Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa faktor terbesar yang membuat mahasiswa merasa tertinggal (left behind) saat melihat pencapaian orang lain di media sosial?

rahmanzaky_ rahmanzaky_ 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
24

Di era di mana jendela dunia berada dalam genggaman, mahasiswa sering kali terjebak dalam sebuah teater persepsi yang sangat tidak seimbang. Saat ibu jari menggulir layar, mereka tidak hanya melihat gambar; mereka sedang memproses sebuah narasi kesuksesan yang telah dikurasi sedemikian rupa. Faktor terbesar yang memicu perasaan tertinggal (feeling left behind) bukanlah kurangnya ambisi atau kemampuan, melainkan distorsi kognitif yang tercipta akibat fenomena Social Comparison atau perbandingan sosial yang terjadi secara masif dan terus-menerus.

Secara psikologis, manusia memiliki dorongan alami untuk mengevaluasi diri mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini selaras dengan Social Comparison Theory yang dikembangkan oleh Leon Festinger. Masalahnya, di media sosial, perbandingan yang terjadi adalah upward social comparison yang ekstrem. Mahasiswa membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh dengan pergulatan, ketidakpastian, dan "kegagalan di balik layar" dengan "kumulatif momen terbaik" dari ratusan orang sekaligus. Ini menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang berlari dengan cepat, sementara kita sendiri sedang diam di tempat atau bahkan mundur.

Faktor kedua yang sangat krusial adalah apa yang disebut sebagai Availability Heuristic. Otak kita cenderung menilai realitas berdasarkan informasi yang paling mudah diingat atau paling sering muncul. Karena media sosial dipenuhi oleh pencapaian—magang di perusahaan bergengsi, beasiswa luar negeri, atau peluncuran bisnis baru—otak kita secara keliru menyimpulkan bahwa hal-hal tersebut adalah standar normal atau rata-rata. Hal ini mengingatkan pada pemikiran Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow; kita membangun gambaran dunia yang sempit berdasarkan bukti yang ada di depan mata (What You See Is All There Is). Akibatnya, keberhasilan yang bersifat anomali atau luar biasa dianggap sebagai tuntutan dasar yang harus dicapai oleh setiap orang.

Lebih dalam lagi, perasaan tertinggal ini dipicu oleh hilangnya batas antara identitas diri dan pencapaian performatif. Dalam budaya digital, nilai seseorang sering kali direduksi menjadi sekadar deretan pencapaian yang bisa dipamerkan (performative excellence). Mahasiswa merasa bahwa jika mereka tidak memiliki sesuatu untuk "diposting", maka mereka tidak berkembang. Fenomena ini menciptakan tekanan eksistensial yang hebat, di mana mereka merasa kehilangan jati diri jika tidak bisa berkompetisi dalam ekonomi perhatian tersebut. Mengutip Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning, penderitaan manusia sering kali muncul ketika mereka kehilangan makna yang autentik dan terjebak dalam pencarian validasi eksternal yang dangkal.

Selain itu, media sosial menghilangkan konteks "proses" dan hanya menampilkan "hasil". Kita tidak melihat ribuan jam belajar yang membosankan, penolakan yang menyakitkan, atau air mata di balik sebuah foto wisuda yang indah. Tanpa pemahaman akan proses, mahasiswa kehilangan Self-Compassion atau belas kasih pada diri sendiri. Mereka menjadi kritikus yang paling kejam bagi diri mereka sendiri karena merasa harus mencapai hasil yang sama tanpa memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktu (timeline) dan beban hidup yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, perasaan tertinggal adalah sebuah alarm psikologis bahwa kita telah terlalu lama menatap keluar dan lupa untuk melihat ke dalam. Jati diri yang matang tidak dibangun di atas dasar kemenangan atas orang lain dalam sebuah perlombaan digital yang semu, melainkan atas dasar penerimaan terhadap proses pertumbuhan kita yang unik dan sering kali berantakan. Membatasi konsumsi visual terhadap kesuksesan orang lain dan mulai memberikan ruang bagi refleksi sunyi adalah bentuk kedaulatan mental yang diperlukan untuk bertahan di tengah riuhnya dunia yang tak pernah berhenti membandingkan.

Menutup refleksi ini, penting bagi kita untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah sebuah fragmen kecil dari realitas manusia yang kompleks. Keberhasilan yang sesungguhnya bukan terletak pada seberapa cepat kita mencapai garis finis yang ditentukan oleh orang lain, melainkan pada seberapa setia kita pada jalur pertumbuhan kita sendiri. Kehidupan bukanlah sebuah kompetisi untuk menjadi yang tercepat, melainkan sebuah perjalanan untuk menjadi yang paling autentik dan bermakna bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.

Frankl, V. E. (1946). Man's Search for Meaning. Boston: Beacon Press.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Neff, K. D. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself. New York: William Morrow.

Ketika Timeline Terasa Seperti Panggung Perbandingan

Ada momen yang cukup sunyi tapi familiar: membuka media sosial, melihat pencapaian orang lain—magang di perusahaan besar, lolos beasiswa, membangun startup, atau sekadar terlihat “lebih maju”—lalu muncul perasaan tertinggal. Bukan karena tidak berusaha, tetapi karena jarak itu tiba-tiba terasa nyata.

Yang menarik, perasaan ini sering muncul bukan dari kegagalan pribadi, tetapi dari perbandingan yang terus-menerus.

Perbandingan Sosial yang Tidak Seimbang

Media sosial menciptakan lingkungan di mana kita membandingkan proses pribadi dengan hasil akhir orang lain. Kita melihat “highlight”, bukan keseluruhan cerita.

Leon Festinger, melalui teori social comparison, menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai posisi mereka. Namun dalam konteks media sosial, perbandingan ini menjadi tidak seimbang.

Kita membandingkan hari-hari biasa kita dengan momen terbaik orang lain. Dan tanpa disadari, ini menciptakan standar yang tidak realistis.

Ilusi Bahwa Semua Orang Bergerak Lebih Cepat

Ketika timeline dipenuhi pencapaian, muncul kesan bahwa semua orang sedang “maju”, sementara kita diam di tempat. Padahal, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari populasi—mereka yang sedang berbagi.

Ada banyak orang yang sedang dalam proses yang sama, atau bahkan mengalami kebingungan yang serupa, tetapi tidak terlihat.

Nicholas Carr dalam The Shallows menyinggung bagaimana media digital mengubah cara kita memproses informasi, termasuk cara kita membangun persepsi realitas. Dalam hal ini, realitas yang kita lihat menjadi terdistorsi—terlihat lebih cepat, lebih padat, dan lebih kompetitif daripada yang sebenarnya.

Ketidakjelasan Arah Pribadi

Perasaan tertinggal sering kali tidak hanya dipicu oleh pencapaian orang lain, tetapi juga oleh kurangnya kejelasan arah dalam diri sendiri.

Ketika seseorang belum benar-benar tahu apa yang ingin dicapai, pencapaian orang lain menjadi semacam “standar default”. Kita mulai mengukur diri berdasarkan jalur orang lain, bukan jalur sendiri.

Dalam kondisi ini, setiap keberhasilan orang lain terasa seperti pengingat bahwa kita belum sampai ke mana-mana.

Identitas yang Masih Dalam Proses

Masa mahasiswa adalah fase di mana identitas masih dibentuk. Belum sepenuhnya stabil, masih banyak eksplorasi, dan sering kali masih mencari validasi.

Ketika identitas belum kuat, penilaian dari luar menjadi lebih berpengaruh. Apa yang dilakukan orang lain lebih mudah masuk dan memengaruhi cara kita melihat diri sendiri.

Erik Erikson dalam teorinya tentang perkembangan psikososial menyebut fase ini sebagai tahap pencarian identitas. Dalam fase ini, perbandingan dengan orang lain hampir tidak terhindarkan.

Insight yang Jarang Disadari: Bukan Iri, Tapi Kehilangan Narasi Diri

Sering kali perasaan ini disebut sebagai iri. Namun jika dilihat lebih dalam, yang terjadi bukan sekadar iri terhadap pencapaian orang lain, tetapi kehilangan narasi tentang diri sendiri.

Kita tidak lagi fokus pada perjalanan sendiri, tetapi terseret ke dalam cerita orang lain. Tanpa narasi pribadi yang jelas, kita menjadi “penonton” dalam hidup sendiri.

Ini yang membuat perasaan tertinggal terasa lebih berat—bukan karena orang lain terlalu cepat, tetapi karena kita tidak tahu sedang menuju ke mana.

Tekanan untuk Terlihat “On Track”

Ada ekspektasi sosial yang tidak selalu diucapkan: di usia tertentu, seseorang “seharusnya” sudah mencapai hal tertentu. Media sosial memperkuat ekspektasi ini.

Akibatnya, pencapaian tidak lagi hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana terlihat di mata orang lain.

Dalam Mindset, Carol Dweck menyinggung bagaimana fokus pada penilaian eksternal bisa membuat seseorang lebih takut gagal dan lebih mudah merasa tertinggal.

Penutup: Yang Terasa Tertinggal Sering Kali Bukan Posisi, Tapi Perspektif

Jadi, apa faktor terbesar yang membuat mahasiswa merasa tertinggal saat melihat pencapaian orang lain di media sosial?

Jika diringkas, jawabannya bukan hanya satu hal, tetapi kombinasi: perbandingan sosial yang tidak seimbang, ilusi bahwa semua orang bergerak lebih cepat, dan yang paling dalam—ketidakjelasan arah serta narasi diri.

Mungkin yang perlu disadari adalah ini: perasaan tertinggal sering kali bukan cerminan dari posisi kita yang sebenarnya, tetapi dari cara kita melihat perjalanan itu sendiri.

Karena ketika arah sudah lebih jelas, pencapaian orang lain tidak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan sekadar cerita yang berbeda.

Dan di titik itu, fokus perlahan kembali—bukan pada seberapa cepat orang lain berlari, tetapi pada langkah yang sedang kita ambil.