Manusia memiliki panas badan yang tetap sepanjang ia dalam keadaan sehat dan tidak dipengaruhi oleh iklim sekitarnya, hal ini disebabkan oleh karena mekanisme isologi alat-alat tubuh manusia melalui proses oksidasi memproduksi panas tubuh. Panas tersebut diatur dan dikendalikan oleh kulit. Jika seseorang mengalami kematian, maka produksi panas serta pengaturan panas di dalam tubuhnya tidak berhenti. Dengan demikian sejak saat kematiannya manusia tidak lagi memiliki suhuh tubuh tetap, oleh karena suhu badannya mengalami penurunan (decreasing proses).
Setelah korban mati, metabolisme yang memproduksi panas terhenti, sedangkan pengeluaran panas berlangsung terus sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium disketiranya. Penurunan suhu pada saat-saat pertama kematian sangat lamban karena masih adanya proses gilogenolisis, tetapi beberapa saat kemudian suhu tubuh menurun dengan cepat. Setelah mendekati suhu lingkungan penurunan suhu tubuh lambat lagi. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi dan pancaran panas.
Hilangnya panas melalui konduksi bukan merupakan faktor penting selama hidup, tetapi setelah mati perlu dipertimbangkan jika tubuh berbaring pada permukaan yang dingin. Meskipun penurunan suhu tubuh setelah kematian tergantung pada hilangnya panas melalui radiasi dan konveksi, tetapi evaporasi dapat menjadi faktor yang signifikan jika tubuh dan pakaian kering.
Penurunan suhu mayat akan terjadi setelah kematian dan berlanjut sampai tercapainya suatu keadaan di mana suhu mayat sama dengan suhu lingkungan. Panas yang dilepaskan melalui permukaan tubuh, dalam hal ini kulit, adalah secara radiasi dan oleh karena tubuh terdiri dari berbagai lapisan yang tidak homogen, maka lapisan yang berada di bawah kulit akan menyalurkan panasnya ke arah kulit, sedangkan lapisan tersebur juga menerima panas dari lapisan dibawahnya. Keadaan tersebut yaitu dimana terjadi pelepasan atau penyaluran panas secara bertingkat dengan sendirinya membutuhkan waktu.
Metode ini tidak dianjurkan karena kesalahan sering terjadi apabila orang yang melakukan tidak ahli dalam bidangnya. Pemeriksaan suhu sering tidak akurat karena banyak faktor yang mempengaruhi seperti suhu lingkungan.