Ketika Timeline Terasa Seperti Panggung Perbandingan
Ada momen yang cukup sunyi tapi familiar: membuka media sosial, melihat pencapaian orang lain—magang di perusahaan besar, lolos beasiswa, membangun startup, atau sekadar terlihat “lebih maju”—lalu muncul perasaan tertinggal. Bukan karena tidak berusaha, tetapi karena jarak itu tiba-tiba terasa nyata.
Yang menarik, perasaan ini sering muncul bukan dari kegagalan pribadi, tetapi dari perbandingan yang terus-menerus.
Perbandingan Sosial yang Tidak Seimbang
Media sosial menciptakan lingkungan di mana kita membandingkan proses pribadi dengan hasil akhir orang lain. Kita melihat “highlight”, bukan keseluruhan cerita.
Leon Festinger, melalui teori social comparison, menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai posisi mereka. Namun dalam konteks media sosial, perbandingan ini menjadi tidak seimbang.
Kita membandingkan hari-hari biasa kita dengan momen terbaik orang lain. Dan tanpa disadari, ini menciptakan standar yang tidak realistis.
Ilusi Bahwa Semua Orang Bergerak Lebih Cepat
Ketika timeline dipenuhi pencapaian, muncul kesan bahwa semua orang sedang “maju”, sementara kita diam di tempat. Padahal, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari populasi—mereka yang sedang berbagi.
Ada banyak orang yang sedang dalam proses yang sama, atau bahkan mengalami kebingungan yang serupa, tetapi tidak terlihat.
Nicholas Carr dalam The Shallows menyinggung bagaimana media digital mengubah cara kita memproses informasi, termasuk cara kita membangun persepsi realitas. Dalam hal ini, realitas yang kita lihat menjadi terdistorsi—terlihat lebih cepat, lebih padat, dan lebih kompetitif daripada yang sebenarnya.
Ketidakjelasan Arah Pribadi
Perasaan tertinggal sering kali tidak hanya dipicu oleh pencapaian orang lain, tetapi juga oleh kurangnya kejelasan arah dalam diri sendiri.
Ketika seseorang belum benar-benar tahu apa yang ingin dicapai, pencapaian orang lain menjadi semacam “standar default”. Kita mulai mengukur diri berdasarkan jalur orang lain, bukan jalur sendiri.
Dalam kondisi ini, setiap keberhasilan orang lain terasa seperti pengingat bahwa kita belum sampai ke mana-mana.
Identitas yang Masih Dalam Proses
Masa mahasiswa adalah fase di mana identitas masih dibentuk. Belum sepenuhnya stabil, masih banyak eksplorasi, dan sering kali masih mencari validasi.
Ketika identitas belum kuat, penilaian dari luar menjadi lebih berpengaruh. Apa yang dilakukan orang lain lebih mudah masuk dan memengaruhi cara kita melihat diri sendiri.
Erik Erikson dalam teorinya tentang perkembangan psikososial menyebut fase ini sebagai tahap pencarian identitas. Dalam fase ini, perbandingan dengan orang lain hampir tidak terhindarkan.
Insight yang Jarang Disadari: Bukan Iri, Tapi Kehilangan Narasi Diri
Sering kali perasaan ini disebut sebagai iri. Namun jika dilihat lebih dalam, yang terjadi bukan sekadar iri terhadap pencapaian orang lain, tetapi kehilangan narasi tentang diri sendiri.
Kita tidak lagi fokus pada perjalanan sendiri, tetapi terseret ke dalam cerita orang lain. Tanpa narasi pribadi yang jelas, kita menjadi “penonton” dalam hidup sendiri.
Ini yang membuat perasaan tertinggal terasa lebih berat—bukan karena orang lain terlalu cepat, tetapi karena kita tidak tahu sedang menuju ke mana.
Tekanan untuk Terlihat “On Track”
Ada ekspektasi sosial yang tidak selalu diucapkan: di usia tertentu, seseorang “seharusnya” sudah mencapai hal tertentu. Media sosial memperkuat ekspektasi ini.
Akibatnya, pencapaian tidak lagi hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana terlihat di mata orang lain.
Dalam Mindset, Carol Dweck menyinggung bagaimana fokus pada penilaian eksternal bisa membuat seseorang lebih takut gagal dan lebih mudah merasa tertinggal.
Penutup: Yang Terasa Tertinggal Sering Kali Bukan Posisi, Tapi Perspektif
Jadi, apa faktor terbesar yang membuat mahasiswa merasa tertinggal saat melihat pencapaian orang lain di media sosial?
Jika diringkas, jawabannya bukan hanya satu hal, tetapi kombinasi: perbandingan sosial yang tidak seimbang, ilusi bahwa semua orang bergerak lebih cepat, dan yang paling dalam—ketidakjelasan arah serta narasi diri.
Mungkin yang perlu disadari adalah ini: perasaan tertinggal sering kali bukan cerminan dari posisi kita yang sebenarnya, tetapi dari cara kita melihat perjalanan itu sendiri.
Karena ketika arah sudah lebih jelas, pencapaian orang lain tidak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan sekadar cerita yang berbeda.
Dan di titik itu, fokus perlahan kembali—bukan pada seberapa cepat orang lain berlari, tetapi pada langkah yang sedang kita ambil.