Apa Saja Kebiasaan yang Dapat Merusak Kesehatan Mental?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Terdapat multifactor atau banyak faktor yang dapat menurunkan bahkan merusak dan atau menghilangkan kesehatan mental. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bahkan sering kita jumpai atau lakukan di keseharian kita, apa saja kebiasaan itu? Mari bahas dari yang jarang kita temui sampai ke yang sering atau selalu ditemui/lakukan
1. Mengkonsumsi obat-obatan terlarang
Mengkonsumsi drugs/narkoba, menjadi seorang alcoholic, lama kelamaan akan menimbulkan masalah pada otak dan dapat menimbulkan abnormalitas pada diri. Oleh karena itu, mengkonsumsi alkohol secara berlebih dan menggunakan obat atau zat terlarang sangat dapat merusak kesehatan mental.
2. Menggunakan Dating App
Memang tidak semua individu yang menggunakan dating app merasakan efek negatif dari aplikasi tersebut bahkan sampai merusak kesehatan mental. Namun terdapat penelitian yang memberi bukti mengenai sisi lain akibat dari menggunakan dating app yaitu Penolakan (adanya fitur like/match dan nope sebagai tanda penolakan dan penerimaan. Penolakan yang terus menerus terjadi dapat berpengaruh kepada efikasi diri dan self-esteem individu), Disposabilitas Manusia (fitur match tadi menyebabkan beberapa orang 'terbuang' akibat dorongan 'pilihan yang sewenang-wenang'), Anonimitas dan Kebohongan (profil yang dibuat dalam dating app bisa merupakan profil palsu)
3. Obsesif
Obsesi adalah pikiran negatif yang muncul dan tidak terkendali serta berulang akan suatu kejadian masa lalu atau yang sedang dihadapi. Hal ini akan menimbulkan stres dan kecemasan yang terus menerus sehingga membahayakan kesehatan mental maupun fisik.
4. Rendah Diri dan Pesimis
Menilai diri sebagai orang yang serba kurang, terus membandingkan diri dengan orang lain, banyak menyalahkan diri atas kejadian yang terjadi, tidak memiliki harapan yang baik, serta mudah putus asa akan membuat cepat merasakan stres bahkan dapat berujung kepada depresi.
5. Perfeksionis
Menginginkan segalanya serba sempurna tanpa kekurangan dapat membuat orang perfeksionis mudah merasa frustasi, lelah, sedih, bahkan kecewa.
6. Kurang Tidur dan Malas Gerak
Ketika tidur, sel dan organ kita beristirahat ataupun melakukan regenerasi sehingga jika jam tidur kurang, istirahat tidak rileks, tidur tidak nyenyak dan sebagainya akan dapat menimbulkan gangguan tidur yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mental. Malas gerak karena aktivitas fisik yang kurangpun dapat memicu meningkatnya resiko depresi.
7. Memendam Emosi
Memendam emosi terutama emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, dan sebagainya dapat membuat stres bahkan terdapat penekanan ke alam bawah sadar kita yang kedepannya bisa menimbulkan depresi atau trauma. Tidak hanya emosi negatif, emosi positif pun harus disalurkan kepada kegiatan-kegiatan yang baik dan positif.
referensi :
https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/mengganggu-kesehatan-mental/
1. Perfeksionis
Mengejar kesempurnaan adalah kebiasaan yang baik dan penting dalam mencapai tujuan. untuk melakukan yang terbaik saat mencoba mencapai tujuan penting. Tetapi perfeksionisme terbagi menjadi dua yakni perfeksionisme positif dan negatif.
Perfeksionisme positif akan membantumu melakukan yang terbaik, termasuk menetapkan tujuan yang realistis, melihat kegagalan sebagai pembelajaran yang akan membangun diri.
2. Rasa bersalah
Kebiasaan merasa bersalah terus menerus dapat memperbesar masalah, mengklaim bertanggung jawab atau menciptakan masalah yang sedikit atau tidak ada hubungannya denganmu, menganggap diri sendiri sebagai orang jahat karena melakukan pelanggaran kecil, dan menolak untuk memaafkan diri, Hal yang dapat memperburuk kesehatan mentalmu.
3. Menggunakan Sosial Media Berlebihan
Menggunakan sosial media secara berlebihan akan membuat mu merasa stres karena mungkin kamu akan membandingkan diri dengan orang lain di sosial media. selain itu, kecanduan sosial media akan membuatmu kurang produktif dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan dapat berdampak buruk juga terhadap kesehatan mental.
4. Pola Pikir
Pola pikir yang buruk dapat membuat mentalmu terganggu, jika tidak segera dirubah ini akan berdampak buruk bagi kesehatan mentalmu.
Pernahkah kamu merasa di tengah malam, ketika seluruh dunia terlelap, tiba-tiba dihantam perasaan lelah yang tak sekadar fisik, tapi juga jiwa terasa berat? Aku pernah berada di titik itu, di mana semua kebiasaan yang dulu terlihat sepele ternyata merusak kesehatan mental lebih halus dari yang bisa kita rasakan sehari-hari. Kadang aku sadar, sakitnya bukan karena masalah besar, tapi karena tumpukan hal kecil yang menempel di kepala, seperti debu yang tak pernah dibersihkan.
Salah satu kebiasaan yang dulu kupikir “normal” adalah selalu membandingkan diri dengan orang lain, terutama lewat media sosial. Aku melihat teman-teman seolah hidupnya sempurna, rumah rapi, liburan terus, karier mulus. Tapi kenyataannya, aku hanya melihat fragmen terbaik mereka, sedangkan di balik layar mungkin ada kecemasan, kegagalan, dan rasa lelah yang sama besarnya. Lama-lama, kebiasaan ini membuat aku merasa kurang setiap hari, dan tanpa sadar menimbun perasaan tidak cukup di hati.
Ada juga kebiasaan menunda-nunda, yang awalnya terasa seperti memberi diriku “waktu santai”, tapi sebenarnya adalah jebakan. Aku menumpuk tugas, tanggung jawab, dan bahkan perasaan yang ingin dihadapi. Lama-lama, kepala terasa sesak, dan rasa bersalah menjadi teman tetap yang menggerogoti ketenangan. Aku belajar bahwa menunda bukan sekadar soal pekerjaan, tapi tentang menghindari rasa takut menghadapi diri sendiri.
Kebiasaan lain yang kerap aku temui, dan dulu aku lakukan tanpa sadar, adalah mengabaikan tubuh sendiri. Kurang tidur, makan asal-asalan, terlalu banyak kafein, dan jarang bergerak—semua itu aku kira “tidak apa-apa”. Tapi tubuh dan pikiran ternyata saling terkait: ketika tubuh lelah, mental ikut rapuh, dan ketika mental rapuh, tubuh sering sakit. Aku baru menyadari, merawat diri bukan egois, tapi semacam investasi untuk ketenangan batin.
Tak kalah berbahaya adalah menekan emosi dan tidak berbagi apa yang kurasakan. Ada kalanya aku menahan tangis, menutup mulut ketika kecewa, dan menyembunyikan rasa marah agar terlihat kuat. Tapi rasa itu tidak hilang. Ia mengendap dan menumpuk, muncul lewat insomnia, rasa cemas yang tak jelas, atau ledakan kecil yang tiba-tiba. Dari situ aku belajar bahwa menyuarakan perasaan itu sehat, bahkan ketika dunia tidak mendengarkan.
Yang terakhir, mungkin yang paling sunyi tapi paling mematikan, adalah mengabaikan hobi atau hal yang dulu membawa kegembiraan. Aku dulu berhenti melukis, menulis, bahkan sekadar berjalan di taman karena terlalu fokus “pada hal penting lain”. Ternyata, kehilangan momen kecil untuk menyentuh kebahagiaan sederhana membuat mental ikut terkikis sedikit demi sedikit.
Melihat semua itu, aku sadar: kesehatan mental bukan tentang hebat menahan semuanya, tapi tentang memahami diri, memberi ruang untuk salah, dan tahu kapan harus berhenti sejenak. Kadang aku termenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah semua hal kecil yang kita anggap biasa justru perlahan menyesakkan jiwa kita?
"Seperti hujan yang jatuh tanpa suara, hati pun bisa basah oleh kebiasaan yang tak terlihat. Dan hanya dengan menatapnya perlahan, kita mulai tahu bagaimana menenangkan badai sendiri."
Salah satu kebiasaan yang paling sering merusak kesehatan mental adalah overthinking, atau kecenderungan untuk terus memikirkan masalah, keputusan, atau kemungkinan buruk yang belum terjadi. Orang yang overthinking cenderung terjebak dalam lingkaran pikiran negatif yang berulang, sehingga stres dan kecemasan menjadi kronis. Menurut Dr. Susan Nolen-Hoeksema, seorang psikolog klinis terkenal yang meneliti pola pemikiran repetitif, overthinking dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan.
Overthinking sering muncul karena perfeksionisme atau kebutuhan untuk selalu mengendalikan hasil. Misalnya, seseorang mungkin terus memikirkan kesalahan kecil di kantor atau kata-kata yang diucapkan pada teman, meskipun kenyataannya masalah itu kecil atau tidak berdampak besar. Akibatnya, energi mental terkuras dan kemampuan untuk menikmati momen saat ini berkurang drastis.
Tidur yang cukup adalah fondasi kesehatan mental. Ketika seseorang rutin mengabaikan jam tidur, baik karena bekerja larut malam, menonton gadget, atau begadang tanpa alasan, risiko gangguan suasana hati, iritabilitas, dan bahkan depresi meningkat. Menurut Matthew Walker, penulis buku Why We Sleep, kurang tidur kronis memengaruhi kinerja otak dalam memproses emosi dan mengelola stres. Bagian otak yang terkait dengan kontrol emosi, seperti amigdala dan prefrontal cortex, tidak bekerja optimal saat tidur terganggu.
Selain itu, ritme sirkadian yang terganggu – pola alami tidur dan bangun tubuh – bisa membuat mood menjadi labil. Misalnya, begadang hingga dini hari dan tidur siang yang panjang dapat mengacaukan keseimbangan hormon melatonin dan kortisol, sehingga muncul rasa cemas atau mudah tersinggung pada siang hari.
Media sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menghubungkan kita dengan orang lain dan memberi hiburan, tapi di sisi lain bisa menjadi sumber stres psikologis. Studi dari University of Pennsylvania menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berhubungan dengan meningkatnya depresi dan rasa kesepian.
Alasan utama adalah perbandingan sosial. Saat kita melihat orang lain memamerkan kesuksesan, perjalanan, atau gaya hidup ideal di media sosial, otak sering menilai diri sendiri secara negatif. Fenomena ini menimbulkan rasa iri, ketidakpuasan, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna, padahal sebagian besar konten hanyalah “highlight reel” kehidupan orang lain.
Kebiasaan makan tidak hanya memengaruhi tubuh, tapi juga kesehatan mental. Konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan secara terus-menerus dapat memicu fluktuasi kadar gula darah, yang berpengaruh pada mood dan energi. Dr. Uma Naidoo, psikiater dan penulis This Is Your Brain on Food, menekankan hubungan erat antara nutrisi dan kesehatan mental. Kekurangan vitamin tertentu, seperti vitamin B12 atau omega-3, bisa memperburuk kecemasan dan depresi.
Selain itu, kebiasaan melewatkan sarapan atau makan larut malam juga merusak ritme metabolisme dan hormon, sehingga stres fisik dan mental meningkat. Tubuh yang lelah dan otak yang kekurangan nutrisi cenderung membuat pikiran menjadi lebih gelisah dan sulit fokus.
Interaksi sosial adalah kebutuhan dasar manusia. Mengisolasi diri secara sengaja atau menghindari pertemuan sosial dapat membuat seseorang merasa kesepian, tidak dihargai, dan mengalami penurunan kesehatan mental secara signifikan. John Cacioppo, seorang psikolog sosial yang meneliti efek kesepian, menunjukkan bahwa isolasi sosial berkepanjangan memiliki efek setara dengan merokok 15 batang rokok sehari dalam jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental.
Selain itu, isolasi membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berbagi perasaan, mendapatkan dukungan emosional, atau menenangkan pikiran. Ketika stres dan masalah hidup menumpuk, ketidakmampuan untuk berbagi secara sehat dapat memperburuk rasa cemas dan depresi.
Perfeksionisme sering dianggap sebagai kualitas positif, tapi jika berlebihan, ia menjadi racun bagi kesehatan mental. Orang perfeksionis menetapkan standar tinggi yang hampir mustahil dicapai, sehingga kegagalan kecil pun terasa besar dan menimbulkan rasa bersalah. Dr. Brené Brown, dalam bukunya The Gifts of Imperfection, menjelaskan bahwa perfeksionisme menghambat keberanian untuk mencoba, meningkatkan kecemasan, dan mengikis rasa percaya diri.
Perfeksionisme juga sering membuat seseorang menunda tindakan, takut melakukan kesalahan, atau terlalu kritis pada diri sendiri. Pola ini tidak hanya menguras energi mental, tapi juga menghambat kemampuan untuk menikmati hasil kerja atau pencapaian kecil.
Kebiasaan duduk terlalu lama atau jarang bergerak juga berdampak signifikan pada kesehatan mental. Olahraga memiliki efek biologis dan psikologis yang menenangkan. Saat bergerak, tubuh melepaskan endorfin, hormon yang menimbulkan perasaan bahagia dan mengurangi stres.
Buku Spark karya John J. Ratey menekankan bahwa olahraga secara rutin meningkatkan kognisi, memperbaiki mood, dan bahkan bisa membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Sebaliknya, hidup pasif atau kurang gerak membuat energi mental menumpuk tanpa saluran pelepasan, sehingga mudah muncul stres dan frustrasi.
Menggunakan alkohol, obat-obatan, atau zat adiktif lain sebagai pelarian dari stres adalah kebiasaan yang sangat merusak kesehatan mental. Sementara efeknya mungkin terasa instan, jangka panjangnya merusak fungsi otak, mengubah neurotransmitter, dan meningkatkan risiko depresi serta kecemasan.
Menurut National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, konsumsi alkohol kronis menurunkan kemampuan otak untuk mengatur emosi, meningkatkan impulsivitas, dan menurunkan kualitas tidur. Zat adiktif menciptakan siklus di mana stres memicu penggunaan zat, dan penggunaan zat memicu stres lebih lanjut, sehingga kesehatan mental menurun secara bertahap.
Salah satu kebiasaan yang sering diremehkan adalah menekan emosi atau tidak mau merenungkan pengalaman pribadi. Menghindari refleksi diri membuat masalah tidak terselesaikan, sehingga stres tertimbun dalam pikiran. Psikolog Carl Jung menekankan pentingnya kesadaran diri dan proses internal untuk mencapai keseimbangan mental.
Ketika seseorang menolak menghadapi perasaan cemas, sedih, atau marah, energi mental tersedot untuk menahan emosi itu. Akibatnya, tubuh dan pikiran menjadi lelah, dan risiko gangguan mental meningkat. Menulis jurnal, meditasi, atau berbicara dengan orang tepercaya adalah cara untuk memproses emosi secara sehat.
Kesehatan mental bukan hanya soal menghindari gangguan serius, tapi juga menjaga keseimbangan kebiasaan sehari-hari. Overthinking, kurang tidur, paparan media sosial berlebihan, pola makan buruk, isolasi sosial, perfeksionisme, kurang bergerak, ketergantungan zat adiktif, dan menghindari refleksi diri adalah kebiasaan yang secara diam-diam merusak kesejahteraan psikologis.
Menyadari dan memperbaiki kebiasaan ini membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi setiap langkah kecil untuk mengubah rutinitas bisa berdampak besar. Dengan memahami pola-pola ini, kita bisa membangun kehidupan yang lebih sehat, tenang, dan seimbang, di mana pikiran tidak hanya sibuk bertahan, tapi juga menikmati perjalanan hidup dengan lebih damai.
Pertanyaan tentang kebiasaan yang dapat merusak kesehatan mental sering kali terdengar sederhana. Banyak orang membayangkan jawabannya juga sederhana: kurang tidur, terlalu banyak bermain media sosial, atau stres karena pekerjaan. Semua itu memang ada benarnya. Namun ketika benar-benar mencoba memahami kehidupan emosional manusia, kita akan menyadari bahwa kesehatan mental jarang rusak oleh satu hal besar saja.
Lebih sering, ia perlahan terkikis oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar disadari.
Kesehatan mental bukan hanya tentang apakah seseorang merasa sedih atau bahagia. Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, bagaimana ia memproses emosi, bagaimana ia menanggapi kegagalan, bagaimana ia menjalani hubungan dengan orang lain, bahkan bagaimana ia berbicara kepada dirinya sendiri di dalam kepala.
Dan terkadang, kebiasaan yang paling merusak justru terlihat paling “normal”.
Ada sebuah kebiasaan yang sangat umum di zaman sekarang: membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain.
Media sosial membuat hal ini semakin mudah. Setiap hari kita melihat potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna: pekerjaan yang terlihat sukses, keluarga yang harmonis, tubuh yang ideal, perjalanan yang indah.
Namun jarang sekali kita melihat bagian yang tidak terlihat.
Psikolog sosial Leon Festinger sejak tahun 1954 sudah menjelaskan fenomena ini melalui teori social comparison. Manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dirinya di dunia. Masalahnya muncul ketika perbandingan itu menjadi kebiasaan yang terus-menerus.
Ketika seseorang terus melihat ke atas—membandingkan dirinya dengan mereka yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih mapan—muncul perasaan bahwa dirinya selalu tertinggal.
Padahal yang dibandingkan sebenarnya tidak adil.
Kita membandingkan kehidupan batin kita yang penuh keraguan dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dengan sangat hati-hati.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menumbuhkan rasa tidak cukup. Tidak cukup berhasil. Tidak cukup menarik. Tidak cukup berarti.
Dan rasa tidak cukup adalah salah satu racun paling halus bagi kesehatan mental.
Ada orang yang memperlakukan orang lain dengan sangat lembut, tetapi memperlakukan dirinya sendiri dengan sangat keras.
Kesalahan kecil bisa berubah menjadi dialog panjang di dalam kepala.
“Kenapa aku selalu seperti ini?”
“Aku memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”
Dalam buku Self-Compassion, Kristin Neff menjelaskan bahwa banyak orang hidup dengan apa yang disebut sebagai inner critic yang sangat kuat. Suara batin yang terus-menerus menghakimi diri sendiri.
Yang menarik, penelitian menunjukkan bahwa kritik diri yang berlebihan justru tidak membuat seseorang menjadi lebih baik. Sebaliknya, ia meningkatkan kecemasan, depresi, dan rasa tidak berharga.
Tidak ada manusia yang bisa berkembang di bawah suara yang terus mengatakan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Bayangkan jika seseorang berbicara kepada sahabatnya dengan cara yang sama seperti ia berbicara kepada dirinya sendiri. Hubungan itu mungkin tidak akan bertahan lama.
Namun banyak orang hidup bertahun-tahun dengan dialog batin yang seperti itu.
Ada orang yang diajarkan sejak kecil untuk tidak menunjukkan emosi.
Jangan terlalu sedih.
Jangan terlalu marah.
Jangan terlalu sensitif.
Seiring waktu, mereka belajar untuk menekan perasaan. Setiap kali emosi muncul, mereka segera menutupnya. Mengalihkannya dengan pekerjaan, hiburan, atau kesibukan.
Sekilas ini terlihat seperti kekuatan. Tetapi penelitian menunjukkan hal yang berbeda.
Psikolog James Gross dari Stanford University meneliti strategi regulasi emosi selama bertahun-tahun. Salah satu temuannya adalah bahwa emotional suppression—menekan emosi—memiliki konsekuensi psikologis yang cukup berat.
Emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertunda.
Dan emosi yang tertunda sering muncul kembali dalam bentuk lain: kelelahan mental, kecemasan yang tidak jelas sumbernya, atau perasaan hampa yang sulit dijelaskan.
Perasaan yang tidak diberi ruang untuk dirasakan sering kali berubah menjadi beban yang diam-diam dibawa tubuh.
Ada kebiasaan lain yang terlihat produktif tetapi diam-diam melelahkan: selalu sibuk.
Bekerja tanpa henti.
Terus mencari distraksi.
Mengisi setiap waktu luang dengan sesuatu.
Di permukaan, ini terlihat seperti gaya hidup yang aktif. Tetapi bagi sebagian orang, kesibukan sebenarnya adalah cara untuk menghindari sesuatu yang lebih sunyi: pikiran mereka sendiri.
Dalam buku “Stolen Focus”, jurnalis dan peneliti Johann Hari menulis bahwa dunia modern mendorong manusia untuk terus berada dalam keadaan teralihkan. Perhatian kita jarang benar-benar diam.
Padahal keheningan memiliki fungsi penting bagi kesehatan mental. Dalam keheningan, seseorang memproses pengalaman, memahami emosi, dan menyusun kembali makna hidupnya.
Ketika seseorang terus berlari tanpa pernah berhenti, ada kemungkinan bahwa ia tidak pernah benar-benar memproses apa yang ia rasakan.
Dan emosi yang tidak pernah diproses sering berubah menjadi kelelahan yang sulit dijelaskan.
Manusia adalah makhluk sosial, tetapi tidak semua hubungan memberikan rasa keterhubungan yang nyata.
Ada orang yang dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa sangat sendirian.
Penelitian terkenal dari Harvard Study of Adult Development, yang berlangsung lebih dari 80 tahun, menunjukkan satu temuan penting: kualitas hubungan sosial adalah salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi kesehatan mental dan kebahagiaan manusia.
Bukan jumlah teman.
Bukan popularitas.
Tetapi kedalaman hubungan yang membuat seseorang merasa benar-benar dipahami.
Ketika seseorang mulai menarik diri dari hubungan yang bermakna—baik karena kecewa, takut terluka, atau merasa tidak layak dicintai—dunia emosionalnya perlahan menyempit.
Dan kesepian kronis dapat berdampak besar pada kesehatan mental.
Kesepian bukan hanya tentang tidak memiliki orang di sekitar. Ia adalah perasaan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar memahami siapa diri kita.
Sering kali kesehatan mental dibicarakan seolah-olah ia sepenuhnya berada di dalam pikiran. Padahal tubuh dan pikiran saling terhubung sangat erat.
Kurang tidur, pola makan yang buruk, dan kurang aktivitas fisik memiliki dampak langsung terhadap kesehatan mental.
Dalam buku “Why We Sleep”, ahli saraf Matthew Walker menjelaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam mengatur emosi. Kurang tidur secara kronis dapat meningkatkan reaktivitas emosional dan menurunkan kemampuan otak untuk mengelola stres.
Begitu pula dengan aktivitas fisik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa olahraga ringan dapat meningkatkan produksi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang berperan dalam regulasi suasana hati.
Namun dalam kehidupan modern, banyak orang memperlakukan tubuhnya seperti mesin yang harus terus bekerja tanpa istirahat.
Tubuh mungkin bisa bertahan untuk sementara waktu. Tetapi dalam jangka panjang, kelelahan fisik sering berubah menjadi kelelahan mental.
Ada satu kebiasaan yang sangat umum namun jarang dibicarakan: menyimpan semua masalah sendirian.
Banyak orang merasa bahwa mereka harus kuat. Mereka tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Mereka khawatir jika membuka diri, orang lain tidak akan mengerti.
Akibatnya, semua perasaan dipendam.
Namun emosi yang dipendam dalam waktu lama sering menjadi berat. Sangat berat.
Dalam penelitian tentang emotional disclosure, psikolog James Pennebaker menemukan bahwa berbagi pengalaman emosional—baik melalui percakapan maupun tulisan—dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Bukan karena masalahnya langsung selesai.
Tetapi karena beban yang dibagi sering terasa lebih ringan daripada beban yang dipikul sendirian.
Jika ada satu hal yang sering terlihat ketika mencoba memahami kesehatan mental manusia, itu adalah kenyataan bahwa pikiran manusia sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Bukan hanya peristiwa besar yang membentuk kesehatan mental seseorang.
Kadang justru kebiasaan yang tampak sepele—cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, cara ia memperlakukan emosinya, cara ia melihat kehidupannya dibandingkan dengan orang lain—yang perlahan membentuk dunia batinnya.
Kesehatan mental jarang hancur dalam satu malam.
Ia lebih sering terkikis perlahan oleh hal-hal kecil yang dibiarkan terus terjadi.
Dan mungkin pertanyaan yang paling menarik bukan hanya tentang kebiasaan apa yang merusak kesehatan mental.
Melainkan sesuatu yang lebih sunyi:
dalam kehidupan sehari-hari yang tampak biasa ini, kebiasaan seperti apa yang diam-diam sedang membentuk cara kita memandang diri kita sendiri.
Ada satu hal yang sering mengejutkan banyak orang ketika mulai memahami kesehatan mental secara lebih dalam: kerusakan mental jarang sekali terjadi secara tiba-tiba.
Sebagian besar waktu, ia muncul perlahan. Sangat perlahan. Hampir tidak terasa.
Bukan karena satu peristiwa besar, tetapi karena kebiasaan kecil yang diulang setiap hari—cara kita berpikir, cara kita memperlakukan diri sendiri, cara kita merespons tekanan hidup.
Kebiasaan-kebiasaan ini sering terlihat normal. Bahkan kadang dianggap wajar dalam budaya modern. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, mereka dapat mengubah cara otak bekerja, mengganggu keseimbangan hormon stres, dan secara perlahan melemahkan daya tahan mental seseorang.
Dalam banyak literatur kesehatan jiwa, termasuk dalam buku Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry dan Stahl’s Essential Psychopharmacology, kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh trauma besar atau gangguan biologis. Ia juga sangat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari yang membentuk sistem saraf kita dari waktu ke waktu.
Ada beberapa kebiasaan yang sering terlihat sepele, tetapi dalam jangka panjang dapat menggerogoti kesehatan mental secara diam-diam.
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.
Saya pernah mengenal seseorang yang sangat cerdas dan reflektif. Ia suka menganalisis segala hal: keputusan hidup, percakapan kecil dengan orang lain, bahkan ekspresi wajah seseorang dalam sebuah pertemuan.
Awalnya kemampuan ini terlihat seperti kekuatan. Ia tampak sangat sadar diri dan berhati-hati dalam bersikap.
Namun lama-kelamaan, pikirannya menjadi seperti ruangan yang tidak pernah sepi.
Setiap kejadian kecil diputar ulang berkali-kali.
Setiap kesalahan kecil dianalisis tanpa henti.
Dalam psikologi kognitif, kebiasaan ini dikenal sebagai rumination—kecenderungan untuk memikirkan masalah atau kesalahan secara berulang tanpa menemukan penyelesaian.
Penelitian yang dilakukan oleh Susan Nolen-Hoeksema dari Yale University menunjukkan bahwa rumination memiliki hubungan yang kuat dengan depresi dan kecemasan.
Otak manusia sebenarnya dirancang untuk memecahkan masalah, bukan untuk berputar-putar di dalam pikiran yang sama tanpa akhir.
Ketika seseorang terus-menerus terjebak dalam rumination, sistem stres di otak—khususnya sumbu HPA axis (hypothalamic-pituitary-adrenal)—dapat tetap aktif lebih lama dari yang seharusnya.
Akibatnya, kadar hormon kortisol meningkat.
Dan kortisol yang tinggi secara kronis dapat mengganggu fungsi memori, tidur, bahkan regulasi emosi.
Di dunia modern, kurang tidur hampir menjadi simbol produktivitas.
Banyak orang bangga mengatakan bahwa mereka hanya tidur tiga atau empat jam sehari.
Namun otak tidak pernah benar-benar “beradaptasi” dengan kurang tidur.
Buku Why We Sleep karya Matthew Walker menjelaskan bahwa tidur bukan sekadar waktu istirahat, tetapi proses biologis yang sangat kompleks.
Saat tidur, otak melakukan berbagai fungsi penting:
Ketika seseorang kurang tidur secara kronis, bagian otak yang disebut amigdala—yang berperan dalam respons emosional—menjadi jauh lebih reaktif.
Sementara itu, prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi menenangkan emosi dan membuat keputusan rasional, menjadi kurang aktif.
Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan reaktivitas amigdala hingga lebih dari 60%.
Artinya, seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah cemas, dan lebih sulit mengendalikan emosi.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa kerusakan ini tidak selalu terasa langsung.
Ia menumpuk perlahan, seperti retakan kecil di fondasi rumah.
Ada satu percakapan yang pernah terjadi dengan seseorang yang terlihat sangat sukses dari luar.
Ia memiliki pekerjaan baik, jaringan sosial luas, dan kehidupan yang tampak stabil.
Namun di balik itu, ia mengatakan sesuatu yang sangat jujur:
“Setiap kali membuka media sosial, rasanya seperti hidupku selalu tertinggal.”
Fenomena ini sebenarnya sangat umum.
Psikolog sosial Leon Festinger menjelaskan konsep social comparison theory, yaitu kecenderungan manusia untuk menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Masalahnya, dunia modern—terutama media sosial—memberikan bahan perbandingan yang hampir tidak ada habisnya.
Kita melihat:
liburan orang lain
pencapaian karier orang lain
hubungan romantis orang lain
kesuksesan finansial orang lain
Namun yang kita lihat hanyalah versi terbaik dari hidup mereka.
Ketika otak terus-menerus terpapar perbandingan semacam ini, ia mulai membangun narasi yang sangat berbahaya:
“Semua orang lebih bahagia dari aku.”
“Semua orang lebih berhasil.”
“Hidupku tertinggal.”
Narasi ini perlahan dapat mengikis harga diri seseorang.
Dan ketika harga diri melemah dalam waktu lama, kesehatan mental ikut tergerus.
Ada kebiasaan lain yang terlihat kuat dari luar, tetapi sebenarnya sangat melelahkan secara mental.
Yaitu kebiasaan menekan emosi.
Banyak orang belajar sejak kecil bahwa menunjukkan kesedihan adalah kelemahan. Menunjukkan kemarahan dianggap tidak sopan. Menunjukkan ketakutan dianggap memalukan.
Akhirnya mereka belajar satu strategi bertahan hidup: menutup semuanya.
Namun emosi tidak benar-benar hilang hanya karena ditekan.
Penelitian dalam bidang affective neuroscience menunjukkan bahwa emosi yang ditekan justru dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik—sistem yang bertanggung jawab atas respons stres.
Dalam buku Emotion Regulation in Psychopathology, dijelaskan bahwa penekanan emosi yang kronis dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, dan kelelahan mental.
Tubuh manusia tidak dirancang untuk menampung emosi tanpa pernah mengekspresikannya.
Ia seperti wadah yang terus diisi tanpa pernah dikosongkan.
Suatu saat, ia akan meluap.
Ada satu pola lain yang sering muncul pada orang-orang yang kelelahan secara mental: mereka sulit mengatakan tidak.
Mereka selalu berusaha memenuhi harapan semua orang.
Permintaan keluarga.
Tuntutan pekerjaan.
Ekspektasi sosial.
Dari luar, mereka terlihat sebagai orang yang sangat baik dan dapat diandalkan.
Namun di dalam, mereka sering merasa kehabisan energi.
Dalam literatur kesehatan mental, fenomena ini sering berkaitan dengan people-pleasing behavior, yaitu kecenderungan untuk mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Masalahnya adalah bahwa tubuh memiliki batas energi biologis.
Ketika seseorang terus-menerus memberikan energi tanpa pernah memulihkannya, sistem saraf dapat masuk ke kondisi chronic stress.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat berkontribusi pada kondisi seperti burnout, depresi, dan gangguan kecemasan.
Kelelahan mental sering kali bukan karena seseorang terlalu lemah.
Ia sering muncul karena seseorang terlalu lama hidup tanpa batasan.
Manusia adalah makhluk sosial. Ini bukan sekadar konsep filosofis, tetapi juga fakta biologis.
Penelitian dalam bidang social neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia sangat sensitif terhadap koneksi sosial.
Buku Social: Why Our Brains Are Wired to Connect karya Matthew Lieberman menjelaskan bahwa otak memproses rasa penolakan sosial dengan cara yang mirip dengan rasa sakit fisik.
Ketika seseorang hidup terlalu lama dalam isolasi sosial—baik karena kesibukan, trauma hubungan, atau kebiasaan menarik diri—otak dapat menafsirkan kondisi tersebut sebagai ancaman.
Akibatnya, sistem stres tetap aktif dalam jangka panjang.
Yang membuatnya lebih rumit adalah bahwa kesepian tidak selalu berarti tidak punya orang di sekitar.
Ada orang yang dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian.
Kesepian sejati sering muncul ketika seseorang merasa tidak benar-benar dipahami.
Hal terakhir yang sering diremehkan adalah hubungan antara tubuh dan kesehatan mental.
Otak bukan entitas yang terpisah dari tubuh. Ia adalah bagian dari sistem biologis yang sama.
Kebiasaan seperti:
kurang olahraga
pola makan tidak seimbang
konsumsi alkohol berlebihan
atau hidup dengan stres kronis
dapat memengaruhi keseimbangan neurotransmitter di otak, termasuk serotonin, dopamin, dan norepinefrin.
Dalam buku The Inflamed Mind karya Edward Bullmore dijelaskan bahwa peradangan kronis dalam tubuh bahkan dapat berkontribusi pada depresi.
Artinya, kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran dan pengalaman hidup, tetapi juga oleh kondisi biologis tubuh secara keseluruhan.
Semakin lama seseorang mengamati pergulatan mental manusia, semakin terlihat bahwa kesehatan mental bukan hanya soal menghindari trauma besar.
Ia lebih sering berkaitan dengan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan kecil.
Cara kita berbicara pada diri sendiri.
Cara kita merespons kesalahan.
Cara kita memberi ruang bagi emosi.
Sering kali, kerusakan mental tidak datang seperti badai besar yang tiba-tiba.
Ia lebih mirip tetesan air yang jatuh terus-menerus di tempat yang sama.
Awalnya tidak terasa apa-apa.
Namun setelah waktu yang cukup lama, bahkan batu yang paling keras pun bisa berlubang.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya tentang kebiasaan apa yang merusak kesehatan mental.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih sunyi:
berapa banyak dari kebiasaan itu yang sebenarnya sedang kita jalani setiap hari… tanpa pernah benar-benar kita sadari.
Notifications