Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah orang-orang menganggap misofonia dengan serius?

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
35

Pertanyaan tentang misofonia sering kali terdengar sederhana: apakah orang-orang menganggapnya dengan serius?

Namun di balik pertanyaan itu biasanya tersembunyi pengalaman yang jauh lebih dalam. Pengalaman tentang suara-suara kecil yang bagi kebanyakan orang terasa biasa saja, tetapi bagi sebagian orang lain dapat memicu reaksi emosional yang sangat kuat—marah, cemas, bahkan rasa terancam.

Dan di situlah masalah sebenarnya muncul.

Karena misofonia adalah salah satu kondisi yang paling sering disalahpahami oleh orang di sekitarnya.

Banyak orang menganggapnya sebagai sekadar “terlalu sensitif terhadap suara”, “mudah terganggu”, atau bahkan “drama berlebihan”.

Padahal pengalaman internalnya jauh lebih kompleks daripada itu.


Ketika Suara Kecil Menjadi Pemicu Besar

Misofonia secara harfiah berarti “kebencian terhadap suara”. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani: miso (benci) dan phonia (suara).

Namun istilah tersebut sebenarnya agak menyesatkan.

Karena masalah utamanya bukan sekadar tidak menyukai suara tertentu.

Yang terjadi adalah reaksi emosional dan fisiologis yang sangat kuat terhadap suara spesifik, biasanya suara yang berhubungan dengan aktivitas manusia sehari-hari.

Beberapa contoh pemicu yang paling umum meliputi:

suara mengunyah
suara menelan
suara napas berat
suara klik pena
suara ketukan berulang
suara orang menggerakkan kaki atau jari

Bagi sebagian orang, suara-suara ini hampir tidak terasa.

Namun bagi individu dengan misofonia, suara tersebut dapat memicu reaksi yang sangat intens dalam hitungan detik.

Detak jantung meningkat. Otot menegang. Pikiran dipenuhi kemarahan atau dorongan untuk menjauh.

Reaksi ini sering terasa otomatis, hampir seperti refleks.

Bukan keputusan sadar.

Banyak orang yang mengalaminya bahkan merasa bersalah terhadap reaksi mereka sendiri.


Kisah yang Sering Terjadi

Ada satu kisah yang sering muncul ketika membicarakan misofonia.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat tertata. Ia bekerja dengan baik, memiliki hubungan sosial yang cukup stabil, dan dikenal sebagai pribadi yang sabar.

Namun ada satu hal yang selalu membuatnya gelisah: suara orang mengunyah.

Bagi orang lain di meja makan, itu hanya suara kecil yang hampir tidak disadari.

Tetapi baginya, suara itu terasa seperti alarm yang tiba-tiba berbunyi di dalam kepala.

Ia menggambarkannya seperti “ledakan kecil yang langsung memicu kemarahan”.

Yang paling membuatnya menderita bukan hanya suara itu sendiri, tetapi reaksi orang lain ketika ia mencoba menjelaskan.

Banyak yang tertawa.

Ada yang berkata, “Ah, kamu terlalu sensitif.”

Ada yang mengatakan, “Semua orang juga terganggu kalau ada suara makan.”

Namun bagi dirinya, pengalaman itu bukan sekadar terganggu.

Itu adalah sesuatu yang terasa tak terkendali.


Mengapa Reaksi Itu Bisa Begitu Kuat?

Penelitian tentang misofonia masih relatif baru dibandingkan dengan banyak kondisi psikologis lainnya.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Pawel dan Margaret Jastreboff pada awal 2000-an, yang meneliti hubungan antara sistem pendengaran dan respons emosional terhadap suara.

Beberapa penelitian neuroimaging dalam beberapa tahun terakhir memberikan petunjuk yang menarik.

Salah satu studi penting yang dipublikasikan dalam Current Biology (Kumar et al., 2017) menemukan bahwa individu dengan misofonia menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi pada anterior insular cortex, bagian otak yang berperan dalam pemrosesan emosi dan kesadaran terhadap tubuh.

Bagian otak ini sering disebut sebagai pusat integrasi antara sensasi fisik dan emosi.

Ketika seseorang dengan misofonia mendengar suara pemicu, area ini menunjukkan reaksi yang jauh lebih kuat dibandingkan individu tanpa misofonia.

Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan koneksi yang lebih kuat antara area ini dengan jaringan yang mengatur respons stres dan emosi.

Dengan kata lain, suara tertentu langsung terhubung dengan sistem alarm emosional di otak.

Hal ini menjelaskan mengapa reaksi yang muncul sering terasa begitu cepat dan intens.


Bukan Sekadar Tidak Suka Suara

Banyak orang mengatakan bahwa mereka juga terganggu oleh suara tertentu.

Namun ada perbedaan penting antara ketidaksukaan biasa dan misofonia.

Dalam ketidaksukaan biasa, seseorang mungkin merasa sedikit terganggu tetapi masih dapat mengabaikannya.

Dalam misofonia, suara pemicu sering menimbulkan reaksi emosional yang sangat kuat seperti:

kemarahan mendadak
kecemasan
perasaan terjebak
dorongan untuk melarikan diri
atau bahkan respons agresif yang tidak diinginkan

Beberapa individu menggambarkan pengalaman ini sebagai “fight-or-flight response” yang dipicu oleh suara kecil.

Reaksi ini melibatkan sistem saraf otonom—bagian tubuh yang mengatur respons stres secara otomatis.

Buku “The Body Keeps the Score” oleh Bessel van der Kolk menjelaskan bagaimana pengalaman sensorik tertentu dapat terhubung dengan respons emosional yang sangat kuat melalui sistem saraf.

Dalam konteks misofonia, suara menjadi pemicu sensorik yang mengaktifkan sistem ini.


Mengapa Banyak Orang Tidak Menganggapnya Serius?

Ada beberapa alasan mengapa misofonia sering tidak dianggap serius oleh masyarakat.

Salah satunya adalah karena pemicunya terlihat sangat sepele.

Sulit bagi orang lain untuk memahami bahwa suara kecil seperti mengunyah bisa memicu reaksi emosional yang begitu besar.

Hal ini mirip dengan banyak kondisi sensorik lainnya.

Ketika pengalaman internal seseorang tidak terlihat secara fisik, orang lain cenderung meremehkannya.

Buku “Sensory Processing and the Child” oleh Lucy Jane Miller menjelaskan bagaimana perbedaan pemrosesan sensorik sering kali tidak dipahami oleh lingkungan sekitar.

Akibatnya, individu yang mengalaminya sering dianggap terlalu sensitif atau berlebihan.


Dampak Sosial yang Tidak Terlihat

Salah satu aspek paling menyakitkan dari misofonia adalah dampaknya terhadap hubungan sosial.

Banyak aktivitas sosial manusia melibatkan makan bersama.

Keluarga makan malam bersama. Teman berkumpul di restoran. Rekan kerja makan siang bersama.

Namun bagi seseorang dengan misofonia, situasi seperti ini bisa menjadi sumber stres yang besar.

Ada seseorang yang pernah bercerita bahwa ia mulai menghindari makan bersama keluarganya karena suara mengunyah membuatnya hampir kehilangan kendali emosional.

Yang membuatnya paling sedih bukan hanya suara itu sendiri.

Tetapi rasa bersalah karena ia tahu keluarganya tidak melakukan sesuatu yang salah.

Ia marah pada suara yang sebenarnya tidak bersalah.

Konflik internal seperti ini sering membuat orang dengan misofonia merasa sangat terisolasi.


Hubungan dengan Kondisi Lain

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa misofonia sering muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti:

gangguan kecemasan
obsessive-compulsive traits
ADHD
atau spektrum autisme

Namun penting untuk dipahami bahwa misofonia juga dapat muncul secara independen.

Buku “Misophonia: A Guide for Clinicians and Researchers” oleh Margaret dan Pawel Jastreboff menjelaskan bahwa kondisi ini kemungkinan melibatkan interaksi kompleks antara sistem pendengaran, sistem limbik (emosi), dan sistem saraf otonom.

Artinya, ini bukan hanya masalah psikologis semata.

Ada komponen neurologis yang kuat.


Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah bahwa orang dengan misofonia hanya perlu “bersabar” atau “membiasakan diri”.

Namun bagi banyak orang, paparan berulang terhadap suara pemicu justru dapat memperkuat reaksi emosional.

Hal ini berkaitan dengan proses yang disebut sensitization dalam sistem saraf.

Ketika otak belajar mengasosiasikan suara tertentu dengan ancaman emosional, responsnya bisa menjadi semakin kuat dari waktu ke waktu.

Ini mirip dengan bagaimana otak belajar merespons trauma atau stres.


Perubahan Cara Dunia Melihat Misofonia

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran tentang misofonia mulai meningkat.

Penelitian ilmiah semakin banyak dilakukan.

Beberapa universitas bahkan mulai membuka pusat penelitian khusus tentang kondisi ini.

Namun di tingkat masyarakat umum, pemahaman masih sangat terbatas.

Banyak orang baru menyadari bahwa pengalaman mereka memiliki nama setelah bertahun-tahun merasa aneh atau berbeda.

Dan sering kali, hanya mengetahui bahwa kondisi ini nyata sudah memberikan rasa validasi yang sangat besar.

Karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mengalami sesuatu yang sangat nyata, tetapi terus-menerus dianggap berlebihan oleh orang lain.


Dunia yang Terlalu Bising

Jika kita melihat lebih luas, dunia modern sebenarnya sangat penuh dengan stimulus sensorik.

Suara notifikasi. Mesin. Percakapan di ruang publik. Musik di pusat perbelanjaan.

Bagi sebagian orang, semua ini hanya latar belakang kehidupan sehari-hari.

Namun bagi individu dengan sensitivitas sensorik tertentu, dunia bisa terasa jauh lebih intens.

Suara yang bagi orang lain hampir tidak terdengar bisa terasa seperti sorotan lampu yang terus menerus diarahkan ke pikiran mereka.


Pada akhirnya, pertanyaan “apakah orang-orang menganggap misofonia dengan serius?” mungkin tidak hanya berbicara tentang kondisi itu sendiri.

Ia juga berbicara tentang sesuatu yang lebih luas: bagaimana manusia memahami pengalaman internal orang lain.

Karena sebagian besar penderitaan manusia sebenarnya tidak terlihat.

Ia terjadi di dalam sistem saraf, di dalam pikiran, di dalam emosi yang tidak dapat dilihat dari luar.

Dan mungkin di situlah letak tantangannya.

Bagaimana kita bisa benar-benar memahami pengalaman seseorang ketika pemicu penderitaannya hanya sebuah suara kecil yang bagi dunia terasa hampir tidak ada.

Ada satu jenis pengalaman manusia yang sering terasa sangat nyata bagi orang yang mengalaminya, tetapi hampir tidak terlihat bagi orang lain. Misofonia adalah salah satunya.

Pertanyaannya, “Apakah orang-orang menganggap misofonia dengan serius?” sebenarnya menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pengakuan medis. Ia menyentuh pengalaman yang sering kali sangat sunyi: ketika sesuatu yang terasa sangat mengganggu bagi seseorang justru dianggap remeh oleh lingkungan di sekitarnya.

Bagi banyak orang yang mengalami misofonia, masalahnya bukan hanya suara itu sendiri. Masalah yang jauh lebih menyakitkan adalah ketika orang lain berkata, “Itu cuma suara kecil.” Atau, “Kenapa kamu terlalu sensitif?” Atau bahkan, “Kamu berlebihan.”

Padahal bagi orang yang mengalami misofonia, reaksi terhadap suara tertentu bukan sekadar rasa tidak suka. Ia bisa terasa seperti reaksi tubuh yang sangat intens, hampir seperti refleks.


Apa sebenarnya misofonia?

Istilah misophonia secara harfiah berarti “kebencian terhadap suara.” Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan pendengaran Pawel dan Margaret Jastreboff pada awal tahun 2000-an.

Namun definisinya jauh lebih kompleks daripada sekadar tidak menyukai suara tertentu.

Misofonia biasanya melibatkan reaksi emosional yang sangat kuat terhadap suara spesifik, terutama suara yang berasal dari aktivitas manusia sehari-hari.

Beberapa contoh suara pemicu yang paling sering dilaporkan antara lain:

  • suara mengunyah atau mengecap makanan
  • suara napas atau mendengus
  • suara mengetuk pena atau jari
  • suara mengetik
  • suara menelan
  • bahkan suara kecil seperti gesekan pakaian

Yang menarik, suara-suara ini sebenarnya tidak keras atau berbahaya. Banyak orang bahkan hampir tidak menyadarinya.

Namun bagi seseorang dengan misofonia, suara itu dapat memicu respons yang sangat cepat dan intens: kemarahan, kecemasan, ketegangan, atau dorongan kuat untuk segera menjauh dari sumber suara.

Penelitian oleh Sukhbinder Kumar dan tim dari University of Newcastle yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada tahun 2017 menemukan bahwa individu dengan misofonia menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi pada anterior insular cortex, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan kesadaran tubuh.

Penemuan ini penting karena menunjukkan sesuatu yang sering diabaikan:

misofonia bukan sekadar “terlalu sensitif”.

Ada mekanisme neurologis yang nyata di baliknya.


Mengapa banyak orang tidak menganggapnya serius?

Meskipun penelitian tentang misofonia semakin berkembang, dalam kehidupan sehari-hari kondisi ini masih sering diremehkan.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi.


1. Pemicu misofonia adalah suara yang sangat biasa

Jika seseorang takut ketinggian, orang lain biasanya bisa memahami.

Jika seseorang alergi makanan tertentu, orang lain juga mudah mengerti.

Namun misofonia sering dipicu oleh suara yang sangat normal: seseorang mengunyah makanan, menghela napas, atau mengetuk meja.

Bagi orang yang tidak mengalami misofonia, sangat sulit membayangkan bahwa suara sekecil itu bisa memicu reaksi emosional yang begitu kuat.

Akibatnya, banyak orang menganggap reaksi tersebut sebagai dramatisasi.

Padahal bagi orang yang mengalaminya, tubuh sering bereaksi lebih cepat daripada pikiran sadar.


2. Reaksi emosionalnya sering berupa kemarahan

Salah satu karakteristik unik misofonia adalah bahwa emosi yang muncul sering kali bukan hanya ketidaknyamanan, tetapi kemarahan yang sangat intens.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychology menunjukkan bahwa banyak individu dengan misofonia melaporkan perasaan marah atau frustrasi yang muncul hampir seketika setelah mendengar suara pemicu.

Hal ini membuat orang lain sering salah paham.

Mereka melihat kemarahan itu dan berpikir bahwa orang tersebut hanya mudah tersinggung.

Padahal sebenarnya kemarahan itu sering datang seperti refleks neurologis.

Ia muncul lebih cepat daripada kemampuan untuk menahannya.


3. Banyak orang dengan misofonia belajar menyembunyikannya

Karena sering tidak dipahami, banyak orang dengan misofonia akhirnya belajar untuk menyembunyikan reaksinya.

Mereka mungkin:

  • memakai headphone
  • menghindari makan bersama orang lain
  • memilih tempat duduk tertentu
  • atau diam-diam meninggalkan ruangan

Dari luar, perilaku ini terlihat seperti preferensi biasa.

Namun di baliknya sering ada usaha besar untuk menghindari stimulus yang terasa sangat menyakitkan secara emosional.


Pengalaman yang sering tidak terlihat

Ada satu cerita yang sering muncul dalam percakapan tentang misofonia.

Seseorang duduk di meja makan bersama keluarga.

Semua orang makan seperti biasa.

Namun bagi satu orang di meja itu, suara mengunyah terasa seperti sesuatu yang menggerogoti saraf.

Mereka mencoba fokus pada percakapan.

Mereka mencoba bernapas lebih tenang.

Namun setiap suara kecil terasa semakin keras.

Jantung mulai berdetak lebih cepat.

Otot-otot menjadi tegang.

Pikiran mulai dipenuhi dorongan kuat untuk pergi dari ruangan itu.

Yang membuat pengalaman ini semakin sulit adalah kenyataan bahwa tidak ada yang tampak “salah” dari luar.

Semua orang hanya sedang makan.

Dan karena itu, orang dengan misofonia sering merasa bersalah atas reaksi mereka sendiri.


Rasa bersalah yang sering menyertai misofonia

Banyak individu dengan misofonia tidak hanya berjuang dengan suara itu sendiri.

Mereka juga berjuang dengan perasaan bersalah.

Beberapa pikiran yang sering muncul antara lain:

  • “Kenapa saya tidak bisa normal?”
  • “Kenapa hal kecil seperti ini membuat saya marah?”
  • “Saya pasti orang yang terlalu sensitif.”

Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Penelitian dalam Frontiers in Neuroscience menunjukkan bahwa misofonia melibatkan interaksi antara sistem pendengaran dan sistem limbik—bagian otak yang mengatur emosi.

Artinya, otak memproses suara tertentu seolah-olah itu memiliki makna emosional yang sangat kuat.

Bukan karena orang tersebut ingin bereaksi seperti itu.

Tetapi karena sistem saraf mereka memang memproses stimulus itu secara berbeda.


Misofonia dan hubungan interpersonal

Salah satu dampak paling sulit dari misofonia adalah pada hubungan dengan orang lain.

Sering kali suara pemicu justru berasal dari orang-orang yang paling dekat: pasangan, anggota keluarga, teman.

Ini menciptakan dinamika yang sangat rumit.

Di satu sisi, orang dengan misofonia tidak ingin menyakiti orang yang mereka sayangi.

Di sisi lain, tubuh mereka terus bereaksi terhadap suara yang tidak bisa dihindari sepenuhnya.

Kadang muncul konflik kecil seperti:

“Kenapa kamu selalu marah saat aku makan?”

Atau:

“Ini cuma suara kecil, kenapa kamu tidak bisa mengabaikannya?”

Situasi seperti ini sering membuat seseorang merasa semakin terisolasi.


Apakah misofonia mulai dianggap serius?

Dalam dunia penelitian, jawabannya semakin jelas: ya.

Dalam beberapa tahun terakhir, misofonia mulai mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar.

Penelitian tentang kondisi ini meningkat secara signifikan sejak tahun 2010-an.

Beberapa studi neuroimaging menunjukkan bahwa misofonia memiliki pola aktivitas otak yang berbeda dari kondisi lain seperti gangguan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif.

Sebuah studi tahun 2013 oleh Schröder dan kolega dalam PLoS ONE bahkan mengusulkan kriteria diagnostik formal untuk misofonia.

Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya dimasukkan sebagai diagnosis resmi dalam DSM-5, komunitas ilmiah semakin mengakui bahwa misofonia adalah fenomena nyata yang layak dipelajari dengan serius.


Tetapi di kehidupan sehari-hari, perjalanan menuju pemahaman masih panjang

Ilmu pengetahuan sering bergerak lebih cepat daripada perubahan persepsi masyarakat.

Banyak kondisi psikologis—depresi, ADHD, autisme—juga pernah mengalami fase panjang di mana mereka dianggap remeh atau bahkan tidak nyata.

Misofonia mungkin sedang berada di tahap yang sama sekarang.

Di satu sisi, penelitian mulai mengungkap mekanisme neurologisnya.

Di sisi lain, banyak orang yang mengalaminya masih harus menjelaskan berulang-ulang kepada lingkungan sekitar bahwa pengalaman mereka bukan sekadar kepekaan biasa.


Sebuah hal yang sering terlupakan

Ada sesuatu yang menarik tentang cara manusia menilai penderitaan.

Kita cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang terlihat jelas: luka fisik, suara yang sangat keras, atau peristiwa traumatis yang besar.

Namun kesulitan yang terjadi di dalam sistem saraf sering kali tidak terlihat sama sekali.

Misofonia adalah contoh yang sangat jelas tentang hal ini.

Suara yang sama bisa terasa biasa bagi satu orang.

Dan terasa hampir tak tertahankan bagi orang lain.

Bukan karena salah satu dari mereka lebih lemah.

Tetapi karena otak manusia tidak memproses dunia dengan cara yang identik.


Dan mungkin di situlah salah satu hal yang paling menarik tentang pengalaman manusia.

Dunia yang kita tinggali terlihat sama—ruangan yang sama, suara yang sama, meja makan yang sama.

Namun di dalam kepala setiap orang, dunia itu sebenarnya diproses dengan cara yang sangat berbeda.

Kadang perbedaan itu begitu halus sehingga hampir tidak terlihat.

Namun bagi orang yang mengalaminya, perbedaan itu bisa mengubah seluruh cara mereka merasakan kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, ketika kita benar-benar mencoba memahami hal itu, kita mulai menyadari sesuatu yang sederhana tetapi penting:

bahwa apa yang tampak kecil bagi satu orang bisa terasa sangat besar bagi orang lain.

Misofonia—yaitu respons emosional yang sangat kuat terhadap suara-suara tertentu seperti suara mengunyah, mengetuk pena, atau napas—semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir, tetapi masih sering disalahpahami dan tidak selalu dianggap serius oleh masyarakat luas maupun sebagian profesional kesehatan mental.

Kenapa misofonia sering tidak dianggap serius?

  1. Tidak terlihat secara fisik
    Karena gejala misofonia tidak tampak secara kasatmata seperti luka atau demam, banyak orang menganggapnya sebagai “berlebihan” atau hanya “sensitif.” Respons emosional yang kuat, seperti rasa marah atau panik, sering dianggap sebagai reaksi yang bisa dikendalikan jika “orangnya mau berusaha.”

  2. Kurangnya pemahaman ilmiah yang menyeluruh
    Meskipun riset tentang misofonia terus berkembang, misofonia belum secara resmi diakui dalam banyak manual diagnostik, seperti DSM-5 (versi terbaru dari panduan gangguan mental yang digunakan secara luas oleh profesional kesehatan mental di AS). Hal ini membuat diagnosis dan perawatan menjadi kurang konsisten.

  3. Dianggap sebagai hal remeh oleh lingkungan sosial
    Banyak penderita misofonia merasa tidak didukung oleh keluarga, teman, atau rekan kerja karena orang-orang di sekitar mereka tidak memahami betapa mengganggunya suara-suara tertentu. Akibatnya, mereka bisa merasa terisolasi atau bahkan malu.

Tapi tren mulai berubah

Dalam dekade terakhir, misofonia mulai diteliti lebih serius oleh ahli neuropsikologi dan psikiatri. Beberapa studi menunjukkan bahwa otak penderita misofonia memang merespons suara tertentu secara berlebihan di area-area yang terkait dengan emosi dan kontrol diri, seperti amigdala dan korteks prefrontal anterior. Artinya, ini bukan hanya "masalah mentalitas lemah", tapi ada dasar biologis dan neurologisnya.

Banyak komunitas online dan organisasi advokasi kini juga membantu meningkatkan kesadaran tentang misofonia, memperjuangkan agar kondisinya diakui dan dipahami secara lebih luas.

Kesimpulannya. saat ini, misofonia masih sering tidak dianggap serius oleh banyak orang, tapi kesadaran dan pengakuan terhadap kondisi ini terus berkembang. Dukungan dari komunitas ilmiah dan peningkatan edukasi publik sangat penting agar penderita misofonia bisa mendapatkan empati, ruang aman, dan penanganan yang sesuai.

Kalau kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami misofonia, penting untuk tidak merasa sendiri. Ada cara untuk mengelola gejalanya, dan pelan-pelan, masyarakat akan lebih peka dan peduli seiring bertambahnya pemahaman ilmiah tentang kondisi ini.