Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Pendapat Anda Mengenai Sarjana Perempuan yang Menjadi Ibu Rumah Tangga?

PA Panji Wicaksono 10 years ago

sarjana menjadi ibu rumah tangga|690x320

Pada dewasa ini banyak sarjana perempuan yang berakhir memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Masalahnya bagaimana penerapan ilmu yang diterima sejak awal pendidikan sampai mendapatkan gelar sarjana. Apakah semua itu sia-sia ?

169

Menurut saya tidak ada yang sia-sia. Terutama ilmu. Karena menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sebuah halangan untuk mengembangkan ilmu yang telah didapatkan selama ini hingga mendapat gelar sarjana. ilmu tersebut masih bisa dikembangkan dan diteruskan melalui berbagai cara, salah satunya dengan memberikan ilmu tersebut kepada anak-anaknya,

menurut saya, banyak perempuan yang berakhir dengan menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah pilihan mereka. bisa saja itu adalah permintaan dari suami mereka, pasti semua orang ingin menerapkan ilmu yang telah di dapatkan, tetapi demi menjadi seorang istri yang solehah, perempuan tersebut akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga. dan menurut saya seorang ibu sarjana yang tidak menerapkan ilmu bukanlah hal yang sia-sia, ibu itu dapat menerapkan ilmunya atau mengajari ilmunya itu kepada anak-anaknya.

menurut saya, tidak begitu buruk sarjana wanita menjadi ibu rumah tangga. mungkin dalam peran di kehidupan nyata iburumah tangga hanya terlihat mengurus anak, rumah, dan suami.tetapi di balik itu seorang ibu rumah tangga mempunyai peran penting dalam berbagai hal. seperti contoh, mendidik anak dalam pendidikan. jika seorang ibu rumah tangga memiliki ilmu yang cukup maka ibu tersebut dapat mempertimbangkan metode pendidikan yang pas buat anak. dan pelajaran2 yang perlu dipelajari seorang anak untuk masa depan nya karena ibu tersebut mempunyai pengalaman yang cukup dalam bidang pendidikan. sehingga hal tersebut penting karena pendidikan terbaik berasal dari keluarga. terutama seorang ibu.

Menurut pendapat saya, tidak ada salahnya perempuan mengenyam ilmu setinggi tingginya, karena biarpun pada akhirnya perempuan tersebut menjadi ibu rumah tangga, pastinya nanti anak akan butuh ibu yang cerdas pula, seperti komentar diatas, "Anak yang cerdas lahir dari Ibu yang cerdas pula". Maka dari itu tak ada salahnya Perempuan yang mengenyam pendidikan setinggi mungkin agar bisa mendidik anak-anaknya nanti.

Ibu saya sendiri seorang Sarjana Hukum yang sampai sekarang menjadi ibu rumah tangga. Saya tidak pernah mendengarnya mengeluh ingin berkerja daripada mengurus rumah. Dalam hal pendidikan tidak ada yang namanya sia-sia. Meskipun tujuan tiap-tiap individu memang berbeda-beda, ada yang memilih untuk menempuh pendidikan tinggi untuk menuruti keinginan orang tua atau mungkin sekadar mengejar gelar. Saya yakin setiap perempuan sarjana yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga mengerti tanggung jawab dari pilihan yang mereka buat. Jadi pendapat saya tentu saja pendidikan yang sudah ditempuh tidak akan sia-sia.

Sebenarnya seorang sarjana perempuan menjadi ibu rumah tangga itu pasti mempunyai alasan tersendiri. Memang mungkin banyak yang akan berpikir bahwa seorang sarjana perempuan menjadi ibu rumah tangga adalah suatu kesalahan karena ia sekolah tinggi-tinggi yang dijalaninya selama ini menjadi sia-sia. Tapi menurut saya sendiri, ilmu itu tidak akan sia-sia, paling tidak dia akan mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada anak-anaknya.

Menurut saya, tidak ada ilmu yang sia-sia. Ilmu yang sudah susah payah kita cari di bangku perkuliahan tidak hanya berguna untuk mendapat pekerjaan tetapi, dapat berguna untuk hal lain. Menjadi ibu rumah tangga yang baik bukanlah hal yang mudah. Untuk mendidik anak di zaman sekarang diperlukan sosok perempuan yang tidak hanya pandai memasak, mencuci, dan membereskan rumah. Seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya yang juga harus mengerti berbagai hal. Mendidik moral dan intelektual seorang anak memerlukan bekal yang matang. Jika kita tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi rasanya memiliki anak-anak cerdas pun akan sulit dicapai. Terlebih lagi, suami pasti mendambakan seorang pendamping hidup yang berpikiran terbuka dan memiliki wawasan luas agar bisa melihat penyelesaian sebuah masalah dari berbagai sudut pandang.

salam kak @Panji_Wicaksono , setelah kuliah menjadi ibu rumah tangga? tergantung perspektif. kalo perspektif kondisi, bukan menjadi hal yang percuma seorang sarjana perempuan jadi ibu rumah tangga, karena dengan pola pikir yang terlatih, terdidik dan memilik daya saing bisa mengurus rumah tangga hingga mendidik keturunannya dengan baik. lagipula ibu rumah tangga jaman sekarang bukan cuma yang benar2 mengurus keperluan rumah tangga. dengan adanya teknologi yang canggih di segala bidang kususnya informasi, memungkinkan para ibu bekerja lebih praktis, sehingga memiliki waktu lebih untuk berkarya hingga berbisnis. kemudian dari perspektif karier. jadi ibu rumah tangga bisa jadi pilihan kedua, dikandung maksud sebagai ibu - ibu rumahan. karena karir menuntut jenjang pendidikan dan etos kerja yang tinggi, yang keseluruhan didapat melalui terjun langsung dalam dunia kerja. seorang sarjana yang kemudian berkarier juga masih memiliki kesempatan menjadi ibu rumah tangga pada waktu - waktu yang sudah di prioritaskan dan dimanajemen sedemikian rupa.

Setiap jurusan yang diambil di perguruan tinggi mencita-citakan lulusannya bekerja di bidang yang selaras dengan jurusan tersebut. Tidak ada atau belum ada jurusan/prodi yang mengarahkan lulusannya untuk mandeg "hanya" sebagai rumah tangga. Jadi, dilihat dari perspektif itu, ya, jawabannya adalah pendidikan tinggi itu menjadi sia-sia.

Namun ibu rumah tanggapun memerlukan kecerdasan pikir, mental, dan emosional luar biasa. Maka saya usulkan ada prodi/jurusan Ibu Rumah Tangga di kampus.

@patrisius.istiarto Wah menarik sekali jika ada prodi bahkan jurusan tentang bagaimana menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik, karena saat ini yang kita ketahui untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga belajarnya dari orang tua atau mertuanya saja yang notabene menggunakan cara2 orang terdahulu, padahal kita ketahui semakin berkembang zaman, maka metode pembelajaran untuk generasi sekarang mungkin akan sedikit berbeda dari generasi sebelumnya. Setuju sekali jika ada Prodi atau mungkin Jurusan yang meng-cover bagaimana menjadi Orang Tua yang baik (Ibu Rumah Tangga)

Well, kalau ditanya pendapat saya mengenai sarjana perempuan yang menjadi IRT??Absolutely saya akan menjawab, SETUJU. Tidak ada salahnya seorang sarjana menjadi IRT, tidak dosa kok (hehe). Jika yang dipermasalahkan adalah penerapan ilmunya apakah sia-sia?Absolutely jawabannya TIDAK. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mereka bisa menerapkan ilmu yang sudah didapat sejak awal pendidikan hingga mendapat gelar sarjana?Adalah keluarga sebagai wadah tumbuh kembang pertama dan yang paling utama bagi calon-calon pemimpin bangsa. That's great, isn't it?. Perempuan membawa pengaruh yang luar biasa dalam proses membesarkan buah hati, perempuan yang berpendidikanlah yang mampu membawa dampak signifikan. Ilmu yang mereka dapatkan selama proses kuliah bisa mereka salurkan dalam agen utama proses pendidikan yang dibutuhkan untuk membangun karakter seseorang. Jadi, tidak akan sia-sia atas apa yang sudah mereka dapatkan. Semoga jawaban saya membantu. :)

Ya mungkin harapan yang ingin diraih seperti yang mba khikmah sampaikan. Namun, kenyataannya kebanyakan tidak seperti itu mba. Memang ada yang setelah lulus langsung menikah dan fokus menjadi IRT. Tapi bukannya hal semacam itu malah buang waktu, tenaga dan uang?

Hallo mas @stevencoconut, memangnya kenyataaan saat ini bagaimana mas?Setahu saya lulusan sarjana yang langsung menjadi IRT memang mempunyai kualifikasi tinggi dalam mengurus keluarganya. Banyak teman dan tetangga saya yang memilih menikah bahkan sebelum wisuda. Mengenai apakah uang dan tenaga yang dikeluarkan selama ini sia-sia, pastinya tidak mas. Memang, menuntut ilmu membutuhkan biaya yang tidak murah. Namun ilmu yang mereka dapatkan akan diaplikasikan dalam membangun keluarga cerdas dalam skala kecil dan berinovasi terhadap lingkungan sekitar dalam skala besar. Karena keluarga dan lingkungan adalah agen utama dalam tumbuh kembang pribadi seseorang, maka dibutuhkan SDM yang utama juga yakni para lulusan sarjana.