Pada dewasa ini banyak sarjana perempuan yang berakhir memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Masalahnya bagaimana penerapan ilmu yang diterima sejak awal pendidikan sampai mendapatkan gelar sarjana. Apakah semua itu sia-sia ?
Pada dewasa ini banyak sarjana perempuan yang berakhir memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Masalahnya bagaimana penerapan ilmu yang diterima sejak awal pendidikan sampai mendapatkan gelar sarjana. Apakah semua itu sia-sia ?
Opini Pribadi saya: Wanita sudah selayaknya menjadi ibu rumah tangga, wanita juga perlu mengenyam pendidikan tinggi. Sudut pandang saya Pribadi, saya lebih memilih wanita yang kuat (berpendidikan tinggi, cerdas dan berwawasan luas) daripada wanita cantik tetapi tidak bisa apa-apa.
wanita cantik dan tidak bisa apa-apa bagaimana dia bisa memberikan support kepada suami. Pernikahan itu seperti komitment menjadi partner seumur hidup. Jika Anda memiliki Impian yang tinggi sebaikanya manfaatkan sumber daya yang ada untuk mendapatkannya. Termasuk Memiliki Pasangan yang bisa memberikan support Intelektual.
Contoh Urusan Rule of the game ketika pernikahan, Jika anda sebagai suami dan bekerja sebagai Entrepreneur, bisa saja istri anda sebagai konsultan pribadi anda.
Tidak ada yang sia-sia ketika anda memiliki gelar sarjana, yang sia-sia adalah anda tidak memiliki tujuan / impian di hidup anda.
Jika melihat dari tanggapan teman-teman mengenai seorang Sarjana perempuan yang menjadi IRT, kebanyakan menilai tidak menjadi sutau masalah jika pada akhirnya seorang Sarjana perempuan akan fokus untuk menjadi seorang IRT. Malah memang diperlukan perempuan yang berpendidikan dan cerdaslah yang dapat mendidik anak keturunannya.
Jika kita sambungkan dengan kondisi sosial saat ini, para perempuan moderen malah memiliki peran ganda dalam kehidupannya, satu sisi dia menjadi seorang IRT di sisi lain menjadi seorang wanita karir atau pebisnis, hal semacam ini sudah sangat lumrah dikalangan wanita moderen. Dengan berbekal keahlian dan pengetahun yang mempuni, seorang wanita sudah tidak hanya berperan di dapur saja, tetapi juga tetap dapat berkarir di dunia pekerjaan.
Saat ini malah banyak dari kita (laki-laki) yang belum paham akan keadaan ini, sehingga tidak jarang istri malah hanya diwajibkan bekerja di rumah saja (IRT) dan suami lah yang cari nafkah keluar rumah.
Yang saya perhatikan saat ini adalah bahwa peran laki-laki atau perempuan tidak jauh berbeda, semua dapat bekerja dan berkarir, tetapi satu yang harus di ingat bahwa jika telah ber rumah tangga, maka pekerjaan rumah tangga sudah menjadi kewajiban dari kedua pasangan tersebut dan bukan lebih memberatkan ke satu sisi. Karena saat ini zaman sudah banyak berubah, tinggal bagaimana kita menyikapi perubahan tersebut menjadi lebih bijak.
Kenyataan banyak sekali wanita yang memiliki gelar tinggi akan memilih lelaki yang lebih berkualitas dari pendidikan sang wanita. Sekarang apakah lelaki juga butuh gelar tinggi untuk bisa di pilih oleh wanita yang lebih memiliki kualitas di era sekarang?
Benar, sekarang banyak wanita yang memiliki gelar tinggi dalam prestasi akademiknya bahkan dalam berkarir pun tidak sedikit yang sukses dan menempati posisi strategis di sebuah perusahaan tempat mereka bekarja.
Menurut saya pribadi, gelar akademik tinggi bahkan sekelas Professor tidak menjadi prioritas saya, saya lebih memilih memperdalam skill di bidang yang saya sukai, dan skill itu yang lebih membantu dalam mengerjakan banyak hal.
Bagi saya, saya tidak memusingkan pilihan dari wanita, jika memang wanita tidak memilih karena saya bergelar dibawahnya, itu tidak akan menjadi suatu masalah besar. :wink: dan setiap orang memiliki hak atas pilihannya, jadi tidak bisa dipaksakan juga kan.
Jika Sarjana perempuan memutuskan menjadi Ibu Rumah tangga, yang gak masalah dong. semua itu soal pilihan dan kondisi, apalagi jika memang memiliki suami mapan sehingga Isteri bisa focus dengan rumah tangga atau si anak memiliki kebutuhan khusus yang harus ditangani sang isteri.
yang menjadi menarik, gimana kalo sebaliknya?, Mau kah suami tinggal di rumah dan mengurusi tetek bengek keperluan rumah tangga jika ternyata karir si isteri lebih melejit? bersediakah suami mengurusi anak, memasak dan perkara lainnya dalam rumah tangga jika si Isteri sedang sibuk bekerja?.
karena keliatannya banyak laki-laki yang masih gengsi melakukan pekerjaan rumah tangga dan bersembunyi di balik "kodrat perempuan", jika ternyata si isteri lebih mampu mencari nafkah why not??.
[quote="nurlela_lumbantoruan, post:39, topic:821"]
yang menjadi menarik, gimana kalo sebaliknya?, Mau kah suami tinggal di rumah dan mengurusi tetek bengek keperluan rumah tangga jika ternyata karir si isteri lebih melejit? bersediakah suami mengurusi anak, memasak dan perkara lainnya dalam rumah tangga jika si Isteri sedang sibuk bekerja?.
[/quote]
Menurut saya, memang tidak menjadi suatu masalah jika seorang Istri yang bekerja dan Suami yang mengurus rumah tangga. Tetapi permasalahannya adalah, ketika Istri bekerja diluar rumah dan Suami menjadi BRT (Bapak Rumah Tangga), akan banyak stigma2 dari Masyarakat yang melah "ngomongin" keluarga tersebut.
Di Indonesia, hal semacam ini masim belum banyak dijumpai, kita masih mengikuti tradisi orang terdahulu bahwa yang seharusnya mencari nafkah adalah Suami dan yang menjaga rumah tangga adalah Istri.
Nah sekarang bagaiman kita dapat membiasakan hal seperti ini sedangkan di sisi lain banyak orang yang malah menggosipkan hal yang tidak-tidak kepada rumah tangga kita.
Memang perkataan orang tidak menjadi masalah, selama mereka tidak menyakiti secara fisik, bagi saya tidak benar2 menjadi masalah besar, tetapi hal tersebut juga jika dibiarkan terlalu lama akan menjadi beban fikiran, dan bias merusak secara psikologi. lalu bagaimana kita dapat mengatasi stigma negative tersebut dan meyakinkan bahwa untuk mencari nafkah keluarga, Istri juga dapat melakukannya.
jawabannya cuma satu, kita harus berani memulai mas @IvanDV dari keluarga kita sendiri, dari cara orang tua membesarkan anak-naknya yang cenderung menjadikan si Abang atau saudara laki-laki sebagai sosok yang super power dan posisi anak perempuan menajadi yang ke-dua. mendidik anak sejak dini tanpa ada pembeda-bedaan tanggung jawab berdasarkan gender.
Tetapi bukankan memang tugas dan hak dari laki-laki lebih besar daripada seorang perempuan mba @nurlela_lumbantoruan, menurut saya memang harus tetap ada pembeda antara peran dan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Laki sudah seharusnya bekerja mencari nafkah keluar rumah.
Jika disamakan maka bagaimana membedakan peran dari keduanya? saya setuju jika seharusnya orang tua tidak membedakan anak laki-laki dan perempuanya, tetapi sudah seharusnya tugas dari laki-laki dibedakan dari perempuan.. Begitu menurut saya.
Kata siapa tugas dan hak laki-laki lebih besar dari perempuan mas @Arnold ?.
Yang saya tahu laki-laki dan perempuan memang berbeda. Laki-laki berkumis, berjenggot & berjakun. Sementara perempuan memiliki ciri-ciri biologis 4M yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Itu saja!.
Ketika seorang perempuan memutuskan untuk berpendidikan tinggi, atau tidak melanjutkan pendidikan dan memilih berkarir atau lebih menjadi ibu rumah tangga. Itu cuma pilihan bukan berarti tidak boleh. Dan semua perempuan berhak memilih tanpa harus menanggung tekanan sosial atas pilihannya.
Masalahnya sekarang adalah, perempuan sering mendapat label atas pilihannya terkait pendidikan atau karir.
Kenapa? Karena sejak kecil, sejak saya di bangku sekolah pada buku pelajaran banyak ditemukan gambar maupun rumusan yang tidak mencerminkan kesetaraan gender, mis; seorang pilot selalu laki-laki, ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Byk lagi contohnya. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki.
Jika mas @Arnold masih membeda-bedakan peran social berdasarkan jenis kelamin. Masalah yang lebih berat dan tidak menguntungkan bagi kaum perempuan adalah bila pembedaan peran social yang berupa pengekangan-pengekangan dan diskriminasi bagi perempuan.
Tidak ada yang salah dengan seorang perempuan yang memilih menjadi atlet besi daripada tari balet misalnya, sebaliknya tidak ada yang salah dengan suami yang mengepel lantai sedangkan isterinya menebang pohon mangga di pekarangan.
Saya tidak membedakan dalam artian yang sangat extreme juga mba @nurlela_lumbantoruan, hanya saja jika tidak ada beda antara peran laki dan perempuan maka akan tidak baik, tidak baik secara psikologi orang yang menjalankan atau dari segi lingkungan, karena seperti yg saya katakan, watak orang Indonesia masih belum bisa menerima hal semacam ini.
Tidak menjadi masalah jika seorang laki menyapu rumah, mencuci piring bahkan mengganti popok anak, dan perempuan menjadi pimpinan perusahaan. Tetapi ada baiknya ketika keadaan sudah seperti ini, sang perempuan juga tetap membantu pekerjaan2 rumah, agar sang suami juga merasa lebih dihargai terkait statusnya sebagai seorang suami dan juga laki-laki.
Saya pernah menonton film yang menceritakan kehidupan pasangan suami istri yang mana si istri adalah manager perusahaan sedangkan suami tidak bekerja, tetapi lebih kepada mengurus rumah tangga mereka, dalam beberapa waktu hal semacam ini terjadi di rumah tangga mereka, si suami tidak mempermasalahkan, tetapi setelah melihat si istri bekerja seperti tidak kenal waktu karena kesibukannya dengan pekerjaan menjadikan suami yang tadinya menerima saja keadaan mereka seperti itu menjadi memberontak.
Si suami menjadi sangat stress memikirkan keadaan rumah tangga mereka, belum lagi tanggapan dari lingkungan yang menganggap dia tidak menjadi seorang pria sejati karena tidak bekerja seperti istrinya. dari keadaan seperti ini si suami sempat terpikir untuk berselingkuh untuk menghibur diri.
Nah dari potongan film itu saya jadi beranggapan bahwa harus tetap ada pembatas yang baik antara peran laki-laki dan perempuan, agar kehidupan rumah tangga tetap terjaga keharmonisannya.
Menurut saya itu sah2 saja....istri saya juga sarjana sejak kami diberikan kepercayaan oleh Allah untuk mempunyai anak, istri saya minta ijin untuk fokus merawat anak dan saya ijinkan...pekerjaan yg paling mulia dimata saya adalah ibu rumah tangga.
Sebelumnya pekerjaan dari istri bapak apa ya? mulia sekali jika memang istri bapak yang meminta untuk fokus untuk mendidik anak dirumah dan meninggal pekerjaanya. Dan saya sependapat jika pekerjan menjadi IRT adalah sangat mulia, karena pekerjan tersebut tidak lah mudah, makanya terkadang banyak yang menyerah mendidik adanknya lalu anaknya malah di titipkan kepada neneknya untuk di didik oleh neneknya. :sweat_smile:
Ada pendapat mangatakan, di zaman sekarang jika kita tidak mengetahui dunia luar, maka akan tertinggal oleh zaman, nah bagi bapak, bagaimana agar si istri tetap bisa memiliki pengetahuan akan perkembangan dunia luar sedangkan beliar hari2nya bekerja di rumah saja?.
Hi pak arnold.....sebelum menikah dengan saya istri saya bekerja di salah satu perusahaan besar pertambangan batubara di indonesia dan mempunyai jabatan yg lumayan tinggi. Sejak menikah dengan saya dan kami mempunyai anak, istri saya minta ijin untuk tidak kerja lagi dan mengurus saya dan anak saya...of course i'm agree and support keputusan istri saya.
Wahh keren sekali Istrinya pak, dari bekerja dan memiliki jabatan yang cukup baik di perusahaan besar pula tetapi ketika telah memiliki momongan, jadi ingin fokus mengurus anak dan suami, Salut pak @laksonobowo81 :smile:.
Notifications