Aritmia adalah irama yang bukan berasal dari nodus SA atau irama yang tidak teratur sekalipun berasal dari nodus SA atau frekuensi kurang dari 60 kali/menit (sinus bradikardi) atau lebih dari 100 kali/menit (sinus takikardi), serta terdapat hambatan impuls supra/intraventrikular.36-38
Epidemiologi
Aritmia memiliki insidens yang tinggi sebagai penyebab kematian mendadak (sudden death) pada populasi berumur 40-50 tahun di negara maju Tercatat di Amerika Serikat pada tahun 2001, 450.000 meninggal karena aritmia. Risiko kematian mendadak akibat aritmia meningkat sesuai dengan meingkatnya umur, namun menurun pada dekade kedelapan. Insidens aritmia dan kematian mendadak lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
Pada dewasa muda berumur di bawah 35 tahun, 100 kali lebih rendah dibandingkan dengan usia di atas 35 tahun.39 Secara epidemiologi, insidens dari aritmia dan kematian mendadak lebih tinggi pada kelompok Afrika-amerika dibandingkan dengan kulit putih. Di Indonesia, data mengenai prevalensi aritmia belum ada.
Etiologi
Aritmia dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, yaitu:
-
Persarafan autonom dan obat-obatan yang mempengaruhinya
-
Lingkungan sekitarnya seperti Iskemia, pH, keadaan elektrolit yang tidak seimbang, obat-obatan
-
Kelainan struktural jantung seperti fibrosis, sikatriks, inflamasi, jaringan abnormal, kalsifikasi, dan lain-lain
-
Rangsangan dari luar, seperti pacemaker.
Keempat faktor penyebab di atas dapat tumpang tindih pada satu pasien, dan dapat berinteraksi satu sama lain, membuat pasien menjadi lebih rentan untuk mengalami aritmia dan lebih sulit untuk diatasi.36
Patogenesis dan patofisiologi
Mekanisme terjadinya aritmia meliputi salah satu atau lebih mekanisme di bawah ini:
- Pengaruh persarafan autonom yang mempengaruhi laju jantung
- Nodus SA mengalami depresi sehingga fokus irama jantung diambil alih oleh fokus pacu jantung yang lain
- Fokus pacu jantung lain memiliki aktivitas yang lebih tinggi daripada nodus SA, sehingga irama jantung mengikuti fokus tersebut, bukan mengikuti nodus SA (Enhanced Automaticity).
- Impuls yang dihasilkan oleh nodus SA gagal disalurkan ke sel-sel otot jantung yang lain karena adanya hambatan (SA Block) atau tidak dapat keluar dari nodus SA (Sinus Arrest)
- Terjadi hambatan setelah keluar dari nodus SA, yang berupa AV block atau Bundle Branch Block. Hambatan ini dapat bersifat unidireksional ataupun bidireksional.
- Mekanisme Reentrant, yang terjadi karena adanya jalur aksesori disertai dengan periode refrakter yang berbeda antara jalur aksesori dengan jalur konduksi utama jantung.36,40mekanisme ini adalah salah satu mekanisme yang paling sering menyebabkan terjadinya aritmia pada kebanyakan pasien.40
Jenis-jenis aritmia
Berdasarkan asal fokus aritmia, aritmia dapat diklasifikasikan menjadi:
-
Aritmia dengan asal dari nodus SA
- Sinus aritmia
- Sinus takikardi
- Sinus bradikardia
- Sinus arrest
- Sinus block
-
Aritmia Atria
- Atrial fibrilasi
- Atrial Flutter
- Atrial takikardia paroksismal
- Atrial ekstrasistol, yang bisa unifocal maupun multifocal.
-
Aritmia AV Jungsional
- AV jungsional bradikardi
- AV jungsional takikardi paroksismal
- AV jungsional takikardi non-paroksismal
- AV jungsional ekstrasistol
-
Aritmia Supra Ventrikuler
- Aritmia SV multifokal
- Takikardi SV multifokal
- Takikardi SV multifokal dengan blok
- SV ekstrasistol
-
Aritmnia Ventrikuler
- Irama idio ventrikuler
- Takikardi ventrikuler paroksismal
- Ventricular flutter
- Ventricular fibrillation
- Ventrikel parasistol
- Ventrikel ekstrasistol
-
Gangguan konduksi pada sekitar berkas His
- Blok AV derajat 1-3
- Blok cabang berkas (bundle branch block)
- Right bundle branch block (RBBB)
- Left bundle branch Block (LBBB)
- Rate dependent branch block.
1. Sinus Bradicardi
Sinus bradikardi adalah irama jantung yang berasal dari nodus SA dengan frekuensi kurang dari 40/menit. Irama jantung ini terjadi pada orang yang biasa berolahraga, miksedema, hipotermia, vagotonia, dan kenaikan tekanan intrakranial.
2. Sinus Takikardi
Sinus takikardi adalah irama jantung yang berasal dari nodus SA teratur, namun memiliki frekuensi lebih dari 100/menit. Pada sinus takikardi, interval PR tetap konstan dan tidak bervariasi, kecuali bilsa terdapat blok AV pada pasien tersebut. Irama jantung ini bisa ditemukan sebagai nilai normal pada bayi, setelah aktivitas fisik, dan akibat stress psikologis. Sinus takikardi juga bisa merupakan manifestasi dari kelainan seperti hipertiroidisme, hipovolemia, infeksi, sepsis, anemia, PPOK, dan konsumsi obat-obatan simpatomimetik. Sinus takikardi juga merupakan reaksi dari gagal jantung akut, yang merupakan kompensasi dari rendahnya fraksi ejeksi (ejection fraction).
3. Sinus Aritmia
Sinus aritmia merupakan aritmia fisiologis, di mana frekuensi akan meningkat saat inspirasi dan menurun saat ekspirasi.dikatakan sinus aritmia bila selisih antara siklus sinus terpanjang dengan siklus sinus terpendek lebih besar dari 120 ms. Gejala baru timbul bila aritmia menimbulkan jarak denyut yang sangat panjang, dan biasanya berupa pusing atau palpitasi.41 Jenis aritmia ini tidak butuh pengobatan.
4. AV block
AV blok adalah keadaan di mana terdapat gangguan konduksi pada nodus AV.36-41 Terdapat tiga tingkatan dalam AV blok, yakni:
-
AV blok derajat 1
Blok derajat 1 ditandai dengan pemanjangan interval P semata- mata, yakni melebihi 0,2 s.41 Blok derajat 1 biasanya didasari oleh gangguan konduksi di proksimal dari His bundle, yang bisa disebabkan oleh intoksikasi digitalis, peradangan, proses degenerasi, atau variasi normal. biasanya bila tidak menimbulkan gejala, tidak dibutuhkan pengobatan apapun.
-
AV blok derajat 2
-
Mobitz tipe 1 (Wenckebach block)
Mobitz tipe 1 ditandai dengan adanya pemanjangan progresif dari interval PR yang pada akhirnya akan berujung pada suatu titik dimana gelombang P tidak diikuti lagi oleh kompleks QRS. Setelah melalui titik ini, gelombang QRS akan muncul lagi dan akan terjadi pemanjangan progresif lagi dari interval PR, dan begitu seterusnya. Pada Mobitz tipe 1, kerusakan terjadi pada proksimal dari His bundle. Mobitz tipe 1 ini terjadi akibat peningkatan dari tonus vagus, intoksiskasi digitalis, atau iskemia miokard. bila tidak menimbulkan gangguan hemodinamik dan gejala, blok ini tidak memerlukan pengobatan.
-
Mobitz tipe 2
Mobitz tipe 2 adalah AV blok derajat 2 yang ditandai dengan terjadinya gelombang P tanpa diikuti oleh kompleks QRS yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa pemanjangan dari interval PR. kerusakan pada Mobitz tipe 2 adalah pada distal dri His bundle. Bila kerusakan terjadi lebih distal lagi, blok ini bisa diikuti oleh bundle branch block.40 Mobitz tipe 2 dapat disebabkan oleh infark miokard akut, miokarditis, dan proses degenerasi (penyakit Lev’s atau Lenegre). sebaiknya pasien dengan AV blok derajat 2 tipe 2 diberikan alat pacu jantung.
-
AV blok derajat 3 (Total AV block)
AV blok derajat 3 adalah AV blok yang ditandai dengan dengan tidak selarasnya gelombang P dengan kompleks QRS. Frekuensi gelombang P dengan kompleks QRS pun berbeda, masing-masing 60- 100/menit dan 40-60/menit. AV Blok derajat 3 biasanya terjadi sementara dan bisa disebabkan oleh penyebab AV blok derajat 2. Bila menetap, pasien dengan AV blok sebaiknya diberikan alat pacu jantung.
-
Left Bundle Branch Block (LBBB)
LBBB merupakan gangguan konduksi pada cabang berkas kiri. Gangguan ini pada EKG akan tampak berupa gelombang rsR’ atau R yang lebar di sadapan 1, aVL, V5, dan V6. Cabang berkas kiri terdiri dari divisi anterior dan posterior. Pada blok cabang anterior, (hemiblok anterior), aksis akan mengalami deviasi ke kiri yang ekstrim, sedangkan pada blok cabang berkas posterior (hemiblok posterior), aksis akan secara ekstrim terdeviasi ke kanan.
-
Right Bundle Branch Block (RBBB)
RBBB merupakan gangguan konduksi yang terjadi pada cabang berkas kanan. Gambaran EKG yang terlihat adalah kompleks QRS yang lebar (lebih dari 0,12 s), gelombang RSR’ di sadapan V1 dan V2, gelombang S yang melebar pada sadapan I, aVL, V5, dan V6. Kelainan ini bisa dijumpai pada variasi normal, Atrial Septal Defect (ASD), infark miokard, dan degenerasi.
-
Atrial fibrilasi
Atrial fibrilasi adalah aritmia di mana pada dasarnya terjadi ketidakteraturan dalam eksitasi dan recovery dari atrium.36 Ketidakteraturan ini mempunyai frekuensi yang sangat tinggi, dan tidak semua impuls yang timbul pada atrium disalurkan ke ventrikel karean adanya mekanisme perlindungan dari nodus AV. Frekuensi ventrikel pada keadaan ini bisanya berkisar 80-150/menit, dengan defisit pulsus dan bunyi jantung yang tidak konsisten. Gambaran khas atrial fibrilasi pada EKG adalah adanya gelombang f, yang berupa gelombang kecil, berundulasi tidak teratur dengan amplitudo yang berariasi.
Atrial fibrilasi dapat ditimbulkan oleh penyakit katup mitral, penyakit jantung iskemik, tirotoksikosis, dan carditis infekstif akut. Atrial fibrilasi dapat menyebabkan stroke, sehingga pencegahan dan pengendalian atrial fibrilasi harus dilakukan sesegera mungkin saat diagnosis atrial fibrilasi ditegakkan.
-
Atrial flutter
Atrial flutter merupakan aritmia yang termasuk ke dalam golongan Macroreentrant Atrial Tachycardias. Dasar terjadinya atrial flutter adalah reentrant pada atrium yang dapat disebabkan oleh jaringan fibrosis pada operasi jantng, terapi ablasi, fibrosis idiopatik, dan kelainan antaomis lainnya yang menyebabkan kelainan struktur sistem konduksi atrium.
Pada gambaran EKG, frekuensi depolarisasi atrium pada keadaan atrial flutter adalah 250-350/menit, yang biasanya diikuti dengan frekuensi setengahnya oleh ventrikel, yakni 150 kali/menit. Gambaran khas pada aritmia ini adalah bentuk gelombang p dengan gambaran saw tooth appearance dan tidak terlihatnya garis isoelektrik dikarenakan adanya aktivitas reentrant yang terjadi terus menerus.
-
Irama Jungsional
Irama jungsional adalah irama yang mucul dari fokus ektopik yang terletak di daerah jungsional, yakni nodus AV dan His bundle. terdapat 4 jenis irama jungsional, yakni kontraksi prematur jungsional, junctional escape rhythm, accelerated juntional rhythm, dan paroxysmal junctional tachycardia. Keempat tipe ini memiliki gejala yang berbeda-beda satu sama lain.
-
Supraventrikular takikardi
Supraventrikuler takikardia adalah semua aritmia yang berasal dari fokus supraventrikel, interval R-R kurang dari 600ms, dan memiliki frekuensi eksitasi lebih dari 100/menit.40
Tatalaksana
Tatalaksana untuk aritmia meliputi terapi farmakologi, elektroterapi, dan terapi bedah.43 Berikut ini akan dibahas secara singkat satu per satu jenis terapi tersebut.
- Terapi farmakologis
Terapi aritmia secara farmakologi menggunakan obat-obat golongan aritmia. Obat-obat golongan aritmia dibagi lagi ke dalam 5 kelas. Golongan obat, mekanisme obat, dan indikasi pemakaian dikemas dalam tabel berikut ini
Tabel Klasifikasi obat antiaritmia.
| Agent | Indikasi | Dosis IV | Dosis oral | Efek samping |
|---------------|-------------------------------------------------|-------------------------------------------------------------------------------|-----------------------------------------------------------------|-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| Class Ia | | | | |
| Quinidine | AF, AFL, AVNRT, AVRT | 6–10 mg/kg dalam 20–30 min | 200–400 mg q4–6j; q8j kerja jangka panjang | Hipotensi (terutama IV), ventricular proaritmia, gangguan GI, trombositopenia |
| Procainamide | AF, AFL, AVNRT, AVRT | Bolus: 15 mg/kg diberikan dalam 20 mg/menit Infusion: 2–4 mg/menit | 50 mg/kg/hari q3–4j; bid dosage with long-acting preparation | Gangguan GI, hipotensi, SLE, agranulositosis, FUO, anemia hemolitik, perburukan myasthenia gravis, ventricular |
| Class1c | | | | |
| Flecainide | AF, AFL, AT, AVNRT, AVRT | Tidak tersedia | 100–200 mg q12j | Ventricular proaritmia, CHF, gangguan GI, gangguan CNS (dizziness, tremor, light- hedaness) |
| Propafenone | AF, AFL, AVNRT, AVRT | Tidak tersedia | 150–300 mg q8j | Gangguan GI, gangguan CNS (dizziness), metallic taste, CHF, 1° AVB, IVCD, + ANA |
| Class II (IV) | | | | |
| Esmolol | menkontrol frekuensi ventrikel, AF, AFL, ST, AT | Bolus: 500 ug/kg dalam 1–2 min Infusion: 50-200 ug/kg/min | Tidak tersedia | CHF, AVB, bradycardia, bronkospasme |
| Propranolol | menkontrol frekuensi ventrikel, AF, AFL, ST, AT | 1–5 mg dengan kecepatan 1 mg/min | 20–320 mg/hari q6j, q8j, q12j or qd, tergantung dari sediaan | CHF, AVB, bradycardia, bronchospasm | | Class III | | | | |
| Sotalol | AF, AFL, AVNRT, AVRT, AT | Tidak tersedia | 80–160 mg q12j | Dyspnea, lelah, pusing, CHF, bradycardia, ventricular proarhitmia, bronkospasme |
| Amiodarone | AF, AFL, AVNRT, AVRT, AT | Bolus: 150 mg dalam 10 min | 100–400 mg qd | Toksisitas Pulmoner, CHF, tremor, bradycardia, menaikkan LFTs, depositdi kornea, noda pada kulit, intoleransi GI, hyper-/hypothyroidism |
| | | Infusion: 1 mg/min x 6 jam, then 0.5 mg/min | | |
| Ibutilide | AF, AFL | 1 mg bolus dalam 10 min bolus kedua, bila diperlukan, setelah10- min menunggu | N/A | Ventricular proarhitmia, hipotensi, gangguan GI |
| Dofetilide | AF, AFL | N/A | 125–500 ug bid modified by algorithm | Ventricular proaritmia, sakit kepala, nyeri dada, nausea, dizziness |
| Class IV | | | | |
| Cardizem | AF, AFL, AVNRT, AVRT, AT, MAT | Bolus: 0.25 mg/menit dalam 2 menit lalu 0.35 mg/kg dalam 15 menit | 90–360 mg/hari dalam 1–4 dosis terbagi, tergantung dari sediaan | Hipotensi, bradycardia, CHF, AVB |
-
Elektroterapi
Elektroterapi merupakan salah satu bentuk terapi yang berguna untuk mengatasi aritmia. Ada beberapa jenis elektroterapi yang dapat digunakan dalam terapi aritmia, dan masing-masing modalitas terapi memiliki indikasi, teknik, dan komplikasi yang berbeda.
-
DC Kardioversi
Indikasi dari tindakan ini adalah takiaritmia dengan mekanisme dasarnya berupa proses reentrant. Terapi ini memiliki efektifitas yang lebih tinggi daripada terapi dengan agen antiaritmia. Terapi ini dapat menghilangkan reentrant yang terjadi dengan menggunakan arus listrik yang diatur besarnya sesuai dengan jenis aritmia yang dialami dan dalam mode synchronized. Kebanyakan dari SVT dapat diatasi dengan arus bifasik 20-50 Joule, namun beberapa jenis aritmia lain perlu arus yang lebih tinggi.
Terapi ini dilakukan dengan anestesi terlebih dahulu, sehingga persiapan untuk pemasangan jalan napas dengan intubasi dilakukan. Komplikasi yang dapat ditimbulkan antara lain adalah aritmia, yang sering berupa VT, dan episode emboli pasca cardioversi.
-
Alat Kardioversi-defibrilasi tertanam (Implantable Cardioversion device)
Alat Kardioversi-defibrilasi tertanam (ICD) merupakan sebuah modalitas elektroterapi yang menggunakan alat yang ditanam pada tubuh pasien dan berfungsi untuk memonitor dan menghantarkan arus kardioversi secara otomatis bila terdeteksi adanya aritmia. Indikasi penggunaan ICD adalah meliputi VT, VF, dan pemanjangan interval QT yang sudah diikuti dengan sinkop atau riwayat henti jantung. Komplikasi yang dapat ditimbulkan meliputi rasa tidak nyaman akibat luka insisi saat pemasangan alat sampai aritmia berupa VF atau VT.
-
Ablasi
Terapi ablasi adalah modalitas eletroterapi yang menggunakan energi listrik untuk menghancurkan myocardium yang menjadi fokus dari timbulnya aritmia. terapi ini menggunakan metode kateterisasi dan bisa menggunakan energi yang dihasilkan oleh radiofrekuensi. Indikasi terapi ini adalah aritmia dengan mekanisme reentrant.
-
Terapi Bedah
Terapi bedah pada aritmia memiliki prinsip yang sama dengan terapi ablasi pada modalitas elektroterapi. Bedanya, terapi bedah menghancurkan fokus aritmia secara mekanik.