Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Ada satu jenis luka psikologis yang sering dianggap sepele oleh banyak orang, tetapi bagi yang mengalaminya, dampaknya bisa sangat dalam. Luka itu datang dari komentar sederhana tentang tubuh seseorang—tentang berat badan, bentuk wajah, warna kulit, tinggi badan, atau bagian tubuh lain yang sebenarnya sangat pribadi.

Komentar itu sering disampaikan dengan nada bercanda.
Kadang dikatakan sebagai “sekadar jujur.”
Kadang bahkan dibungkus dengan alasan perhatian.

Namun bagi orang yang menerimanya, kata-kata itu bisa menetap jauh lebih lama daripada yang dibayangkan oleh orang yang mengucapkannya.

Fenomena ini sering disebut sebagai body shaming.

Banyak orang menganggap body shaming hanya masalah sensitivitas. Seolah-olah orang yang tersinggung hanya terlalu perasa. Tetapi ketika kita melihatnya dari sudut pandang psikologi dan ilmu tentang otak manusia, kita mulai memahami bahwa pengalaman ini jauh lebih kompleks daripada sekadar tersinggung.

Saya pernah mengenal seseorang yang secara sosial terlihat percaya diri. Ia aktif, memiliki banyak teman, dan sering terlihat tertawa. Namun suatu hari dalam sebuah percakapan yang sangat jujur, ia mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan.

Ia berkata bahwa sejak remaja, ia selalu merasa tidak nyaman berada di depan cermin.

Ketika ditanya mengapa, ia menjawab dengan sangat sederhana.

“Karena setiap kali saya melihat tubuh saya, saya teringat komentar orang-orang.”

Kalimat itu terlihat sederhana. Tetapi ia menggambarkan sesuatu yang sangat dalam: bagaimana komentar tentang tubuh bisa berubah menjadi suara internal yang terus mengikuti seseorang selama bertahun-tahun.

Body shaming sering kali tidak berhenti pada kata-kata yang diucapkan orang lain. Ia sering berubah menjadi cara seseorang memandang dirinya sendiri.


Mengapa Komentar Tentang Tubuh Bisa Sangat Melukai

Untuk memahami dampak body shaming, kita perlu memahami bagaimana otak manusia memproses pengalaman sosial.

Dalam beberapa penelitian neuropsikologi, ditemukan bahwa pengalaman penolakan sosial dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Salah satu area tersebut adalah anterior cingulate cortex.

Penelitian yang sering dikutip dalam bidang ini dilakukan oleh Naomi Eisenberger dan Matthew Lieberman, yang menunjukkan bahwa otak manusia merespons penolakan sosial dengan cara yang sangat mirip dengan rasa sakit fisik.

Artinya, ketika seseorang menerima komentar yang merendahkan tubuhnya, otak tidak hanya memprosesnya sebagai kata-kata.

Ia memprosesnya sebagai ancaman terhadap identitas dan penerimaan sosial.

Dalam konteks evolusi, hal ini sebenarnya masuk akal. Selama ribuan tahun, diterima oleh kelompok sosial merupakan faktor penting untuk bertahan hidup.

Akibatnya, otak manusia menjadi sangat sensitif terhadap sinyal yang menunjukkan bahwa dirinya tidak diterima.

Komentar tentang tubuh sering terasa menyakitkan bukan hanya karena kata-katanya, tetapi karena otak menafsirkannya sebagai ancaman terhadap nilai diri seseorang.


Ketika Suara Orang Lain Menjadi Suara di Dalam Kepala

Salah satu efek paling kuat dari body shaming adalah terbentuknya internalized shame.

Ini adalah kondisi di mana kritik yang awalnya datang dari luar perlahan menjadi bagian dari dialog internal seseorang.

Misalnya, seseorang yang sering diejek karena berat badannya mungkin mulai berpikir:

“Aku memang terlalu gemuk.”
“Aku tidak menarik.”
“Aku tidak pantas tampil di depan orang.”

Menariknya, pikiran-pikiran ini sering muncul bahkan ketika tidak ada orang lain yang mengatakannya lagi.

Dalam buku The Body Image Workbook karya Thomas Cash, dijelaskan bahwa citra tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman sosial sejak masa remaja. Komentar yang berulang tentang penampilan dapat membentuk skema kognitif yang bertahan lama.

Artinya, seseorang tidak hanya mengingat komentar tersebut.

Ia mulai melihat dirinya melalui lensa komentar itu.

Dan pada titik tertentu, orang yang paling keras mengkritik dirinya bukan lagi orang lain, tetapi dirinya sendiri.


Mengapa Body Shaming Sangat Umum dalam Budaya Modern

Jika kita melihat lingkungan sosial saat ini, tubuh manusia sering diperlakukan seperti proyek yang harus terus diperbaiki.

Media sosial penuh dengan standar kecantikan yang sangat sempit. Tubuh ideal digambarkan dengan proporsi tertentu, kulit tertentu, bahkan gaya hidup tertentu.

Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri mereka sangat berkaitan dengan penampilan fisik.

Dalam literatur psikologi sosial, fenomena ini sering disebut sebagai appearance-based self-worth—kondisi di mana harga diri seseorang sangat bergantung pada bagaimana tubuhnya dinilai oleh orang lain.

Penelitian yang dibahas dalam Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap standar kecantikan yang tidak realistis dapat meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh dan meningkatkan risiko depresi.

Hal ini membuat body shaming tidak hanya datang dari orang lain.

Kadang ia juga datang dari standar yang tidak pernah benar-benar kita pilih sendiri.


Belajar Melihat Komentar Orang Lain dengan Perspektif Baru

Salah satu hal yang sering membantu dalam menghadapi body shaming adalah memahami sesuatu yang cukup sederhana tetapi sering terlupakan.

Komentar orang lain tentang tubuh seseorang sering lebih mencerminkan mereka daripada orang yang mereka komentari.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang dulu sangat sering menerima komentar tentang tubuhnya. Pada awalnya, setiap komentar terasa seperti serangan pribadi.

Namun suatu hari ia mulai memperhatikan sesuatu yang menarik.

Orang-orang yang paling sering mengomentari tubuh orang lain ternyata juga sering berbicara buruk tentang tubuh mereka sendiri.

Ia mulai menyadari bahwa banyak komentar semacam itu sebenarnya berasal dari rasa tidak aman yang tidak disadari oleh orang yang mengucapkannya.

Ini bukan berarti komentar tersebut tidak menyakitkan. Tetapi perspektif ini kadang membantu seseorang melihat bahwa kata-kata itu bukanlah penilaian objektif tentang dirinya.

Sering kali body shaming adalah cermin dari insekuritas sosial yang lebih luas.


Membangun Hubungan Baru dengan Tubuh Sendiri

Menghadapi body shaming sering kali melibatkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar mengabaikan komentar orang lain.

Ia sering melibatkan proses membangun kembali hubungan dengan tubuh sendiri.

Dalam pendekatan psikologi modern yang dikenal sebagai body neutrality, fokusnya bukan lagi pada mencintai setiap aspek tubuh secara berlebihan, tetapi pada melihat tubuh sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki fungsi penting.

Tubuh bukan hanya objek yang harus dinilai.

Ia adalah alat yang memungkinkan seseorang berjalan, bekerja, tertawa, memeluk orang yang dicintai, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam buku Self-Compassion karya Kristin Neff, dijelaskan bahwa sikap welas asih terhadap diri sendiri dapat membantu mengurangi rasa malu dan kritik internal yang berlebihan.

Sikap ini melibatkan kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti yang biasanya diberikan kepada orang lain.

Banyak orang sangat baik kepada teman-temannya, tetapi sangat keras kepada dirinya sendiri.


Menghadapi Komentar yang Tidak Pantas

Dalam beberapa situasi, penting juga untuk mengenali bahwa tidak semua komentar perlu diterima begitu saja.

Ada kalanya seseorang perlu menetapkan batasan emosional.

Saya pernah mendengar kisah tentang seseorang yang akhirnya memutuskan untuk menanggapi komentar body shaming dengan cara yang sangat sederhana.

Setiap kali seseorang mengomentari tubuhnya, ia hanya menjawab dengan kalimat singkat:

“Saya tidak nyaman membicarakan tubuh saya.”

Kalimat itu tidak menyerang siapa pun. Tetapi ia cukup jelas untuk menunjukkan bahwa komentar tersebut tidak diterima.

Batasan semacam ini sering membantu melindungi ruang psikologis seseorang.


Sebuah Refleksi

Jika kita melihat fenomena body shaming dengan lebih jujur, kita mungkin akan menyadari sesuatu yang cukup ironis.

Tubuh manusia selalu berubah.

Ia berubah seiring waktu, pengalaman, usia, bahkan emosi yang dialami seseorang sepanjang hidupnya.

Namun masyarakat sering memperlakukan tubuh seolah-olah ia harus memenuhi satu standar yang tetap dan sempurna.

Di tengah tekanan itu, banyak orang mulai melihat tubuh mereka sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, disembunyikan, atau bahkan disesali.

Padahal tubuh adalah tempat seseorang menjalani seluruh kehidupannya.

Ia adalah tempat semua pengalaman manusia terjadi.

Dan mungkin, di antara semua komentar yang pernah diucapkan orang lain tentang tubuh kita, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.

Bukan bagaimana orang lain melihat tubuh itu.

Tetapi bagaimana seseorang memilih untuk hidup di dalamnya.