Saliva
Saliva merupakan cairan yang berasal dari kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor dan ditambah dengan konstituen yang bukan berasal dari kelenjar saliva yaitu cairan krevikuler, serum, sel darah merah, bakteri dan produknya, sel-sel epitel yang rusak, virus dan jamur, komponen sel yang rusak sisa makanan, dan cairan bronkus.
Saliva diproduksi oleh tiga pasang kelenjar saliva besar, yaitu kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis dan beberapa kelenjar saliva kecil. Volume saliva yang dihasilkan tiap hari berkisar antara 1-1,5 L dengan komposisi yang bervariasi berupa unsur-unsur organic dan anorganik.
Komposisi Saliva
Saliva terdiri dari 94%-99,5% air, bahan organik dan anorganik. Komponen saliva antara lain Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42-, H+, PO4, dan HPO42- . Sedangkan komponen organik utama adalah protein. Selain itu ditemukan juga lipida, glukosa, asam amino, ureum, amoniak, dan vitamin. Faktor protektif alami dari saliva yaitu: ion Ca2+ dan HPO42-, pelikel, buffer dengan karbonat, laju aliran saliva, dan ion fluoride dapat membantu proses remineralisasi.
Saliva juga mengandung imunoglobulin sekretori (Ig A) yaitu sejenis imunoglobulin yang juga terdapat dalam air mata dan kolostrum. Ig A mempunyai kemampuan menetralisasi virus dan dapat bertindak sebagai suatu antibodi terhadap antigen bakteri dan antigen makanan. Tetapi komposisi saliva juga sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain:
- irama siang malam,
- sifat dan kekuatan rangsang,
- keadaan psikis, diet, hormon, ritme biologis, latihan, penyakit, dan obat-obatan.
Fungsi Saliva
Saliva berperan untuk membasahi jaringan mulut dan berfungsi sebagai pelumas untuk menjaga mukosa dari iritasi mekanis, termis, dan kimia. Selain itu, saliva juga berfungsi membantu pengunyahan, berbicara, menelan, dan membersihkan makanan, membantu rasa oleh aktifitas ion pelarut dan protein misalnya gustin. Salah satu peran penting saliva adalah menjaga kesehatan mulut dan proses terjadinya karies. Saliva dapat mengkompensasi asam dari dental plak, asam dari makanan dan minuman asam misalnya wine atau cola , membantu remineralisasi oleh ion kalsium, fosforus, dan flouride, mengontrol mikroflora mulut melalui imunologi (Ig A), enzimatik, peptida, dan mediator kimia.
Selain bertugas untuk mempertahankan integritas jaringan, saliva juga memiliki banyak fungsi berhubungan dengan saluran pencernaan atas. Jadi saliva membantu menguraikan bahan perasa makanan, membersihkan dan mengalirkan debris dan bakteri, membilas mulut, membantu mengunyah dan menelan. Jadi apabila terjadi gangguan pada fungsi kelenjar saliva, pasti akan mengganggu fungsi oral dan kesehatan.
Kecepatan Aliran Saliva
Kecepatan aliran saliva merupakan faktor penting terhadap terjadinya karies, karena dapat mempengaruhi pH dan jumlah konstituen yang ada dalam saliva, yang kemudian akan mempengaruhi kapasitas dapar saliva.
Kecepatan aliran saliva adalah kemampuan saliva mengalir dalam kurun waktu tertentu dihitung dalam menit. Kecepatan aliran saliva sangat penting, karena dapat menjaga dan melindungi rongga mulut dalam keadaan fisiologis. Kecepatan sekresi saliva akan langsung mempengaruhi derajat keasaman dalam mulut sehingga dapat mempengaruhi demineralisasi gigi.
Kecepatan aliran saliva dapat sangat bervariasi pada setiap orang, namun umumnya pada orang dewasa dalam keadaan istirahat kecepatan sekresi saliva rata-rata adalah 0,3 – 0,5mL per menit, sedangkan kecepatan sekresi saliva yang dirangsang adalah 1-1,5mL per menit.17 Jumlah sekresi saliva per hari tanpa dirangsang adalah sekitar 300mL.15 Apabila kecepatan aliran saliva seseorang kurang dari 0,1mL per menit dan saat dirangsang hanya 0,5 mL per menit pada pria dan 0,7mL per menit pada wanita, maka bisa dicurigai sebagai hyposalivasi.
Kecepatan aliran saliva bergantung pada beberapa faktor yaitu:
- macam rangsang,
- intensitas, dan lamanya rangsang,
- irama sirkadian,
- umur,
- jenis kelamin,
- penyakit sistemik
- ukuran kelenjar saliva,
- makanan dan obat-obatan
Kapasitas Dapar Saliva
Salah satu fungsi saliva yang penting adalah mempertahankan pH agar tetap stabil di mulut. Kemampuan saliva untuk menjaga pH ini disebut kapasitas dapar. Saliva merupakan buffer yang efektif, karena memiliki sifat basa sehingga dapat melindungi jaringan mulut terhadap asam dari makanan atau plak.
Kapasitas dapar saliva adalah kemampuan saliva untuk mempertahankan keseimbangan asam dan basa dalam rongga mulut. Dengan demikian penambahan asam atau basa diharapkan tidak mengubah konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan, sehingga pH selalu konstan. Derajat keasaman saliva sangat penting karena pH saliva akan mempengaruhi proses demineralisasi dan remineralisasi jaringan keras gigi. Bikarbonat, urea, dan protein merupakan kandungan saliva yang berperan dalam fungsi buffer. Bikarbonat lebih besar peranannya daripada fosfat dan protein saliva. Konsentrasi bikarbonat bervariasi berdasarkan kondisi fisiologi sekitar 2- 5mM pada saliva tidak terstimulasi dan bisa meningkat seperti pada kadar di plasma, sekitar 28mM pada saliva yang terstimulasi.
Kapasitas dapar saliva dapat memperbaiki perubahan pH akibat perubahan konsentrasi asam, misalnya karena fermentasi gula dan bergantung pada konsentrasi disosiasi asam atau basa yang melemah dan reaksinya dengan proton ion hidroksil yang ada. Peran saliva dalam memperbaiki keadaan ini adalah dengan kapasitas daparnya dan kerja unsur lainnya, misalnya flour dan protein saliva. Jadi pasien yang mempunyai kapasitas dapar yang lebih tinggi mempunyai kecenderungan memiliki tingkat resiko karies lebih rendah.
Kecepatan sekresi sesuai dengan kapasitas dapar, yang berarti peningkatan kecepatan sekresi akan diikuti dengan peningkatan kapasitas dapar, hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah bikarbonat bersamaan dengan naiknya kecepatan sekresi. Kapasitas dapar akan mencapai puncaknya pada pH 6.
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kapasitas dapar saliva antara lain:
pH saliva, kecepatan sekresi, irama sirkardian, diet, umur, penyakit tertentu, obat- obatan, jenis kelamin, dan keberadaan jamur. Kapasitas dapar menjadi tinggi segera setelah bangun dan kemudian cepat turun. Begitu juga seperempat jam setelah makan dan turun setelah 30-60 menit.
pH Saliva
Derajat keasaman suatu larutan dinyatakan dengan pH. pH dipakai untuk menunjukkan konsentrasi ion-ion hydrogen dalam sel serta cairan tubuh. Sorensen mendefinisikan pH sebagai log negatif dari konsentrasi ion hidrogen :
pH = - log [H+].
Suatu larutan dikatakan asam jika pH < 7 sedangkan dikatakan basa jika pH > 7. pH saliva yang terstimulasi dan terstimulasi biasanya akan berbeda hingga dua unit dan biasanya berkisar antara pH dari saliva ditentukan dengan adanya konsentrasi bikarbonat . Jadi pH akan bervariasi bergantung konsentrasi bikarbonat yang ada. Hal ini digambarkan menurut persamaan dari Henderson-Hasselbach seperti berikut :
HCO - + H+ H CO pH = pK + log [HCO3-] / [H2CO3]
Konsentrasi ion bikarbonat pada saliva saat istirahat adalah 1 mmol/L dan akan meningkat sampai 50 mmol/L jika distimulasi. Beberapa komponen saliva juga berkontribusi terhadap kemampuan saliva untuk menetralkan asam, khususnya asam yang diproduksi dari dental plak. Fosfat dan protein dalam saliva berkontribusi dalam jumlah kecil dalam kapasitas dapar dari saliva. Peran mereka adalah membantu meningkatkan produksi amin yang dapat memberikan efek basa karena amin dapat memecah protein pada saliva dan bakteri.
Pada saat istirahat pH saliva biasanya agak asam, bervariasi dari 6,4-6,9. Konsentrasi bikarbonat pada saliva saat istirahat rendah sehingga sumbangan bikarbonat untuk proses buffer hanya 50 % sedangkan jika distimulasi bikarbonat dapat menyumbang hingga 85 %. Pada saliva saat istirahat perbandingan antara bikarbonat dengan H2CO3 juga akan turun. Hal ini jelas terlihat pada kelenjar parotid.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi perubahan derajat keasaman dan kapasitas dapar dari saliva, yaitu :
-
Irama siang dan malam (irama sirkadian)
pH saliva dan kapasitas daparnya akan tinggi segera setelah bangun (keadaan istirahat), tetapi kemudian akan cepat turun. Pada saat setelah makan juga akan tinggi, tetapi dalam waktu 30-60 menit akan turun lagi. Selain itu, sampai malam hari akan naik, lalu kemudian akan turun lagi.
-
Diet
Diet berpengaruh dalam kapasitas dapar saliva. Diet yang kaya karbohidrat akan menurunkan kapasitas dapar karena menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut, sedangkan diet yang kaya sayur-sayuran akan cenderung menaikkan kapasitas dapar.
-
Perangsangan kecepatan sekresi
Hal ini berkaitan dengan ion bikarbonat yang akan meningkat jika terjadi peningkatan dari laju alir saliva sehingga kapasitas dapar dari saliva juga akan meningkat.
-
Jenis kelamin
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, laju aliran saliva perempuan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena kelenjar saliva yang dimiliki oleh perempuan lebih kecil jika dibandingkan dengan pria.
-
Status psikologis
Pada keadaan-keadaan tertekan akan terjadi penurunan dari kecepatan sekresi saliva dan dengan demikian hal ini akan mempengaruhi pH dari saliva tersebut yang akan turun.
-
Usia
Secara umum, penurunan laju aliran saliva diakibatkan oleh faktor usia. Namun, dalam penelitian sebelumnya, membuktikan bahwa laju aliran saliva parotid tidak menurun seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, ada beberapa bukti bahwa terjadi atrofi kelenjar submandibula seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan penurunan sekresi saliva. Oleh karena itu, penurunan laju aliran saliva akibat penuaan sangat kecil jika dibandingkan dengan penurunan akibat penyakit atau medikasi tertentu.
-
Perubahan Hormonal
Pada saat wanita menopause, status hormon-hormon kelamin akan berubah. Hal ini membuat sekresi saliva akan menurun sehingga laju aliran saliva juga akan menurun dan membuat pH lebih rendah.
-
Penyakit sistemik
Salah satu penyakit sistemik yang mempengaruhi produksi dari saliva adalah diabetes mellitus. Pada penderita diabetes mellitus, kelenjar saliva kurang dapat menerima stimulus sehingga mengurangi kemampuan kelenjar saliva untuk mensekresikan saliva. Akibatnya pH saliva akan turun akibat menurunnya laju alir saliva.
-
Radioterapi
Perawatan radioterapi dapat mengakibatkan rusaknya sel-sel sekresi kelenjar ludah sehingga gejala mulut yang kering dapat terjadi. Akibatnya laju alir saliva akan menurun sehingga pH saliva juga akan menurun.
-
Medikasi tertentu
Ada beberapa obat-obatan yang dapat menyebabkan kekeringan pada rongga mulut. Obat-obatan tersebut antara lain antikolinergik, anti-adrenergik, dan beberapa obat-obatan lain. Kemoterapi dan obat- obatan sitotoksik yang berfungsi mengatasi malignansi biasanya juga menyebabkan gejala mulut kering yang akut.