Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Yang Menyebabkan Orang Menjadi Narsistik?

DI Dianti Shakila Basagita 6 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
24

Narsisme adalah cinta diri sendiri yang sangat ekstrim, paham yang menganggap diri sendiri sangat superior dan sangat penting ada extreme self-impotency (Kartono, 2000). Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis.

(Adi & Yudiati, 2009) Memaparkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi narsistik antara lain harga diri, konsep diri, kesepian dan kecemburuan atau iri hati. Sedangkan (Dalam Widyastuti, 2017) Fitri Apsari menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi narsistik diantaranya,:

  1. Faktor biologis, secara gangguan narsistik lebih banyak dialami oleh individu yang orang tuanya penderita neurotik. Hal ini terjadi karena adanya gen pada anak dari orang tua. Selain itu jenis kelamin, usia, fungsi hormonal dan struktur-struktur fisik lainnya ternyata berhubungan dengan narsistik.
  2. Faktor psikologis, narsistik terjadi karena tingkat aspirasi yang tidak realistis atau berkurangnya penerimaan terhadap diri sendiri.
  3. Faktor sosiologis, narsistik yang dialami oleh golongan tertentu di suatu masyarakat dilihat dari kesesuaian pada konteks norma daerah masing-masing.

sumber :

Kartono, K. (2000). Hygiene Mental. Jakarta: CV. Mandar Maju.

Adi & Yudiati. (2009). Harga Diri dan Kecenderungan Narsisme pada Pengguna Friendster. Jurnal Psikologi Vol 03, hlm. 25-32.

Widyastuti, F. (2017). PERBEDAN TINGKAT KECENDERUNGAN NARSISTIK PADA SISWA INTROVERT DAN EKSTROVERT DI SMA PIRI 1 YOGYAKARTA. E-Journal Bimbingan dan Konseling Edisi 3 Tahun ke-6.

Narsistik adalah pola kepribadian yang didominasi oleh perasaan bahwa dirinya hebat, senang dipuji dan dikagumi serta tidak adanya rasa empati. Kepribadian narsistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang sangat penting serta merupakan individu yang unik. Orang narsistik cenderung selalu meminta umpan balik terhadap hal-hal yang telah dikerjakannya, selalu menilai penampilannya, suka memperkirakan bahwa perilaku-perilakunya selalu bersifat positif. Terdapat berbagai faktor penyebab seseorang cenderung menjadi narsistik, antara lain faktor keturunan dan faktor lingkungan. Narsistik biasanya timbul akibat dari pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali dari individu lain. Penyebab lainnya adalah adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurangnya bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol diri / moral yang kuat, dan kurang rasional  (Swastika, 2017).

Referensi:

Swastika, A. A. (2017). HUBUNGAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU NARSISTIK REMAJA PUTRI PRESENTER BIGO LIVE DI SURABAYA. Thesis.

Narsisme sering dipandang sekadar sebagai sifat ingin menonjol atau egosentris, tapi kenyataannya jauh lebih kompleks daripada stereotip media populer yang menempel pada istilah itu. Seseorang yang terlihat narsistik di permukaan—selalu ingin diperhatikan, mencari pengakuan, dan tampak percaya diri—sering kali menyembunyikan kerentanan emosional yang dalam, yang justru menjadi akar dari perilaku mereka. Fenomena ini tidak muncul begitu saja; ada interaksi rumit antara faktor biologis, psikologis, dan sosial yang membentuk pola narsistik.

Salah satu faktor utama berasal dari pola asuh dan pengalaman masa kecil. Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa ketika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang tidak konsisten—misalnya, kasih sayang yang diberikan secara berlebihan namun tidak autentik, atau sebaliknya, kekurangan perhatian dan pengabaian emosional—anak dapat belajar membangun “topeng” sebagai mekanisme bertahan. Dalam pengalaman nyata, saya pernah melihat seorang individu yang selalu tampil flamboyan dan percaya diri di usia dewasa, namun saat dibawa kembali pada kisah masa kecilnya, terungkap bahwa ia sering merasa diabaikan oleh orang tuanya, atau hanya dicintai ketika memenuhi harapan tertentu. Topeng narsistik ini bukan sekadar ego yang besar, tetapi cara untuk menutupi rasa tidak aman yang mendalam.

Selain pola asuh, biologis dan genetika juga memegang peran. Studi neuropsikologi dan psikologi klinis menunjukkan adanya hubungan antara struktur otak tertentu dan perilaku narsistik. Misalnya, area prefrontal cortex yang berperan dalam regulasi emosi dan empati, ketika mengalami disfungsi atau perkembangan yang berbeda, dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merasakan empati secara mendalam, sehingga cenderung lebih fokus pada diri sendiri. Namun, genetika bukan penentu tunggal; ia berinteraksi dengan lingkungan—anak dengan kecenderungan biologis tertentu masih bisa berkembang menjadi pribadi yang sehat jika mendapatkan dukungan emosional yang stabil.

Faktor sosial juga tak kalah penting. Budaya yang menekankan prestasi, status, dan citra diri, seperti masyarakat modern yang sangat terhubung melalui media sosial, dapat memperkuat perilaku narsistik. Ketika individu merasa bahwa nilai mereka hanya diukur dari pencapaian atau pengakuan eksternal, mereka belajar bahwa perhatian, pujian, dan validasi orang lain menjadi kebutuhan vital. Saya pernah menyaksikan fenomena ini pada remaja yang terus-menerus membandingkan diri dengan influencer di media sosial. Mereka menginternalisasi standar yang tak realistis, yang kemudian memperkuat perilaku narsistik: “Saya harus terlihat sempurna agar dihargai.” Dalam konteks ini, narsisme menjadi adaptasi terhadap tekanan sosial dan ekspektasi lingkungan.

Tidak kalah penting adalah trauma dan pengalaman negatif yang membentuk defensif emosional. Individu yang pernah mengalami penolakan, pengkhianatan, atau pelecehan emosional kadang mengembangkan narsisme sebagai mekanisme pertahanan. Dengan membangun citra diri yang superior atau tidak mudah tersentuh secara emosional, mereka mencoba melindungi diri dari luka lama. Dalam praktik observasi, saya menemui orang dewasa yang tampak arogan dan dominan dalam interaksi sosial, namun ketika cerita masa lalunya diungkap perlahan, terungkap ketakutan mendalam akan penolakan. Narsisme dalam kasus ini bukan sekadar sifat egois, tetapi benteng psikologis terhadap luka emosional yang belum terselesaikan.

Selain itu, kepribadian narsistik juga terkait dengan kebutuhan akan kontrol dan dominasi. Teori psikologi kepribadian menyebut bahwa individu narsistik sering memiliki internalisasi rendah terhadap self-esteem mereka; mereka mencari validasi eksternal untuk menutupi kerentanan internal. Dalam pengalaman nyata, banyak orang yang tampak percaya diri dan berpengaruh, tapi sebenarnya setiap kegagalan atau kritik memicu kecemasan dan kemarahan yang luar biasa. Pola ini berbeda dari percaya diri sehat; ia selalu tergantung pada pengakuan eksternal. Sejatinya, narsisme bisa dilihat sebagai fragmen dari kerentanan batin yang sangat ingin dilindungi.

Interaksi faktor-faktor ini sering kali tidak linear. Misalnya, seorang anak dari keluarga hangat namun terlalu menekankan prestasi akademik dapat mengembangkan narsisme adaptif, yang muncul sebagai ambisi tinggi dan orientasi pada pencapaian. Berbeda dengan narsisme patologis, narsisme adaptif bisa membantu individu mencapai tujuan tanpa merusak hubungan interpersonal. Inilah alasan mengapa dalam literatur psikologi kita sering membedakan antara “healthy narcissism” dan “pathological narcissism”. Healthy narcissism memungkinkan individu mempertahankan harga diri dan ketahanan mental, sementara pathological narcissism cenderung menimbulkan konflik interpersonal dan distress psikologis.

Pengaruh media dan teknologi modern juga tidak bisa diabaikan. Dalam era media sosial, narsisme sering dipicu oleh validasi instan melalui like, komentar, dan followers. Fenomena ini memperkuat kebutuhan untuk tampil superior, selalu diperhatikan, dan menonjol di mata orang lain. Saya pernah mengamati kelompok remaja yang hampir setiap hari membandingkan konten diri mereka dengan teman-temannya; ketika mereka tidak mendapatkan respons yang diharapkan, rasa cemas dan frustrasi meningkat. Ini menunjukkan bahwa narsisme tidak hanya muncul dari faktor internal, tetapi juga dari lingkungan digital yang menyediakan umpan balik sosial secara terus-menerus.

Dalam konteks klinis, narsisme sering memunculkan dilema psikologis yang rumit. Individu yang narsistik mungkin sukses di bidang profesional atau sosial, namun sering kesulitan membentuk hubungan yang intim dan empatik. Di sinilah narsisme menjadi paradoks: ia tampak kuat di permukaan, namun rapuh di bawahnya. Saya pernah menyaksikan seorang profesional muda yang tampak dominan di kantor, namun hubungannya dengan keluarga dan pasangan penuh ketegangan karena ketidakmampuan untuk menerima kritik dan berbagi emosi secara autentik. Hal ini menunjukkan bahwa narsisme bukan sekadar perilaku yang bisa dikendalikan dengan niat; ia merupakan pola psikologis yang kompleks, berakar dari pengalaman hidup, biologis, dan sosial.


Referensi:

  • Kernberg, O. F. (2016). The treatment of patients with borderline personality organization and narcissistic personality disorder. Journal of Personality Disorders, 30(6), 750–774.
  • Pincus, A. L., & Lukowitsky, M. R. (2010). Pathological narcissism and narcissistic personality disorder. Annual Review of Clinical Psychology, 6, 421–446.
  • Miller, J. D., & Campbell, W. K. (2008). Comparing clinical and social-personality conceptualizations of narcissism. Journal of Personality, 76(3), 449–476.
  • Ronningstam, E. (2005). Identifying and understanding the narcissistic personality. Oxford University Press.

Mungkin, ketika kita memahami narsisme, kita mulai melihat bahwa perilaku yang tampak egois atau sombong itu sering kali adalah permukaan dari luka, kerentanan, dan kebutuhan manusiawi yang sangat mendasar—untuk dicintai, diterima, dan dihargai. Dan di balik topeng itu, ada narasi manusia yang rapuh, yang sebenarnya ingin dimengerti, bukan sekadar dikagumi.

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan narsisme. Seorang kenalan yang tampak sangat percaya diri dan selalu menjadi pusat perhatian ternyata, di balik tampilan itu, menyimpan rasa takut ditolak dan tidak berharga. Dia selalu membutuhkan pengakuan, pujian, dan validasi dari orang lain untuk merasa aman. Di permukaan, ia tampak sombong dan dominan, tetapi itu hanyalah topeng yang menyembunyikan kerentanan yang dalam. Kisah ini menjadi pengingat bahwa narsisme bukan sekadar soal ego berlebihan; ia sering lahir dari luka psikologis yang mendalam dan cara individu mencoba melindungi diri dari rasa sakit emosional.

Dari perspektif kesehatan mental, narsisme biasanya muncul karena kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Secara neurobiologis, beberapa penelitian menunjukkan bahwa struktur otak dan neurotransmitter tertentu dapat memengaruhi regulasi emosi, empati, dan pengolahan reward, yang bisa terkait dengan sifat narsistik (Fan et al., 2011). Otak seseorang yang mengalami ketidakseimbangan dalam sistem reward atau empati mungkin lebih mudah mencari validasi eksternal dan menekankan pencitraan diri. Misalnya, pada beberapa individu, amigdala dan prefrontal cortex yang berperan dalam pemrosesan emosi dan kontrol impuls menunjukkan aktivitas berbeda dibanding orang dengan regulasi emosi sehat, yang dapat membuat mereka lebih mudah bereaksi defensif terhadap kritik.

Namun, faktor biologis saja tidak cukup menjelaskan munculnya narsisme. Lingkungan dan pengalaman masa kanak-kanak memiliki peran besar. Pengalaman ditolak, diabaikan, atau terlalu dimanjakan oleh orang tua dapat menjadi dasar terbentuknya pola narsistik. Dalam kasus yang pernah saya perhatikan, seorang individu yang tampak sangat berani dan percaya diri sejak remaja ternyata tumbuh dalam keluarga di mana cinta dan perhatian selalu diberikan hanya jika ia berhasil memenuhi ekspektasi tertentu. Ia belajar bahwa nilai dirinya bergantung pada prestasi atau pujian orang lain, bukan pada siapa dirinya yang sebenarnya. Pola ini sering menimbulkan rasa tidak aman yang disamarkan dengan sikap arogan atau mencari pengakuan terus-menerus.

Selain itu, budaya dan norma sosial juga memengaruhi perkembangan narsisme. Masyarakat yang sangat menekankan pencapaian, penampilan, atau status sosial cenderung mendorong individu untuk menginternalisasi ide bahwa nilai diri harus terlihat dari luar. Dalam konteks ini, narsisme bisa menjadi adaptasi—cara seseorang mencoba bertahan dan merasa relevan di dunia yang kompetitif dan terkadang dingin. Banyak penelitian dalam psikologi sosial mendukung pandangan ini, menunjukkan bahwa eksposur terhadap tekanan sosial yang intens dan kompetisi dapat meningkatkan perilaku narsistik, terutama pada individu yang sudah memiliki kecenderungan biologis atau pengalaman masa kecil yang rentan.

Ada juga dimensi psikodinamik yang menarik. Narsisme sering dianggap sebagai mekanisme pertahanan terhadap rasa malu, ketidakamanan, atau trauma emosional. Orang narsistik cenderung menggunakan citra diri yang ideal untuk melindungi ego mereka dari pengalaman emosional yang menyakitkan. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin menampilkan kesombongan atau superioritas ketika merasa terancam, bukan karena benar-benar merasa lebih baik, tetapi sebagai cara melindungi diri dari rasa sakit internal. Konsep ini dijelaskan dalam teori Kohut tentang self-psychology, yang menekankan bahwa narsisme muncul ketika self seseorang tidak mendapatkan pengakuan dan validasi yang cukup pada masa perkembangan.

Dalam pengamatan klinis, tanda-tanda narsisme dapat sangat bervariasi, mulai dari keinginan terus-menerus untuk pujian, kesulitan menerima kritik, empati yang terbatas, hingga hubungan interpersonal yang superfisial atau manipulatif. Namun, di balik semua perilaku ini, sering ada rasa takut ditolak, cemas, dan rentan secara emosional yang jarang terlihat. Sebagai contoh, saya pernah mendengar kisah seseorang yang selalu tampil percaya diri di kantor, tapi di rumah ia mengalami kecemasan hebat dan depresi ketika tidak mendapat pengakuan dari rekan kerja atau keluarga. Perilaku narsistik itu bukan sekadar ego berlebihan, melainkan upaya bertahan menghadapi rasa tidak aman yang dalam.

Faktor genetik juga memberikan kontribusi, meskipun tidak deterministik. Studi kembar menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas narsisme dapat dijelaskan oleh faktor genetik, yang berinteraksi dengan lingkungan untuk membentuk pola perilaku narsistik. Dengan kata lain, seseorang mungkin memiliki kerentanan biologis, tetapi lingkungan yang suportif, pengasuhan yang sehat, dan pengalaman hidup yang stabil dapat meminimalkan munculnya perilaku narsistik ekstrem. Sebaliknya, trauma atau pengabaian masa kecil dapat memperkuat kecenderungan ini.

Selain itu, media sosial dan budaya digital modern juga menjadi arena yang memfasilitasi narsisme. Platform yang menekankan pencitraan diri, popularitas, dan validasi melalui like atau komentar dapat memperkuat perilaku narsistik. Individu yang sudah memiliki kecenderungan narsistik akan lebih mudah menekankan citra diri mereka, mencari perhatian, dan merasa bahwa nilai diri mereka tergantung pada respons eksternal. Ini bukan hanya teori; saya pernah mendengar kisah seorang remaja yang mengalami kecemasan dan depresi karena perbandingan sosial yang terus-menerus di media sosial, yang kemudian memunculkan perilaku narsistik sebagai cara mempertahankan harga diri.

Namun, penting diingat bahwa narsisme bukan sekadar “keegoisan” atau “kesombongan.” Ini adalah fenomena psikologis kompleks yang melibatkan pertahanan diri, pengalaman masa lalu, dan interaksi dengan lingkungan sosial dan biologis. Orang narsistik seringkali tidak menyadari kerentanan mereka sendiri, sehingga perilaku mereka bisa sulit dipahami oleh orang lain. Kesadaran ini penting, karena ketika kita melihat seseorang dengan perilaku narsistik, kita tidak hanya melihat ego yang besar, tetapi juga rasa takut dan luka emosional yang mungkin tersembunyi di balik permukaan.

Dalam refleksi saya, pertanyaan yang muncul bukan hanya “mengapa seseorang menjadi narsistik?” tetapi juga: bagaimana kita memahami dan merespons perilaku yang tampak egois atau dominan tanpa mengabaikan kompleksitas psikologis yang ada di baliknya? Menyadari bahwa narsisme adalah hasil interaksi antara biologi, pengalaman, dan budaya memberi kita perspektif yang lebih empatik, meskipun tetap penting menjaga batas sehat dalam hubungan interpersonal. Dalam dunia yang sering menekankan pencapaian dan citra diri, pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa setiap perilaku, sekasar atau setegas apapun, seringkali lahir dari luka dan upaya bertahan yang tak terlihat.

Referensi:

  • Fan, Y., et al. (2011). Brain structure and personality traits: A voxel-based morphometry study. Brain Research, 1381, 1–7.
  • Kohut, H. (1977). The Restoration of the Self. International Universities Press.
  • Campbell, W.K., & Miller, J.D. (2011). The Handbook of Narcissism and Narcissistic Personality Disorder. Wiley.
  • Twenge, J.M., & Campbell, W.K. (2009). The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement. Free Press.