Orang yang sudah mengalami depresi berarti tingkat tekanan dalam kehidupannya sudah sangat berat bagi dirinya. Bahkan banyak orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang depresi. Mengapa seseorang bisa menjadi depresi?
Depresi adalah sesuatu yang sering kali muncul secara diam-diam, perlahan-lahan menggerogoti perasaan, pikiran, dan energi seseorang. Tidak ada satu penyebab tunggal yang bisa menjelaskan mengapa seseorang menjadi depresi, karena kondisi ini muncul dari interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Depresi bukan sekadar kesedihan yang berlarut-larut, melainkan sebuah kondisi yang memengaruhi cara seseorang melihat dirinya, dunia, dan masa depan.
1. Faktor Biologis dan Genetik
Salah satu elemen penting yang memengaruhi depresi adalah faktor biologis dan genetik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan neurotransmiter di otak—seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin—dapat meningkatkan risiko depresi. Neurotransmiter ini berperan dalam mengatur suasana hati, motivasi, dan energi. Ketika keseimbangan kimiawi ini terganggu, seseorang bisa lebih rentan mengalami gejala depresi.
Selain itu, riwayat keluarga juga memengaruhi risiko. Individu yang memiliki anggota keluarga dekat dengan depresi atau gangguan mood lainnya memiliki probabilitas lebih tinggi mengalami depresi sendiri. Ini bukan sekadar soal genetika, tetapi juga cara keluarga memengaruhi pola coping dan persepsi diri sejak masa kecil.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya pernah menyaksikan seseorang yang tumbuh dalam keluarga dengan kecenderungan mood yang labil. Ia sering kali merasa “terprogram” untuk menginternalisasi kesedihan, dan ketika tantangan hidup datang, rasa putus asa muncul lebih cepat dibanding teman-temannya.
2. Faktor Psikologis: Pola Pikir dan Trauma Masa Lalu
Selain faktor biologis, psikologi individu memainkan peran penting. Depresi sering muncul dari pola pikir negatif yang berulang, seperti menganggap diri sendiri tidak berharga atau mengantisipasi kegagalan dalam segala hal. Teori kognitif dari Aaron T. Beck menjelaskan bahwa depresi dapat diperkuat oleh “cognitive triad”: pandangan negatif tentang diri sendiri, dunia, dan masa depan. Ketika seseorang terus-menerus melihat segala sesuatu melalui lensa pesimis, risiko depresi meningkat.
Pengalaman masa lalu juga memengaruhi. Trauma, kehilangan orang yang dicintai, kekerasan emosional atau fisik, hingga pengabaian pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan bekas yang mendalam. Saya pernah menemui seseorang yang setiap kali menghadapi konflik interpersonal, langsung merasa tidak berharga dan putus asa. Pengalaman masa kecilnya yang sering diabaikan membuatnya menginternalisasi rasa takut akan ditolak, dan ini menjadi pemicu depresi di usia dewasa.
Yang menarik, depresi tidak selalu muncul setelah peristiwa traumatis besar. Kadang, akumulasi pengalaman kecil yang terus-menerus menekan seseorang—seperti kritik berulang, kegagalan beruntun, atau isolasi sosial—dapat menjadi pemicu yang sama kuatnya.
3. Faktor Lingkungan dan Sosial
Kondisi lingkungan dan sosial juga berperan. Tekanan pekerjaan, hubungan yang tidak sehat, kesepian, atau perubahan hidup signifikan seperti pindah kota atau kehilangan pekerjaan dapat memicu depresi. Rasa ketidakmampuan menghadapi tuntutan lingkungan sering kali lebih penting daripada masalah itu sendiri.
Seseorang yang saya kenal merasa tertekan karena tuntutan pekerjaan yang tinggi dan harapan keluarga yang tidak realistis. Meskipun secara objektif ia cukup kompeten, tekanan konstan membuatnya merasa gagal, tidak berharga, dan akhirnya jatuh ke dalam depresi. Ini menunjukkan bahwa depresi bukan sekadar soal “tidak kuat” atau “lemah,” tetapi tentang interaksi antara tuntutan eksternal dan kemampuan internal menghadapi tekanan.
4. Hubungan dengan Pola Hidup
Gaya hidup juga berdampak. Kurang tidur, pola makan yang buruk, isolasi sosial, atau kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk gejala depresi. Saat seseorang tidak memberi nutrisi yang cukup untuk tubuh dan otak, stres menjadi lebih sulit ditangani, dan mood negatif menjadi lebih dominan. Bahkan aktivitas sederhana seperti olahraga ringan atau paparan sinar matahari dapat membantu menstimulasi hormon yang memperbaiki suasana hati, sehingga ketika hal ini diabaikan, seseorang lebih rentan mengalami depresi.
5. Kombinasi Faktor yang Bersifat Interaktif
Penting untuk memahami bahwa depresi jarang muncul hanya dari satu faktor. Seringkali, itu adalah interaksi antara genetika, psikologi, pengalaman hidup, dan lingkungan. Misalnya, seseorang mungkin memiliki predisposisi genetik terhadap depresi, tetapi tidak pernah mengalaminya sampai menghadapi kehilangan besar atau tekanan sosial berat. Di sisi lain, seseorang tanpa riwayat keluarga depresi pun bisa mengalami depresi jika tekanan hidup terlalu tinggi dan mekanisme coping lemah.
Ini menjelaskan mengapa depresi terasa berbeda pada setiap individu. Ada yang muncul perlahan, ada yang tiba-tiba; ada yang lebih dominan dengan gejala fisik seperti kelelahan dan gangguan tidur, ada yang lebih banyak mengalami perubahan emosional dan perilaku. Depresi adalah pengalaman yang sangat personal, meskipun ada pola umum yang bisa diidentifikasi.
6. Pemahaman yang Lebih Dalam: Depresi Sebagai Sinyal
Jika kita melihat depresi bukan hanya sebagai penyakit, tetapi juga sebagai sinyal, kita bisa mulai memahami maknanya. Depresi bisa menjadi tanda bahwa ada ketidakseimbangan dalam kehidupan seseorang, baik secara fisik, psikologis, atau sosial. Ia mengingatkan kita bahwa sesuatu di dalam atau di sekitar kita membutuhkan perhatian, perawatan, dan kadang, perubahan.
Seseorang yang saya kenal menggambarkan depresi sebagai “alarm internal” yang terus berbunyi, memberi tahu bahwa cara hidupnya, relasinya, dan cara ia memandang dirinya sendiri sudah tidak sehat. Dengan pemahaman ini, depresi bisa dilihat sebagai permulaan dari proses introspeksi dan pertumbuhan, bukan sekadar hukuman atau kelemahan.
7. Refleksi Psikologis
Mengapa orang menjadi depresi bukanlah pertanyaan sederhana dengan jawaban tunggal. Ia adalah hasil dari interaksi kompleks antara tubuh, pikiran, pengalaman, dan lingkungan. Yang terlihat jelas adalah bahwa depresi bukan kesalahan individu—tidak ada yang “menyebabkannya” dalam arti moral. Ia adalah kondisi yang menuntut pengertian, empati, dan perhatian, bukan stigma atau rasa malu.
Dalam hidup, kita semua memiliki kapasitas untuk menghadapi kesedihan dan tekanan, tetapi kapasitas itu tidak selalu cukup menghadapi gelombang besar depresi. Depresi mengingatkan kita tentang keterbatasan manusia, dan sekaligus tentang kekuatan yang muncul ketika kita belajar mendengarkan diri sendiri, memberi ruang pada perasaan, dan mencari jalan untuk kembali terhubung dengan kehidupan.
Referensi:
- Beck, A. T. (1979). Cognitive Therapy of Depression. New York: Guilford Press.
- Alloy, L. B., Abramson, L. Y., & Hyde, J. S. (2006). The Temple-Wisconsin Cognitive Vulnerability to Depression Project: Conceptual Overview. Journal of Clinical Psychology, 62(12), 1351–1363.
- Hammen, C. (2005). Stress and Depression. Annual Review of Clinical Psychology, 1, 293–319.
- Nolen-Hoeksema, S. (2000). The Role of Rumination in Depressive Disorders and Mixed Anxiety/Depressive Symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511.
Depresi adalah perjalanan yang tidak terlihat oleh orang lain, tetapi setiap langkah yang diambil untuk memahami diri sendiri adalah langkah menuju pemulihan. Ia mengingatkan bahwa merawat pikiran dan emosi adalah bagian dari seni menjadi manusia, yang kadang penuh luka, tetapi juga penuh kemungkinan untuk menemukan kembali cahaya.
Depresi bukanlah sekadar perasaan sedih yang datang dan pergi; ia adalah kondisi kompleks yang melibatkan interaksi rumit antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Banyak orang sering bertanya mengapa beberapa individu tampak “jatuh” ke dalam depresi, sementara orang lain dengan tekanan hidup yang serupa tampak mampu bertahan. Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana, karena depresi adalah hasil dari rangkaian proses yang saling memengaruhi—kadang halus, kadang dramatis—yang membentuk bagaimana seseorang merespons dunia di sekitarnya.
Saya teringat pada seorang individu yang saya kenal, seorang profesional muda, tampak sukses dan tenang di mata teman-temannya. Namun, di balik senyumnya, ia menyimpan rasa hampa yang mendalam. Ia sering mengalami kecemasan yang intens, kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai, dan kelelahan yang tidak wajar. Apa yang membuatnya sampai pada titik itu bukan satu hal, melainkan kombinasi faktor yang berlapis. Depresi sering muncul ketika beban biologis, psikologis, dan sosial melebihi kapasitas adaptasi seseorang.
Secara biologis, depresi sering berhubungan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin, yang memengaruhi mood, motivasi, dan energi. Penelitian dalam bidang neuropsikiatri menunjukkan bahwa variasi genetik juga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi. Misalnya, seseorang dengan riwayat keluarga depresi mungkin memiliki sistem neurotransmiter yang lebih sensitif terhadap stres. Hal ini tidak berarti mereka pasti akan mengalami depresi, tetapi biologi dapat menyiapkan panggung bagi kondisi psikologis tertentu untuk berkembang.
Faktor psikologis turut berperan besar. Pola pikir negatif, persepsi diri yang rendah, dan kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada kegagalan atau kekurangan dapat memicu atau memperburuk depresi. Saya pernah mengenal seseorang yang tampak rapi dan teratur, tetapi setiap kegagalan kecil di tempat kerja atau interaksi sosial memicu perasaan bersalah dan ketidakmampuan yang luar biasa. Apa yang tampak sebagai “reaksi berlebihan” sebenarnya adalah hasil dari pola kognitif yang telah terbentuk bertahun-tahun, yang mengubah cara otak memproses pengalaman dan emosinya.
Trauma masa lalu juga dapat menjadi faktor penting. Pengalaman kekerasan, pelecehan, atau kehilangan signifikan dapat meninggalkan bekas yang memengaruhi sistem stres tubuh dan otak. Seseorang yang pernah mengalami trauma dapat menunjukkan respons emosional yang lebih intens terhadap situasi yang bagi orang lain mungkin tampak ringan. Dalam kasus yang saya kenal, individu tersebut kerap merasa cemas atau putus asa di tengah situasi yang sebenarnya bisa ditangani, karena otak dan tubuhnya telah “belajar” untuk tetap waspada terhadap ancaman. Trauma membentuk sensitivitas emosional yang memengaruhi kemungkinan depresi.
Lingkungan sosial juga memainkan peran yang tak kalah penting. Isolasi sosial, konflik keluarga, atau tekanan pekerjaan dapat menurunkan kapasitas seseorang untuk menghadapi stres. Dalam beberapa kasus, orang yang tampak hidupnya sempurna dari luar—karier stabil, hubungan sosial aktif—ternyata merasa kesepian secara emosional, dan kesepian ini menjadi pemicu depresi. Rasa keterasingan memperkuat narasi negatif internal dan menurunkan kemampuan seseorang untuk mencari atau menerima dukungan.
Stres kronis adalah faktor lain yang sering terlupakan. Paparan terus-menerus terhadap tekanan finansial, tekanan pekerjaan, atau masalah kesehatan dapat mengaktifkan respons stres tubuh secara berlebihan. Kortisol, hormon stres, ketika terus meningkat, dapat memengaruhi hippocampus dan area otak lain yang bertanggung jawab atas regulasi emosi. Saya pernah mendengar kisah seorang profesional muda yang, meski bekerja dalam lingkungan yang sukses dan kompetitif, perlahan kehilangan kemampuan untuk merasa bahagia atau termotivasi, akibat paparan stres yang berlangsung bertahun-tahun. Stres yang tidak tertangani menumpuk dan mengikis kapasitas adaptasi mental seseorang, membuka jalan bagi depresi.
Selain faktor-faktor tersebut, gaya hidup juga berkontribusi. Kurang tidur, pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, dan keterlibatan sosial yang minim semuanya dapat meningkatkan risiko depresi. Bahkan hal-hal yang tampaknya sepele—seperti tidak memiliki rutinitas yang konsisten atau terlalu banyak waktu di depan layar—dapat memengaruhi kimia otak dan kestabilan mood. Dalam pengalaman beberapa orang yang saya kenal, perubahan kecil dalam rutinitas, misalnya berolahraga beberapa kali seminggu atau tidur lebih teratur, mampu menurunkan gejala depresi secara signifikan.
Penting juga dicatat bahwa depresi bukan selalu respons terhadap kejadian eksternal. Ada orang yang mengalami depresi tanpa alasan jelas, yang kadang disebut depresi endogen. Ini menunjukkan bahwa depresi adalah kondisi multifaktorial, di mana genetika, biologi, psikologi, dan lingkungan semua berinteraksi secara kompleks. Tidak ada satu penyebab tunggal, dan itu yang membuat setiap kasus unik.
Dalam beberapa situasi, depresi muncul sebagai bentuk adaptasi maladaptif. Otak, dalam menghadapi tekanan atau kehilangan, mungkin menutup diri secara emosional untuk melindungi individu dari rasa sakit yang lebih besar. Fenomena ini terlihat jelas pada orang-orang yang telah mengalami trauma berulang atau tekanan emosional yang terus-menerus. Depresi bisa menjadi sinyal internal bahwa sistem emosional dan kognitif seseorang membutuhkan waktu dan ruang untuk pulih.
Pengalaman individu yang saya kenal mengajarkan bahwa depresi adalah panggilan untuk memahami diri secara lebih dalam, bukan sekadar kelemahan. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi munculnya depresi—biologis, psikologis, sosial, dan perilaku—memberi kesempatan bagi seseorang untuk mulai membangun strategi coping yang lebih sehat. Dukungan sosial, perbaikan gaya hidup, psikoterapi, dan, jika perlu, intervensi farmakologis adalah bagian dari ekosistem yang memungkinkan proses pemulihan.
Refleksi yang bisa diambil adalah bahwa depresi bukan hukuman atau kegagalan moral. Ia adalah kondisi manusiawi yang muncul ketika keseimbangan internal terganggu oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Memahami apa yang membuat seseorang rentan terhadap depresi adalah langkah pertama untuk membangun kesadaran, empati, dan strategi hidup yang lebih berkelanjutan. Ini juga mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki kapasitas berbeda dalam menghadapi tekanan hidup, dan bahwa perjalanan menuju kesejahteraan mental adalah proses yang penuh kompleksitas, bukan garis lurus menuju kesembuhan.
Depresi bukanlah masalah sederhana. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi lima bagian berbeda dari hidup anda yang bisa menyebabkan depresi atau membuatnya terus ada. Bagian-bagian ini adalah: situasi anda, pikiran anda, emosi anda, kondisi fisik anda, dan tindakan anda.
Kelima bagian ini saling mempengaruhi satu sama lain. Cara anda bertindak akan mengubah situasi anda, cara anda berpikir mengenai diri anda sendiri akan mempengaruhi perasaan anda, perasaan anda akan bisa mempengaruhi kondisi fisik anda, dan seterusnya. Jadi kelima komponen ini menyerupai sebuah lingkaran setan depresi.

Situasi
Depresi sering diawali dengan situasi yang sulit atau penuh tekanan – hal-hal seperti kehilangan teman atau prestasi jelek di sekolah. Bila upaya anda untuk mengatasi hal ini tidak berhasil, anda bisa saja akan merasa kewalahan dan menjadi putus asa. Kemudian mungkin akan timbul depresi. Beberapa situasi yang akan meningkatkan kemungkian terjadinya depresi adalah
- Kehilangan pasangan
Hal ini bisa saja berupa : Kematian seseorang yang anda sayangi, kehilangan seorang sahabat baik, atau memutuskan hubungan dengan seseorang. - Konflik dengan orang lain
Hal ini bisa saja berupa : Sering bertengkar dengan orang tua, konflik dengan teman yang tidak bisa diselesaikan, dibully, atau mempunyai masalah dengan guru di sekolah. - Kesepian
Hal bisa terjadi karena : Anda sangat pemalu, keluarga anda pindah ke daerah lain, atau anda tidak menemukan teman yang mempunyai minat yang sama dengan anda. - Prestasi sekolah yang jelek
Hal bisa terjadi karena : Anda merasa murung dan tidak bisa berkonsentrasi, anda mempunyai masalah belajar, atau pelajaran sekolah terasa sangat berat bagi anda. Kadang masalah di sekolah juga bisa timbul akibat penggunaan rokok, obat, atau alkohol.
Meskipun demikian, depresi tidak hanya disebabkan oleh situasi hidup yang buruk. Ada juga orang yang mengalami depresi meskipun tidak mempunyai masalah dalam hidupnya, sehingga sepertinya depresi tiba-tiba saja muncul. Ketrampilan anti- depresi juga bisa membantu orang-orang semacam ini, membantunya untuk pulih.
Pikiran
Masing-masing dari kita mempunyai cara berpikir sendiri mengenai berbagai situasi dan bagaimana cara kita berpikir akan sangat mempengaruhi apa yang kita rasakan. Remaja yang mengalami depresi seringkali mengalami distorsi negatif dalam cara berpikir mengenai situasi dan dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa sudut pandang yang digunakan cenderung ke arah negatif. Cara berpikir semacam ini cenderung membesar-besarkan situasi yang buruk dan mengesampingkan hal-hal positif yang menyertainya.
- Pikiran tidak realistis mengenai situasi yang dihadapi
Hanya bisa melihat masalah yang ada dan tidak mengindahkan hal-hal positif. Bila bertemu dengan seorang teman dan dia hanya mengatakan halo sambil lalu, kemudian menjadikan ini bukti bahwa tidak ada orang yang benar-benar mau berteman dengan anda. Anda tidak memperhatikan bahwa dia megucapkannya sambil tersenyum dengan tulus. - Pikiran tidak adil mengenai diri anda sendiri
Menilai diri anda sendiri dengan keras, menggunakan standar yang terlalu tinggi bagi anda, merendahkan diri sendiri. Setiap kegagalan atau kesalahan yang anda lakukan masuk dengan jelas ke alam pikiran anda – namun anda melebih-lebihkan kegagalan atau kesalahan itu. Bukan hanya itu, anda kemudian melupakan berbagai pencapaian dan prestasi yang pernah anda dapatkan atau hal-hal baik yang pernah anda raih. Nampaknya bagi anda, semua hal positif itu tidak berarti bagi anda. - Pikiran tidak realistis mengenai masa depan
Melebih-lebihkan tentang kemungkinan sesuatu yang buruk akan terjadi, selalu membayangkan yang terburuk, memandang masa depan secara pesimis dan tidak masuk akal. Misalnya, seorang dengan pikiran depresi yang gagal masuk tim sepak bola akan membayangkan bahwa di masa depan dia tidak akan pernah dipilih masuk tim, sebaik apapun dia bermain.
Orang dengan pikiran depresif akan merasa kecil hati atau putus asa bahkan bila semuanya berjalan dengan baik
Emosi
Depresi sering diawali oleh perasaan kecil hati atau kesedihan. Bila hal ini menjadi semakin buruk, maka dia akan semakin merasa ditelan oleh perasaan putus asa.
Banyak penderita depresi yang tidak bisa lagi merasakan kesenangan melakukan hal-hal yang dulunya mereka sukai. Bila depresi menjadi semakin buruk, mungkin akan muncul semacam perasaan kosong atau tumpul, seperti tidak mempunyai perasaan. Seperti sakit yang dirasakan menjadi tak tertahankan lagi sehingga pikiran mematikan semua emosi yang dirasakan.
Anda harus ingat bahwa orang-orang yang mengalami depresi cenderung mempunyai jalan pikiran negatif yang tidak realistis mengenai situasi yang dihadapi dan mengenai dirinya sendiri. Karena emosi yang mereka rasakan didasarkan pada jalan pikiran yang menyimpang ini, maka emosi yang mereka rasakan juga mengalami distorsi negatif dan tidak realistis. Mungkin sulit untuk membayangkan tentang emosi yang tidak realistis. Tapi bayangkan ada seseorang yang berpikir bahwa pesawat itu sangat berbahaya dan percaya bahwa setiap saat pesawat bisa jatuh dari langit. Dia akan merasa sangat ketakutan ketika terbang, tapi ketakutan yang dia rasakan berasal dari pikiran yang tidak realistis dan karenanya merupakan emosi yang tidak realistis.
Kondisi fisik
Depresi seringkali mencakup berbagai masalah fisik. Salah satu diantaranya adalah gangguan tidur – seseorang yang mengalami depresi mengalami kesulitan tidur atau justru tidur terlalu banyak. Selain masalah dengan tidur, remaja yang mengalami depresi juga sering mengeluh tidak mempunyai energi, seperti tidak mempunyai nafsu makan atau selalu merasa lapar. Mereka juga mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas sekolah. Dan yang terakhir, beberapa remaja yang mengalami depresi mengalami semacam “ ketidakseimbangan ” dalam kerja sistem sarafnya.
Perubahan fisik yang muncul bersama dengan depresi menjadikan semakin sulit untuk mengatasi masalah ini atau bahkan untuk mempelajari ketrampilan yang terdapat dalam buku ini. Pada beberapa remaja yang mengalami depresi, obat mungkin akan bisa membantu mengatasi gangguan tidur, konsentrasi, dan energi fisiknya, sehingga mereka bisa mempelajari dan mencoba ketrampilan antidepresi dalam buku ini.
Tindakan
Orang-orang yang mengalami depresi cenderung berperilaku yang menyebabkan depresinya menjadi lebih buruk.
Hal ini termasuk:
- Menarik diri dari keluarga dan teman
Orang-orang yang mengalami depresi seringkali merasa bahwa orang lain tidak ingin berada di sekitarnya atau mereka tidak suka berada dekat dengan orang lain. Jadi, mereka menarik diri dari teman dan keluarga, menolak untuk menghadiri berbagai undangan, dan tidak berusaha untuk kembali menjalin hubungan. - Tidak merawat diri
Ketika orang mengalami depresi, mereka cenderung untuk tidak peduli dengan apa yang mereka makan atau tentang bagaimana mereka merawat dirinya. Jadi mereka tidak menjaga makannya atau tidak mau berolah raga. Kadang mereka menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang. Hal ini menyebabkan mereka secara fisik merasa lemah dan mungkin malu dengan kelemahan dirinya. - Tidak melakukan aktivitas yang menyenangkan
Remaja yang mengalami depresi mungkin akan merasa badannya terlalu lelah atau sama sekali tidak mempunyai motivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dulu mereka senangi. Mereka mungkin tidak mau lagi melakukan aktivitas-aktivitas menyenangkan seperti berolah raga, mendengarkan musik, membaca atau melakukan hobinya. Tapi inaktivitas bisa menjadi sebuah kebiasaan. Semakin anda menghindari hal-hal yang menyenangkan, anda akan merasa semakin sulit untuk menikmatinya dan semakin enggan melakukannya. Inaktivitas merupakan makanan bagi depresi.
Sumber : Dan Bilsker PhD, Merv Gilbert PhD, David Worling PhD, E. Jane Garland MD, FRCP, Melawan depresi : Ketrampilan anti-depresi untuk remaja, diterjemahkan oleh : Irwan Supriyanto, MD, Ph.D, Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Menurut Beck, psikolog dan pencipta alat ukur depresi yang biasa disebut BDI (Beck Depression Inventory) salah satu faktor penyebab depresi adalah proses berfikir. Seseorang yang mengalami depresi memiliki pemikiran menyimpang dalam bentuk interpretasi negatif. Seseorang depresi akan mengembangkan skema negatif. Skema yang salah tersebut dapat membuat seseorang yang depresi mengharapkan kegagalan sepanjang waktu, dimana menyalahkan diri sendiri akan membebani seseorang dengan tanggung jawab atas semua ketidakberuntungan dan terus menerus mengevaluasi diri sendiri secara negatif. Hal ini dapat membuat seseorang untuk mereasa bahwa dirinya tidak berarti lagi.
Pada dasarnya, Depresi bukanlah didasarkan pada proses patologi tunggal, tapi memiliki penyebab yang banyak (multiple).
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab depresi dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu Faktor Fisik dan Faktor Psikologis.
Faktor Fisik
Faktor fisik penyebab depresi terdiri dari:
1. Faktor Genetik
Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan.
Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi.
2. Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi.
3. Faktor Usia
Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun.
4. Gender
Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria.
Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.
Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui.
5. Gaya Hidup
Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi.
Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras.
6. Penyakit fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks.
7. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.
Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:
- Tablet antieplipsy
- Obat anti tekanan darah tinggi
- Obat antimalaria-melfloquine (lariam)
- Obat antiparkinson
- Obat kemotrapi
- Pil kontrasepsi
- Digitalis
- Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)
- Interferon-alfa (hepatitis c)
- Obat penenang
- Terapi steroid
8. Obat-obatan terlarang
Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obat-obatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.
9. Kurang Cahaya Matahari
Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita Seasonal Affective Disorder (SAD).
SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu (Ebrahim, 1987).
Faktor Psikologis
Ada beberapa faktor psikologis penyebab depresi yaitu:
1. Kepribadian
Aspek-aspek kepribadian ikut mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada indvidu-individu yang lebih rentan terhadap depresi yaitu mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert. Tampaknya ada hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan depresi.
Menurut Gordon, seseorang yang menunjukan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi:
- Seorang pencemas atau mudah terpengaruh
- Seorang pemalu atau minder
- Seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah
- Seseorang yang hipersensitif
- Seseorang yang perfeksionis
- Seseorang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focused).
2. Pola Pikir
Beck (1980) mengatakan gambaran pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.
3. Harga Diri (self-esteem)
Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan penghargaan diri positif terhadap dirinya, sehingga seseorang akan merasa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan mental dan fisik.
Terpenuhinya keperluan penghargaan diri aan menghasikan sikap dan rasa percaya diri, rasa kuat menghadapi sakit, rasa damai, namun sebaiknya apabila keperluan penghargaan diri ini tidak terpenuhi, maka akan membuat seseorang individu mempunyai mentalmental lemah dan berpikir negatif sehingga cenderung terkena depresi.
4. Stres
Kematian orang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi. Orang yang depresi dapat merasa sangat negative dan cenderung mengingat dan melaporkan hal-hal negatif begitu pula dampak suatu peristiwa terhadap seseorang sulit diramalkan, beberapa orang lebih mampu menanggulangi stress daripada yang lain dan apa yang membuat stress seseorang belum tentu menganggu yang lain.
5. Lingkungan Keluarga
Ada beberapa penyebabnya yaitu:
- Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak. Ada bukti bahwa indivdu yang kehilangan ibu mereka ketika muda memiliki risiko lebih besar terserang depresi. Kehilangan yang besar ini akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang lebih mudah terserang depresi tetapi, di satu sisi, mungkn saja membuat orang lebih tabah. Akibat psikologis, sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri.
- Jenis Pengasuhan. Psikolog menemukan bahwa orang tua yang sangat menuntut dan kritis, yang menghargai kesuksesan dan menolak semua kegagalan membuat anak-anak lebih mudah terserang depresi di masa depan.
- Penyiksaan fisik dan seksual Ketika kecil. Penyiksaan fisik atau seksual dapat membuat seseorang berisiko terserang depresi berat sewaktu dewasa.
6. Penyakit Jangka Panjang
Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi. Kebanyakan orang suka bertemu orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang.