Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Yang Memengaruhi Kemampuan Seseorang dalam Mengatasi Stres?

CI Citra Laila Zanna 6 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
38

stress menurut kamus oxford diartikan sebagai tekanan tau kekhawatiran individu yang disebabkan karman adanya masalah dalam hidup. terdapat para ahli yang mendefinisikan stress, menurut Robbins (2001) stress merupakan kondisi yang menekan psikis individu untuk mencapai sesuatu kesempatan akan tetapi terdapat sebuah batasan atau penghalang untuk menggapainya. seperti terjadi pada fenomena saat ini bahwasanya selma pandemi covid-19 memunculkan berbagai reaksi yang dialama individu-individu superti stress akan cemas, stress, frustasi, dan lain sebagainya.

lalu apa yang mempengaruhi seseorang dalan mengatasi stres. meurt sumampouw & mundzir,  2011 terdapat dua faktor yakni, faktor internal dan faktor esterna. faktor internal yaitu sumber stress dari dalam diri sesorang seperti sakit, ataupun adanya konflik. sedangkan faktor eksternal yaitu sumer stress dari dalam keluarga seperti perselisihan keuangan, acuh tak acuh dingga tujuan yang saling berbeda-beda.

bagaimana seseorang dalam mengatasi stress, menurut lazaruz & folkman coping stress merupakan proses individu untuk mengelolah tuntutan-tuntutan baik berasal dari individu ataupun luar (lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang digunakan untuk menghadapi situasi tekanan. terdapat dua fungsi coping stress yakni emotion-focused coping dan problem focused coping. pertama emotion focused coping yaitu bagimana individu dalam mengatur respon emosional terhadap stress seperti halnya dengan obat penenang, ataupun meniadakan fakta yang tidak menyenangkan, jika tidak mengubah kondisi stressfulnya maka individu cenderung mengatur emosinya. kedua problem-focused coping yaitu mengatasi dengan mempelajari cara atau keterampilan baru yang digunakan individu untuk strategi bahwa yakin akan dapat mengubah situasi stressnya. metode ini cenderung digunakan pada orang dewasa.

Sumber :

Muslim, M. (2020). Manajemen Stress pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Manajemen Bisnis, 23 (2), 192-201.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi stres tidak muncul begitu saja dari ketiadaan. Ia adalah hasil interaksi kompleks antara pengalaman hidup, kondisi psikologis, biologi tubuh, lingkungan sosial, dan cara seseorang memaknai dunia di sekitarnya. Ketika kita melihat orang yang tampak tenang di tengah krisis, atau sebaliknya, orang yang mudah terhanyut oleh tekanan kecil, sebenarnya kita sedang menyaksikan perbedaan dalam kapasitas adaptif—kemampuan internal untuk menyesuaikan diri dengan tantangan emosional.


1. Faktor Biologis dan Neurofisiologis

Tubuh manusia memiliki sistem biologis yang sangat responsif terhadap stres. Hormon seperti kortisol dan adrenalin diaktifkan ketika kita menghadapi ancaman atau tekanan. Orang dengan tingkat sensitivitas biologis yang berbeda akan merespons stres dengan intensitas yang berbeda pula. Misalnya, penelitian dalam neuropsikologi menunjukkan bahwa beberapa individu memiliki reaktivitas amigdala yang lebih tinggi, sehingga mereka lebih mudah cemas atau tertekan saat menghadapi tekanan emosional, sementara yang lain memiliki mekanisme pengaturan emosi yang lebih efektif.

Selain itu, genetika juga memainkan peran. Beberapa orang secara alami memiliki kecenderungan untuk lebih resilien karena faktor-faktor neurobiologis yang mengatur mood, impulsivitas, dan toleransi terhadap ketidakpastian. Namun ini bukan penentu mutlak; genetika memberikan kerangka awal, sementara pengalaman hidup membentuk cara kita belajar menghadapi stres.


2. Pengalaman Hidup dan Riwayat Trauma

Salah satu faktor paling signifikan yang memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi stres adalah bagaimana mereka dibesarkan dan pengalaman hidup mereka sebelumnya. Individu yang tumbuh dalam lingkungan stabil, aman, dan penuh dukungan biasanya mengembangkan strategi koping yang lebih sehat. Sebaliknya, mereka yang menghadapi trauma, kekerasan, atau kehilangan besar cenderung memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap stres, meski ini tidak selalu menjadi kelemahan permanen.

Yang menarik adalah konsep “stress inoculation”—pengalaman menghadapi tekanan secara bertahap bisa memperkuat kemampuan adaptif seseorang. Contohnya, seseorang yang pernah gagal dalam ujian atau proyek penting, lalu belajar dari pengalaman itu, seringkali lebih tangguh menghadapi kegagalan di kemudian hari dibanding mereka yang jarang menghadapi rintangan.


3. Pola Pikir dan Persepsi

Bagaimana seseorang menafsirkan peristiwa memiliki pengaruh besar terhadap reaksi stresnya. Kognisi atau pola pikir membentuk cara kita melihat ancaman: apakah kita menganggap masalah sebagai bencana tak teratasi, atau sebagai tantangan yang bisa dipelajari?

Aaron T. Beck dan psikologi kognitif telah menekankan bahwa distorsi kognitif—seperti generalisasi berlebihan, melihat hitam-putih, atau berpikir catastrophizing—dapat memperbesar respons stres. Seseorang yang cenderung berpikir fleksibel dan optimis, bahkan ketika menghadapi tekanan, biasanya mampu menjaga ketenangan lebih lama dibanding yang selalu menilai situasi secara ekstrem.

Dalam praktik nyata, saya pernah menyaksikan individu yang setiap kali menghadapi kritik kecil, merasakan dunia runtuh, sementara orang lain bisa menerima kritik itu sebagai bahan evaluasi. Perbedaannya terletak pada internal narrative—cerita internal yang mereka bangun tentang diri dan dunia.


4. Dukungan Sosial

Tidak bisa dilepaskan, kualitas hubungan sosial dan dukungan interpersonal sangat menentukan kemampuan seseorang menghadapi stres. Individu dengan jaringan sosial yang kuat—teman, keluarga, atau komunitas yang mendukung—biasanya menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi. Penelitian oleh Cohen & Wills (1985) menunjukkan bahwa dukungan sosial mengurangi dampak stres pada kesehatan fisik dan mental, karena memberi rasa aman, validasi emosional, dan kesempatan untuk berbagi beban psikologis.

Namun, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Hubungan yang toksik atau penuh konflik justru dapat menambah stres, meski seseorang memiliki banyak teman. Koneksi yang sehat memberikan rasa diterima, dipahami, dan tidak sendirian, yang secara psikologis sangat menenangkan sistem saraf kita.


5. Strategi Koping dan Keterampilan Regulasi Emosi

Tidak semua orang dilahirkan dengan keterampilan menghadapi stres, namun banyak yang dapat belajar. Strategi koping adaptif, seperti problem solving, relaksasi, meditasi, atau jurnal refleksi, bisa meningkatkan kapasitas seseorang untuk menghadapi tekanan.

Sebaliknya, koping maladaptif—seperti menghindari masalah, menyalahkan diri sendiri berlebihan, atau penyalahgunaan zat—justru memperburuk stres dan menurunkan kemampuan adaptif. Dalam pengalaman nyata, seseorang yang rutin meluangkan waktu untuk berolahraga atau bermeditasi, sekalipun menghadapi tuntutan pekerjaan berat, cenderung lebih stabil secara emosional dibanding yang tidak memiliki outlet sama sekali.


6. Kepribadian dan Temperamen

Kepribadian seseorang memengaruhi bagaimana ia menanggapi tekanan. Misalnya, individu dengan temperamen neurotik tinggi lebih mudah merasa cemas dan sedih, sementara mereka yang ekstrovert atau terbuka cenderung lebih adaptif dan mampu mencari dukungan sosial lebih mudah. Namun ini juga bukan absolut; pengembangan kesadaran diri dan strategi koping yang tepat bisa mengimbangi kecenderungan temperamental.


7. Konteks Budaya dan Lingkungan

Budaya membentuk definisi stres dan cara menghadapinya. Di beberapa budaya, mengekspresikan emosi negatif secara terbuka dianggap wajar dan didukung, sementara di budaya lain, tekanan untuk selalu tampak kuat dan tenang dapat menimbulkan stres tambahan. Nilai, norma, dan harapan sosial yang internalisasi seseorang memengaruhi cara mereka menilai ancaman dan mencari solusi.

Selain itu, faktor lingkungan seperti stabilitas ekonomi, akses pendidikan, dan keamanan fisik juga memainkan peran. Orang yang hidup dalam lingkungan berisiko tinggi atau penuh ketidakpastian biasanya lebih cepat mengalami stres, bahkan terhadap tekanan yang tampak ringan bagi orang lain.


8. Kesadaran Diri dan Mindfulness

Orang yang memiliki tingkat kesadaran diri tinggi cenderung lebih efektif menghadapi stres karena mereka mampu mengenali tanda-tanda tekanan sejak dini dan memilih strategi adaptif. Latihan mindfulness atau meditasi, yang menekankan kehadiran penuh dalam momen sekarang, telah terbukti menurunkan tingkat kortisol dan meningkatkan regulasi emosi, sehingga seseorang bisa menghadapi situasi sulit dengan kepala lebih dingin.


Refleksi

Kemampuan menghadapi stres adalah hasil interaksi antara banyak faktor—biologi, pengalaman hidup, pola pikir, dukungan sosial, strategi koping, kepribadian, lingkungan, dan kesadaran diri. Tidak ada satu faktor pun yang menentukan, dan setiap individu membawa kombinasi unik dari elemen-elemen ini. Menyadari hal ini mengajarkan kita pentingnya empati—terhadap diri sendiri maupun orang lain—karena respons terhadap tekanan bukan sekadar soal “lemah” atau “kuat,” tetapi tentang sejarah hidup, konteks, dan keterampilan yang telah terbentuk.

Dalam setiap manusia, ada kapasitas untuk belajar dan menyesuaikan diri, tapi kapasitas itu bukanlah hal yang instan. Ia berkembang melalui pengalaman, refleksi, dan kadang, kegagalan. Dan mungkin, salah satu hal paling menenangkan yang bisa kita pahami adalah bahwa menghadapi stres bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan bagian dari perjalanan hidup—sebuah proses yang tak pernah benar-benar selesai, tetapi selalu memberi peluang untuk tumbuh dan memahami diri lebih dalam.


Referensi:

  • Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
  • Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.
  • Bonanno, G. A. (2004). Loss, trauma, and human resilience. American Psychologist, 59(1), 20–28.
  • Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living: Using the Wisdom of Your Body and Mind to Face Stress, Pain, and Illness. Dell.
  • Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assessing coping strategies: A theoretically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, 56(2), 267–283.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi stres bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia terbentuk dari kombinasi kompleks antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan pengalaman hidup. Memahami hal ini bukan sekadar melihat siapa yang “kuat” dan siapa yang “lemah”, tetapi menyingkap bagaimana otak, tubuh, dan pikiran kita saling berinteraksi untuk menanggapi tekanan hidup.

Saya teringat pada seorang teman lama, yang tampak sangat tenang menghadapi kesulitan besar: kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, hingga tekanan finansial yang menumpuk. Dari luar, ia terlihat mampu menanggung semua itu dengan enteng. Namun, ketika berbincang secara mendalam, ternyata ia telah mengembangkan rutinitas internal dan eksternal yang membantunya tetap stabil. Ketenangannya bukan karena ia kebal terhadap stres, tetapi karena ia memiliki kapasitas untuk memproses dan menanggapi stres dengan cara yang adaptif.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kemampuan menghadapi stres adalah biologi dan genetika. Respons stres seseorang dipengaruhi oleh sistem saraf simpatik dan parasimpatik, hormon kortisol, dan neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin. Perbedaan biologis ini membuat sebagian orang lebih sensitif terhadap tekanan, sementara yang lain mungkin lebih tahan terhadap rangsangan yang sama. Buku The Relaxation Response oleh Herbert Benson menjelaskan bagaimana sistem saraf kita dapat “terlatih” untuk menenangkan diri melalui teknik pernapasan, meditasi, dan relaksasi progresif, sehingga memperkuat kapasitas menghadapi stres.

Selain faktor biologis, pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga sangat berpengaruh. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan suportif dan hangat cenderung mengembangkan mekanisme koping yang sehat. Sebaliknya, pengalaman trauma, pengabaian, atau tekanan emosional yang berulang dapat mengubah cara otak merespons stres, membuat individu lebih rentan terhadap kecemasan atau depresi. Saya pernah mendengar kisah seorang individu yang selalu merasa kewalahan dengan tuntutan hidup, padahal dari luar tampak mandiri. Ia menceritakan bagaimana di masa kecilnya ia selalu ditekan untuk “tidak boleh menangis” atau “harus selalu kuat”. Pola itu membentuk respons stres yang cenderung internalisasi—menyimpan semua ketegangan dalam diri sendiri. Pengalaman masa kecil membentuk pola dasar cara kita merespons tekanan hidup.

Faktor psikologis juga berperan besar. Kecerdasan emosional, kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengatur emosi sendiri, merupakan salah satu kunci utama dalam menghadapi stres. Individu yang mampu menyadari perasaan cemas atau marah, lalu menyesuaikan responsnya, lebih cenderung bertahan dan mencari solusi daripada terjebak dalam kepanikan. Selain itu, keyakinan dan mindset juga sangat memengaruhi. Orang yang memiliki keyakinan bahwa tantangan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang cenderung menghadapi stres dengan cara yang lebih adaptif dibanding mereka yang merasa setiap kesulitan adalah ancaman pribadi. Carol Dweck dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success menekankan bahwa pola pikir berkembang (growth mindset) memungkinkan seseorang melihat hambatan sebagai peluang, bukan sebagai beban yang menakutkan.

Lingkungan sosial juga memberikan pengaruh yang kuat. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas bisa menjadi buffer atau pelindung terhadap stres. Sebaliknya, isolasi sosial atau hubungan yang toksik dapat memperburuk respons stres. Saya pernah mengenal seorang individu yang, meskipun menghadapi masalah besar, tetap merasa stabil karena memiliki kelompok teman yang selalu bisa mendengar dan memberi perspektif baru. Rasa diterima, dimengerti, dan didukung secara sosial memberi kapasitas mental tambahan untuk menghadapi tekanan.

Strategi coping yang sudah terbentuk juga menentukan seberapa efektif seseorang menangani stres. Ada dua tipe utama: coping problem-focused dan coping emotion-focused. Coping problem-focused menekankan pada penyelesaian masalah secara langsung, seperti mencari solusi untuk masalah finansial atau menyesuaikan jadwal kerja yang padat. Sedangkan coping emotion-focused menekankan pada pengelolaan emosi, misalnya melalui meditasi, hobi, atau menulis jurnal. Kedua jenis coping ini saling melengkapi, dan seseorang yang fleksibel dalam menggunakannya cenderung lebih resilien.

Tidak kalah penting, kondisi kesehatan fisik dan gaya hidup memengaruhi kapasitas menghadapi stres. Tidur yang cukup, olahraga teratur, pola makan seimbang, dan manajemen waktu yang baik memberikan fondasi biologis yang kuat. Tanpa fondasi ini, sistem saraf mudah terganggu, hormon stres meningkat, dan kemampuan untuk berpikir jernih menurun. Ada satu kisah yang selalu saya ingat: seorang individu yang selalu merasa kewalahan, namun setelah mulai berjalan kaki setiap pagi dan memperbaiki pola tidurnya, ia menemukan bahwa masalah yang dulu terasa mustahil kini bisa dihadapi dengan lebih tenang. Tubuh yang sehat memberi ruang bagi pikiran untuk tetap fleksibel di tengah tekanan.

Keterampilan mindfulness dan refleksi diri juga menjadi penentu. Individu yang mampu memperhatikan pikiran dan perasaannya tanpa bereaksi berlebihan cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik. Penelitian oleh Kabat-Zinn menunjukkan bahwa praktik mindfulness mengurangi reaktivitas emosional dan meningkatkan kapasitas menghadapi stres. Kesadaran penuh terhadap diri sendiri memungkinkan seseorang mengamati stres tanpa tenggelam di dalamnya.

Faktor budaya dan nilai-nilai pribadi tidak bisa diabaikan. Pandangan seseorang tentang hidup, makna dari penderitaan, dan tujuan hidupnya memengaruhi cara mereka memandang stres. Orang yang menemukan makna dalam pengalaman sulit sering kali lebih mampu bertahan. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menegaskan bahwa makna dan tujuan hidup memberi ketahanan psikologis yang luar biasa, bahkan dalam kondisi ekstrem.

Akhirnya, penting untuk menyadari bahwa kemampuan menghadapi stres bukanlah statis. Ia berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh pengalaman baru, pembelajaran, dan kondisi biologis yang terus berubah. Orang yang tampak lemah dalam satu periode hidup bisa menjadi sangat resilien di periode berikutnya jika mereka belajar strategi coping yang adaptif, membangun dukungan sosial, dan menyeimbangkan kebutuhan biologis dan psikologis.

Refleksi terakhir yang ingin saya tinggalkan adalah ini: Stres bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan kondisi alami yang memberi kita kesempatan untuk tumbuh dan memahami diri lebih dalam. Kemampuan menghadapi stres bukan hanya soal kekuatan, tapi tentang bagaimana kita memadukan tubuh, pikiran, pengalaman, dan lingkungan untuk tetap bertahan dan berkembang. Setiap individu memiliki jalannya sendiri, dan memahami faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas kita untuk menghadapi stres adalah langkah pertama untuk hidup dengan lebih sadar, seimbang, dan penuh makna.