Stres oksidatif merupakan suatu kondisi yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem pertahanan antioksidan di dalam tubuh (Puspitasari dkk, 2016).
Stres oksidatif merupakan ketidakseimbangan antara radikal bebas (pro oksidan) dan antioksidan yang dipicu oleh dua kondisi umum yaitu kurangnya antioksidan dan kelebihan produksi radikal bebas (Rush et al., 2005).
Radikal bebas merupakan dasar untuk banyak proses biokimia dan menunjukkan bagian penting dari metabolisme. Radikal bebas didefenisikan sebagai sebuah molekul atau bagian molekuler yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbit atom atau molekular terjauh dan dapat tereksistensi sendiri (Halliwell and Gutteridge dalam Sen et al., 2010).
Istilah stres oksidatif juga didefenisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi peningkatan level Reactive Oxygen Species (ROS). Dalam jumlah normal, ROS berperan pada berbagai proses fisiologis seperti sistem pertahanan, biosintesis hormon, fertilisasi, dan sinyal seluler. Akan tetapi, peningkatan produksi ROS yang dikenal dengan kondisi stres oksidatif memiliki implikasi pada berbagai macam penyakit seperti hipertensi, aterosklerosis, diabetes, gagal jantung, stroke, dan penyakit kronis lainnya (Paravicini and Touyz, 2008).
Menurut data statistik dari studi Global Status Report on Noncommunicable Disease WHO, hingga akhir tahun 2008 penyakit degeneratif telah menyebabkan kematian hampir 36 juta orang di seluruh dunia dan diperkirakan akan terus meningkat sebanyak 70% dari populasi global. Dalam jumlah total, pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta jiwa kematian per tahun akibat penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, stroke, hiperkolesterol, dan diabetes (Gunawan, 2012).
Antioksidan
Antioksidan merupakan zat yang dapat membersihkan radikal bebas dan mencegah radikal bebas merusak sel. Radikal bebas bertanggung jawab menyebabkan sejumlah besar masalah kesehatan seperti kanker, penuaan dini, penyakit kardiovaskular, dan gangguan pencernaan.
Antioksidan memiliki efek protektif dengan menetralkan radikal bebas yang bersifat toksik dengan memproduksi metabolisme sel alami. Tubuh secara alami menghasilkan antioksidan, tapi prosesnya tidak efektif 100% jika dalam keadaan produksi radikal bebas melimpah di udara dan keefektifannya juga menurun karena penuaan (Sen et al., 2010).
Peningkatan jumlah asupan antioksidan dapat mencegah berbagai penyakit dan mengurangi permasalahan kesehatan. Makanan dapat meningkatkan kadar antioksidan. Buah dan sayur mengandung antioksidan penting seperti vitamin A, C, E, betakaroten, dan mineral penting, termasuk selenium dan zink. Buah-buahan, sayur-sayuran, dan obat herbal merupakan sumber utama antioksidan (Sies et al. dalam Sen et al., 2010).
Senyawa karotenoid dan provitamin A merupakan salah satu senyawa antioksidan alami yang banyak terdapat dalam umbi wortel (Daucus carota L.) (Andarwulan dan Koswara, 1992). Umbi wortel dapat berfungsi sebagai antioksidan alami yang melindungi tubuh dari serangan radikal bebas karena tidak hanya mengandung senyawa karotenoid beta karoten namun juga mengandung alfa karoten, gamma karoten, zeta karoten, dan likopen (Maulina, 2011).
Studi eksperimental dan klinis terhadap kandungan zat aktif wortel baik dalam bentuk tepung maupun ekstrak yang pernah dilakukan diketahui bahwa wortel memiliki efek hiperglikemia, efek antikanker, efek protektif terhadap penyakit jantung koroner, dan aktivitas hipokolesterolemia dan hipolipidemia (Jain et al., 2012).
Studi farmakologi menunjukkan bahwa Daucus carota L. memiliki aktivitas antifertilitas, hipoglikemik, hepatoprotektif, dan afrodisiak (Singh et al., 2012).