Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang dimaksud dengan Kudis atau Skabies ?

RH Rheva Maharani 9 years ago

Skabies atau Kudis|690x246

Skabies atau Kudis adalah penyakit kulit akibat investasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes scabei. Skabies tidak membahayakan bagi manusia. Adanya rasa gatal pada malam hari merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas.

Apa yang dimaksud dengan Kudis atau Skabies ?

19

Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh tungau Sarcoptes scabieidan produknya. Penyakit ini berhubungan erat dengan higiene yang buruk. Prevalensi skabies tinggi pada populasi yang padat. Dari hasil penelitian di Brazil, prevalensi skabies dua kali lebih tinggi di daerah kumuh perkotaan yang padat penduduk daripada di masyarakat nelayan dimana mereka tinggal di tempat yang lebih luas.

Penularan dapat terjadi karena:
1. Kontak langsung kulit dengan kulit penderita skabies, seperti menjabat tangan, hubungan seksual, atau tidur bersama.
2. Kontak tidak langsung (melalui benda), seperti penggunaan perlengkapan tidur bersama dan saling meminjam pakaian, handuk dan alat-alat pribadi lainnya, tidakmemiliki alat-alat pribadi sendiri sehingga harus berbagi dengan temannya. Tungau hidup dalam epidermis, tahan terhadap air dan sabun dan tetap hidup bahkan setelah mandi dengan air panas setiap.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Gejala klinis:

  1. Pruritus nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama pada malam hari atau saat penderita berkeringat.
  2. Lesi timbul di stratum korneum yang tipis, seperti di sela jari, pergelangan tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola mammae dan di bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria).

Faktor Risiko:

  1. Masyarakat yang hidup dalam kelompok yang padat seperti tinggal di asrama atau pesantren.
  2. Higiene yang buruk.
  3. Sosial ekonomi rendah seperti di panti asuhan, dan sebagainya.
  4. Hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau abu-abu dengan panjang rata-rata 1 cm. Ujung terowongan terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dan sebagainya.Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa vesikel disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi bernanah.

image|400x250
Gambar Skabies

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit untuk menemukan tungau.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Terdapat 4 tanda kardinal untuk diagnosis skabies, yaitu:
1. Pruritus nokturna.
2. Penyakit menyerang manusia secara berkelompok.
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel.
4. Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda tersebut.

Diagnosis Banding

Skabies adalah penyakit kulit yang disebut dengan the great imitator dari kelainan kulit dengan keluhan gatal. Diagnosis bandingnya adalah: Pioderma, Impetigo, Dermatitis, Pedikulosis korporis

Komplikasi

Infeksi kulit sekunder terutama oleh S. aureus sering terjadi, terutama pada anak. Komplikasi skabies dapat menurunkan kualitas hidup dan prestasi belajar.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

  1. Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan:

    • Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.
    • Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.
  2. Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu obat topikal (skabisid) di bawah ini:

    • Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturut-turut, dipakai setiap habis mandi.
    • Krim permetrin 5%di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim permetrin dibersihkan dengan sabun.
      Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2 tahun.

Konseling dan Edukasi

Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi skabies bisa melibatkan semua pihak. Bila infeksi menyebar di kalangan santri di sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan kerjasama dari pengelola pesantren. Bila sebuah barak militer tersebar infeksi, mulai dari prajurit sampai komandan barak harus bahu membahu membersihkan semua benda yang berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit.

Kriteria Rujukan

Pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih dirasakan setelah 1 bulan paska terapi.

Peralatan

  1. Lup
  2. Peralatan laboratorium untuk pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit.

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, namun tatalaksana harus dilakukan juga terhadap lingkungannya.

Sumber :
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan primer

Referensi
1. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2013. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Heukelbach, J. & Feldmeier, H. 2006. Scabies. The Lancet, 367, 1767-74. June 8, 2014.

http://Search.Proquest.Com/Docview/199054155/Fulltextpdf/Afbf4c2fd1bd4016p q/6?Accountid=17242
3. James, W.D., Berger, T.G., Elston, D.M. 2000. Andrew’s Diseases of the Skin: Clinical Dermatology. 10th Ed. Canada. Saunders Elsevier.
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin.2011.Pedoman Pelayanan Medik. Jakarta.

Scabies atau kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei dan bersifat zoonosis. Penyakit ini telah dikenal sejak lama, yaitu ketika Bonoma dan Cestoni mampu mengilustrasikan sebuah tungau sebagai penyebab scabies pada tahun 1689. Literatur lain menyebutkan bahwa scabies telah diteliti pertama kali oleh Aristotle dan Cicero dengan menyebutnya sebagai “ lice in the flesh ”. Sejauh ini dilaporkan terdapat lebih dari empat puluh spesies dari tujuh belas famili dan tujuh ordo mamalia yang dapat terserang scabies, termasuk manusia, ternak dan hewan kesayangan ( pet animal ) maupun hewan liar ( wild animal ). Angka kejadian skabies pada manusia diperkirakan mencapai tiga ratus juta orang per tahun.

Epidemiologi


Siklus Hidup

Infestasi diawali dengan tungau betina atau nimfa stadium kedua yang aktif membuat liang di epidermis atau lapisan tanduk. Di liang tersebut, sarcoptes meletakkan telurnya. Telur tersebut akan menetas dalam 3-4 hari, lalu menjadi larva berkaki 6. Dalam kurun waktu 1-2 hari larva akan berkembang menjadi nimfa stadium I dan II yang berkaki 8. Kemudian tungau akan berkembang menjadi dewasa dan mampu berkembang biak dalam 2-4 hari

Sifat Alami Agen

Tidak seperti pada tungau lainnya, tungau scabies mampu menerobos stratum corneum kulit. Tungau dewasa bertelur pada tempat terobosan tadi dan setiap tungau menghasilkan telur antara 2-3 telur setiap hari, dengan masa bertelur sampai 2 bulan,selanjutnya tungau betina tersebut mati setelah bertelur.

Pada suhu 35°C dengan kelembaban 100 %, telur menetas dalam waktu 2-3 hari, lalu memasuki stadium larva, kemudian larva berubah menjadi 2 bentuk nimpa, yaitu protonymph (dalam waktu 3-4 hari) dan tritonymph (dalam waktu 2-3 hari). Tritonymph menjadi dewasa dalam waktu 2-3 hari.

Seluruh siklus hidup, sejak telur sampai sampai menjadi dewasa memerlukan waktu antara 10-14 hari. Tungau pada anjing dan manusia dapat bertahan hidup selama 24-36 jam pada suhu ruang, 21ºC.

Tungau S.scabiei diketahui sangat peka terhadap keadaan lingkungan.

Di luar tubuh inang, pada kondisi lingkungan yang kering, tungau hanya dapat bertahan hidup selama 2-3 minggu, terkadang dapat sampai 8 minggu. Pada kondisi kering tersebut, telurnya mempunyai daya tetas sampai dengan 6 hari, dan sekitar 6 minggu dalam kondisi lingkungan yang lembab.

Spesies Rentan

Tungau Sarcoptes dapat menyerang berbagai spesies hewan, yaitu sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, babi, anjing, kucing, kera, unta, serigala, beruang, hyena, musang, wombat, dan coyote. Nampak bahwa S.scabiei memiliki cakupan inang (host range) yang sangat luas atau dengan kata lain ia tidak memiliki spesifi tas inang. Manusia, umumnya anak-anak, dapat tertular skabies yang berasal dari hewan.

Scabies dilaporkan lebih banyak terjadi pada kulit tanpa pigmen dibandingkan dengan yang berpigmen. Bulu yang lebat, panjang dan kotor merupakan tempat yang ideal bagi tungau S.scabiei. Mungkin bulu yang panjang ini ada kaitannya dengan kelembaban kulit. Diduga bahwa kulit yang lembab akan menyebabkan lapisan tanduk dari kulit menjadi lebih lunak sehingga memudahkan bagi tungau untuk menembusnya. Di samping itu, kelembaban yang tinggi dari kulit juga meningkatkan daya hidup S.scabiei.

Hewan muda umumnya lebih peka terhadap skabies dibandingkan dengan hewan dewasa. Faktor predisposisi pada inang yang ikut memperparah gejala klinis skabies, antara lain kekurangan vitamin A, kekurangan protein, infestasi parasit atau penyakit lainnya.

Secara eksperimental, dilaporkan bahwa domba yang diinfestasi dengan 40.000 - 80.000 larva cacing ostertagia memperparah gejala klinis skabies dibandingkan dengan domba tanpa infestasi parasit cacing.

Pengaruh Lingkungan

Umumnya prevalensi scabies meningkat saat musim hujan. Peternakan yang terlalu padat akan rnemberi peluang yang baik bagi peningkatan populasi tungau. Selain itu, lalu lintas hewan yang tidak terkontrol dan penggunaan pejantan yang menderita scabies subklinis dapat menjadi sumber penularan scabies.

Cara Penularan

Penularan scabies terutama terjadi secara kontak, baik antar hewan piaraan, maupun antara hewan piaraan dan hewan liar yang menderita scabies. Penyakit scabies pada suatu peternakan umumnya terjadi akibat masuknya hewan penderita sub-klinis (belum terlihat gejalanya) ke peternakan tersebut, atau hewan penderita dalam stadium awal penyakit.

Di samping itu, penularan dapat pula terjadi melalui alat peternakan yang tercemar tungau Sarcoptes, walaupun tungau ini hanya mampu bertahan hidup dalam waktu yang relatif singkat di luar tubuh inang.

Sifat Penyakit

Biasanya scabies bersifat endemis, dan bila terjadi wabah akan menyerang sebagian besar ternak dan dapat disertai adanya kematian. Pada hewan muda angka kematian penderita dapat mencapai 50 %, tergantung pada kondisi hewan dan lingkungannya.

Kejadian di Indonesia

Penyakit scabies bersifat endemis hampir di seluruh wilayah Indonesia dan menyerang berbagai jenis hewan. Pada tahun 1981, penyakit skabies dilaporkan menduduki peringkat kedua dari penyakit yang ditemukan menyerang ternak. Wabah scabies pernah dilaporkan terjadi pada kambing di Bali pada tahun 1983 dan di Lombok pada tahun 1995. Kejadian yang fatal pernah terjadi pada kambing paket bantuan pemerintah, yaitu dari 396 ekor ternayat 360 ekor (91%) diantaranya mati karena skabies. Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi berupa kematian, tetapi juga kerugian moril berupa ketidakpercayaan masyarakat terhadap bantuan pemerintah selanjutnya.

Pada keadaan kurang pakan, musim kemarau, dan lingkungan kandang yang kotor, maka prevalensi kejadian scabies dapat mencapai 4-11 %. Kasus scabies di Indonesia mencapai 0,022 %, dan kerugian ekonomi pada peternak kambing di Lombok mencapai Rp. 1.633.158.750,00 per tahun.

Gejala Klinis


Masa inkubasi bervariasi antara 10-42 hari. Pada awal infestasi, kulit mengalami erithema, kemudian akan berlanjut dengan terbentuknya papula, vesikula dan akhimya terjadi peradangan yang diikuti oleh pembentukan eksudat karena adanya iritasi. Hewan penderita tampak gelisah karena rasa gatal, menggaruk atau menggesek tubuhnya sehingga terjadi luka dan perdarahan. Eksudat mengendap pada permukaan kulit dan terbentuk keropeng atau kerak.

Proses selanjutnya, akan terjadi keratinasi dan proliferasi yang berlebihan dari jaringan ikat sehingga menyebabkan penebalan kulit dan pengkeriputan.

Perubahan ini akan mengakibatkan kerontokan bulu yang pada seluruh permukaan tubuh. Nafsu makan penderita terganggu sehingga menjadi kekurusan dan akhirnya mati karena kurang gizi (malnufi si). Apabila pengobatan tidak dilakukan secara tuntas, maka sering terjadi infeksi sekunder akibat bakteri atau jamur sehingga timbul abses dan bau busuk.

Pada hewan muda, angka kematian dapat mencapai lebih dari 50 % bila diikuti oleh infeksi sekunder.

Perjalanan penyakit terbagi dalam 3 (tiga) fase. Fase pertama, terjadi 1-2 hari setelah infestasi. Saat ini tungau mulai menembus lapisan epidermis sehingga pada pemukaan kulit terdapat banyak lubang kecil. Pada fase kedua, tungau telah berada di bawah lapisan keratin, permukaan kulit telah ditutup oleh kerak/keropeng yang tebal dan kerontokan bulu. Fase kedua ini terjadi 4-7 minggu setelah infestasi. Adapun pada fase ketiga yang terjadi 7-8 minggu setelah infestasi, kerak mulai mengelupas sehingga pada permukaan kulit kembali terlihat lubang kecil, dan pada saat itu beberapa tungau meninggalkan bekas lubang tersebut.

Bentuk lesi skabies sama pada berbagai jenis hewan, namun lokasi lesi bervariasi. Pada kambing, lesi umumnya mulai dari daerah hidung lalu menyebar keseluruh tubuh. Pada babi, lesi umumnya pada daun telinga, cungur, bagian dorsal dan leher, bahu, bagian dalam dari paha, sepanjang punggung, pangkal ekor dan pada kaki. Pada sapi, lesi banyak dijumpai pada kulit di daerah leher, punggung dan pangkal ekor. Pada penderita skabies yang kronis lesi dijumpai pada kulit di daerah abdomen dan ambing.

Pada unta, lesi dijumpai pada kulit daerah pangkal ekor, leher, axilla, daerah sternum, abdomen, fl ank, daerah preputium atau daerah ambing pada hewan betina, daerah sekitar mata, sehingga dapat menutupi seluruh bagian kepala/muka.

Patologi


Tidak ada lesi yang khas kecuali adanya jejas pada kulit.

Diagnosa


Diagnosa dapat ditetapkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan kerokan kulit. Kerokan kulit diambil pada bagian sekitar lesi, dan kulit dikerok hingga sedikit berdarah. Hasil kerokan diletakkan pada kaca objek dan ditetesi KOH 10 %, kemudian ditutup dengan kaca penutup.

Setelah 15 menit, preparat kemudian diamati di bawah mikroskop.

Tes tinta pada terowongan di dalam kulit dilakukan dengan cara menggosok papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula yang telah tertutup dengan tinta didiamkan selama dua puluh sampai tiga puluh menit, kemudian tinta diusap/dihapus dengan kapas yang dibasahi alkohol.

Tes dinyatakan positif bila tinta masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag. Visualisasi terowongan yang dibuat tungau juga dapat dilihat menggunakan mineral oil atau flourescence tetracycline test.

Kedua metode diagnosis di atas memiliki kekurangan khususnya pada kasus yang baru terinfestasi S.scabiei. Tungau akan sulit untuk diisolasi dari kerokan kulit dan gejala klinis yang ditunjukkan mempunyai persamaan dengan penyakit kulit lainnya. Oleh karena itu, para peneliti mengembangkan tehnik diagnosis berdasarkan produksi antibodi.

Berdasarkan tehnik ELISA telah dikembangkan metode untuk mendeteksi antibodi S. scabiei pada babi dan anjing yang telah dikomersialisasikan di Eropa. Uji tersebut menggunakan antigen tungau yang diperoleh dari S.scabiei var suis dan S.scabiei var vulpes. Akan tetapi beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya reaksi silang antara varian S.scabiei yang telah dibuktikan untuk mendeteksi antibodi scabies anjing dan domba menggunakan var. vulpes. Sejauh ini belum ada laporan yang mengevaluasi var. suis dan var . vulpes untuk mendiagnosis scabies pada manusia. Pengembangan uji var. hominis relatif sulit dilakukan karena terbatasnya jumlah tungau yang diperoleh dan kendala mengembangkan tungau secara in vitro.

Diagnosa Banding


Dermatitis yang disebabkan oleh jamur, dan kadang sulit dibedakan dengan demodecosis tipe skuamosa (pada anjing).

Pengambilan dan Pengiriman Spesimen


Sampel kerokan kulit diambil dari hewan penderita. Apabila dapat segera diperiksa di laboratorium, maka dianjurkan untuk mengambil kerokan kulit tanpa bahan pengawet. Tetapi, apabila sampel tidak dapat segera dikirim/ diperiksa di laboratorium, sebaiknya dikirim dengan bahan pengawet alkohol 70 % atau formalin 5 % .

Referensi:
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf

Skabies


Skabies adalah penyakit kuno yang telah lama dikenal, setidaknya selama 2500 tahun terakhir. Kata skabies berasal dari bahasa Latin scabere yang berarti menggaruk karena gejala utama skabies adalah rasa gatal hebat sehingga penderita sering menggaruk. Hieroglif dan bukti-bukti arkeologi Mesir menunjukkan bahwa skabies telah menginfestasi manusia sejak berabad-abad yang lalu. S.scabiei dideskripsikan dalam risalah ilmiah pada tahun 1100
SM, namun kaitannya dengan penyakit kulit baru terungkap 500 tahun kemudian. Aristoteles (384-322 SM) adalah orang pertama yang mengidentifikasi tungau penyebab skabies dan menyebutkan sebagai lice in the flesh.

Kepustakaan tertua menyatakan orang pertama yang menguraikan skabies adalah Aboumezzan Abdel Malek ben Zohar14 yang lahir di Spanyol pada tahun 1070 dan wafat di Maroko pada tahun 1162. Dokter tersebut menulis sesuatu yang disebut soab yang hidup di kulit dan menimbulkan gatal. Bila kulit digaruk muncul hewan kecil yang sulit dilihat dengan mata telanjang. Penemuan skabies merupakan sejarah penting dalam perkembangan ilmu kedokteran karena S.scabiei adalah organisme pertama yang diidentifikasi sebagai etiologi suatu penyakit.

Pada tahun 1678, Giovan Cosimo Bonomo menulis hasil penelitiannya mengenai hubungan penyakit kulit, S.scabiei dan prinsip penatalaksanaan skabies lalu menyampaikannya kepada Francesco Redi. Penemuan terbesar Bonomo adalah S.scabiei tidak selalu tinggal di dalam terowongan kulit melainkan berjalan di permukaan kulit untuk mencari lokasi baru.

Tungau juga dapat berpindah dari satu penderita skabies ke orang lain dan menyebabkan infestasi baru. Pada tahun 1805, Joseph Adam menginfeksikan S.scabiei ke kulitnya sendiri. Beberapa hari kemudian, ia merasa gatal dan timbul lesi di bagian kulit yang diinfeksi. Pada tahun 1812 Gales menemukan S.scabiei dan meminta Meunir untuk melukisnya, namun penemuan Gales tidak dapat dibuktikan oleh ilmuwan lainnya. Pada tahun 1820, Raspail menyatakan bahwa tungau yang ditemukan Gales identik dengan tungau keju sehingga Gales dinyatakan sebagai penipu. Penemuan Gales baru diakui pada tahun 1839 ketika Renucci seorang mahasiswa dari Corsica berhasil mendemonstrasikan cara mendapatkan tungau dari penderita skabies menggunakan sebuah jarum.

Pada tahun 1865, Thomas Hiller merangkum berbagai hasil penelitian skabies dan menyimpulkan bahwa dari sampel kulit penderita skabies ditemukan hewan kecil yang bersarang di kulit dan berkembang biak dengan cara bertelur. Hewan tersebut menimbulkan gatal pada orang yang dihinggapinya. Pada tahun 1919 Munro berhasil menginfeksi kulit seseorang dengan mentransfer larva dan nimfa S.scabiei ke kulit orang sehat lalu timbul manifestasi skabies di kulit tersebut. Saat Perang Dunia II berlangsung pada tahun 1940-an, Mellanby seorang peneliti dari Sorby Research Institute di Sheffield, Inggris meneliti penularan dan pengobatan skabies. Penelitian dilakukan terhadap 30 relawan yang bersedia tinggal dalam satu rumah di daerah sub-urban selama studi berlangsung. Mellanby menyimpulkan infestasi kulit oleh S.scabiei disebabkan oleh tungau betina yang baru dibuahi. Penemuan Mellanby16 merupakan kontribusi besar untuk kesehatan di dunia khususnya bagi para prajurit yang menderita skabies saat Perang Dunia II.

Epidemiologi


Skabies disebut juga the itch, pamaan itch, seven year itch karena gatal hebat yang berlangsung menahun. Di Indonesia skabies disebut penyakit kudis, gudik, atau buduk. Skabies terdapat di seluruh dunia dengan prevalensi yang bervariasi, tetapi umumnya terdapat di wilayah beriklim tropis dan subtropis di negara berkembang. Siapapun yang kontak dengan S.scabiei dapat terinfestasi skabies, meskipun demikian skabies lebih banyak terdapat pada penduduk yang memiliki faktor risiko tinggi untuk terinfestasi skabies. Di masyarakat yang memiliki risiko tinggi skabies prevalensi dapat mencapai 80%.

Jumlah penderita skabies di dunia diperkirakan lebih dari 300 juta setiap tahunnya sehingga menimbulkan beban ekonomi bagi individu, keluarga, masyarakat dan sistem kesehatan. Biaya untuk mengobati skabies cukup mahal karena biasanya skabies menginfeksi orang miskin yang tidak mampu membayar biaya berobat. Biaya menjadi semakin mahal apabila penderita mengalami skabies berat dengan komplikasi infeksi sekunder oleh bakteri. Pada level rumah tangga, dana yang digunakan untuk berobat mengakibatkan pengurangan biaya untuk kebutuhan pokok misalnya untuk makan sehingga menambah beban keluarga. Pada level institusi dana yang cukup besar dikeluarkan untuk menanggulangi wabah skabies.

Skabies memiliki hubungan erat dengan kebersihan personal dan lingkungan tempat tinggal sehingga sering terjadi pada orang yang tinggal bersama di pemukiman padat penghuni misalnya di perkampungan padat penduduk atau di pondok pesantren dengan kepadatan penghuni yang tinggi. Wabah skabies sering dijumpai di lingkungan padat penghuni dengan kontak kulit yang erat dan lama seperti di tempat penitipan anak, panti asuhan, tempat perawatan orang usia lanjut, penjara, pengungsian, dan pesantren bahkan di rumah sakit.

Skabies memiliki masa inkubasi yang lama sehingga orang yang terpajan skabies tidak menyadarinya sebelum timbul lesi klinis yang jelas dan dapat didiagnosis sebagai skabies. Pada orang muda sehat, skabies lebih dianggap sebagai gangguan yang menjengkelkan karena gatal hebat. Pada orang tua atau orang dengan imunitas rendah, skabies sering tidak terdiagnosis karena lesi mirip penyakit lain. Oleh karena itu skabies sering terlambat didiagnosis, pengobatannya tidak adekuat atau salah, dan tindak lanjutnya tidak memadai sehingga sering menimbulkan wabah serta terus menerus endemis di daerah yang memiliki faktor risiko tinggi untuk terinfestasi skabies.

Romani et al19 melakukan systematic review terhadap 48 penelitian skabies di berbagai negara dengan studi utama di negara berkembang yang memiliki status ekonomi menengah kebawah. Prevalensi skabies pada populasi umum paling tinggi di Papua Nugini, Panama dan Fiji sedangkan prevalensi skabies pada anak-anak paling banyak ditemukan di Panama. Pada systematic review tersebut dilaporkan bahwa skabies merupakan penyakit kulit yang biasa ditemukan di negara berkembang terutama pada anak-anak, masyarakat kurang mampu, pendidikan rendah serta kepadatan penduduk yang tinggi. Berdasarkan review tersebut, Romani et al19 menyimpulkan bahwa skabies merupakan penyakit kulit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang yang sulit diberantas sehingga diperlukan penelitian secara komprehensif untuk memperoleh strategi pengendalian yang efektif dan efisien.

Faktor Risiko Skabies


Keberadaan skabies dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu usia, jenis kelamin, tingkat kebersihan, penggunaan alat-alat pribadi bersamasama, kepadatan penghuni, tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang skabies, budaya setempat, serta sosio-ekonomi.

  1. Usia

Skabies dapat ditemukan pada semua usia tetapi lebih sering menginfestasi anak-anak dibandingkan orang dewasa. Penelitian restrospektif yang dilakukan terhadap 29.708 anak di India pada tahun 2009 menunjukkan bahwa skabies merupakan penyakit kulit tersering kedua di kelompok usia anak dan tersering ketiga pada bayi. Anak-anak lebih mudah terserang skabies karena daya tahan tubuh yang lebih rendah dari orang dewasa, kurangnya kebersihan, dan lebih seringnya mereka bermain bersama anak-anak lain dengan kontak yang erat.

Skabies juga mudah menginfestasi orang usia lanjut karena imunitas yang menurun dan perubahan fisiologi kulit menua. Selain faktor imunitas, orang usia lanjut juga mengalami perubahan fisiologi kulit yaitu atrofi epidermis dan dermis, hiperkeratosis, menurunnya fungsi sawar kulit terhadap serangan dari luar, dan proses penyembuhan yang lebih lambat. Kulit orang usia lanjut yang kering juga merupakan port d’entrée patogen antara lain S.scabiei.

Selain orang usia lanjut, golongan rentan skabies adalah penderita yang dirawat di bangsal psikiatri, penderita dengan gangguan jiwa, orang yang menerima transplantasi organ, pengidap kusta, dan pengguna narkoba. Skabies mudah menyerang orang yang memiliki faktor risiko tinggi seperti orang berusia lanjut yang dirawat di panti jompo, penderita HIV/AIDS, dan orang yang minum obat atau menjalani terapi yang mengakibatkan penurunan sistem imun. Lay et al melaporkan bahwa penderita skabies yang dirawat di fasilitas perawatan jangka panjang di 399 rumah sakit di Taiwan rata-rata berusia 80 tahun. Di rumah sakit tersebut, dari 706 penderita yang didiagnosis skabies, sebanyak 86% adalah penderita tirah baring dan 42% pengidap diabetes melitus tipe 2. Skabies sering menginfestasi orang usia lanjut yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang misalnya di panti jompo karena kepadatan penghuni serta perawatan dan kebersihan yang kurang memadai. Faktor risiko infestasi skabies di rumah perawatan orang usia lanjut adalah memiliki tempat tidur lebih dari 120 buah dan rasio tempat tidur dengan petugas kesehatan <10:1.

Pada orang usia lanjut manifestasi skabies dapat berupa lesi kulit atipik karena perubahan respons imun terhadap tungau. Lesi kulit atipik menyebabkan lesi skabies tidak mudah dikenali sehingga sering luput dari diagnosis. Selain lesi atipik, orang usia lanjut sering mengalami pruritus akibat kulit kering atau ansietas sehingga jika mengalami gatal tidak dipikirkan kemungkinan skabies. Penderita tersebut umumnya diberi antihistamin oral dan kortikosteroid topikal untuk mengurangi keluhan gatal.

Penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang dapat mengubah presentasi lesi kulit dari lesi kulit tipikal menjadi atipik. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika wabah skabies sering terjadi di panti jompo atau tempat perawatan orang berusia lanjut lainnya. Pada tahun 2011, Meyer et al melaporkan wabah skabies di rumah sakit pendidikan di Perancis yang menyerang staf dan penderita. Wabah tersebut berhasil diatasi dalam 3 bulan dengan pengobatan masal terhadap 490 penderita dan 529 petugas kesehatan.
  1. Jenis Kelamin

Skabies dapat menginfestasi laki-laki maupun perempuan, tetapi laki-laki lebih sering menderita skabies. Hal tersebut disebabkan laki-laki kurang memperhatikan kebersihan diri dibandingkan perempuan. Perempuan umumnya lebih peduli terhadap kebersihan dan kecantikannya sehingga lebih merawat diri dan menjaga kebersihan dibandingkan laki-laki.

Pada penelitian disebuah pesantren daerah Pekalongan diperoleh hasil bahwa prevalensi skabies pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hilmy melakukan penelitian di sebuah pesantren di Jakarta Timur dan mendapatkan prevalensi skabies pada tahun 2011 adalah 51,6% dengan santri laki-laki lebih banyak menderita skabies daripada perempuan. Penelitian Fakoorziba et al di Iran juga menunjukkan bahwa prevalensi skabies lebih tinggi pada laki-laki. Ratnasari melaporkan prevalensi skabies di sebuah pesantren di Jakarta Timur pada tahun 2014 adalah 51,6% dan santri laki-laki (57,4%) lebih banyak menderita skabies dibandingkan perempuan (42,9%).

  1. Tingkat Kebersihan

    Memelihara kebersihan diri pada seseorang harus menyeluruh, mulai dari kulit, tangan, kaki, kuku, sampai ke alat kelamin. Cuci tangan sangat penting untuk mencegah infeksi bakteri, virus, dan parasit. Skabies menimbulkan rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari dan pada suasana panas atau berkeringat. Karena rasa gatal yang hebat, penderita skabies akan menggaruk sehingga memberikan kenyamanan dan meredakan gatal walau untuk sementara. Akibat garukan, telur, larva, nimfa atau tungau dewasa dapat melekat di kuku dan jika kuku yang tercemar tungau tersebut menggaruk daerah lain maka skabies akan menular dengan mudah dalam waktu singkat. Oleh karena itu, mencuci tangan dan memotong kuku secara teratur sangat penting untuk mencegah skabies. Mandi dua kali sehari memakai sabun sangat penting karena pada saat mandi tungau yang sedang berada di permukaan kulit terbasuh dan lepas dari kulit.

    Kebiasaan menyetrika pakaian, mengeringkan handuk, dan menjemur kasur di bawah terik sinar matahari setidaknya seminggu sekali dapat mencegah penularan skabies. Tungau akan mati jika terpajan suhu 50o C selama 10 menit. Oleh karena itu, panas setrika dan terik sinar matahari mampu membunuh tungau dewasa yang melekat di barang-barang tersebut apabila terpajan dalam waktu yang cukup. Skabies berhubungan erat dengan tingkat kebersihan pribadi dan lingkungan. Putri melakukan penelitian di SD Negeri Magelang tentang hubungan kebersihan individu, sanitasi lingkungan, dan status gizi terhadap skabies pada anak-anak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat hubungan antara kebersihan individu dengan prevalensi skabies. Anak-anak dengan kebersihan kurang baik memiliki risiko 6 kali lipat untuk terinfestasi skabies dibandingkan anak-anak dengan kebersihan diri yang baik.

Penelitian Susilo di sebuah pesantren di Jakarta Timur juga mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara kebersihan diri dengan skabies. Sebanyak 49 dari 183 santri memiliki kebersihan diri baik dan 134 santri memiliki kebersihan diri kurang. Perilaku tidak baik yang banyak dilakukan santri adalah menggunakan satu kasur bersama atau berpindah-pindah tidur (84,4% santri). Pada suatu survei di sebuah pesantren di Jakarta Selatan diperoleh prevalensi skabies sebesar 49,3% dan umumnya santri (86,7%) memiliki perilaku kebersihan yang buruk. Santri berperilaku kebersihan baik adalah yang mencuci baju dengan sabun, menjemur pakaian di bawah sinar matahari dan menyetrika setiap hari, tidak bertukar pakaian, tidak bertukar handuk, tidak berbagi kasur, mandi lebih dari satu kali sehari memakai sabun, dan menjemur kasur setiap minggu.

Pada kenyataannya, hasil survei menunjukkan, semua santri berperilaku buruk karena kadang-kadang tidak mandi atau mandi namun tidak memakai sabun dan tidak mengeringkan daerah kemaluan dengan handuk kering setelah cebok. Santri juga tidak menjemur handuk diterik sinar matahari namun hanya menggantungkan di kamar tidur. Baju dan pakaian dalam yang telah dipakai tidak langsung dicuci tetapi dilipat atau digantung lalu dipakai lagi. Pakaian yang telah dicuci akan disetrika namun jika sedang malas pakaian hanya dicuci dan tidak disetrika. Kebiasaan buruk lainnya adalah santri sering saling meminjam handuk, pakaian dan perlengkapan shalat (sarung, mukena, kerudung) dan tidak menjemur kasur yang dipakainya di bawah terik sinar matahari serta sering tidur di kasur temannya.

Santri memiliki kebiasaan menggunakan pakaian berlapis-lapis seperti kaos dalam, kemeja atau baju koko dan jaket walaupun udara panas. Keadaan tersebut menyebabkan santri banyak berkeringat dan keringatnya membasahi pakaian, namun pakaian yang basah oleh keringat tersebut tidak dicuci melainkan hanya ditumpuk di atas lemari dan digunakan lagi setelah kering. Perilaku santri yang lebih buruk adalah sering bertukar atau meminjam pakaian yang telah dipakai dan belum dicuci tersebut.