Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Mengalami Body Shaming?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Yang dilakukan ketika mendapat body shaming:
1. Ingat bahwa hal yg diucapkan oleh seseorang, itu bukan diri kita.
Ketika seseorang melontarkan kritikan mengenai fisikmu, ingat bahwa sebenarnya mereka tengah mengkritik diri mereka sendiri atas ketidakpuasaan terhadap dirinya. Banyak yang melemparkan kekecewaan terhadap diri sendiri pada orang lain. Biasanya mereka ingin menutupi kekurangan mereka dengan membuat orang lain seakan lebih rendah dari mereka.
2. Membela diri sendiri merupakan keharusan. Nggak perlu takut untuk membela diri sendiri. Apalagi jika mendapat ejekan atau kritikan mengenai fisikmu. Ambil sisi positifnya saja. Jangan membuat kritikan tersebut melunturkan kepercayaan dirimu.
3. Ketika kamu sudah membela diri sendiri namun tetap mendapat rundungan, cobalah minta bantuan orang lain. Selain membuat jera dengan melaporkannya pada pihak berwajib, hal itu juga bisa jadi pelajaran bahwa setiap orang nggak berhak menghina orang lain.
4. Seperti pepatah gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Banyak orang dengan jelas melihat kekurangan orang lain dan nggak sadar jika dirinya pun memiliki kekurangan. Kamu harus jujur bahwa kamu merasa tersakiti ketika mendapat body shaming, hal tersebut bisa menyadarkan mereka bahwa perkataan mereka itu bisa menyakiti orang lain meskipun mungkin maksud mereka hanya sebuah candaan.
5. Ketika mendapat hinaan, marah memanglah wajar kita rasakan. Emosi yang meluap tersebut kadang membuat kita hilang akal. Bukannya membuat orang-orang yang membuat kita marah berhenti, kemarahan kita malah membuat mereka senang karena mendapat respon. Ketika akan marah, coba tarik nafas dulu dan alihkan energi marahmu pada hal lain. Luapkan rasa marahmu dengan hal produktif yang membuat prestasi. Itu adalah balas dendam yang paling indah
6. Memang berat dan butuh perjuangan untuk bangkit dan bisa mencintai diri sendiri apa adanya. Jadikan pengalaman itu sebagai pelajaran bagimu. Kamu bisa mengikuti kelompok atau komunitas yang menentang body shaming atau mungkin kamu bisa menjadi penggerak untuk menyuarakan stop body shaming.
Body Shaming adalah tindakan perundungan saat tubuh seseorang mendapat komentar negatif dari orang lain. Biasanya mencakup, ukuran tubuh, bentuk tubuh, wajah, hingga warna kulit. Lalu apa yang harus kita lakukan jika mengalami body shaming?
Body Shaming adalah fenomena yang belakangan ini heboh di dunia maya ataupun langsung di masyarakat. Body shaming dapat dilakukan oleh siapa saja dan korbannya pun dapat dari berbagai kalangan. Dampak yang ditimbulkan dari body shaming bagi korbannya dapat berupak perasaan cemas, stres, atau bahkan depresi. Korban akan merasa bahwa dirinya memiliki kekurangan yang sangat berarti sehingga cenderung menarik diri dari pergaulan atau kehidupan bermasyarakat. Melakukan berbagai cara agar dapat memenuhi "standar" di masyarakat.
Saya pribadi sejujurnya adalah salah satu korban dari perlakuan body shaming. Saya dihina tentang bentuk tubuh saya, warna kulit, dan bahkan posisi gigi saya yang berantakan. Saya merasakan bagaimana struggle-nya untuk dapat kembali memiliki kepercayaan diri. Jadi saya akan menceritakan pengalaman saya tentang bagaimana cara yang bisa kita lakukan untuk memerangi body shaming, diantaranya:
Itu tadi beberapa cara yang aku pribadi lakukan. Setiap orang tentu akan memiliki waktu dan persepsinya masing-masing. Tidak mudah memang untuk dapat survive dan menerima diri ketika menjadi korban body shaming. Buat kalian yang pernah atau sedang mengalami perlakuan body shaming, kalian harus tetap semangat! Semua manusia adalah "beautiful" dan kalian adalah makhluk terbaik yang Tuhan ciptakan. Tidak ada yang bisa menghina dan menjatuhkan kalian selain Tuhan kalian.
Body shaming menjadi topik yang dinilai serius belakangan ini dikarenakan memiliki dampak yang begitu besar bagi seseorang nyatanya. Body shaming bisa menimbulkan rasa malu, membenci diri sendiri yang bisa berakibat depresi dan keinginan untuk bunuh diri. Itulah alasan betapa besar dampak body shaming bagi keadaan psikis seseorang.
Ketika seseorang melontarkan kritikan mengenai fisikmu, ingat bahwa sebenarnya mereka tengah mengkritik diri mereka sendiri atas ketidakpuasaan terhadap dirinya. Banyak yang melemparkan kekecewaan terhadap diri sendiri pada orang lain. Biasanya mereka ingin menutupi kekurangan mereka dengan membuat orang lain seakan lebih rendah dari mereka.
Membela diri sendiri merupakan keharusan. Tidak perlu untuk membela diri sendiri. Apalagi jika mendapat ejekan atau kritikan mengenai fisikmu. Ambil sisi positifnya saja. Jangan membuat kritikan tersebut melunturkan kepercayaan dirimu.
Ketika kamu sudah membela diri sendiri namun tetap mendapat rundungan, cobalah minta bantuan orang lain. Selain membuat jera dengan melaporkannya pada pihak berwajib, hal itu juga bisa jadi pelajaran bahwa setiap orang nggak berhak menghina orang lain.
1) Pikirkan hal positif dari diri anda daripada yang negatif. Tenangkan suara kecil di kepala Anda yang memberi tahu Anda bahwa Anda terlalu gemuk atau kurus, tinggi atau pendek, berdada besar atau kecil, atau cara lain apa pun yang dapat Anda gunakan untuk menggemakan hinaan orang yang melecehkan Anda. Ganti pesan negatif ini dengan afirmasi yang berfokus pada apa yang Anda sukai tentang diri Anda. Lihatlah ke cermin dan katakan dengan lantang.
2) Ingat, Anda lebih dari sekadar tubuh Anda. Bahkan jika Anda tidak puas dengan beberapa aspek tubuh Anda, Anda memiliki nilai yang besar sebagai manusia selain diri fisik Anda. Pikiran Anda, perasaan Anda, tindakan Anda—semua ini membentuk diri Anda yang unik.
Menyerang seseorang berdasarkan bentuk tubuhnya termasuk bullying. Perilaku ini juga disebut sebagai body shaming. Body shaming adalah perilaku menjelek-jelekkan penampilan orang lain, atau membanding-bandingkan kondisi fisik seseorang dengan orang lain. Tidak hanya dari orang lain, perlakukan body shaming juga bisa kita dapatkan dari diri sendiri, yaitu ketika kita memberikan cap atau komentar negatif kepada penampilan fisik kita.
Ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan ketika kamu menerima body shaming dari seseorang, antara lain:
1. Menyadari dan menerima kekurangan pada diri sendiri
Pada dasarnya setiap orang memiliki bentuk tubuh, warna kulit, tekstur rambut yang berbeda satu orang dengan yang lain. Namun, jika kamu merasa dirimu memiliki sebuah kekurangan dalam hal tubuh, jadikan perasaan negatif tersebut sebagai pemicu motivasi. Namun bila tidak dapat diperbaiki, belajarlah untuk menerimanya sebagai bagian dari diri Anda. Kembangkan potensi lain yang mampu menutupi kekurangan Anda tersebut.
2. Bersikap positif
Bersikap positif adalah salah satu bagian dari cara menangkal body shaming dari orang lain, terutama di media sosial. Media sosial memang tidak harus menjadi pengalaman negatif untuk ke depannya. Carilah dan ikut akun-akun postif di media sosial dan itu akan membuat diri kita menjadi lebih baik dan merasa positif. Sebagaimana seseorang merasa termotivasi oleh motivator, dengan mengikuti konten tentang tubuh yang positif, maka secara perlahan mendorong kita untuk mencintai tubuh kita.
3. Selektif terhadap pesan di media sosial
Penggunaan media sosial turut berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap body shaming. Oleh karena itu, pilihlah pesan positif di media sosial, ikutilah akun yang mempopulerkan ajakan untuk menerima, menghargai, dan mencintai diri sendiri.
Hindari akun-akun yang menonjolkan pentingnya penampilan fisik dibandingkan kualitas diri yang lain. Apalagi yang memang mengandung ejekan atau lelucon mengenai kondisi fisik seseorang. Kita memang tidak bisa mengontrol seseorang untuk melakukan sesuatu di media sosial karena memang itu hak mereka, tetapi kita bisa mengontrol diri sendiri untuk memilih menghindari postingan yang membuat kita tidak nyaman dan kepercayaan diri kita menurun.
beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi body shaming bisa seperti:
1. Cintai Diri Sendiri
mencintai diri sendiri memang butuh proses, tetapi jika kamu memiliki tekad dan berusaha untuk melakukannyamaka hal itu pasti akan membuahkan hasil maksimal. Dengan kamu menerima diri sendiri apa adanya, maka tidak lagi membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
2. Mengubah Pandangan Terhadap Diri Sendiri
Meskipun orang lain mengatakan begini dan begitu terhadap kamu, jangan terlalu dipikirkan. Ambilah saja pendapat atau saran yang memang membangun, selain itu memiliki pandangan yang positif terhadap diri sendiri juga diperlukan agar kamu tidak terus menerus menyalahkan diri sendiri atas keadaanmu saat ini.
3. Balas Dengan Ucapan Positif
ketika orang lain melakukan body shamming terhadapmu janganlah balik membalas dengan kalimat yang sama, balaslah dengan ucapan positif.
4. Menerapkan Self Acceptance
Menerima diri sendiri apa adanya memang diperlukan, selain itu usahakanlah sesuatu yang masih bisa diusahakan. misalnya dengan menjalani gaya hidup yang sehat dan merubah mindset menjadi lebih terbuka terhadap segala sesuatu dan tentunya selektif.
Aku pernah mengalami body shaming—bukan hanya sekadar komentar ringan, tapi ucapan yang menusuk tanpa ampun, dari orang yang kuanggap teman dekat sekalipun. Aku ingat betul, saat itu aku baru saja memutuskan untuk memakai baju yang menurutku nyaman dan cantik, tapi tiba-tiba terdengar komentar, “Eh, kamu kok pakai itu, terlihat gemuk ya?” Rasanya seperti ledakan kecil yang menghancurkan kepercayaan diri seketika. Di saat itu, aku merasa malu, marah, dan kecewa sekaligus. Tapi pengalaman itu mengajarkanku banyak hal tentang cara menghadapi body shaming dengan lembut namun tegas.
Pertama, aku belajar untuk mengenali bahwa komentar itu bukan cerminan diriku. Ini penting banget, karena saat itu aku sempat meragukan diri sendiri, sampai bertanya-tanya apakah aku memang “terlalu gemuk” atau “tidak pantas”. Perlahan aku menyadari, body shaming biasanya lebih banyak tentang ketidakdewasaan atau rasa tidak nyaman orang lain dengan tubuhmu, bukan tentang diriku secara objektif. Menyadari hal ini memberi sedikit ruang di hatiku untuk tidak larut dalam rasa sakit yang mereka ciptakan.
Kedua, aku mulai memilih respon yang melindungi diriku sendiri. Ada kalanya aku memilih bicara, ada kalanya aku memilih diam. Aku pernah membalas dengan lembut tapi tegas, “Komentarmu terasa menyakitkan, aku harap lain kali lebih berhati-hati.” Terkadang hanya dengan menyuarakan perasaan, orang yang mengejek jadi sadar, atau setidaknya aku merasa mempertahankan martabat diri sendiri. Di lain waktu, aku memilih diam, menenangkan diri, dan tidak membiarkan kata-kata mereka masuk terlalu dalam.
Ketiga, aku belajar untuk memelihara self-love dan self-compassion. Aku mulai menulis hal-hal yang aku syukuri tentang tubuhku—meskipun kecil, seperti kulit yang sehat, rambut yang kuat, atau kaki yang bisa membawaku berjalan jauh. Lambat laun, aku menyadari, apresiasi terhadap diri sendiri adalah perisai paling kuat terhadap komentar orang lain.
Keempat, aku mulai menjaga lingkungan sosial. Aku mengelilingi diri dengan orang-orang yang bisa memberi energi positif, yang menghargai aku bukan hanya dari penampilan, tapi juga dari hati, kata-kata, dan tindakan. Aku menyadari, body shaming tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari orang yang dekat dengan kita. Menyaring siapa yang layak diberi ruang di hidup kita ternyata adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan mental dan emosional.
Yang terakhir, aku menemukan bahwa menerima diri sendiri adalah proses, bukan hasil instan. Tidak ada tubuh yang sempurna menurut standar orang lain. Aku belajar menikmati perjalanan tubuhku—dari belajar berdamai dengan cermin, sampai memuji diri sendiri atas hal-hal yang bisa aku lakukan. Body shaming bisa tetap ada di dunia ini, tapi aku tidak harus membiarkannya menurunkan kualitas hidupku.
"Tubuh kita adalah ladang yang menumbuhkan cerita, bukan medan perang untuk komentar orang lain; dan hanya ketika kita menatapnya dengan lembut, bunga-bunga penerimaan mulai mekar di hati."
Body shaming adalah perilaku mengolok-olok atau mengkritik bentuk tubuh seseorang, baik secara langsung maupun tersirat. Fenomena ini sering terjadi di media sosial, lingkungan sekolah, tempat kerja, bahkan dalam lingkaran pertemanan. Psikolog klinis Dr. Linda Papadopoulos menekankan bahwa body shaming tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, menimbulkan rasa malu, cemas, dan depresi.
Dampak psikologis body shaming bisa jauh lebih berat daripada sekadar komentar negatif. Penelitian dari National Eating Disorders Association menunjukkan bahwa individu yang mengalami body shaming memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan makan, rendahnya kepercayaan diri, dan isolasi sosial. Efek ini sering menimbulkan pola berpikir negatif yang menempel lama, bahkan setelah komentar itu berhenti.
Langkah pertama menghadapi body shaming adalah menyadari dari mana perilaku ini berasal. Kadang-kadang, komentar negatif muncul dari orang yang tidak memahami dampaknya, dari tekanan sosial untuk memenuhi standar kecantikan tertentu, atau dari rasa tidak aman orang lain. Dr. Kristin Neff dalam Self-Compassion menekankan bahwa memahami motivasi orang lain tidak berarti membenarkan perilaku mereka, tetapi membantu kita menjaga jarak emosional dan tidak menelan kritik secara pribadi.
Memahami konteks ini membantu kita tidak terlalu terpengaruh secara emosional. Jika kita menyadari bahwa komentar berasal dari ketidakamanan atau kebiasaan sosial yang toksik, kita bisa memilih untuk tidak memberi energi pada komentar tersebut. Dengan kata lain, mengenali asal body shaming menjadi bentuk perlindungan psikologis awal.
Self-compassion atau belas kasih pada diri sendiri adalah strategi penting untuk menghadapi body shaming. Menurut Kristin Neff, self-compassion mencakup tiga elemen: kebaikan pada diri sendiri, kesadaran bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia, dan mindfulness untuk mengelola emosi negatif tanpa reaksi berlebihan.
Dengan membangun self-compassion, kita belajar menerima tubuh apa adanya, menghargai fungsi tubuh, dan tidak membiarkan komentar negatif mendefinisikan harga diri. Aktivitas seperti menulis afirmasi positif, meditasi, atau berbicara pada diri sendiri dengan bahasa yang mendukung bisa memperkuat ketahanan emosional terhadap body shaming.
Respons terhadap body shaming bisa sangat bervariasi tergantung konteks. Dalam beberapa kasus, respons tegas dan jelas dapat diperlukan untuk menetapkan batas. Menurut Marshall Rosenberg dalam Nonviolent Communication, komunikasi yang menekankan perasaan dan kebutuhan tanpa menghakimi dapat efektif.
Misalnya, jika seseorang membuat komentar negatif, kita bisa mengatakan, “Aku merasa tersinggung dengan komentar itu karena menghargai diriku dan tubuhku. Aku berharap kita bisa saling menghormati.” Pernyataan seperti ini memberi tahu pihak lain bahwa perilaku mereka tidak diterima, tanpa memicu konflik eskalatif.
Di sisi lain, memilih untuk tidak merespons juga bisa menjadi strategi sehat, terutama ketika komentar berasal dari orang yang tidak penting atau lingkungan yang tidak memungkinkan perubahan. Mengalihkan perhatian pada hal positif dan aktivitas yang membangun rasa percaya diri bisa lebih bermanfaat daripada terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif.
Dukungan sosial adalah alat penting untuk menghadapi body shaming. Psikolog sosial John Cacioppo menekankan bahwa koneksi sosial yang sehat mengurangi stres, meningkatkan kepercayaan diri, dan memberi rasa aman. Berbagi pengalaman dengan teman, keluarga, atau komunitas yang suportif membantu individu merasa dimengerti dan mengurangi rasa isolasi.
Kelompok pendukung atau komunitas online yang menekankan body positivity juga bisa menjadi ruang aman untuk belajar menerima diri dan menolak standar kecantikan yang tidak realistis. Dengan adanya dukungan ini, kita tidak merasa sendirian dalam menghadapi komentar negatif, dan lebih mudah menjaga keseimbangan emosional.
Media sosial dan iklan sering menampilkan standar tubuh yang tidak realistis, memicu perbandingan, dan meningkatkan risiko body shaming internal maupun eksternal. Jean Twenge, dalam bukunya iGen, menekankan bahwa paparan konstan terhadap konten digital yang menekankan penampilan fisik dapat memperburuk citra tubuh dan meningkatkan tekanan psikologis.
Strategi efektif adalah membatasi paparan terhadap konten yang merusak, memilih akun yang mendukung body positivity, dan mengingatkan diri bahwa foto atau postingan sering merupakan representasi yang telah diedit dan tidak realistis. Menyadari hal ini membantu mengurangi pengaruh negatif pada persepsi diri dan memperkuat harga diri.
Menghadapi body shaming juga berarti merawat tubuh dengan cara yang sehat, bukan sebagai balasan atas kritik. Aktivitas fisik yang menyenangkan, olahraga, atau kegiatan kreatif yang melibatkan tubuh membantu membangun koneksi positif dengan diri sendiri. Buku Spark oleh John J. Ratey menekankan hubungan antara aktivitas fisik, mood, dan kepercayaan diri.
Selain itu, hobi atau aktivitas yang meningkatkan kompetensi dan prestasi dapat mengalihkan fokus dari penampilan fisik ke kemampuan dan nilai diri secara lebih menyeluruh. Hal ini memperkuat rasa percaya diri internal, membuat komentar body shaming tidak lagi mendominasi pikiran.
Menghadapi body shaming terkadang memerlukan langkah tegas, yaitu menetapkan batasan atau bahkan menjauh dari lingkungan toksik. Henry Cloud dan John Townsend dalam Boundaries menekankan bahwa menetapkan batasan adalah bentuk perlindungan diri dan tanggung jawab terhadap kesehatan mental.
Ini bisa berupa mengurangi interaksi dengan orang yang sering mengkritik tubuh, menonaktifkan komentar negatif di media sosial, atau menolak terlibat dalam percakapan yang mengarah pada body shaming. Menjaga jarak dari sumber toksisitas memungkinkan kita fokus pada pengembangan diri dan lingkungan yang mendukung.
Selain menjaga diri sendiri, menghadapi body shaming juga bisa dilakukan dengan menyebarkan kesadaran dan body positivity. Edukasi tentang keragaman bentuk tubuh, kesehatan, dan penerimaan diri membantu membentuk norma sosial yang lebih sehat. Psikolog Albert Bandura menekankan pentingnya modeling atau memberi contoh perilaku yang positif agar orang lain bisa belajar dan mengadopsi sikap yang lebih suportif.
Dengan menyuarakan body positivity, baik secara pribadi maupun melalui media sosial, kita turut menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan aman dari body shaming, sekaligus memperkuat rasa percaya diri dan harga diri diri sendiri.
Menghadapi body shaming membutuhkan kesadaran, ketahanan emosional, dan strategi praktis. Mulai dari memahami sumber body shaming, membangun self-compassion, memilih respons yang tepat, mencari dukungan sosial, membatasi paparan media negatif, hingga menetapkan batasan dengan lingkungan toksik, semua langkah ini membantu menjaga kesehatan mental dan emosional.
Proses ini tidak selalu mudah, tetapi konsistensi dan kesabaran memungkinkan individu memperkuat harga diri, membangun citra tubuh yang positif, dan menghadapi dunia dengan percaya diri tanpa tergantung pada penilaian orang lain. Dengan pendekatan yang tepat, body shaming tidak lagi menjadi ancaman, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkuat diri dan menumbuhkan lingkungan sosial yang lebih sehat dan suportif.
Ada satu pengalaman yang terlihat kecil di permukaan, tetapi sering meninggalkan bekas yang sangat dalam di dalam diri seseorang: komentar tentang tubuh.
Kadang komentar itu datang dalam bentuk candaan.
Kadang disampaikan dengan nada bercanda oleh teman, keluarga, atau bahkan orang yang baru dikenal.
Kadang juga muncul secara terang-terangan, sebagai kritik atau ejekan.
“Kenapa kamu makin gemuk?”
“Kurus banget, kamu sakit ya?”
“Kok kulitmu jadi gelap sekarang?”
Kalimat-kalimat seperti ini sering dianggap sepele. Banyak orang yang mengucapkannya bahkan tidak berpikir bahwa kata-kata itu bisa menyakiti. Namun bagi orang yang menerimanya, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Body shaming bukan hanya tentang tubuh. Ia sering menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam: harga diri seseorang.
Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ biologis. Dalam kehidupan sosial, tubuh sering menjadi bagian dari identitas seseorang.
Penelitian dari Thomas Cash tentang body image menunjukkan bahwa cara seseorang memandang tubuhnya sangat berkaitan dengan bagaimana ia memandang dirinya secara keseluruhan. Ketika tubuh menjadi sasaran kritik atau ejekan, yang terasa diserang sering kali bukan hanya penampilan, tetapi nilai diri.
Itulah sebabnya satu komentar kecil bisa bertahan lama dalam ingatan.
Ada seseorang yang pernah menceritakan bahwa ketika ia masih remaja, seorang kerabat mengatakan bahwa hidungnya terlalu besar. Kalimat itu mungkin diucapkan hanya sekali, mungkin bahkan tidak diingat lagi oleh orang yang mengatakannya.
Namun bertahun-tahun kemudian, setiap kali ia melihat foto dirinya, hal pertama yang ia perhatikan selalu hidungnya.
Komentar yang singkat bisa menjadi suara yang terus bergema dalam pikiran seseorang.
Tubuh manusia bukan hanya sesuatu yang dilihat oleh orang lain. Ia juga menjadi cermin tempat seseorang belajar melihat dirinya sendiri.
Body shaming sering dianggap ringan karena tidak meninggalkan luka fisik. Namun secara psikologis, dampaknya bisa sangat nyata.
Penelitian dari Barbara Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts tentang objectification theory menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus dinilai berdasarkan penampilan tubuhnya, ia bisa mulai melihat dirinya sendiri sebagai objek yang harus dinilai.
Akibatnya, perhatian terhadap tubuh menjadi berlebihan. Seseorang mulai memonitor penampilannya secara konstan, khawatir tentang bagaimana ia terlihat di mata orang lain.
Proses ini disebut self-objectification.
Dalam kondisi ini, seseorang mungkin tidak lagi merasa nyaman di dalam tubuhnya sendiri. Tubuh menjadi sesuatu yang harus diperbaiki, dikontrol, atau disembunyikan.
Ada seseorang yang pernah mengatakan sesuatu yang sangat jujur:
“Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat tubuhku tanpa langsung mencari apa yang salah.”
Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang sering tidak terlihat dari luar: ketika seseorang mulai hidup dalam hubungan yang penuh kritik dengan tubuhnya sendiri.
Hal yang paling berbahaya dari body shaming bukan hanya komentar itu sendiri, tetapi ketika komentar tersebut berubah menjadi suara internal.
Penelitian tentang internalized stigma menunjukkan bahwa kritik yang terus-menerus diterima seseorang dapat perlahan menjadi bagian dari cara ia berbicara kepada dirinya sendiri.
Seseorang mungkin mulai mengulang kalimat yang pernah ia dengar:
“Aku terlalu gemuk.”
“Aku tidak cukup menarik.”
“Aku terlihat aneh.”
Lama-kelamaan, suara ini terasa seperti kebenaran.
Padahal sebenarnya itu hanyalah gema dari kata-kata orang lain.
Body shaming sering menjadi berbahaya ketika seseorang mulai mempercayai narasi yang sebenarnya tidak pernah benar-benar miliknya.
Ketika seseorang mengalami body shaming, reaksi pertama yang muncul biasanya adalah rasa malu, marah, atau sedih. Reaksi ini sangat manusiawi.
Namun ada satu langkah penting yang sering membantu: menyadari bahwa komentar tentang tubuh sering lebih mencerminkan orang yang mengucapkannya daripada orang yang menerimanya.
Penelitian tentang perilaku sosial menunjukkan bahwa banyak komentar negatif tentang tubuh sebenarnya berasal dari norma sosial yang sempit tentang kecantikan dan penampilan.
Orang sering mengulang standar yang mereka pelajari dari lingkungan, media, atau budaya tanpa benar-benar memikirkan dampaknya.
Dengan kata lain, body shaming sering lebih berkaitan dengan standar sosial yang sempit daripada realitas tubuh manusia.
Salah satu hal yang sering sulit dilakukan adalah menetapkan batasan ketika seseorang mengomentari tubuh kita.
Dalam banyak budaya, komentar tentang tubuh dianggap sebagai bagian dari percakapan sehari-hari. Orang bisa merasa bebas mengatakan apa saja tentang berat badan, warna kulit, atau bentuk tubuh orang lain.
Namun tidak semua komentar harus diterima.
Ada seseorang yang pernah menceritakan bahwa setiap kali bertemu keluarganya, selalu ada komentar tentang berat badannya. Awalnya ia hanya tertawa dan mencoba mengabaikannya.
Namun lama-kelamaan ia merasa lelah.
Suatu hari ia mengatakan dengan sangat tenang:
“Aku tahu kalian mungkin tidak bermaksud buruk, tapi komentar tentang tubuhku membuatku tidak nyaman.”
Respons itu sederhana, tetapi menciptakan perubahan yang cukup besar dalam dinamika percakapan.
Kadang menetapkan batasan bukan tentang konfrontasi, tetapi tentang keberanian untuk menghargai diri sendiri.
Salah satu pendekatan yang semakin banyak dibahas dalam penelitian psikologi adalah konsep body neutrality.
Jika gerakan body positivity menekankan mencintai tubuh apa adanya, body neutrality menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda: melihat tubuh bukan terutama sebagai objek yang harus dicintai atau dibenci, tetapi sebagai bagian dari diri yang memiliki fungsi.
Tubuh memungkinkan seseorang berjalan, bekerja, memeluk orang yang ia sayangi, merasakan dunia di sekitarnya.
Dalam perspektif ini, tubuh tidak harus sempurna untuk memiliki nilai.
Tubuh manusia bukan hanya sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu yang memungkinkan kehidupan terjadi.
Salah satu dampak paling halus dari body shaming adalah bagaimana ia mempersempit cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Ketika penampilan menjadi fokus utama, aspek lain dari identitas seseorang bisa mulai terlupakan: kecerdasan, kreativitas, kebaikan, humor, ketahanan, dan banyak hal lain yang membentuk keunikan manusia.
Penelitian dari Kristin Neff tentang self-compassion menunjukkan bahwa orang yang mampu memperlakukan dirinya dengan welas asih cenderung memiliki hubungan yang lebih sehat dengan tubuh mereka.
Mereka tidak menilai diri mereka semata-mata berdasarkan penampilan.
Ada seseorang yang pernah mengatakan sesuatu yang cukup sederhana tetapi sangat kuat:
“Tubuhku bukan proyek yang harus diperbaiki setiap hari.”
Kalimat itu menunjukkan perubahan perspektif yang besar: tubuh bukan lagi sumber masalah, tetapi bagian dari kehidupan yang bisa diterima dengan lebih tenang.
Jika kita melihat lebih jauh, body shaming sebenarnya mengatakan sesuatu tentang masyarakat tempat kita hidup.
Ia menunjukkan betapa sering manusia menilai satu sama lain berdasarkan penampilan luar. Ia menunjukkan betapa sempitnya standar yang sering digunakan untuk menentukan siapa yang dianggap cukup baik.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan.
Setiap tubuh memiliki cerita.
Ada tubuh yang pernah bertahan melalui penyakit.
Ada tubuh yang membawa bekas luka kehidupan.
Ada tubuh yang bekerja keras setiap hari untuk menjaga seseorang tetap hidup.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah tubuh seseorang memenuhi standar tertentu.
Mungkin pertanyaannya adalah ini:
di dunia yang begitu cepat menilai penampilan, apakah seseorang masih mampu melihat tubuhnya sebagai rumah tempat hidupnya sendiri berlangsung?
Referensi:
Cash, T. F. (2012). Cognitive-Behavioral Perspectives on Body Image. Guilford Press.
Fredrickson, B. L., & Roberts, T. A. (1997). Objectification theory. Psychology of Women Quarterly.
Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself. HarperCollins.
Tylka, T. L., & Wood-Barcalow, N. (2015). The body appreciation scale. Body Image Journal.
Notifications