Ada satu kisah yang selalu terasa sangat manusiawi setiap kali topik ini muncul.
Saya pernah mengenal seseorang yang sejak kecil hidup di tengah rumah yang penuh ketegangan. Bukan selalu dengan teriakan, tetapi dengan suasana yang tidak pernah benar-benar tenang. Ada hari-hari di mana semua tampak baik-baik saja, tetapi ada juga hari-hari di mana udara terasa berat, seolah setiap kata bisa memicu sesuatu.
Ketika perceraian akhirnya terjadi, banyak orang di sekitarnya mengira hidupnya akan semakin sulit. Namun yang ia rasakan justru berbeda.
Ia pernah berkata dengan sangat pelan,
“Aneh ya… setelah mereka pisah, aku justru bisa tidur lebih nyenyak.”
Kalimat itu sering membuat orang lain bingung, bahkan kadang dianggap tidak pantas. Seolah-olah merasa lebih nyaman setelah perceraian orang tua adalah sesuatu yang “salah”.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, perasaan itu justru sangat manusiawi.
Rasa Nyaman Tidak Selalu Datang dari Keutuhan, Tapi dari Ketenangan
Ada keyakinan yang begitu kuat dalam banyak budaya: bahwa keluarga yang utuh pasti lebih baik daripada keluarga yang terpisah. Namun dalam realitas psikologis, tidak selalu demikian.
Bagi seorang anak, yang paling penting bukanlah apakah orang tuanya tinggal bersama, tetapi apakah lingkungan tersebut terasa aman secara emosional.
Ketika dua orang tua hidup bersama tetapi diwarnai konflik berkepanjangan, tubuh anak hidup dalam keadaan siaga. Sistem sarafnya terus-menerus memantau: kapan suara meninggi, kapan ketegangan muncul, kapan sesuatu akan terjadi.
Dalam kondisi seperti itu, perceraian bisa menjadi sesuatu yang paradoksal.
Secara struktur, keluarga “pecah”.
Namun secara pengalaman emosional, justru bisa menjadi lebih stabil.
Dan di titik itulah rasa nyaman mulai muncul—bukan karena perpisahan itu sendiri, tetapi karena berkurangnya ketegangan yang selama ini membebani.
Tubuh Lebih Jujur daripada Pikiran
Sering kali seseorang merasa bersalah karena merasa lebih nyaman dengan satu orang tua saja. Pikiran mengatakan, “Seharusnya tidak seperti ini.” Tetapi tubuh memberikan sinyal yang berbeda.
Tidur lebih nyenyak.
Lebih jarang merasa tegang.
Lebih mudah bernapas.
Ini bukan kebetulan.
Dalam banyak kajian tentang stres kronis pada anak, seperti yang dijelaskan oleh Bruce D. Perry dalam The Boy Who Was Raised as a Dog, tubuh anak sangat sensitif terhadap lingkungan emosional. Bahkan ketika anak tidak memahami konflik secara kognitif, tubuhnya tetap merespons.
Ketika konflik berkurang, sistem saraf mulai turun dari mode siaga. Hormon stres seperti kortisol yang sebelumnya tinggi perlahan menurun. Tubuh mulai mengenal kembali apa itu rasa tenang.
Dan rasa nyaman itu muncul sebagai konsekuensi biologis, bukan sekadar pilihan emosional.
Kenapa Hanya dengan Satu Orang Tua?
Pertanyaan berikutnya sering muncul: kenapa rasa nyaman itu hanya muncul ketika bersama satu orang tua, bukan keduanya?
Jawabannya tidak selalu sederhana, tetapi sering berkaitan dengan pengalaman yang terakumulasi.
Setiap hubungan memiliki sejarahnya sendiri. Bisa jadi dengan salah satu orang tua, pengalaman yang dirasakan lebih konsisten—lebih bisa diprediksi, lebih sedikit konflik, atau lebih terasa aman secara emosional.
Sebaliknya, dengan orang tua yang lain, mungkin ada pengalaman yang membuat tubuh lebih waspada: nada suara tertentu, ekspresi tertentu, atau bahkan kenangan yang tidak sepenuhnya disadari.
Dalam konteks ini, rasa nyaman bukanlah bentuk penilaian moral terhadap orang tua, melainkan respons sistem saraf terhadap pengalaman yang pernah dialami.
Loyalitas yang Diam-Diam Terasa
Namun di balik rasa nyaman itu, sering kali ada lapisan emosi lain yang lebih kompleks: rasa bersalah.
Seolah-olah memilih merasa nyaman dengan satu orang tua berarti mengkhianati yang lain.
Ini adalah konflik batin yang sangat umum.
Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, anak memiliki dorongan alami untuk terhubung dengan kedua orang tuanya. Ketika situasi memaksa adanya jarak dengan salah satu pihak, muncul ketegangan internal.
Di satu sisi, tubuh mencari tempat yang paling aman.
Di sisi lain, hati masih ingin tetap terhubung dengan keduanya.
Dan di antara dua dorongan itu, sering muncul rasa bersalah yang tidak selalu memiliki kata-kata.
Rasa Aman yang Selektif
Ada konsep penting dalam memahami hal ini: rasa aman tidak selalu bersifat universal. Ia bisa menjadi selektif.
Seseorang bisa merasa aman di satu tempat, tetapi tidak di tempat lain.
Bisa merasa tenang dengan satu orang, tetapi tegang dengan orang lain.
Ini bukan berarti ada yang “benar” atau “salah”.
Ini adalah hasil dari bagaimana otak dan tubuh memetakan pengalaman.
Stephen Porges, dalam The Polyvagal Theory, menjelaskan bahwa sistem saraf manusia terus-menerus membaca lingkungan untuk menentukan apakah suatu situasi aman atau tidak. Proses ini sering terjadi di luar kesadaran.
Sehingga ketika seseorang merasa lebih nyaman dengan satu orang tua, itu adalah hasil dari proses panjang di mana tubuh belajar:
“Di sini aku lebih aman.”
Ketika Kenyamanan Tidak Berarti Tanpa Luka
Namun penting untuk memahami bahwa rasa nyaman ini tidak selalu berarti semuanya telah selesai.
Sering kali, di balik kenyamanan itu masih ada lapisan-lapisan emosi yang belum sepenuhnya diproses.
Kesedihan karena kehilangan keutuhan keluarga.
Kerinduan terhadap momen-momen yang tidak pernah terjadi.
Atau bahkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Kenyamanan dan luka bisa hidup berdampingan.
Seseorang bisa merasa lebih tenang sekarang, tetapi tetap menyimpan bagian-bagian dari masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.
Mengapa Rasa Nyaman Ini Penting untuk Dipahami
Ada kecenderungan untuk menghakimi diri sendiri atas perasaan ini.
“Kenapa aku malah merasa lebih enak?”
“Apakah aku anak yang tidak tahu diri?”
“Apakah ini berarti aku tidak sayang?”
Padahal, memahami rasa nyaman ini justru penting.
Karena di dalamnya ada petunjuk tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri: keamanan, kestabilan, dan ruang untuk bernapas tanpa tekanan.
Rasa nyaman itu bukan kesalahan. Ia adalah sinyal.
Sinyal bahwa tubuh akhirnya menemukan kondisi yang lebih bisa ditoleransi setelah sekian lama berada dalam ketegangan.
Ilusi Tentang “Seharusnya”
Sering kali penderitaan datang bukan dari perasaan itu sendiri, tetapi dari benturan antara perasaan dan ekspektasi.
Ekspektasi bahwa keluarga harus utuh.
Ekspektasi bahwa anak harus merasa sedih, bukan lega.
Ekspektasi bahwa mencintai kedua orang tua harus terlihat seimbang.
Namun kehidupan tidak selalu mengikuti narasi ideal.
Dan ketika realitas tidak sesuai dengan “seharusnya”, muncul konflik batin.
Padahal, perasaan tidak selalu mengikuti norma—ia mengikuti pengalaman.
Ketika Sistem Saraf Akhirnya Menemukan Istirahat
Ada satu hal yang jarang disadari:
Bagi seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketegangan, rasa tenang bisa terasa asing di awal. Tetapi ketika akhirnya ditemukan, ia bisa terasa sangat melegakan.
Seperti seseorang yang lama menahan napas, lalu akhirnya bisa bernapas dalam-dalam.
Rasa nyaman dengan satu orang tua sering kali mencerminkan momen ini.
Bukan tentang memilih siapa yang lebih baik.
Tetapi tentang menemukan tempat di mana tubuh tidak perlu terus berjaga.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sistem di dalam diri merasa boleh beristirahat.
Referensi
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR)
- John Bowlby. Attachment and Loss
- Bruce D. Perry & Maia Szalavitz. The Boy Who Was Raised as a Dog
- Bessel van der Kolk. The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma
- Stephen Porges. The Polyvagal Theory
- Judith Herman. Trauma and Recovery
- Daniel J. Siegel. The Developing Mind
Mungkin yang membuat seseorang merasa lebih nyaman bukanlah karena ia memilih satu orang tua dan meninggalkan yang lain, tetapi karena di dalam dirinya ada bagian yang akhirnya menemukan tempat di mana ia tidak perlu terus bersiap menghadapi sesuatu yang menyakitkan.
Dan di balik rasa nyaman itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi, yang tidak selalu mudah dijawab—
apakah selama ini yang dicari sebenarnya bukan siapa yang harus dipilih, tetapi di mana diri ini bisa benar-benar merasa aman tanpa harus berpura-pura kuat.