Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Menghilangkan Stres?

BE Bernadette Patricia Mabella 6 years ago Resolved

Stres sangat mengganggu, bahkan bisa merusak kita, baik dari sisi produktivitas kerja maupun kesehatan. Cuman terkadang kita tidak bisa menghindari stre itu sendiri. Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan stres ketika kita sedang stres?

28

Berikut ini adalah cara untuk mengatasi stress :

  1. Prinsip Homeostatis
    Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. Sehingga bila suatu
    saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang.
    Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Sebab keberadaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup
    organisme. Lapar, haus, lelah, dll. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan, minuman, dan untuk beristirahat. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan, kecemasan, rasa sakit, dst. mendorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi
    ketidak seimbangan ini.
  2. Proses Coping terhadap Stres
    Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. Menurut Bart Smet, coping
    mempunyai dua macam fungsi, yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. Emotionalfocused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, dst.
    Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mempelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stres. Menurut Bart Smet, individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi, dan metoda ini sering dipergunakan oleh
    orang dewasa. Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres, Maramis berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan untuk itu, yang secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism.

Referensi : Musradinur. 2016. STRES DAN CARA MENGATASINYA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI. Jurnal Edukasi, 2(2), 197-198.

Stres, dalam kehidupan modern, seolah menjadi teman yang tidak diundang tapi selalu hadir. Kita merasakannya ketika tenggat waktu menumpuk, ketika masalah keluarga menekan, atau ketika tubuh dan pikiran kita merasa kelelahan tanpa jeda. Banyak orang mencari “cara cepat” untuk menghilangkan stres—minum teh herbal, meditasi singkat, menonton video lucu—dan memang itu bisa memberi sedikit lega. Namun, mengelola stres secara mendalam tidak sesederhana mencari pelarian instan; ia membutuhkan pemahaman tentang diri sendiri, tubuh, dan pikiran.


Mengapa Stres Bisa Begitu Membebani?

Secara psikologis, stres muncul ketika seseorang merasa tuntutan lingkungan melebihi kapasitas mereka untuk mengatasinya. Respon ini bersifat adaptif dalam skala kecil: hormon seperti adrenalin dan kortisol memberi energi ekstra untuk menghadapi ancaman atau tekanan. Tetapi ketika stres menjadi kronis, hormon ini tidak pernah turun sepenuhnya, tubuh tetap “siaga”, dan pikiran kita terjebak dalam siklus kewaspadaan dan kecemasan. Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis berhubungan erat dengan gangguan tidur, depresi, gangguan jantung, dan penurunan kualitas hidup secara umum (McEwen, 2007).

Yang sering luput dari perhatian adalah dimensi emosional dan kognitif stres. Tidak jarang seseorang mengalami tekanan berat hanya karena cara mereka memaknai peristiwa. Dua orang bisa menghadapi masalah yang sama—misal kehilangan pekerjaan—tetapi respons mereka berbeda. Seseorang mungkin mengalaminya sebagai tantangan yang bisa diatasi, sementara yang lain tenggelam dalam rasa takut dan kegelisahan, sehingga stres menjadi lebih berat.


Langkah-Langkah Mengelola Stres secara Mendalam

1. Mengenali Pemicu Stres
Langkah pertama yang sering diabaikan adalah kesadaran. Tanpa menyadari apa yang memicu stres, kita cenderung bereaksi secara otomatis—emosi meledak, pola makan terganggu, tidur kacau. Beberapa orang membuat catatan harian sederhana, menuliskan apa yang terjadi sebelum mereka merasa tertekan, reaksi mereka, dan efeknya. Dengan pola ini, kita mulai memahami bahwa stres bukan hanya tentang situasi, tapi juga bagaimana kita menafsirkannya.

2. Mengatur Pernapasan dan Koneksi Tubuh-Pikiran
Teknik pernapasan dalam, yoga, atau latihan mindfulness memiliki dasar ilmiah. Pernafasan lambat dan dalam menurunkan aktivasi sistem saraf simpatik, sehingga hormon stres mulai berkurang. Contohnya, teknik 4-7-8—tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, hembuskan 8 detik—dapat menurunkan denyut jantung dan memberi rasa tenang seketika. Seseorang yang saya kenal dalam pengalaman klinis, ketika merasa terjebak oleh tuntutan pekerjaan, hanya butuh lima menit latihan pernapasan untuk merasakan jarak antara dirinya dan rasa cemasnya.

3. Aktivitas Fisik sebagai Pelepas Stres
Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Stres menimbun energi yang seharusnya digunakan untuk melawan atau melarikan diri. Olahraga, bahkan berjalan kaki 20 menit di pagi hari, dapat menurunkan kortisol, meningkatkan endorfin, dan memberi rasa kontrol. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat mengurangi risiko depresi dan kecemasan secara signifikan (Sharma et al., 2006). Dalam pengalaman nyata, klien yang rutin jogging atau bersepeda melaporkan perasaan ringan setelah aktivitas fisik, bukan karena stres hilang total, tapi karena tubuh dan pikiran “menyelaraskan diri” kembali.

4. Membangun Dukungan Sosial
Seringkali kita merasa harus menghadapi stres sendirian, padahal berbicara dengan orang yang dipercaya—teman, keluarga, atau kelompok dukungan—dapat meringankan beban psikologis. Dalam konteks ini, bukan sekadar mendengar solusi, tetapi merasakan bahwa kita didengar dan dipahami. Hal ini memberi rasa validasi, yang secara psikologis menurunkan tekanan internal.

5. Mengatur Pola Tidur dan Nutrisi
Tidur yang cukup dan makanan seimbang memiliki dampak besar pada kapasitas kita menghadapi stres. Kurang tidur meningkatkan reaktivitas emosional, membuat hal kecil terasa besar. Nutrisi yang buruk—tinggi gula dan kafein—dapat memperburuk mood dan kecemasan. Sebaliknya, makanan kaya omega-3, magnesium, dan vitamin B kompleks dapat membantu stabilisasi mood. Dalam praktik yang pernah saya amati, seseorang yang mulai tidur cukup dan mengatur pola makan melaporkan respon stres yang lebih stabil, meskipun tekanan hidup tetap ada.

6. Teknik Kognitif: Mengubah Cara Pandang
Stres sering datang dari pikiran kita sendiri: kekhawatiran berlebih, perfeksionisme, atau membesar-besarkan ancaman. Latihan cognitive restructuring—mengenali pikiran negatif dan menilai bukti secara objektif—dapat mengurangi stres. Misalnya, seseorang yang selalu merasa “tidak pernah cukup baik” mungkin mulai bertanya: “Apa bukti nyata yang mendukung ini? Adakah momen saya berhasil?” Dengan pertanyaan sederhana ini, stres berkurang karena pikiran menjadi alat, bukan musuh.

7. Menyisihkan Waktu untuk Aktivitas yang Memuaskan
Hobi, seni, membaca, atau berkebun tidak sekadar “pengalih perhatian”. Aktivitas ini memberi otak kesempatan untuk melepaskan ketegangan, membangun rasa pencapaian, dan memberi makna. Orang yang meluangkan waktu untuk diri sendiri, meskipun sibuk, melaporkan penurunan gejala stres dan peningkatan kepuasan hidup.


Mengapa Tidak Semua Stres Bisa Dihilangkan

Satu hal yang sering sulit diterima adalah bahwa stres tidak bisa dihapus sepenuhnya. Stres adalah bagian dari kehidupan—ia memberi sinyal, memberi energi, dan kadang memaksa kita tumbuh. Tantangannya bukan menghilangkan stres, tapi mengelolanya agar tidak merusak kesejahteraan fisik dan mental.

Dalam pengalaman nyata, seseorang yang bekerja di lingkungan kompetitif awalnya berusaha menekan setiap tanda stres, hingga muncul kecemasan yang lebih besar dan insomnia. Ketika mereka mulai menerapkan strategi seperti pernapasan, olahraga, dan refleksi kognitif, stres tetap ada, tapi tidak lagi menguasai hidupnya. Hal ini menegaskan prinsip penting: kontrol bukan menghilangkan, tapi menavigasi.


Pemikiran Reflektif

Ketika kita memikirkan stres, seringkali kita berfokus pada apa yang harus “dihapus” atau “diperbaiki.” Padahal, pengalaman manusia tidak bekerja seperti itu. Stres adalah bagian dari narasi hidup yang lebih besar—ia mendorong kita mengenal batas, mengasah kreativitas, dan memberi kesempatan untuk memahami diri sendiri. Cara kita menanggapinya, bukan keberadaannya, yang menentukan kualitas hidup.

Merenungkan hal ini, mungkin yang paling penting bukan berapa banyak stres yang hilang, tapi seberapa bijak kita bisa menari bersama tekanan itu, merasakan setiap ketegangan, dan menemukan ritme di antara derasnya tuntutan dunia. Dalam pengalaman nyata, orang-orang yang mampu melakukan ini bukan hanya lebih tahan terhadap stres, tapi juga menemukan kedalaman makna dalam setiap tantangan yang mereka hadapi.


Referensi:

  • McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: Central role of the brain. Physiological Reviews.
  • Sharma, A., Madaan, V., & Petty, F. D. (2006). Exercise for mental health. Primary Care Companion to the Journal of Clinical Psychiatry.
  • Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. Holt Paperbacks.
  • Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living: Using the Wisdom of Your Body and Mind to Face Stress, Pain, and Illness.

Stres adalah fenomena yang begitu umum hingga hampir setiap orang, pada suatu titik dalam hidupnya, merasakan tekanan ini. Namun, walaupun umum, dampaknya terhadap tubuh dan pikiran tidak bisa dianggap remeh. Stres bukan sekadar rasa cemas sesaat; ia adalah respons kompleks tubuh terhadap ancaman—baik nyata maupun yang dibayangkan—dan dapat memengaruhi sistem saraf, hormon, serta kesehatan mental secara keseluruhan. Memahami bagaimana mengelola stres memerlukan pandangan yang menyeluruh, bukan hanya dari perspektif perilaku, tetapi juga dari interaksi fisiologis dan psikologis yang mendalam.


Memahami Stres dari Perspektif Tubuh dan Pikiran

Saya pernah mengenal seseorang yang tampak selalu tersenyum di depan teman-temannya, produktif di pekerjaan, dan aktif dalam kegiatan sosial. Namun, di balik senyumnya, terdapat ketegangan kronis: detak jantung yang cepat, otot-otot yang selalu tegang, dan pikiran yang terus berputar tentang hal-hal yang belum selesai. Ini adalah contoh nyata bagaimana stres tidak selalu tampak dari luar, tetapi tubuh dan pikiran bekerja keras menghadapi tekanan yang dirasakan.

Secara fisiologis, stres memicu aktivasi sistem saraf simpatik, melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Dalam jangka pendek, ini membantu tubuh merespons situasi berbahaya—“fight or flight response”—namun bila berlangsung kronis, dapat merusak sistem imun, memengaruhi kualitas tidur, menurunkan konsentrasi, dan memicu gangguan mental seperti kecemasan atau depresi. Literatur medis, termasuk Stress: Concepts, Cognition, Emotion, and Behavior (Fink, 2016), menekankan bahwa stres yang tidak dikelola dengan baik memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik.


Faktor yang Memperparah Stres

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih rentan terhadap stres kronis. Dalam pengamatan yang sering muncul dalam kisah-kisah yang saya dengar, individu yang mengalami kombinasi berikut cenderung menghadapi tekanan yang lebih berat:

  1. Beban pekerjaan yang berlebihan dan kurangnya kontrol: Seseorang yang merasa tidak memiliki otonomi atas tugasnya sering mengalami stres yang lebih intens dibandingkan mereka yang memiliki kebebasan membuat keputusan.
  2. Trauma atau pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan: Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketegangan atau trauma dapat mengembangkan sensitivitas tinggi terhadap stres, karena sistem saraf mereka “siap siaga” secara konstan.
  3. Kurangnya dukungan sosial: Saya pernah berbincang dengan seorang individu yang tampak sukses secara profesional, namun ketika membicarakan hidup pribadinya, ia mengakui merasa sangat kesepian. Tanpa orang yang bisa dipercaya untuk berbagi beban emosional, stres cenderung menumpuk dan sulit diatasi.
  4. Pola pikir yang kaku atau perfeksionis: Individu yang menuntut kesempurnaan pada diri sendiri atau sulit menerima ketidakpastian sering mengalami stres lebih berat karena mereka terus-menerus merasa gagal atau tidak cukup baik.

Strategi Mengelola Stres Tanpa Obat

Tidak semua strategi mengurangi stres memerlukan intervensi medis. Ada pendekatan yang melibatkan penyesuaian perilaku, latihan mental, dan perubahan gaya hidup. Salah satu kisah yang selalu teringat adalah seorang profesional muda yang tampak sangat sibuk, selalu menghadiri rapat, dan jarang tidur cukup. Ia mulai menerapkan rutinitas sederhana: berjalan kaki setiap pagi, menulis jurnal emosi, dan membatasi penggunaan media sosial. Lambat laun, ketegangan yang dirasakannya berkurang, meskipun tekanan pekerjaan tetap ada.

Beberapa pendekatan yang terbukti secara ilmiah membantu mengelola stres antara lain:

  1. Aktivitas Fisik
    Olahraga meningkatkan pelepasan endorfin—hormon yang memunculkan rasa bahagia—dan menurunkan kadar kortisol. Bahkan latihan ringan seperti berjalan kaki 30 menit setiap hari dapat memberi efek menenangkan bagi sistem saraf.
  2. Latihan Pernafasan dan Mindfulness
    Teknik pernapasan dalam, meditasi, atau mindfulness membantu menenangkan sistem saraf simpatik, menurunkan detak jantung, dan memberi jeda bagi pikiran yang terlalu cepat berputar. Dalam pengalaman yang saya dengar, individu yang konsisten melakukan praktik mindfulness mampu mengamati stresnya tanpa terjebak di dalamnya, sehingga muncul rasa kontrol yang lebih besar terhadap emosi.
  3. Tidur yang Berkualitas
    Kurang tidur memperparah respons stres, karena otak tidak memiliki waktu untuk memproses emosi dan pengalaman hari itu. Membentuk rutinitas tidur yang konsisten, menghindari kafein di malam hari, dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman sangat membantu stabilisasi mood.
  4. Ekspresi Emosi Secara Sehat
    Menulis jurnal, berbicara dengan teman dekat, atau menyalurkan energi melalui seni dan kreativitas memungkinkan pelepasan emosi yang terpendam. Saya pernah mendengar kisah seorang seniman yang setiap kali merasa tertekan, menuangkan perasaannya ke dalam lukisan. Proses ini memberinya rasa lega dan pengertian terhadap dirinya sendiri.
  5. Mengatur Lingkungan dan Prioritas
    Stres sering muncul dari perasaan kewalahan. Mengidentifikasi tugas yang paling penting, menetapkan batasan, dan delegasi dapat mengurangi tekanan. Seorang individu yang awalnya selalu berkata “ya” pada semua permintaan belajar untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak esensial, dan melaporkan penurunan signifikan dalam ketegangan mental.
  6. Hubungan Sosial yang Mendukung
    Dukungan emosional dari keluarga, teman, atau komunitas dapat menjadi bantalan terhadap stres. Bahkan kehadiran seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi bisa mengurangi respons fisiologis tubuh terhadap tekanan.

Perspektif Neuropsikiatri

Stres bukan sekadar pengalaman psikologis, tetapi juga fisiologis. Aktivasi kortisol kronis dapat memengaruhi hippocampus, bagian otak yang terkait memori dan regulasi emosi. Dalam kondisi stres jangka panjang, kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan menurun. Saya pernah membaca kasus seorang profesional yang tampak panik dalam situasi kritis, tetapi setelah menerapkan teknik relaksasi dan mindfulness, responsnya menjadi lebih terkontrol. Ini menegaskan bahwa mengelola stres bukan tentang menghilangkan tekanan sepenuhnya, tetapi tentang memberi otak dan tubuh strategi untuk merespons dengan adaptif.


Stres: Sinyal, Bukan Musuh

Seringkali kita melihat stres sebagai hal yang negatif, sesuatu yang harus dihapuskan. Namun, stres dalam dosis kecil justru penting untuk motivasi dan kewaspadaan. Yang berbahaya adalah stres kronis yang tidak terkelola, yang menguras energi dan kesehatan mental. Kisah-kisah yang saya dengar mengajarkan bahwa mengenali tanda-tanda stres—seperti mudah marah, sulit tidur, atau gangguan konsentrasi—adalah langkah pertama untuk memulihkan keseimbangan.


Refleksi

Dalam merenungkan stres, saya selalu teringat pada seorang individu yang tampak sibuk dan sukses, tetapi di malam hari menulis di jurnal tentang ketakutannya akan kegagalan. Dari pengamatannya sendiri, ia menemukan bahwa mengakui stres, memberi ruang bagi perasaan, dan melakukan tindakan kecil yang konsisten lebih efektif daripada mencoba menekan atau mengabaikannya. Stres bukanlah musuh yang harus dilawan secara frontal, tetapi sinyal yang memberi tahu kita bahwa tubuh dan pikiran memerlukan perhatian, jeda, dan strategi adaptif.

Mungkin yang paling penting adalah menyadari bahwa mengelola stres bukan sekadar mengurangi tekanan, tetapi tentang memahami diri sendiri, mengenali batasan, dan membangun kapasitas untuk menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana dan tenang. Setiap langkah kecil untuk merawat diri adalah bagian dari perjalanan panjang menuju keseimbangan emosional dan kesehatan jiwa yang berkelanjutan.