Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya tampak berjalan baik. Ia bekerja, tertawa bersama teman-temannya, dan tidak pernah terlihat membawa masalah yang berat. Namun suatu hari, dalam percakapan yang cukup panjang, ia mengatakan sesuatu yang sederhana tapi terasa sangat dalam: “Aku lebih sering menjauh dari mereka… dan aku merasa seperti anak yang buruk karena itu.”
Kalimat itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya ada lapisan emosi yang kompleks—rasa bersalah, lelah, bingung, bahkan mungkin kehilangan. Dan jika kamu merasakan hal yang sama, ada satu hal yang perlu diletakkan di awal: menjauh bukan selalu berarti salah. Kadang, itu adalah cara tubuh dan pikiran bertahan dari sesuatu yang terasa terlalu berat untuk diproses sekaligus.
Ketika kedekatan berubah menjadi sumber kelelahan
Dalam banyak hubungan keluarga, terutama setelah perceraian, kedekatan tidak lagi terasa sederhana. Ia tidak lagi sekadar tentang pulang, berbincang, atau berbagi cerita. Ia bisa berubah menjadi ruang yang penuh ketegangan yang tidak diucapkan.
Ada emosi yang menggantung. Ada sejarah yang belum selesai. Ada luka yang tidak pernah benar-benar diberi nama.
Dalam kondisi seperti ini, berada di dekat orang tua bisa memicu berbagai respons di dalam tubuh—bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara biologis. Sistem saraf manusia, terutama bagian yang mengatur respons stres seperti hipotalamus dan amigdala, akan bereaksi terhadap situasi yang dianggap “mengancam”, meskipun ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.
Itulah sebabnya, beberapa orang merasa lelah tanpa alasan yang jelas setelah bertemu orang tua mereka pasca perceraian. Atau merasa cemas sebelum pulang ke rumah. Atau merasa kosong setelah percakapan yang tampaknya biasa saja.
Tubuh tidak hanya merespons apa yang terjadi sekarang, tetapi juga apa yang pernah terjadi.
Dan ketika sistem ini terus-menerus aktif, menjauh menjadi semacam mekanisme alami untuk menenangkan diri.
Menjauh sebagai bentuk perlindungan, bukan penolakan
Sering kali, menjauh disalahartikan sebagai bentuk penolakan atau ketidakpedulian. Padahal dalam banyak kasus, justru sebaliknya.
Menjauh bisa menjadi cara seseorang menjaga agar hubungannya tidak semakin rusak. Karena ketika seseorang terus memaksakan diri berada dalam situasi yang membuatnya tertekan, yang muncul bukan kedekatan, tetapi iritasi, kelelahan, bahkan kemarahan yang tidak terkontrol.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang mengatakan, “Kalau aku terlalu sering bertemu mereka, aku jadi gampang emosi. Aku tidak suka versi diriku yang seperti itu.”
Dalam konteks ini, menjauh bukan tentang menghindari orang tua, tetapi tentang menghindari versi diri yang muncul ketika berada dalam situasi yang belum siap dihadapi.
Kadang, jarak justru menjadi cara untuk menjaga agar hubungan tidak hancur lebih jauh.
Rasa bersalah yang diam-diam menggerogoti
Namun, menjauh hampir selalu diiringi dengan rasa bersalah. Ini adalah bagian yang paling berat.
Dalam banyak budaya, termasuk budaya kita, ada nilai yang sangat kuat tentang berbakti kepada orang tua. Nilai ini begitu dalam sehingga bahkan ketika seseorang sedang berjuang secara emosional, ia tetap merasa harus hadir, harus dekat, harus “baik”.
Ketika kenyataannya tidak seperti itu—ketika seseorang memilih untuk menjaga jarak—muncul konflik internal yang sangat tajam.
Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga diri. Di sisi lain, ada suara yang mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang salah.
Konflik ini tidak hanya terjadi di level pikiran, tetapi juga di level biologis. Penelitian dalam bidang neuropsikologi menunjukkan bahwa rasa bersalah dan konflik moral dapat mengaktifkan area otak seperti anterior cingulate cortex, yang berperan dalam memproses konflik dan rasa tidak nyaman emosional (Bush et al., 2000).
Itulah sebabnya, rasa bersalah tidak hanya terasa sebagai pikiran, tetapi juga sebagai sensasi fisik—dada yang terasa berat, perut yang tidak nyaman, atau perasaan gelisah yang sulit dijelaskan.
Dan semakin seseorang mencoba mengabaikannya, sering kali rasa itu justru semakin kuat.
Ketika peran anak berubah tanpa disadari
Ada dinamika lain yang sering muncul setelah perceraian: perubahan peran.
Dalam beberapa keluarga, anak—baik secara halus maupun eksplisit—mulai mengambil peran emosional yang lebih besar. Menjadi tempat curhat, menjadi penenang, bahkan menjadi “penjaga keseimbangan” di antara kedua orang tua.
Fenomena ini dikenal sebagai parentification, di mana batas antara peran orang tua dan anak menjadi kabur.
Awalnya, ini mungkin terasa seperti bentuk kedekatan. Namun dalam jangka panjang, ini bisa menjadi beban yang sangat berat. Karena seseorang dipaksa untuk memikul emosi yang sebenarnya bukan miliknya.
Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Aku merasa kalau aku tidak ada, mereka akan lebih hancur.”
Kalimat ini terdengar seperti tanggung jawab yang besar. Tapi di baliknya, ada kelelahan yang tidak terlihat.
Dan dalam kondisi seperti ini, menjauh bisa menjadi satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari peran yang terlalu berat.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak lagi sanggup menanggung semuanya.
Jarak sebagai ruang untuk membangun ulang diri
Ada satu hal yang sering tidak disadari: setelah perceraian orang tua, bukan hanya hubungan keluarga yang berubah, tetapi juga cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul: Siapa aku dalam keluarga ini sekarang? Di mana tempatku? Apa yang berubah dari diriku?
Menjauh, dalam beberapa kasus, menjadi ruang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebuah ruang untuk bernapas, untuk memproses, untuk memahami ulang identitas diri tanpa tekanan dari dinamika keluarga yang kompleks.
Dalam literatur tentang perkembangan psikologis, terutama dalam karya Erik Erikson, fase pencarian identitas adalah bagian penting dari kehidupan. Namun ketika terjadi peristiwa besar seperti perceraian orang tua, proses ini bisa menjadi lebih rumit.
Dan terkadang, jarak bukanlah pelarian, tetapi bagian dari proses pencarian.
Namun, ada sesuatu yang perlu dilihat dengan jujur
Meskipun menjauh bisa menjadi bentuk perlindungan, ada satu hal yang perlu dilihat dengan hati-hati: apakah jarak itu membantu, atau justru memperpanjang luka?
Karena ada perbedaan antara menjauh untuk menyembuhkan dan menjauh untuk menghindar.
Menjauh untuk menyembuhkan biasanya diiringi dengan proses internal—memahami perasaan, mencoba menerima, perlahan membangun ulang cara berhubungan.
Sedangkan menjauh untuk menghindar sering kali terasa seperti membeku. Tidak ada pemrosesan, hanya penundaan.
Dalam beberapa kisah yang pernah saya dengar, ada yang mengatakan bahwa semakin lama ia menjauh, semakin sulit baginya untuk kembali. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena jarak itu sendiri mulai terasa seperti tembok.
Dan tanpa disadari, yang awalnya perlindungan bisa berubah menjadi keterasingan.
Hubungan tidak selalu harus dekat untuk tetap berarti
Ada satu asumsi yang sering kita pegang tanpa disadari: bahwa hubungan yang baik harus selalu dekat, intens, dan sering.
Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Dalam beberapa situasi, hubungan yang sehat justru membutuhkan jarak. Bukan jarak yang memutus, tetapi jarak yang memberi ruang.
Karena tidak semua hubungan bisa langsung kembali utuh setelah mengalami retakan besar. Beberapa membutuhkan waktu yang panjang. Beberapa mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Dan itu bukan selalu kegagalan.
Kadang, bentuk hubungan yang baru—yang lebih tenang, lebih sederhana, meskipun tidak terlalu dekat—justru adalah bentuk yang paling realistis untuk saat ini.
Sebuah refleksi yang sering tertinggal
Saya teringat pada satu kalimat yang diucapkan dengan sangat pelan oleh seseorang dalam sebuah percakapan yang panjang: “Aku kira menjauh itu berarti aku tidak sayang… tapi ternyata aku hanya sedang mencoba bertahan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang sangat jujur.
Sering kali, kita menilai diri kita sendiri dengan standar yang terlalu keras. Menganggap bahwa cinta harus selalu hadir dalam bentuk kedekatan. Bahwa menjadi anak yang baik berarti selalu ada, selalu dekat, selalu kuat.
Padahal kenyataannya, manusia memiliki batas. Tubuh memiliki cara sendiri untuk mengatakan “cukup”. Dan tidak semua bentuk cinta terlihat seperti yang selama ini kita bayangkan.
Mungkin, di tengah semua ini, pertanyaannya bukan lagi tentang benar atau salah.
Tetapi tentang apakah jarak yang kamu ambil adalah bentuk kehilangan… atau justru cara paling jujur yang saat ini bisa kamu lakukan untuk tetap bertahan tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Referensi
American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: APA Publishing, 2022.
Siegel, D. J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. New York: Guilford Press, 2012.
Perry, B. D., & Szalavitz, M. The Boy Who Was Raised as a Dog: And Other Stories from a Child Psychiatrist’s Notebook. New York: Basic Books, 2006.
Minuchin, S. Families and Family Therapy. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1974.
Hetherington, E. M., & Kelly, J. For Better or For Worse: Divorce Reconsidered. New York: W.W. Norton & Company, 2002.
Bush, G., Luu, P., & Posner, M. I. (2000). “Cognitive and emotional influences in anterior cingulate cortex.” Trends in Cognitive Sciences, 4(6), 215–222.
Erikson, E. H. Identity: Youth and Crisis. New York: W.W. Norton & Company, 1968.