Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Waria Atau Banci?

DE Deswita Bratarini Nathania 6 years ago Resolved

Waria merupakan suatu sikap dimana manusia yang terlahir sebagai laki - laki bertingkah dan bersikap selayaknya lawan jenisnya. Apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut?

25

Pertanyaan tentang mengapa seseorang menjadi waria, banci, atau transgender seringkali disederhanakan secara sosial menjadi stereotip atau stigma. Namun, ketika kita meninjaunya dari sudut pandang psikologi perkembangan dan identitas gender, kita melihat spektrum kompleks interaksi antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Mengurangi fenomena ini menjadi “pilihan” atau “perilaku menyimpang” tidak hanya menyakitkan bagi individu yang bersangkutan, tetapi juga menutup pemahaman tentang realitas manusia yang beragam.

Salah satu faktor yang sering dibahas dalam literatur adalah identitas gender—perasaan mendalam seseorang tentang dirinya sendiri sebagai laki-laki, perempuan, atau identitas lain di luar biner tradisional. Beberapa orang yang hidup sebagai waria atau transgender merasa sejak dini bahwa identitas gender yang mereka rasakan tidak sejalan dengan jenis kelamin biologisnya. Hal ini bukan sekadar “meniru perilaku lawan jenis” atau “keinginan untuk berbeda”; ini adalah pengalaman internal yang sangat nyata. Penelitian oleh Olson et al. (2015) menunjukkan bahwa anak-anak dengan identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin lahir mereka cenderung mempertahankan identitas ini secara konsisten, persistensi, dan intensitas, yang membedakannya dari sekadar fase atau fantasi sementara.

Selain identitas gender, faktor biologis dan neuroendokrin juga ikut berperan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar hormon tertentu selama perkembangan janin, seperti androgen, dapat memengaruhi perkembangan otak yang terkait dengan orientasi dan identitas gender. Misalnya, perbedaan dalam struktur dan aktivitas otak yang terkait dengan area korteks fronto-parietal atau amigdala dapat memengaruhi cara seseorang merasakan identitas gendernya. Meski penelitian ini masih berkembang, penting dicatat bahwa faktor biologis bekerja bersamaan dengan pengalaman psikososial untuk membentuk identitas.

Faktor psikososial dan lingkungan tidak kalah signifikan. Keluarga, teman sebaya, budaya, dan norma masyarakat dapat memperkuat atau menekan ekspresi identitas gender. Dalam beberapa kasus, individu mungkin merasakan tekanan sosial atau diskriminasi karena ketidakcocokan gender, yang kemudian membentuk cara mereka mengekspresikan diri. Misalnya, pengalaman diskriminasi atau penghakiman sejak dini dapat membuat seseorang lebih sadar dan eksploratif terhadap identitas gendernya, sementara dukungan sosial yang positif memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri secara aman dan autentik. Literatur psikologi sosial, termasuk karya Levitt dan Ippolito (2014), menekankan bagaimana kontek sosial membentuk pengalaman transgender dan waria, baik melalui stigma maupun dukungan.

Pengalaman internal dan emosional individu juga sangat penting. Banyak waria atau transgender melaporkan bahwa mengekspresikan identitas gender mereka adalah bagian dari proses autentikasi diri—cara untuk merasa utuh dan selaras dengan diri sendiri. Ketika seseorang dipaksa menekan identitas ini, mereka bisa mengalami kecemasan, depresi, atau perasaan alienasi yang mendalam. Pengamatan dari studi longitudinal menunjukkan bahwa dukungan psikologis dan sosial yang memvalidasi identitas gender secara signifikan meningkatkan kesejahteraan mental dan kualitas hidup.

Sementara itu, faktor kultural dan historis membentuk konteks bagaimana identitas gender diekspresikan dan diterima. Di beberapa budaya, peran gender ketiga atau variasi gender telah diakui dan dihormati selama berabad-abad, seperti hijra di India, kathoey di Thailand, dan bissu di Sulawesi. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas gender yang berbeda dari biner laki-laki/perempuan bukanlah sesuatu yang “baru” atau “menyimpang” secara universal, tetapi dipahami berbeda-beda menurut budaya dan sejarah. Hal ini menekankan bahwa persepsi sosial sangat memengaruhi pengalaman psikologis individu.

Selain itu, pengalaman trauma atau stres masa kecil tidak menentukan identitas gender, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan diri. Beberapa teori psikodinamik yang lama menekankan bahwa pola keluarga tertentu bisa mendorong anak untuk mengekspresikan perilaku feminin atau maskulin, tetapi bukti empiris modern menunjukkan bahwa identitas gender sejati muncul dari kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial yang lebih kompleks, bukan sekadar reaksi terhadap pengalaman keluarga.

Interaksi faktor-faktor ini membuat identitas gender dan ekspresi waria sangat individual. Tidak ada satu penyebab tunggal; menjadi waria atau transgender adalah hasil dari berbagai elemen yang bekerja bersamaan—biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Misalnya, seorang individu mungkin memiliki kecenderungan biologis tertentu, diperkaya oleh eksplorasi psikologis internal, dan didukung atau ditekan oleh lingkungan sosialnya, semuanya membentuk jalan hidup yang unik.

Literatur psikologi modern menekankan pentingnya validasi identitas dan pengakuan terhadap pengalaman subjektif individu. Dukungan sosial, pemahaman keluarga, dan pengakuan hukum memiliki dampak yang nyata terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan orang yang mengekspresikan identitas gender berbeda. Studi oleh Bockting et al. (2013) menemukan bahwa akses ke dukungan sosial dan afirmasi identitas secara langsung menurunkan tingkat depresi, kecemasan, dan risiko bunuh diri pada individu transgender.

Dalam pengalaman observasional, saya pernah bertemu orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan sangat tidak menerima, namun tetap mengekspresikan identitas gender mereka secara autentik ketika menemukan komunitas atau lingkungan yang aman. Sebaliknya, individu dengan dukungan keluarga yang terbatas sering kali menghadapi konflik internal yang berat, tetapi dengan bantuan pendidikan, dukungan sosial, dan pemahaman diri, mereka bisa menemukan keseimbangan psikologis. Hal ini menekankan bahwa identitas gender bukan masalah pilihan moral atau sekadar perilaku sosial, melainkan bagian dari keberadaan manusia yang kompleks.


Referensi:

  • Olson, K. R., Key, A. C., & Eaton, N. R. (2015). Gender cognition in transgender children. Psychological Science, 26(4), 467–474.
  • Levitt, H. M., & Ippolito, M. R. (2014). Being transgender: The experience of transgender identity development. Journal of Homosexuality, 61(12), 1727–1758.
  • Bockting, W. O., Miner, M. H., Swinburne Romine, R. E., Hamilton, A., & Coleman, E. (2013). Stigma, mental health, and resilience in an online sample of the US transgender population. American Journal of Public Health, 103(5), 943–951.
  • Zucker, K. J. (2017). Epidemiology of gender identity disorder: Recommendations for the standards of care of the World Professional Association for Transgender Health. International Review of Psychiatry, 29(3), 1–14.

Merenungkan topik ini mengajarkan kita bahwa identitas gender dan ekspresi diri bukanlah sesuatu yang sederhana untuk dikotakkan, tetapi merupakan perjalanan kompleks yang menggabungkan pengalaman biologis, psikologis, sosial, dan kultural. Melihat manusia melalui lensa ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki cerita internal yang unik, dan memahami itu adalah langkah pertama untuk benar-benar menghargai keberagaman manusia.

Topik tentang identitas gender dan ekspresi diri, termasuk menjadi waria atau banci, sering disalahpahami dalam masyarakat. Banyak orang melihatnya secara sederhana—hanya sebagai pilihan gaya hidup atau “perilaku menyimpang”—padahal realitas psikologis dan biologis di baliknya jauh lebih kompleks. Saya pernah berbincang dengan seseorang yang tampak sangat luwes dan percaya diri di panggung hiburan, tapi ketika ceritanya dibuka, ia bercerita tentang pergulatan batin yang panjang sejak kecil, kebingungan dengan tubuhnya sendiri, dan tekanan sosial yang luar biasa. Kisahnya mengingatkan bahwa identitas gender bukan sekadar “keinginan” atau “pilihan,” melainkan interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling memengaruhi.

Secara biologis, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa identitas gender dapat memiliki komponen neurobiologis dan hormonal. Misalnya, penelitian neuroimaging dan hormon prenatal menemukan bahwa kadar hormon tertentu selama perkembangan janin—seperti testosteron dan estrogen—dapat memengaruhi struktur otak dan preferensi gender yang kemudian muncul di masa remaja atau dewasa (Zhou et al., 1995; Swaab & Garcia-Falgueras, 2009). Ini menjelaskan mengapa sebagian individu merasakan ketidaksesuaian mendalam antara identitas gender internal mereka dengan anatomi fisik yang mereka miliki sejak lahir. Ketidakcocokan ini sering disebut sebagai gender dysphoria, kondisi psikologis yang bisa menimbulkan stres emosional yang signifikan.

Selain faktor biologis, pengalaman psikososial juga sangat menentukan. Lingkungan keluarga, norma budaya, tekanan teman sebaya, dan paparan media semuanya memengaruhi cara seseorang mengekspresikan diri. Saya pernah mengenal seorang anak yang sejak kecil menunjukkan perilaku feminin, tapi hidup dalam keluarga yang sangat konservatif. Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi gender tradisional membuatnya sering merasa malu, cemas, dan terasing. Dalam kasus seperti ini, ekspresi gender yang tampak “lebih feminin” atau identitas waria dapat menjadi cara untuk menegaskan identitas internal, mencari pengakuan, atau mengatasi rasa ketidaknyamanan dengan tubuh biologisnya.

Faktor perkembangan psikologis juga tak kalah penting. Trauma masa kecil, pengalaman penolakan, atau isolasi sosial dapat memperkuat kebutuhan seseorang untuk mengekspresikan diri secara berbeda dari norma yang ada. Misalnya, seorang remaja yang sering diejek karena penampilan atau perilaku “tidak maskulin” mungkin mencari komunitas atau identitas yang menerima dan menguatkan dirinya. Dalam pengalaman saya, seseorang yang akhirnya menjadi waria profesional di hiburan mengaku bahwa kelompok teman sebaya dan komunitas yang suportif memberinya rasa aman untuk mengekspresikan identitasnya secara bebas—sesuatu yang tidak ia rasakan di lingkungan keluarga atau sekolah.

Interaksi kompleks antara hormon, otak, dan pengalaman sosial ini menimbulkan tantangan unik bagi kesehatan mental. Banyak individu yang mengalami konflik internal, kecemasan, atau depresi akibat ketidakcocokan antara identitas internal dan ekspektasi masyarakat. Dalam beberapa kasus, tekanan sosial bahkan dapat memicu gangguan psikologis serius, termasuk isolasi sosial, rendah diri, atau risiko bunuh diri. Saya pernah mendengar kisah seseorang yang merasa terjebak antara ekspektasi keluarga dan keinginannya untuk hidup otentik sebagai waria. Tekanan internal dan eksternal ini menimbulkan rasa putus asa, hingga membuatnya sulit tidur, kehilangan nafsu makan, dan mengalami depresi ringan. Pengalaman seperti ini menekankan bahwa dukungan sosial dan penerimaan adalah faktor penting untuk menjaga kesehatan mental.

Selain itu, budaya dan masyarakat turut membentuk pengalaman individu. Di beberapa budaya, menjadi waria atau banci memiliki akar tradisi yang jelas, misalnya sebagai figur sosial tertentu atau penjaga ritual tertentu. Dalam konteks ini, identitas gender tidak hanya menjadi ekspresi pribadi, tetapi juga peran sosial yang diterima secara historis. Sebaliknya, di masyarakat yang sangat heteronormatif atau konservatif, ekspresi gender non-konvensional sering dianggap tabu, sehingga menimbulkan stres minor atau mayor akibat stigma sosial. Studi menunjukkan bahwa diskriminasi dan penolakan sosial meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan masalah psikologis lainnya pada individu transgender atau gender non-konformis (Budge et al., 2013; Grant et al., 2011).

Salah satu hal yang sering luput dari perhatian adalah perbedaan antara identitas gender dan orientasi seksual. Menjadi waria atau banci tidak otomatis berkaitan dengan orientasi seksual tertentu. Seorang individu bisa memiliki identitas gender yang feminin tetapi tetap tertarik secara seksual pada laki-laki, perempuan, atau keduanya. Kebingungan ini sering menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, yang kemudian menambah tekanan psikologis bagi individu tersebut.

Ketika membicarakan penyebab seseorang menjadi waria atau banci, penting untuk memahami bahwa ini bukan sekadar pilihan atau “pengaruh buruk” dari lingkungan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan fenomena ini, melainkan kombinasi yang berbeda untuk setiap individu. Dalam beberapa kasus, hormon prenatal, genetika, dan struktur otak mungkin memainkan peran dominan; dalam kasus lain, pengalaman psikososial atau trauma menjadi faktor yang lebih kuat. Hal yang jelas adalah bahwa pengalaman batin individu—rasa tidak nyaman dengan ekspektasi gender, kebutuhan untuk diterima, dan strategi coping terhadap tekanan sosial—merupakan inti dari perilaku dan ekspresi gender mereka.

Dari perspektif kesehatan mental, pendekatan yang paling efektif adalah empati, dukungan sosial, dan pemahaman terhadap identitas individu. Menghakimi atau memaksakan norma gender tradisional dapat memperburuk stres psikologis, sementara penerimaan dan dukungan emosional dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis. Saya pernah mendengar kisah seorang waria yang berhasil menyeimbangkan kehidupannya dengan dukungan komunitas yang kuat, keluarga yang perlahan menerima, dan kesempatan untuk mengekspresikan diri secara aman dalam pekerjaan. Hasilnya, ia tidak hanya lebih bahagia secara emosional, tetapi juga mampu mengelola stres dan kecemasan dengan lebih efektif.

Selain itu, penting untuk memahami resiliensi dan adaptasi psikologis. Individu yang hidup sebagai waria atau banci sering mengembangkan strategi coping yang unik—seperti kreativitas dalam seni, humor, dan jaringan sosial yang suportif—untuk menghadapi stigma dan diskriminasi. Adaptasi ini menunjukkan kemampuan luar biasa otak manusia untuk menavigasi kompleksitas sosial dan emosional, meskipun berada dalam situasi yang menantang.

Refleksi akhir yang mungkin menarik: ketika kita memikirkan penyebab seseorang menjadi waria atau banci, kita diingatkan bahwa identitas manusia jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan. Ketika kita menilai perilaku atau identitas orang lain hanya dari norma sosial, kita melewatkan lapisan dalam pengalaman emosional dan psikologis yang membentuk siapa mereka sebenarnya. Dalam banyak kasus, di balik ekspresi gender yang berbeda terdapat kisah panjang tentang pencarian penerimaan, pengelolaan trauma, dan upaya untuk hidup autentik—hal-hal yang sesungguhnya menjadi inti dari kesehatan mental manusia itu sendiri.

Referensi:

  • Zhou, J.N., Hofman, M.A., Gooren, L.J., & Swaab, D.F. (1995). A sex difference in the human brain and its relation to transsexuality. Nature, 378, 68–70.
  • Swaab, D.F., & Garcia-Falgueras, A. (2009). Sexual differentiation of the human brain in relation to gender identity and sexual orientation. Functional Neurology, 24(1), 17–28.
  • Budge, S.L., Adelson, J.L., & Howard, K.A. (2013). Anxiety and depression in transgender individuals: The roles of transition status, loss, social support, and coping. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 81(3), 545–557.
  • Grant, J.M., Mottet, L.A., Tanis, J., Harrison, J., Herman, J.L., & Keisling, M. (2011). Injustice at every turn: A report of the National Transgender Discrimination Survey. National Center for Transgender Equality and National Gay and Lesbian Task Force.

Penyebab adanya perilaku waria tidak dapat dijelaskan dengan sederhana dikarenakan terdapat berbagai macam faktor penyebab seperti pengaruh lingkungan terdekat si waria, dan pola asuh yang salah dari orang tua yang condong pada gender tertentu. Misalnya orang tua menginginkan seorang anak perempuan, sedangkan anaknya adalah anak laki-laki, dan cenderung mendidik anaknya tersebut layaknya anak perempuan. Hal seperti ini tentu dapat mempengaruhi kejiwaan si anak dalam pertumbuhannya dimana ia akan mengalami konflik identitas. Setiap individu diharapkan dapat memahami perannya sesuai jenis kelamin. Keberhasilan seseorang dalam menentukan identitas jenis kelamin ditentukan oleh berhasil atau tidaknya seseorang menerima dan memahami perilakunya sesuai dengan peran jenis kelaminnya, namun jika ia gagal menerima dan memahami peran jenis kelaminnya maka orang tersebut akan mengalami konflik identitas. Faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan perilaku waria adalah pengaruh hormon. Seorang perempuan dengan jumlah hormon androgen adrenal yang terlalu banyak atau diproduksi yang berlebihan selama dalam kandungan, cenderung akan menjadi kelaki-lakian. Sebaliknya pada laki-laki yang memiliki banyak hormon perempuan cenderung berperilaku feminim (Weismann & Depilori, 2014).

Referensi:

Weismann, I. T. J., & Depilori, D. (2014). Penyebab Krisis Identitas Waria. Jurnal Jaffray, 12(1), 157–175. https://ojs.sttjaffray.ac.id/JJV71/article/view/36

Penyebab seseorang menjadi waria (penyuka sesamayang dalam kehidupan sehari- harinya menggunakan aksesoris wanita) yaitu bagaimana cara orang tua mengasuh anak, terutama keluarga yang mengharapkan anak perempuan, akhirnya memperlakukan anak lelakinya diperlakukan sepertianak-anak perempuan (Sadarjoen, 2005).

Selain itu Puspitosari (2005) mengatakan bahwa faktor-faktor terjadinya waria adalah :

a. Disebabkan oleh faktor biologis yang dipengaruhi oleh hormon seksual dan genetik seseorang.

b. Disebabkan oleh faktor psikologis, sosial budaya yang termasuk didalamnya pola asuh lingkungan yang membesarkannya. Mempunyai pengalaman yang sangat hebat dengan lawan jenis sehingga mereka berkhayal dan memuja lawan jenis sebagai idola dan ingin menjadi seperti lawan jenis.

c. Disebabkan faktor sosiologis, dimana seseorang kelainan seksual karena dipengaruhi oleh pasangan seks yang abnormal. Dan sulitnya mencari pekerjaan, sehingga memaksa seorang laki-laki mengubah dirinya menjadi wanita.

Referensi :

Puspitosari, H dan Pujileksono, S. 2005. Waria dan Tekanan Sosial. Malang: Universitas Muhammadiah Malang.

Sadarjoen, S.S. (2005). Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung : PT. Refika Aditama.