "keutuhan" yang penuh kepalsuan.

Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mungkin terasa sangat akrab bagi banyak penyintas kehancuran domestik. Bayangkan sebuah ruang tamu yang kini hanya dihuni oleh satu sofa, satu rak buku yang setengah kosong, dan satu orang tua yang sedang duduk membaca dengan tenang. Tidak ada suara pintu yang dibanting, tidak ada nada bicara yang mengandung sarkasme tersembunyi, dan tidak ada langkah kaki yang memicu debar jantung yang tak beraturan. Individu yang tinggal di sana mungkin merasakan sebuah kelegaan yang sulit dijelaskan—sebuah perasaan "akhirnya bisa bernapas". Dalam karya fundamentalnya, The Drama of the Gifted Child, Alice Miller menjelaskan bahwa anak-anak sering kali menghabiskan energi yang luar biasa besar untuk menjadi "antena" bagi emosi orang tua mereka. Ketika satu sumber ketegangan dihilangkan dari lingkungan harian, energi yang selama ini digunakan untuk bertahan hidup akhirnya bisa dialokasikan untuk pertumbuhan diri. Kenyamanan ini adalah tanda bahwa jiwa kita sedang melakukan pemulihan (recovery) dari stres kronis yang berkepanjangan.

Pilihan afeksi dan kenyamanan ini berakar kuat pada teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan oleh John Bowlby dalam trilogi Attachment and Loss. Manusia membutuhkan "basis aman" (secure base) untuk dapat berfungsi secara optimal. Jika tinggal dengan kedua orang tua justru menciptakan lingkungan yang "tidak terorganisir" (disorganized attachment)—di mana figur yang seharusnya memberikan perlindungan justru menjadi sumber ketakutan atau kecemasan—maka otak kita akan secara otomatis mencari alternatif yang lebih stabil. Memilih tinggal dengan satu orang tua sering kali merupakan keputusan untuk kembali ke "basis aman" yang lebih konsisten. Kita merasa lebih nyaman karena di sana, aturan mainnya jelas, suasana hatinya dapat diprediksi, dan kita tidak lagi terjebak dalam triangulasi emosional di mana kita dipaksa menjadi penengah atau saksi bisu dari peperangan orang dewasa.

Dalam kacamata The Body Keeps the Score oleh Bessel van der Kolk, kita memahami bahwa trauma tersimpan dalam jaringan tubuh. Rumah yang penuh konflik meninggalkan jejak somatik berupa ketegangan otot, gangguan tidur, atau kewaspadaan berlebih. Ketika kita berpindah ke lingkungan yang hanya melibatkan satu orang tua yang lebih stabil, tubuh kita mulai melepaskan muatan trauma tersebut. Kenyamanan itu adalah bahasa tubuh yang mengatakan bahwa bahaya telah berlalu. Sering kali, kita merasa bersalah karena merasa lebih bahagia tanpa kehadiran salah satu orang tua, namun secara neurologis, tubuh kita hanya merespons ketiadaan pemicu stres (stressors). Kita tidak sedang menolak orang tua tersebut secara personal; kita sedang menolak atmosfer toksik yang dulu menyertainya.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai "diferensiasi diri". Daniel Siegel dalam The Whole-Brain Child menekankan pentingnya integrasi antara memori dan emosi. Tinggal dengan satu orang tua sering kali memberikan ruang bagi kita untuk mulai menyusun kembali narasi hidup kita tanpa interupsi dari drama pihak lain. Di lingkungan yang lebih tenang, otak prefrontal kita—yang bertanggung jawab atas logika dan regulasi emosi—dapat bekerja lebih baik karena tidak terus-menerus dibajak oleh amigdala yang ketakutan. Kita merasa nyaman karena untuk pertama kalinya, kita memiliki ruang mental yang cukup luas untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya, di luar peran kita sebagai "anak dari keluarga yang bermasalah".

Sering kali, rasa nyaman ini muncul karena di rumah orang tua tunggal, kita tidak lagi mengalami apa yang disebut Jonice Webb sebagai pengabaian emosional (Childhood Emotional Neglect) dalam bukunya Running on Empty. Dalam keluarga yang penuh konflik, orang tua sering kali terlalu sibuk dengan luka mereka sendiri sehingga gagal "melihat" anak mereka. Dengan tinggal bersama satu orang tua yang lebih fokus dan hadir secara emosional, kebutuhan kita untuk divalidasi akhirnya terpenuhi. Kita merasa lebih nyaman karena kita merasa lebih "ada". Kedekatan yang berkualitas dengan satu orang jauh lebih menyehatkan bagi perkembangan psikis daripada kehadiran fisik dua orang yang secara emosional saling menghancurkan satu sama lain.

Namun, realitas pengasuhan pasca-perceraian juga membawa tantangan berupa rasa bersalah yang sering menghantui. Kita mungkin merasa bahwa dengan merasa lebih nyaman di satu sisi, kita sedang melakukan pengkhianatan moral terhadap sisi yang lain. Gabor Maté dalam When the Body Says No mengingatkan bahwa konflik antara kebutuhan autentik kita (merasa aman) dan kebutuhan untuk menyenangkan orang lain (loyalitas keluarga) dapat menciptakan stres internal yang merusak. Penting untuk menyadari bahwa kenyamanan kita adalah kompas moral yang paling jujur. Kita tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan atau kesepian orang tua kita; tugas utama kita adalah memastikan bahwa kita memiliki lingkungan yang mendukung kesehatan mental kita sendiri untuk berkembang.

Observasi terhadap mereka yang tumbuh dalam pola pengasuhan tunggal pasca-perceraian menunjukkan bahwa kualitas hubungan sering kali membaik secara signifikan dibandingkan saat masih dalam keutuhan yang dipaksakan. Judith Wallerstein dalam The Unexpected Legacy of Divorce menemukan bahwa bagi banyak anak, perceraian adalah sebuah "operasi penyelamatan" yang diperlukan. Rasa nyaman yang dirasakan saat tinggal dengan satu orang tua adalah bukti bahwa operasi tersebut berhasil memberikan ruang bagi pemulihan. Kita mulai belajar tentang batasan (boundaries), tentang cara berkomunikasi yang sehat, dan tentang cara mencintai tanpa rasa takut. Pelajaran-pelajaran ini justru lebih mudah diserap ketika kita tidak lagi berada dalam medan perang harian.

Secara filosofis, rumah bukanlah sebuah koordinat geografis atau struktur arsitektural; rumah adalah sebuah perasaan di mana jiwa kita tidak perlu bersembunyi. Jika perasaan itu hanya ditemukan saat kita tinggal dengan satu orang tua saja, maka itulah kebenaran emosional yang harus kita peluk tanpa rasa malu. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menekankan bahwa kekuatan manusia terletak pada kemampuannya untuk menemukan makna dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Memilih untuk menetap di tempat yang memberikan kedamaian adalah langkah pertama dalam membangun makna baru bagi hidup kita. Kita sedang meletakkan batu pertama bagi kemandirian emosional kita di masa depan.

Kewajaran dari perasaan ini juga didukung oleh kenyataan bahwa manusia secara alami menghindari rasa sakit. Jika keberadaan salah satu orang tua secara konsisten memicu memori traumatis atau mengharuskan kita untuk kembali memakai perisai pelindung, maka sangat logis jika kita merasa lebih nyaman dalam ketidakhadiran mereka. Ini bukan berarti cinta kita hilang, melainkan berarti kita sedang memprioritaskan kelangsungan hidup psikis kita. Mencintai seseorang dari jarak yang aman sering kali merupakan satu-satunya cara untuk tetap mencintai mereka tanpa harus menghancurkan diri sendiri.

Integrasi dari pengalaman ini menuntut kita untuk menjadi lebih dewasa daripada usia kita yang sebenarnya. Kita belajar untuk memvalidasi perasaan kita sendiri bahkan ketika lingkungan sosial atau budaya mungkin menuntut sebaliknya. Kita memahami bahwa "keluarga" adalah kata kerja, bukan kata benda. Ia didefinisikan oleh tindakan perlindungan dan pengasuhan, bukan sekadar hubungan darah atau dokumen hukum. Rasa nyaman yang kita rasakan adalah konfirmasi bahwa kebutuhan tersebut akhirnya terpenuhi, meskipun dalam format yang berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya.

Pada akhirnya, merasa lebih nyaman tinggal dengan satu orang tua adalah sebuah bentuk kejujuran eksistensial. Kita tidak lagi berpura-pura dalam sandiwara keluarga yang sempurna. Kita menerima kenyataan bahwa hidup telah berubah, dan dalam perubahan itu, kita menemukan ritme baru yang lebih tenang. Kita belajar bahwa kebahagiaan bisa tumbuh di lahan yang sempit, asalkan tanahnya bebas dari racun konflik. Kedamaian yang kita rasakan saat ini adalah modal utama bagi kita untuk nantinya bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia luar.

Filosofi akhir dari tulisan ini adalah bahwa kesembuhan dimulai saat kita berhenti meminta maaf atas kebutuhan kita untuk merasa aman. Kehancuran keluarga asal mungkin telah merampas banyak hal, namun ia tidak boleh merampas hak kita untuk merasa tenang di rumah kita sendiri. Jika atap yang tunggal memberikan keteduhan yang lebih baik daripada atap yang ganda namun bocor oleh badai kemarahan, maka di sanalah kita seharusnya berada. Kita bukan sedang memihak; kita sedang memilih kehidupan. Dan dalam pilihan itu, kita menemukan kekuatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang utuh, yang suatu hari nanti mampu membangun rumahnya sendiri di atas fondasi kedamaian yang otentik.

Kesunyian di rumah yang baru mungkin terasa asing pada awalnya, namun ia adalah kesunyian yang menyembuhkan. Ia memberikan ruang bagi suara hati kita untuk terdengar kembali. Ia membiarkan kita tidur dengan nyenyak tanpa rasa takut akan apa yang akan terjadi esok pagi. Kenyamanan ini adalah hak asasi emosional kita. Dengan menerimanya, kita sebenarnya sedang menghormati perjalanan panjang yang telah kita lalui untuk sampai di titik ini—sebuah titik di mana rumah akhirnya kembali menjadi tempat untuk pulang, bukan lagi tempat untuk melarikan diri.


Daftar Pustaka

  • Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
  • Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
  • Maté, G. (2003). When the Body Says No: The Cost of Hidden Stress. Knopf Canada.
  • Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. Basic Books.
  • Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind. Delacorte Press.
  • Van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.
  • Wallerstein, J. S., Lewis, J. M., & Blakeslee, S. (2000). The Unexpected Legacy of Divorce: A 25 Year Landmark Study. Hyperion.
  • Webb, J. (2012). Running on Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect. Morgan James Publishing.

Ada satu kisah yang selalu terasa sangat manusiawi setiap kali topik ini muncul.

Saya pernah mengenal seseorang yang sejak kecil hidup di tengah rumah yang penuh ketegangan. Bukan selalu dengan teriakan, tetapi dengan suasana yang tidak pernah benar-benar tenang. Ada hari-hari di mana semua tampak baik-baik saja, tetapi ada juga hari-hari di mana udara terasa berat, seolah setiap kata bisa memicu sesuatu.

Ketika perceraian akhirnya terjadi, banyak orang di sekitarnya mengira hidupnya akan semakin sulit. Namun yang ia rasakan justru berbeda.

Ia pernah berkata dengan sangat pelan,
“Aneh ya… setelah mereka pisah, aku justru bisa tidur lebih nyenyak.”

Kalimat itu sering membuat orang lain bingung, bahkan kadang dianggap tidak pantas. Seolah-olah merasa lebih nyaman setelah perceraian orang tua adalah sesuatu yang “salah”.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, perasaan itu justru sangat manusiawi.


Rasa Nyaman Tidak Selalu Datang dari Keutuhan, Tapi dari Ketenangan

Ada keyakinan yang begitu kuat dalam banyak budaya: bahwa keluarga yang utuh pasti lebih baik daripada keluarga yang terpisah. Namun dalam realitas psikologis, tidak selalu demikian.

Bagi seorang anak, yang paling penting bukanlah apakah orang tuanya tinggal bersama, tetapi apakah lingkungan tersebut terasa aman secara emosional.

Ketika dua orang tua hidup bersama tetapi diwarnai konflik berkepanjangan, tubuh anak hidup dalam keadaan siaga. Sistem sarafnya terus-menerus memantau: kapan suara meninggi, kapan ketegangan muncul, kapan sesuatu akan terjadi.

Dalam kondisi seperti itu, perceraian bisa menjadi sesuatu yang paradoksal.

Secara struktur, keluarga “pecah”.
Namun secara pengalaman emosional, justru bisa menjadi lebih stabil.

Dan di titik itulah rasa nyaman mulai muncul—bukan karena perpisahan itu sendiri, tetapi karena berkurangnya ketegangan yang selama ini membebani.


Tubuh Lebih Jujur daripada Pikiran

Sering kali seseorang merasa bersalah karena merasa lebih nyaman dengan satu orang tua saja. Pikiran mengatakan, “Seharusnya tidak seperti ini.” Tetapi tubuh memberikan sinyal yang berbeda.

Tidur lebih nyenyak.
Lebih jarang merasa tegang.
Lebih mudah bernapas.

Ini bukan kebetulan.

Dalam banyak kajian tentang stres kronis pada anak, seperti yang dijelaskan oleh Bruce D. Perry dalam The Boy Who Was Raised as a Dog, tubuh anak sangat sensitif terhadap lingkungan emosional. Bahkan ketika anak tidak memahami konflik secara kognitif, tubuhnya tetap merespons.

Ketika konflik berkurang, sistem saraf mulai turun dari mode siaga. Hormon stres seperti kortisol yang sebelumnya tinggi perlahan menurun. Tubuh mulai mengenal kembali apa itu rasa tenang.

Dan rasa nyaman itu muncul sebagai konsekuensi biologis, bukan sekadar pilihan emosional.


Kenapa Hanya dengan Satu Orang Tua?

Pertanyaan berikutnya sering muncul: kenapa rasa nyaman itu hanya muncul ketika bersama satu orang tua, bukan keduanya?

Jawabannya tidak selalu sederhana, tetapi sering berkaitan dengan pengalaman yang terakumulasi.

Setiap hubungan memiliki sejarahnya sendiri. Bisa jadi dengan salah satu orang tua, pengalaman yang dirasakan lebih konsisten—lebih bisa diprediksi, lebih sedikit konflik, atau lebih terasa aman secara emosional.

Sebaliknya, dengan orang tua yang lain, mungkin ada pengalaman yang membuat tubuh lebih waspada: nada suara tertentu, ekspresi tertentu, atau bahkan kenangan yang tidak sepenuhnya disadari.

Dalam konteks ini, rasa nyaman bukanlah bentuk penilaian moral terhadap orang tua, melainkan respons sistem saraf terhadap pengalaman yang pernah dialami.


Loyalitas yang Diam-Diam Terasa

Namun di balik rasa nyaman itu, sering kali ada lapisan emosi lain yang lebih kompleks: rasa bersalah.

Seolah-olah memilih merasa nyaman dengan satu orang tua berarti mengkhianati yang lain.

Ini adalah konflik batin yang sangat umum.

Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, anak memiliki dorongan alami untuk terhubung dengan kedua orang tuanya. Ketika situasi memaksa adanya jarak dengan salah satu pihak, muncul ketegangan internal.

Di satu sisi, tubuh mencari tempat yang paling aman.
Di sisi lain, hati masih ingin tetap terhubung dengan keduanya.

Dan di antara dua dorongan itu, sering muncul rasa bersalah yang tidak selalu memiliki kata-kata.


Rasa Aman yang Selektif

Ada konsep penting dalam memahami hal ini: rasa aman tidak selalu bersifat universal. Ia bisa menjadi selektif.

Seseorang bisa merasa aman di satu tempat, tetapi tidak di tempat lain.
Bisa merasa tenang dengan satu orang, tetapi tegang dengan orang lain.

Ini bukan berarti ada yang “benar” atau “salah”.

Ini adalah hasil dari bagaimana otak dan tubuh memetakan pengalaman.

Stephen Porges, dalam The Polyvagal Theory, menjelaskan bahwa sistem saraf manusia terus-menerus membaca lingkungan untuk menentukan apakah suatu situasi aman atau tidak. Proses ini sering terjadi di luar kesadaran.

Sehingga ketika seseorang merasa lebih nyaman dengan satu orang tua, itu adalah hasil dari proses panjang di mana tubuh belajar:

“Di sini aku lebih aman.”


Ketika Kenyamanan Tidak Berarti Tanpa Luka

Namun penting untuk memahami bahwa rasa nyaman ini tidak selalu berarti semuanya telah selesai.

Sering kali, di balik kenyamanan itu masih ada lapisan-lapisan emosi yang belum sepenuhnya diproses.

Kesedihan karena kehilangan keutuhan keluarga.
Kerinduan terhadap momen-momen yang tidak pernah terjadi.
Atau bahkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.

Kenyamanan dan luka bisa hidup berdampingan.

Seseorang bisa merasa lebih tenang sekarang, tetapi tetap menyimpan bagian-bagian dari masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.


Mengapa Rasa Nyaman Ini Penting untuk Dipahami

Ada kecenderungan untuk menghakimi diri sendiri atas perasaan ini.

“Kenapa aku malah merasa lebih enak?”
“Apakah aku anak yang tidak tahu diri?”
“Apakah ini berarti aku tidak sayang?”

Padahal, memahami rasa nyaman ini justru penting.

Karena di dalamnya ada petunjuk tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri: keamanan, kestabilan, dan ruang untuk bernapas tanpa tekanan.

Rasa nyaman itu bukan kesalahan. Ia adalah sinyal.

Sinyal bahwa tubuh akhirnya menemukan kondisi yang lebih bisa ditoleransi setelah sekian lama berada dalam ketegangan.


Ilusi Tentang “Seharusnya”

Sering kali penderitaan datang bukan dari perasaan itu sendiri, tetapi dari benturan antara perasaan dan ekspektasi.

Ekspektasi bahwa keluarga harus utuh.
Ekspektasi bahwa anak harus merasa sedih, bukan lega.
Ekspektasi bahwa mencintai kedua orang tua harus terlihat seimbang.

Namun kehidupan tidak selalu mengikuti narasi ideal.

Dan ketika realitas tidak sesuai dengan “seharusnya”, muncul konflik batin.

Padahal, perasaan tidak selalu mengikuti norma—ia mengikuti pengalaman.


Ketika Sistem Saraf Akhirnya Menemukan Istirahat

Ada satu hal yang jarang disadari:

Bagi seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketegangan, rasa tenang bisa terasa asing di awal. Tetapi ketika akhirnya ditemukan, ia bisa terasa sangat melegakan.

Seperti seseorang yang lama menahan napas, lalu akhirnya bisa bernapas dalam-dalam.

Rasa nyaman dengan satu orang tua sering kali mencerminkan momen ini.

Bukan tentang memilih siapa yang lebih baik.
Tetapi tentang menemukan tempat di mana tubuh tidak perlu terus berjaga.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sistem di dalam diri merasa boleh beristirahat.


Referensi

  • American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR)
  • John Bowlby. Attachment and Loss
  • Bruce D. Perry & Maia Szalavitz. The Boy Who Was Raised as a Dog
  • Bessel van der Kolk. The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma
  • Stephen Porges. The Polyvagal Theory
  • Judith Herman. Trauma and Recovery
  • Daniel J. Siegel. The Developing Mind

Mungkin yang membuat seseorang merasa lebih nyaman bukanlah karena ia memilih satu orang tua dan meninggalkan yang lain, tetapi karena di dalam dirinya ada bagian yang akhirnya menemukan tempat di mana ia tidak perlu terus bersiap menghadapi sesuatu yang menyakitkan.

Dan di balik rasa nyaman itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi, yang tidak selalu mudah dijawab—

apakah selama ini yang dicari sebenarnya bukan siapa yang harus dipilih, tetapi di mana diri ini bisa benar-benar merasa aman tanpa harus berpura-pura kuat.