Apakah normal merasa canggung saat harus bertemu kedua orang tua yang pisah?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Aku dulu mengira kecanggungan itu tanda aku belum dewasa. Tanda aku belum “beres” dengan masa lalu. Setiap kali harus berada di satu ruang dengan dua orang yang dulu menjadi definisi rumah, tapi kini berdiri sebagai dua dunia terpisah, dadaku selalu terasa menyempit. Senyumku datang terlambat. Kata-kataku terdengar kaku. Tanganku tidak tahu harus diletakkan di mana. Dan di kepalaku hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang: “Kenapa aku merasa seperti tamu di keluargaku sendiri?”
Jadi, kalau pertanyaannya: apakah normal merasa canggung saat harus bertemu kedua orang tua yang sudah berpisah? Aku ingin menjawab dengan jujur, bukan jawaban yang rapi atau menghibur secara murahan. Ya, itu sangat normal. Bahkan, bagi banyak orang seperti kita, kecanggungan itu bukan anomali—ia adalah bahasa tubuh dari luka yang belum pernah benar-benar diberi ruang untuk berbicara.
Aku masih ingat pertama kali harus duduk di satu meja bersama mereka setelah perceraian. Tidak ada teriakan. Tidak ada konflik terbuka. Justru itu yang membuat segalanya terasa lebih berat. Sunyi di antara mereka bukan sunyi yang damai, tapi sunyi yang penuh makna yang tidak pernah diucapkan. Aku tertawa pada lelucon kecil ayah, lalu sepersekian detik kemudian mencuri pandang ke ibu, memastikan tawaku tidak terasa seperti keberpihakan. Aku menanggapi cerita ibu dengan antusias, lalu bertanya-tanya dalam hati apakah ayah merasa tersisih.
Di situ aku sadar, kecanggungan itu bukan sekadar rasa tidak nyaman sosial. Itu adalah ketegangan batin karena aku sedang menyeimbangkan dua cinta yang pernah saling melukai.
Bagi orang yang tumbuh dalam keluarga utuh, bertemu orang tua adalah peristiwa yang netral. Tapi bagi anak dari orang tua yang berpisah, pertemuan itu sering terasa seperti ruang simbolik yang sarat emosi. Kita tidak hanya hadir sebagai anak. Kita hadir sebagai saksi masa lalu, sebagai pengingat luka, sebagai titik temu dari sejarah yang tidak selesai. Dan tubuh kita tahu itu, bahkan ketika pikiran mencoba bersikap biasa saja.
Ada satu momen kecil yang sering terulang dalam hidupku. Ketika aku bercerita tentang hidupku—pekerjaan, kelelahan, atau kebahagiaan kecil—aku selalu menyederhanakan ceritanya. Bukan karena aku tidak ingin jujur, tapi karena aku takut ceritaku akan menjadi pemicu perasaan yang tidak aku pahami sepenuhnya. Takut ibu merasa tidak cukup dekat. Takut ayah merasa tidak dilibatkan. Maka aku memilih versi aman. Versi netral. Versi yang tidak terlalu dalam.
Dan dari situlah kecanggungan itu tumbuh. Kita tidak canggung karena kita tidak peduli. Kita canggung karena kita terlalu peduli.
Aku pernah berpikir, mungkin suatu hari rasa ini akan hilang begitu saja. Mungkin ketika waktu sudah cukup lama berlalu. Tapi kenyataannya, waktu tidak selalu menghapus rasa canggung. Kadang ia hanya mengubah bentuknya. Dulu aku canggung karena takut mereka bertengkar. Sekarang aku canggung karena takut keheningan di antara mereka memantul ke diriku.
Ada rasa aneh saat harus memanggil mereka dengan sebutan yang sama di ruang yang sama. “Ayah.” “Ibu.” Dua kata yang dulu saling berdekatan, kini terasa seperti berasal dari dua cerita berbeda. Dan aku berdiri di tengah, memegang kedua cerita itu, tanpa tahu harus meletakkannya di mana.
Yang jarang dibicarakan adalah bagaimana anak sering menjadi penyangga emosional dalam pertemuan seperti itu. Kita yang menyesuaikan topik. Kita yang menjaga nada bicara. Kita yang mengisi jeda dengan cerita receh agar suasana tidak runtuh. Kita yang tersenyum lebih lama dari yang kita rasakan. Semua itu melelahkan, tapi dilakukan secara otomatis, seperti refleks bertahan hidup.
Aku pernah pulang dari pertemuan seperti itu dengan tubuh yang utuh, tapi jiwa yang sangat lelah. Aku tidak bisa langsung tidur. Kepalaku penuh oleh hal-hal kecil: apakah tadi aku terlalu lama bicara dengan ayah? Apakah ekspresi ibu berubah saat itu? Apakah aku terlihat lebih condong ke salah satu? Kecanggungan itu tidak berhenti saat pertemuan selesai; ia ikut pulang bersamaku.
Dan mungkin yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa kita sering merasa bersalah atas kecanggungan itu. Seolah-olah kalau kita anak yang “lebih baik”, “lebih dewasa”, “lebih ikhlas”, semua akan terasa normal. Padahal, tidak ada yang benar-benar normal tentang bertemu dua orang yang pernah menjadi satu, lalu terpisah dengan luka. Kecanggungan bukan kegagalan pribadi. Ia adalah respons manusiawi terhadap situasi yang kompleks secara emosional.
Aku pernah duduk sendirian di kafe, mengamati keluarga di meja sebelah. Ayah, ibu, anak. Mereka tertawa lepas. Aku tidak iri pada tawa itu. Aku hanya bertanya dalam hati, “Apakah mereka tahu betapa mudahnya momen itu bagi mereka?” Bagi kita, momen sederhana seperti makan bersama bisa menjadi ladang ranjau emosi.
Yang membuat semuanya semakin rumit adalah fakta bahwa orang tua kita juga membawa kecanggungan mereka sendiri. Mereka mungkin mencoba terlihat baik-baik saja. Mereka mungkin menghindari kontak mata. Mereka mungkin terlalu sopan, terlalu formal. Dan kita menangkap semua itu, bahkan ketika tidak ada yang mengatakannya secara langsung. Kita membaca bahasa tubuh, jeda, nada suara—lalu menanggung maknanya sendirian.
Aku ingin jujur di sini: ada kalanya aku berharap tidak perlu hadir. Bukan karena aku tidak mencintai mereka, tapi karena hadir berarti menahan banyak hal di dalam dada. Hadir berarti menjadi jembatan yang terus dilalui, meski retak. Dan jembatan juga bisa lelah.
Namun, seiring waktu, aku mulai melihat kecanggungan itu dengan cara yang sedikit berbeda. Bukan sebagai musuh yang harus dilawan, tapi sebagai jejak dari cinta yang pernah ada dan belum sepenuhnya sembuh. Kalau tidak ada cinta, mungkin tidak akan ada kecanggungan. Kita hanya akan dingin dan acuh. Tapi kecanggungan berarti masih ada rasa. Masih ada kehati-hatian. Masih ada keinginan untuk tidak melukai.
Ada satu pertemuan yang sangat membekas. Kami duduk bertiga. Tidak lama. Tidak intim. Tapi di satu titik, ayah dan ibu sama-sama terdiam. Aku menunggu, siap mengisi keheningan. Tapi kali ini aku tidak melakukannya. Aku membiarkan sunyi itu ada. Anehnya, aku tidak runtuh. Aku hanya duduk, bernapas, dan menyadari sesuatu: aku tidak selalu harus menjadi penyangga. Kadang kecanggungan itu bukan tanggung jawabku untuk dibereskan.
Sejak saat itu, aku mulai berdamai—pelan-pelan—dengan kenyataan bahwa kecanggungan mungkin akan selalu ada, dalam kadar yang berbeda. Dan itu tidak apa-apa. Tidak semua hubungan harus cair untuk menjadi bermakna. Tidak semua pertemuan harus nyaman untuk menjadi nyata.
Jika kamu membaca ini sambil mengingat pertemuan terakhir yang membuatmu ingin cepat-cepat pulang, aku ingin kamu tahu satu hal yang mungkin jarang kamu dengar: perasaanmu tidak berlebihan. Tubuhmu sedang merespons situasi yang secara emosional memang tidak sederhana. Dan tidak ada kewajiban bagimu untuk selalu terlihat kuat, santai, atau dewasa.
Mungkin suatu hari kecanggungan itu akan berubah menjadi keheningan yang lebih lembut. Mungkin tidak. Tapi yang penting, kamu tidak sendirian dalam perasaan ini, meski sering menjalaninya sendirian.
Dan barangkali, di tengah semua rasa kikuk itu, kita bisa berhenti sejenak dan bertanya dengan lembut pada diri sendiri: bukan “kenapa aku seperti ini?”, tapi “apa yang sedang dijaga oleh kecanggungan ini?”
“Kadang kecanggungan bukan tanda kita jauh, melainkan bukti bahwa hati masih berjalan pelan di atas kenangan yang belum sepenuhnya tenang.”
Merasa canggung saat harus bertemu kedua orang tua yang telah berpisah adalah pengalaman yang jauh lebih umum daripada yang sering disadari. Banyak orang mengira kecanggungan itu tanda belum dewasa, belum ikhlas, atau belum bisa berdamai. Padahal, dari sudut pandang psikologi, rasa canggung justru sering menjadi tanda bahwa sistem emosi seseorang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak lagi stabil seperti dulu.
Ketika orang tua bercerai, struktur emosional keluarga berubah secara mendasar. Hubungan yang sebelumnya satu kesatuan kini terpecah menjadi dua ruang emosional yang berbeda. Anak, baik masih kecil maupun sudah dewasa, berada di posisi unik karena ia memiliki ikatan dengan keduanya. Saat kedua orang tua hadir dalam satu waktu atau satu konteks, otak dan emosi dipaksa menghadapi dua dunia yang dulu pernah bertabrakan. Rasa canggung adalah sinyal bahwa ada ketegangan yang belum sepenuhnya terintegrasi di dalam diri.
Psikolog keluarga seperti Murray Bowen menjelaskan bahwa keluarga adalah sistem emosional. Ketika satu hubungan inti retak, seluruh anggota sistem ikut merasakan dampaknya. Anak sering menjadi “jembatan emosional” antara dua kutub yang tidak lagi menyatu. Maka ketika kedua orang tua hadir, sistem saraf anak secara otomatis berada dalam mode waspada, meski secara rasional ia tahu tidak ada konflik yang sedang terjadi.
Rasa canggung sering kali bukan tentang situasi saat ini, melainkan tentang memori emosional yang tersimpan. Otak manusia menyimpan pengalaman bukan hanya dalam bentuk ingatan verbal, tetapi juga sebagai ingatan emosional dan tubuh.
Menurut Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score, pengalaman emosional yang intens—termasuk konflik orang tua dan perceraian—tersimpan di sistem saraf. Tubuh mengingat ketegangan, kecemasan, dan ketidakpastian, bahkan ketika pikiran sadar merasa sudah “baik-baik saja”.
Ketika kamu bertemu kedua orang tua yang telah berpisah, tubuhmu bisa bereaksi seolah sedang menghadapi situasi berbahaya, meskipun tidak ada ancaman nyata. Detak jantung meningkat, pikiran menjadi kaku, kata-kata terasa sulit keluar. Inilah yang sering diterjemahkan sebagai rasa canggung. Bukan karena kamu tidak ingin bertemu mereka, tetapi karena tubuhmu masih mengingat masa ketika pertemuan semacam itu diwarnai konflik atau ketegangan.
Judith Wallerstein, yang meneliti dampak jangka panjang perceraian terhadap anak, menemukan bahwa konflik loyalitas bisa bertahan hingga dewasa. Konflik ini tidak selalu muncul dalam bentuk pikiran sadar seperti “aku harus memilih”, tetapi sering hadir sebagai ketidaknyamanan halus saat berada di dekat kedua orang tua sekaligus.
Rasa canggung bisa muncul karena ada bagian dalam dirimu yang bertanya-tanya, meski secara samar: apakah aku bersikap adil? apakah ekspresiku akan melukai salah satu? apakah aku terlihat lebih dekat dengan yang satu daripada yang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering tidak disadari sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan tegang. Kamu mungkin merasa harus mengatur ekspresi wajah, nada suara, bahkan topik pembicaraan. Semua ini menciptakan beban kognitif dan emosional yang akhirnya terasa sebagai kecanggungan.
Banyak anak dari orang tua yang bercerai tumbuh dengan peran tidak resmi sebagai penjaga keseimbangan. Mereka belajar membaca suasana, menyesuaikan diri, dan menghindari konflik. Saat kedua orang tua hadir, peran ini aktif kembali secara otomatis.
Donald Winnicott menjelaskan bahwa anak yang terlalu sering menyesuaikan diri demi menjaga lingkungan emosional bisa kehilangan spontanitasnya. Dalam konteks pertemuan orang tua yang bercerai, kamu mungkin merasa sulit menjadi diri sendiri sepenuhnya. Ada dorongan kuat untuk bersikap “aman”, tidak memicu apa pun, tidak terlalu ekspresif, tidak terlalu jujur.
Ketika seseorang tidak bisa hadir secara autentik, tubuh akan merespons dengan ketegangan. Rasa canggung sering kali bukan karena situasi sosialnya, tetapi karena adanya jarak antara siapa dirimu sebenarnya dan siapa yang kamu rasa harus kamu tampilkan di hadapan mereka.
Setelah perceraian, peran dalam keluarga sering berubah tanpa pernah dibicarakan secara jelas. Anak bisa menjadi tempat curhat, penenang, atau bahkan mediator. Ketika kedua orang tua bertemu, peran-peran lama ini bisa saling bertabrakan di dalam dirimu.
Erik Erikson menekankan pentingnya konsistensi peran dalam pembentukan identitas yang sehat. Ketika peran berubah-ubah tergantung konteks, seseorang bisa merasa bingung dan tidak stabil.
Saat bersama ibu, kamu mungkin terbiasa menjadi pendengar yang empatik. Saat bersama ayah, kamu mungkin berperan sebagai anak yang kuat dan tidak banyak mengeluh. Ketika keduanya hadir, dua peran ini bertemu dalam satu ruang, dan tubuhmu bingung harus menggunakan yang mana. Kebingungan ini sering muncul sebagai rasa kikuk, canggung, atau ingin cepat mengakhiri pertemuan.
Meskipun secara rasional kamu tahu orang tuamu mungkin sudah lebih tenang, bagian emosional dalam dirimu tidak selalu mengikuti logika itu. Otak emosional bekerja berdasarkan pola masa lalu. Jika dulu pertemuan atau interaksi orang tua sering berakhir dengan ketegangan, maka tubuhmu belajar mengasosiasikan kehadiran mereka bersama sebagai situasi berisiko.
Inilah yang dalam psikologi trauma disebut anticipatory anxiety, kecemasan antisipatif. Kamu tidak menunggu konflik terjadi; tubuhmu sudah bersiap sejak awal. Setiap keheningan terasa mencurigakan, setiap perubahan nada suara terasa signifikan.
Dalam kondisi seperti ini, sulit untuk rileks. Rasa canggung menjadi mekanisme perlindungan, cara tubuh menjaga jarak emosional agar tidak kembali terluka.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa rasa canggung berarti kurang cinta atau kurang penerimaan. Padahal, justru sebaliknya. Rasa canggung sering muncul karena kamu peduli. Kamu ingin semuanya baik-baik saja, ingin tidak melukai siapa pun, ingin menjaga hubungan yang tersisa.
Brené Brown menulis bahwa kerentanan emosional sering disalahartikan sebagai kelemahan, padahal ia adalah bukti keterhubungan yang dalam. Rasa canggung adalah bentuk kerentanan. Ia menunjukkan bahwa situasi ini menyentuh lapisan emosional yang penting dalam dirimu.
Jika kamu tidak peduli sama sekali, mungkin kamu tidak akan merasa apa pun. Tetapi karena hubungan ini berarti, tubuhmu bereaksi.
Menariknya, rasa canggung ini tidak selalu terbatas pada konteks orang tua. Banyak orang dewasa dari keluarga bercerai menyadari bahwa mereka juga merasa tidak nyaman berada di tengah dua pihak yang memiliki ketegangan, bahkan di luar keluarga.
Hal ini dijelaskan dalam teori relational schema, yaitu pola internal tentang hubungan yang terbentuk dari pengalaman awal. Jika sejak kecil kamu terbiasa berada di tengah konflik orang dewasa, sistem emosimu belajar bahwa kedekatan sering kali berisiko.
Rasa canggung saat bertemu orang tua bisa menjadi gema dari pola ini. Ia bukan masalah situasional semata, tetapi bagian dari cara sistem sarafmu belajar merespons hubungan yang kompleks.
Banyak orang bertanya-tanya mengapa rasa canggung masih ada meski perceraian sudah lama berlalu. Jawabannya terletak pada perbedaan antara waktu kronologis dan waktu emosional.
Secara waktu, perceraian mungkin terjadi bertahun-tahun lalu. Namun secara emosional, proses integrasi bisa jauh lebih lambat. Jika tidak ada ruang aman untuk memproses perasaan saat itu, emosi akan tertunda, bukan hilang.
Psikolog seperti Carl Rogers menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat agar emosi bisa terintegrasi secara sehat. Jika selama ini kamu merasa harus “baik-baik saja”, harus dewasa, harus kuat, maka bagian emosional yang canggung itu mungkin tidak pernah benar-benar didengarkan.
Dari seluruh penjelasan ini, satu hal menjadi jelas: merasa canggung saat bertemu kedua orang tua yang telah berpisah adalah respons yang normal dan manusiawi. Ia bukan tanda kegagalan, bukan bukti belum move on, dan bukan kekurangan pribadi.
Rasa itu muncul dari kombinasi memori emosional, konflik loyalitas, perubahan peran, dan sistem saraf yang belajar dari pengalaman masa lalu. Semua itu masuk akal, terutama jika kamu tumbuh dalam situasi yang penuh ketidakpastian emosional.
Yang sering dibutuhkan bukan menghilangkan rasa canggung secepat mungkin, tetapi memahaminya. Ketika rasa itu dipahami, ia perlahan kehilangan cengkeramannya. Kamu bisa mulai hadir dengan lebih sadar, bukan untuk menyenangkan semua pihak, tetapi untuk tetap terhubung dengan dirimu sendiri.
Rasa canggung bukan musuh. Ia adalah pesan halus dari bagian dirimu yang pernah harus bertahan dalam situasi sulit. Mendengarkannya dengan lembut sering kali menjadi langkah pertama menuju pertemuan yang lebih tenang, baik dengan orang tua maupun dengan dirimu sendiri.
Ada momen yang bagi sebagian orang terlihat biasa: duduk bersama kedua orang tua di satu ruangan. Mengobrol, makan bersama, atau sekadar hadir dalam satu acara.
Namun setelah perceraian, momen itu bisa berubah menjadi sesuatu yang terasa berat.
Bukan karena tidak ingin bertemu. Bukan karena tidak sayang. Tapi karena ada sesuatu yang sulit dijelaskan—sejenis kecanggungan yang muncul bahkan sebelum pertemuan itu dimulai.
Dan ya, perasaan itu sangat normal.
Setelah perceraian, kedua orang tua tidak lagi hanya dua individu. Mereka menjadi dua dunia yang pernah bertabrakan.
Ketika harus bertemu keduanya dalam satu waktu, tubuh dan pikiran sering kali mengingat:
Meskipun sekarang situasi sudah berbeda, memori itu tidak hilang begitu saja.
Akibatnya, satu ruangan yang seharusnya netral terasa seperti ruang yang penuh potensi ketegangan.
Bahkan jika tidak ada konflik nyata, tubuh tetap bersiap seolah-olah sesuatu bisa terjadi kapan saja.
Salah satu sumber kecanggungan terbesar adalah perasaan harus bersikap dengan benar.
Ketika bersama kedua orang tua, sering muncul pertanyaan-pertanyaan kecil di dalam diri:
Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi di dalam situasi emosional seperti ini, mereka menjadi sangat signifikan.
Karena setiap tindakan terasa memiliki makna.
Dan ketika seseorang merasa setiap gerakannya sedang “dinilai secara emosional,” kecanggungan hampir tidak terhindarkan.
Ada dinamika yang sangat halus tetapi kuat: loyalitas yang terbelah.
Seseorang bisa merasa bahwa ia harus tetap adil, tidak memihak, tidak menunjukkan kedekatan yang berlebihan kepada salah satu pihak.
Namun pada saat yang sama, hubungan emosional dengan masing-masing orang tua tidak selalu sama.
Akibatnya, muncul ketegangan internal:
Ini menciptakan kondisi di mana seseorang terus “mengatur diri” selama pertemuan berlangsung.
Dan ketika terlalu banyak energi digunakan untuk mengatur diri, kehadiran menjadi tidak lagi alami.
Ketika kedua orang tua bertemu dalam satu ruang, percakapan sering kali menjadi sangat hati-hati.
Topik-topik yang aman dipilih:
Namun di balik itu, ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan:
Akibatnya, percakapan terasa “aman” tetapi juga terasa kosong.
Dan di dalam kekosongan itu, kecanggungan tumbuh.
Karena semua orang tahu ada sesuatu yang tidak diucapkan, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana membicarakannya.
Sering kali seseorang berpikir: “Sekarang mereka sudah tidak bertengkar lagi, harusnya aku tidak perlu merasa canggung.”
Namun tubuh tidak bekerja dengan logika seperti itu.
Tubuh menyimpan pengalaman dalam bentuk sensasi:
Ketika berada dalam situasi yang mengingatkan pada masa lalu—seperti melihat kedua orang tua dalam satu ruang—tubuh bisa mengaktifkan kembali perasaan itu.
Bahkan tanpa konflik, tanpa kata-kata keras.
Karena bagi tubuh, situasi itu bukan sepenuhnya baru. Ia terasa familiar, tetapi dengan cara yang tidak nyaman.
Ada seseorang yang menghadiri acara keluarga di mana kedua orang tuanya hadir.
Tidak ada pertengkaran. Semua berjalan baik.
Namun sepanjang acara, ia merasa:
Ketika ditanya, ia tidak bisa menjelaskan dengan jelas apa yang salah.
Karena secara objektif, tidak ada masalah.
Namun secara emosional, ia merasa seperti berada di ruang yang penuh sejarah.
Dan sejarah itu belum sepenuhnya selesai.
Menariknya, kecanggungan ini bukanlah kelemahan.
Ia adalah bentuk perlindungan.
Dengan merasa canggung, seseorang menjadi:
Dalam konteks tertentu, ini adalah cara tubuh menjaga diri.
Karena di masa lalu, mungkin situasi seperti ini pernah berakhir dengan sesuatu yang menyakitkan.
Sehingga sekarang, tubuh memilih untuk tidak terlalu “rileks.”
Kecanggungan adalah cara halus tubuh mengatakan: “Aku belum sepenuhnya merasa aman di sini.”
Ada pengalaman lain yang sering muncul: merasa seperti harus menjadi dua versi diri dalam satu waktu.
Dengan masing-masing orang tua, seseorang mungkin memiliki cara berinteraksi yang berbeda:
Ketika keduanya hadir dalam satu ruang, dua “versi diri” ini bertemu.
Dan itu bisa membingungkan.
Harus menjadi siapa?
Harus bersikap seperti apa?
Ketika tidak ada jawaban yang jelas, kecanggungan muncul sebagai respons alami.
Sering kali, ada harapan diam-diam dalam situasi seperti ini.
Mungkin ada bagian kecil dalam diri yang berharap:
Namun ketika realitas tidak sesuai dengan harapan itu, muncul perasaan janggal.
Bukan hanya karena situasinya, tetapi karena perbedaan antara yang diharapkan dan yang terjadi.
Dan di situlah kecanggungan menjadi semakin terasa.
Yang membuat kecanggungan ini sulit dipahami adalah karena ia sering muncul tanpa alasan yang jelas.
Seseorang bisa berkata:
Ini membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri.
Namun sebenarnya, ini adalah respons yang sangat manusiawi.
Karena perasaan tidak selalu mengikuti logika.
Ia mengikuti pengalaman, memori, dan rasa aman yang terbentuk dari waktu ke waktu.
Bagi sebagian orang, kecanggungan ini perlahan berkurang seiring waktu.
Bagi yang lain, ia tetap ada, hanya berubah bentuk.
Karena setiap pertemuan bukan hanya tentang apa yang terjadi saat itu.
Ia juga tentang:
Dan semua itu tidak berubah dalam satu momen.
Ada pertemuan yang berlangsung tanpa konflik, tanpa kata-kata keras, bahkan mungkin penuh senyum—namun tetap terasa canggung. Dan mungkin yang paling jujur dari semua itu adalah kenyataan bahwa bukan situasinya yang sepenuhnya sulit, tetapi jejak-jejak masa lalu yang masih ikut duduk diam di antara mereka, tidak terlihat, namun terasa.
Rasa canggung yang menyeruak saat harus bertemu dengan kedua orang tua yang telah berpisah bukanlah sebuah anomali emosional, melainkan respons psikologis yang sangat logis terhadap runtuhnya sebuah tatanan dunia kecil yang pernah kita sebut keluarga. Bagi seorang anak, orang tua yang bersama adalah simbol dari keteraturan dan integrasi. Ketika simbol tersebut pecah, setiap upaya untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan itu dalam satu ruang—meski hanya untuk beberapa jam—akan memicu disonansi kognitif yang tajam. Kita merasa canggung karena sistem saraf kita sedang mencoba menavigasi dua realitas yang saling bertabrakan: memori tentang keutuhan masa lalu dan fakta tentang keterasingan masa kini. Kecanggungan itu adalah perisai pelindung yang kita gunakan untuk menutupi ketidaknyamanan saat menyaksikan dua orang yang pernah menjadi satu kesatuan kini bersikap seperti dua kutub yang dipaksa mendekat.
Ada sebuah fragmen observasi yang mendetail tentang fenomena ini: bayangkan sebuah acara wisuda atau pernikahan, di mana kedua orang tua hadir di ruang yang sama. Kita berdiri di tengah, merasakan tarikan gravitasi emosional yang tidak stabil. Ada ketegangan yang menggantung di udara—sebuah frekuensi statis yang hanya bisa dirasakan oleh anak yang tumbuh dalam konflik. Kita memperhatikan bagaimana mereka saling menghindari kontak mata, atau justru bersikap terlalu sopan dengan nada suara yang dibuat-buat. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel dalam karyanya, The Developing Mind, bahwa kesehatan mental manusia sangat bergantung pada integrasi memori dan pengalaman. Saat kita bertemu mereka berdua, otak kita dipaksa untuk mengolah memori masa kecil yang hangat bersamaan dengan memori perceraian yang dingin. Kecanggungan adalah cara otak menyatakan bahwa data-data ini belum sepenuhnya terintegrasi; ada "kabel" emosional yang saling bersinggungan dan menciptakan percikan ketidaknyamanan fisik.
Ketidaknyamanan ini berakar pada hilangnya peran kita sebagai "perekat" atau "penengah". Selama proses perpisahan, banyak dari kita yang secara tidak sadar mengembangkan kepekaan ekstrem terhadap suasana hati orang tua demi kelangsungan hidup emosional. Alice Miller dalam The Drama of the Gifted Child menjelaskan dengan sangat tajam bahwa anak-anak sering kali kehilangan jati diri mereka karena terlalu sibuk menjadi cermin bagi kebutuhan orang tua. Saat bertemu mereka berdua, beban untuk "menjaga suasana agar tetap kondusif" kembali muncul secara otomatis. Kita merasa canggung karena kita merasa bertanggung jawab atas perilaku mereka. Kita cemas jika satu kalimat salah diucapkan, maka fasad kedamaian yang sedang dibangun akan runtuh dan menyeret kita kembali ke dalam trauma masa lalu. Rasa canggung itu adalah bentuk kelelahan dari seorang mediator yang sebenarnya sudah ingin meletakkan jabatannya.
Rasa canggung ini sering kali bermanifestasi secara somatik—dalam bentuk otot yang menegang, tawa yang dipaksakan, atau keinginan kuat untuk segera meninggalkan ruangan. Bessel van der Kolk dalam bukunya, The Body Keeps the Score, menekankan bahwa tubuh kita memiliki memori tersendiri yang jauh lebih jujur daripada pikiran sadar kita. Tubuh mengingat suara teriakan, keheningan yang mencekam, atau langkah kaki yang berat di lorong rumah lama. Saat bertemu kedua orang tua yang berpisah, tubuh kita masuk ke dalam mode hyper-vigilance atau kewaspadaan berlebih. Amigdala di otak kita mendeteksi adanya potensi konflik, meski secara lahiriah mereka mungkin sedang tersenyum. Kita merasa canggung karena sistem biologi kita sedang bersiap menghadapi ancaman yang sebenarnya sudah lewat, namun jejaknya masih membekas dalam sirkuit saraf otonom kita.
Observasi terhadap interaksi ini mengungkap lapisan yang lebih dalam: adanya "triangulasi" yang tidak tuntas. Sering kali, kehadiran kita menjadi satu-satunya alasan mereka berada di ruangan yang sama. Ini menempatkan kita pada posisi yang tidak wajar sebagai titik pusat yang memikul beban sejarah mereka. Kita merasa canggung karena kita merasa harus membagi perhatian secara matematis—berapa lama berbicara dengan pihak satu dan berapa lama dengan pihak lainnya—agar tidak ada yang merasa dianaktirikan atau dikhianati. Gabor Maté dalam In the Realm of Hungry Ghosts sering menyinggung bagaimana stres lingkungan awal dapat menyebabkan seseorang selalu merasa "terpecah" di masa dewasa. Kita merasa canggung karena kita tidak bisa menjadi diri sendiri seutuhnya; kita sedang memainkan peran sebagai "anak yang netral" di atas panggung yang penuh dengan ranjau emosional.
Selain itu, ada faktor kehilangan narasi bersama. Dulu, keluarga adalah sebuah cerita dengan alur yang jelas. Setelah perpisahan, cerita itu bercabang menjadi dua versi yang sering kali saling meniadakan. Saat mereka berdua ada di depan kita, kita diingatkan pada kekosongan dari cerita yang seharusnya utuh. Kita merasa canggung karena kita tidak tahu "bahasa" apa yang harus digunakan. Apakah kita harus membicarakan masa lalu? Ataukah kita harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Ketidaktahuan akan norma sosial dalam konteks keluarga yang pecah inilah yang menciptakan kecanggungan yang membeku. Kita sedang menari di atas lapisan es yang tipis, menyadari bahwa di bawah sana ada kedalaman luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Mengatasi rasa canggung ini memerlukan keberanian untuk melakukan dekonstruksi terhadap tanggung jawab emosional yang selama ini kita pikul. Kita harus mulai menyadari bahwa kita bukan lagi anak kecil yang harus menjaga perasaan orang tua agar dunia kita tidak hancur. Langkah pertama menuju kedewasaan yang berwibawa adalah dengan memberikan izin pada diri sendiri untuk merasa canggung tanpa harus merasa bersalah. Seperti yang diungkapkan oleh Judith Viorst dalam Necessary Losses, pertumbuhan emosional sering kali menuntut kita untuk melepaskan idealisme tentang pertemuan keluarga yang hangat dan menggantinya dengan penerimaan terhadap realitas yang fungsional namun dingin. Kita harus merestui kecanggungan tersebut sebagai bagian dari tekstur hidup kita, bukan sebagai tanda kegagalan diri.
Kedaulatan batin dimulai saat kita berhenti menjadi penengah. Kita harus belajar untuk memisahkan diri secara emosional (differentiation of self) dari konflik atau ketegangan orang tua. Jika mereka merasa tidak nyaman satu sama lain, itu adalah urusan mereka sebagai orang dewasa, bukan tugas kita untuk memperbaikinya. Dengan meletakkan beban "penyelamat", kita memberikan ruang bagi diri kita untuk bernapas. Kita bisa hadir di pertemuan tersebut sebagai individu yang mandiri, bukan sebagai perpanjangan tangan dari duka mereka. Kita melatih diri untuk tetap tenang dengan melakukan teknik grounding—merasakan kaki menapak di lantai, menyadari napas, dan mengingatkan diri sendiri bahwa kita sekarang memiliki kendali atas hidup kita sendiri. Keamanan sejati lahir saat kita menyadari bahwa suasana hati orang tua tidak lagi memiliki kekuatan untuk menghancurkan stabilitas batin kita.
Proses ini juga melibatkan penetapan batasan (boundaries) yang sehat. Kita memiliki hak untuk menentukan berapa lama kita ingin berada dalam situasi tersebut, atau topik apa yang bersedia kita bicarakan. Jika pertemuan tersebut terasa terlalu menyesakkan, kita boleh memberikan jarak. Kita tidak perlu memaksa diri untuk menciptakan keintiman buatan. Kadang-kadang, pertemuan yang singkat, formal, dan berjarak adalah bentuk kasih sayang yang paling bijaksana dalam konteks keluarga yang telah lama terfragmentasi. Kita menghormati sejarah yang ada tanpa harus membiarkan sejarah itu melahap masa kini kita. Dengan menetapkan batasan, kita sedang membangun rumah baru bagi jiwa kita—rumah yang fondasinya bukan lagi ketergantungan, melainkan integritas diri.
Mencapai tahap di mana pertemuan dengan kedua orang tua tidak lagi memicu kecemasan yang melumpuhkan adalah bukti dari kematangan yang sejati. Kita tidak lagi didefinisikan oleh status pernikahan orang tua kita, melainkan oleh bagaimana kita mampu mengintegrasikan luka-luka itu menjadi kebijaksanaan. Wibawa batin muncul ketika kita mampu melihat orang tua kita sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan sejarah trauma mereka sendiri. Kita berhenti menuntut mereka untuk menjadi sempurna, dan dengan demikian, kita berhenti menuntut diri sendiri untuk menjadi anak yang sempurna bagi mereka. Kita menerima bahwa kecanggungan itu mungkin akan selalu ada, namun ia tidak lagi memiliki kuasa untuk mengganggu kedamaian kita.
Kita menjadi "pemutus rantai" (cycle breaker) yang membawa kesadaran akan pentingnya kejujuran emosional. Kita tidak lagi mempraktikkan kepura-puraan yang melelahkan. Jika suasana terasa canggung, kita tidak harus menutupinya dengan obrolan kosong yang dipaksakan. Kita belajar untuk merasa nyaman di dalam ketidaknyamanan tersebut. Wibawa kita lahir dari keberanian untuk tetap hadir secara otentik, meski situasinya tidak ideal. Kita membawa pelajaran berharga ini ke dalam hubungan yang kita bangun sekarang—dengan pasangan, teman, dan anak-anak kita nantinya. Kita memastikan bahwa komunikasi dalam hidup kita didasarkan pada transparansi dan rasa aman, bukan pada ketakutan akan konflik yang dipendam.
Dalam fase ini, kita melihat setiap pertemuan dengan orang tua sebagai latihan untuk memperkuat otot-otot emosional kita. Kita mengamati dinamika yang terjadi tanpa harus terseret ke dalamnya. Kita menjadi saksi yang bijaksana bagi sejarah keluarga kita sendiri. Kita menghargai setiap momen kebaikan yang muncul, sekecil apa pun itu, tanpa mengharapkan kepuasan yang total. Kematangan ini memberikan kita ketenangan yang radikal: kita menyadari bahwa kita telah bertahan melewati badai yang paling besar, dan sekarang, rintik hujan kecanggungan tidak lagi mampu membasahi inti jiwa kita yang sudah kering dan hangat oleh penerimaan diri.
Pada akhirnya, rasa canggung saat bertemu kedua orang tua yang berpisah adalah sebuah pengingat akan ketidakkekalan bentuk-bentuk duniawi. Keluarga, seperti halnya kehidupan, terus berubah dan bermetamorfosis. Kita belajar bahwa kebahagiaan tidak harus ditemukan dalam keutuhan struktural sebuah meja makan, melainkan dalam kedalaman integritas pribadi kita. Kita melepaskan amarah dan harapan yang menyiksa terhadap masa lalu, dan mulai merangkul kebebasan yang ada di masa depan. Kita menyadari bahwa kita bukan lagi bagian dari sebuah unit yang hancur, melainkan individu yang telah berhasil membangun keutuhan baru dari dalam diri sendiri.
Realitas pengasuhan yang gagal memberikan kita perspektif yang unik tentang pentingnya kedaulatan emosional. Kita memahami bahwa orang tua adalah arsitek pertama dari rasa aman kita, namun kitalah yang memegang hak untuk melakukan renovasi total jika arsitektur itu runtuh. Kita menutup babak "anak yang cemas" dan membuka babak "dewasa yang berdaulat". Kita melihat ke depan dengan mata yang jernih, menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa harmonis orang tua kita saat ini, melainkan oleh seberapa besar cinta dan penerimaan yang bisa kita berikan kepada diri kita sendiri.
Kita menutup refleksi ini dengan sebuah keheningan yang penuh rasa syukur. Syukur karena kita telah belajar untuk tetap berdiri tegak di tengah reruntuhan. Syukur karena kita sekarang memiliki kapasitas untuk mencintai tanpa rasa takut akan pengabaian. Kecanggungan itu mungkin tetap akan menyapa kita di pertemuan-pertemuan berikutnya, namun ia akan menyapa kita sebagai kawan lama yang hanya numpang lewat, bukan sebagai penguasa yang mendikte perasaan kita. Kita telah pulang ke dalam diri kita sendiri, dan di sana, di pusat keberadaan kita yang paling dalam, kita menemukan bahwa kedamaian sejati adalah milik mereka yang berani mengakui luka, merawatnya, dan akhirnya melampauinya dengan martabat yang utuh. Kita aman, kita berwibawa, dan kita benar-benar merdeka.
Ada satu momen yang sering terasa sederhana dari luar, tetapi di dalam diri bisa terasa sangat rumit.
Saya pernah mengenal seseorang yang berkata, “Aku tidak takut bertemu mereka. Tapi setiap kali harus berada di satu ruangan dengan keduanya… rasanya aneh. Kaku. Seperti tidak tahu harus jadi siapa.”
Tidak ada pertengkaran saat itu. Tidak ada kata-kata keras. Bahkan secara objektif, pertemuan itu berjalan “baik-baik saja”. Mereka duduk bersama, berbicara secukupnya, lalu pulang.
Namun setelah itu, ia merasa lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lelah yang sulit dijelaskan.
Dan dari pengalaman seperti inilah muncul pertanyaan yang sangat jujur:
“Apakah normal merasa canggung saat harus bertemu kedua orang tua yang sudah berpisah?”
Jawabannya: bukan hanya normal.
Dalam banyak situasi, perasaan canggung itu adalah respons yang sangat masuk akal dari sistem di dalam diri yang sedang mencoba memahami situasi yang secara emosional tidak sederhana.
Sering kali kata “canggung” terdengar ringan, seolah hanya berarti kikuk atau tidak biasa. Namun dalam konteks ini, canggung sering kali adalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ia bisa berisi:
Karena ketika seseorang bertemu kedua orang tua yang telah berpisah, yang hadir di ruangan itu bukan hanya tiga orang.
Yang hadir juga adalah:
Dan semua itu, meskipun tidak dibicarakan, tetap terasa.
Salah satu hal yang sering tidak disadari adalah bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan untuk “membaca” situasi sosial secara otomatis.
Dalam konsep neuroception yang dijelaskan oleh Stephen Porges, sistem saraf terus-menerus memindai lingkungan untuk menentukan apakah situasi aman, netral, atau berpotensi mengancam.
Proses ini terjadi di luar kesadaran.
Artinya, bahkan jika secara logika seseorang tahu bahwa pertemuan itu aman, tubuhnya bisa merespons dengan:
Karena bagi sistem saraf, kehadiran dua orang yang memiliki sejarah konflik bisa menjadi sinyal yang ambigu.
Tidak jelas berbahaya, tetapi juga tidak sepenuhnya aman.
Dan dalam kondisi seperti ini, respons yang paling umum adalah… canggung.
Setelah perceraian, banyak orang secara tidak sadar membangun “dua dunia” yang terpisah.
Satu dunia bersama salah satu orang tua.
Satu dunia lagi bersama yang lainnya.
Masing-masing dunia memiliki dinamika sendiri, cara berbicara sendiri, bahkan suasana emosional yang berbeda.
Ketika harus bertemu keduanya sekaligus, dua dunia ini tiba-tiba bertabrakan.
Dan di titik itu, muncul pertanyaan internal yang sangat halus:
“Bagaimana aku harus bersikap sekarang?”
Apakah harus menjadi versi diri yang sama seperti ketika bersama ibu?
Atau seperti ketika bersama ayah?
Atau mencoba menjadi sesuatu yang netral?
Kebingungan ini sering tidak disadari, tetapi sangat terasa.
Dan dari situlah kecanggungan muncul.
Ada satu dinamika yang sangat kuat dalam situasi seperti ini: loyalitas.
Banyak anak dari orang tua yang bercerai membawa perasaan bahwa mereka harus menjaga keseimbangan antara kedua pihak.
Bahkan ketika tidak ada yang meminta secara langsung, ada sensitivitas yang muncul:
Sehingga setiap kata, setiap ekspresi, terasa seperti harus diatur.
Dan ketika komunikasi tidak lagi bebas, kecanggungan menjadi hampir tidak terhindarkan.
Dalam banyak kasus, pertemuan dengan kedua orang tua juga bisa memicu kembali ingatan lama.
Bukan selalu dalam bentuk flashback yang jelas, tetapi dalam bentuk sensasi:
Bessel van der Kolk, dalam The Body Keeps the Score, menjelaskan bahwa pengalaman emosional masa lalu sering tersimpan dalam tubuh sebagai sensasi, bukan hanya sebagai cerita.
Sehingga ketika seseorang kembali berada dalam situasi yang mirip—misalnya melihat kedua orang tua bersama—tubuh bisa “mengingat” tanpa harus berpikir.
Dan ingatan yang tidak disadari ini bisa muncul sebagai kecanggungan.
Salah satu hal yang sering terjadi dalam pertemuan seperti ini adalah keheningan.
Namun keheningan ini tidak selalu terasa damai.
Kadang, ia terasa “penuh”.
Penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan.
Penuh dengan sejarah yang tidak dibahas.
Penuh dengan pertanyaan yang tidak pernah dijawab.
Dalam situasi seperti ini, bahkan percakapan sederhana bisa terasa berat.
Karena setiap kata seolah harus melewati “lapisan” yang tidak terlihat.
Dan ketika komunikasi harus melewati begitu banyak lapisan, spontanitas menjadi sulit.
Dalam keluarga yang utuh, peran biasanya cukup jelas.
Orang tua sebagai orang tua.
Anak sebagai anak.
Namun setelah perceraian, peran ini bisa menjadi kabur.
Anak mungkin pernah menjadi penenang salah satu orang tua.
Atau menjadi pendengar.
Atau bahkan menjadi “jembatan” antara keduanya.
Ketika bertemu dalam satu ruang, semua peran ini bisa muncul sekaligus.
Dan ini menciptakan kebingungan internal:
“Apakah aku hanya anak di sini?
Atau ada peran lain yang harus aku jalankan?”
Ketika peran tidak jelas, interaksi menjadi tidak stabil. Dan dari situ, kecanggungan tumbuh.
Dalam kondisi sosial yang ambigu, sistem saraf sering memilih mode yang paling aman.
Bukan mode terbuka.
Bukan mode penuh ekspresi.
Tetapi mode yang lebih tertutup dan berhati-hati.
Ini bisa terlihat sebagai:
Dari luar, ini terlihat seperti kecanggungan.
Namun sebenarnya, ini adalah bentuk adaptasi.
Tubuh sedang mencoba menjaga keseimbangan di situasi yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi.
Menariknya, kecanggungan itu sendiri bisa dilihat sebagai bentuk komunikasi.
Ia mengatakan sesuatu tanpa kata-kata:
bahwa situasi ini tidak sederhana,
bahwa ada sejarah yang belum selesai,
bahwa ada bagian dari diri yang masih berhati-hati.
Dan dalam banyak kasus, kecanggungan itu bukan milik satu orang saja.
Ia sering dirasakan oleh semua pihak di ruangan itu.
Hanya saja, tidak ada yang benar-benar mengatakannya.
Ada tekanan sosial yang halus tetapi kuat: bahwa keluarga, meskipun sudah bercerai, seharusnya tetap bisa “baik-baik saja” ketika bertemu.
Namun kenyataannya, hubungan manusia tidak selalu mengikuti standar itu.
Beberapa hubungan membutuhkan waktu.
Beberapa membawa luka yang tidak mudah selesai.
Beberapa hanya bisa berjalan dengan batas tertentu.
Dan dalam konteks seperti ini, kecanggungan bukan kegagalan. Ia adalah refleksi dari kompleksitas yang nyata.
Mungkin kecanggungan itu bukan tanda bahwa ada yang salah dalam dirimu, tetapi tanda bahwa ada banyak hal yang pernah terjadi—dan semuanya hadir, diam-diam, dalam satu ruangan yang sama.
Dan di antara percakapan yang terasa kaku itu, mungkin ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar hilang—
jika semuanya pernah retak, bagaimana rasanya mencoba duduk bersama tanpa tahu harus menjadi siapa.
Notifications