
Information Technologi Investment Management (ITIM) framework merupakan kerangka atau metodologi dalam pengelolaan investasi SI/TI untuk menilai tahapan proses investasi SI/TI secara aktual sekaligus menentukan perbaikan terhadap proses yang ada selama ini.
ITIM mengidentifikasi kunci proses investasi TI, mengukur ada atau tidak adanya proses-proses kunci tersebut, menciptakan penilaian terhadap IT manajemen investasi TI organisasi, dan penawaran rekomendasi untuk perbaikan.
Kerangka kerja ini menyediakan tiga kemampuan kunci yang berguna bagi banyak organisasi yaitu :
1) Sebagai alat standar untuk evaluasi internal dan eksternal dari badan proses manajemen investasi TI;
2) ITIM memiliki mekanisme yang komprehensif dan ketat terkait pelaporan hasil penilaian untuk organisasi,
3) ITIM merupakan road map yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses manajemen investasi TI organisasi.
Dengan demikian, ITIM dapat menjadi alat yang berharga dalam mendukung penilaian diri dan perbaikan organisasi sehingga dapat menjadi standar terhadap evaluasi investasi yang handal [2].
Proses analisa investasi SI/TI berdasarkan kerangka ITIM menekankan pada 3 (tiga) proses utama yang terkait dalam
siklus hidup (life cycle) dan berkelanjutan yaitu seleksi, pengendalian dan evaluasi.

Gambar. Proses Utama dalam Kerangka ITIM
-
Fase pertama adalah fase seleksi untuk menentukan proyek TI terbaik dalam mendukung misi organisasi, menganalisa resiko dan manfaaat yang kiranya diberikan masing-masing proyek.
-
Fase kedua yaitu fase control, pada fase ini, organisasi memastikan bahwa dengan pengembangan proyek dan bertambahnya biaya investasi, apakah proyek tersebut telah memenuhi harapan dari sisi biaya dan resiko. Jika proyek tidak sesuai harapan maka langkah-langkah untuk menyelesaikannya dengan segera dilakukan.
-
Fase terakhir yaitu fase evaluasi, dimana pada fase ini dilakukan perbandingan antara proyek yang dilakukan dengan hasilnya. Hal ini dilakukan untuk menilai dampak proyek terhadap misi organisasi, untuk mengidentifikasi perubahan atau modifikasi proyek yang mungkin diperlukan, dan merevisi proses pengelolaan investasi berdasarkan pelajaran yang didapat untuk dijadikan evaluasi ke proyek selanjutnya.
Seperti model kematangan lain, ITIM dibagi menjadi sebuah hirarki, ditandai dengan pengelompokan manajemen investasi TI proses menjadi lima tahap kematangan investasi SI/TI. Setiap tahap kematangan terdiri dari proses kritikal, dimana masing-masing proses kritikal memiliki sejumlah praktik kunci. Lima tahap kematangan investasi SI/TI dimulai dari tahap paling bawah ke atas menyesuaikan kemampuan organisasi mengelola investasi TI-nya.

Gambar Tingkatan Kematangan ITIM
Tahap 1: Menciptakan Kesadaran Berinvestasi (Creating investement awareness): Karakteristik tahap 1 adalah proses investasi yang terfokus (satu tujuan tertentu), tidak terstruktur, dan tidak dapat diprediksi.
Sebagai contoh, organisasi yang masih dalam tahap ini umumnya tidak ada hubungan yang erat antara kesuksesan/kegagalan salah satu proyek dengan proyek lainnya. Jika sebuah proyek IT berhasil dan dinilai sebagai investasi yang baik, hal ini disebabkan karena langkah yang bagus dari tim di proyek tersebut, sehingga keberhasilan akan sulit untuk diulang.
Proses investasi yang penting dari proyek yang berhasil dapat diidentifikasi, tetapi hanya khusus tim di satu proyek tersebut, pengalaman proses ini tidak diketahui oleh seluruh organisasi atau dilembagakan.
Tahap 2: Membangun Dasar Berinvestasi (Building the investment foundation): Salah satu fokus pada Tahap 2 adalah membangun kemampuan dasar dalam melakukan seleksi. Kemampuan dasar menyeleksi ditentukan oleh pengembangan kriteria seleksi proyek, termasuk kriteria manfaat dan risiko, dan adanya kesadaran organisasi saat mengidentifikasi proyek untuk pendanaan. Tidak ada lagi proyek yang didanai hanya untuk tujuan tertentu saja.
Proses seleksi dasar yang dibangun di Tahap 2 meletakkan dasar kemampuan seleksi yang lebih baik di Tahap 3. Oleh karena itu, organisasi juga fokus pada pendefinisian dan pengembangan unit kerja/dewan/komite yang mengelola investasi TI, mengidentifikasi kebutuhan bisnis atau peluang yang akan diperoleh dari setiap proyek, dan menggunakan pengetahuan ini dalam seleksi atau proyek TI yang baru.
Organisasi yang telah bekerja dalam Tahap 2 harus dimulai dengan mengembangkan proses pengambilan keputusan ITIM yang memanfaatkan Enterprise Architecture (EA). Organisasi dengan arsitektur “apa adanya” dapat menyediakan informasi dasar yang diperlukan oleh pengambil keputusan, seperti misalnya sistem apa yang sekarang ada dan kemungkinan adanya tumpang tindih fungsi dengan adanya sistem baru.
Selain itu, EA berfungsi sebagai repositori untuk informasi investasi yang saat ini sering digunakan meskipun memerlukan modifikasi dalam penggunaannya. Kriteria untuk memilih investari baru dan yang berkelanjutan harus dibuat dan kebutuhan untuk menyelaraskan dengan tujuan EA dapat digunakan sebagai panduan penting dalam keputusan investasi.
Tahap 3: Pengembangan Portofolio Investasi yang Lengkap (Developing a complete investment portfolio):
Proses kritikal dalam Tahap 3 tergantung dari keberhasilan pelaksanaan Tahap 2. Untuk dapat berhasil dalam Tahap 3, organisasi harus menempatkan struktur dan pengulangan proses dari proyek yang berorientasi manajemen sebagaimana dijelaskan di atas.
Selain itu, data kinerja proyek secara spesifik yang digunakan sebagai monitoring dan pemilihan kembali pada Tahap 2 sangat penting untuk keberhasilan manajemen portofolio investasi.
Fokus dalam Tahap 3 adalah menerapkan konsistensi, perspektif yang jelas dalam portofolio investasi dan memelihara kematangan, seleksi terpadu (pemilihan kembali), pengendalian, dan proses evaluasi. Proses ini akan dievaluasi pada saat review pasca implementasi.
Tahap 4: Peningkatan Proses Investasi (Improving the investment process):
Organisasi yang berada dalam Tahap 4 memfokuskan pada penggunaan teknik evaluasi untuk meningkatkan porses investasi dan portofolio dengan tetap memelihara pengendalian tingkat kematangan dan proses
seleksi.
Dalam tahap ini, organisasi secara kontinyu menganalisa portofolio investasi untuk memastikan bahwa investasi tetap sejalan dengan kondisi terakhir arsitektur. Hal ini karena perubahan kecil dalam investasi baik secara terpisah atau dalam keseluruhan EA mungkin dapat terjadi tanpa disadari selama masa pengambilan keputusan pemilihan atau pemilihan kembali.
Seperti dijelaskan dalam Tahap 3, tinjauan pasca implementasi biasanya mengidentifikasi hal-hal penting dari investasi dan menentukan antisipasi manfaat dari investasi bisnis tersebut telah tercapai. Menganalisa beberapa tinjauan pasca implementasi berfungsi sebagai dasar dalam membuat rekomendasi untuk mengubah atau meningkatkan proses investasi TI.
Pada Tahap 4, organisasi memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan suksesi TI dan dapat merencanakan maupun melaksanakan pemilihan kembali atas nilai invetasi TI yang usang, berisiko tinggi, atau rendah.
Tahap 5: Memanfaatkan TI untuk Hasil Strategis (Leveraging IT for strategic outcomes):
Setelah organisasi mampu dalam melakukan proses seleksi, pengendalian, evaluasi, organisasi tersebut kemudian serta telah menemukan bentuk atas hasil strategisnya melalui :
1) menggunakan EA-nya sebagai kerangka acuan penting untuk memastikan keselarasan dengan target arsitekturnya,
2) belajar dari organisasi lain,
3) terus menerus meningkatkan cara menggunakan TI untuk mendukung dan meningkatkan hasil usahanya, dan
4) berfokus pada fleksibilitas dan menjadi organisasi dinamis yang sesuai dengan visi masa depan dan ITIM sebagai media kritikal untuk mengimplementasikannya.
Dengan demikian organisasi yang berada dalam Tahap 5, proses investasi TI-nya telah berada pada tingkatan yang terbaik dan melakukan pemantauan secara proaktif untuk melakukan terobosan dalam TI yang secara signifikan akan mengubah dan meningkatkan kinerja usahanya.
Dengan pengecualian Tahap 1, setiap tahap kematangan terdiri dari beberapa critical process, seperti proses yang digunakan untuk membuat suatu portofolio investasi TI.
Critical process biasanya diadopsi dari waktu ke waktu. Setiap critical process, berisi satu set atribut berisi elemenelemen inti, yang melalui evolusi langkah demi langkah pendahuluan, adopsi dan pengembangan, dan implementasi untuk mencapai tahap kematangan selanjutnya.
Setelah mengetahui posisi tingkat kematangan investasi SI/TI suatu perusahaan maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan tingkat kematangan investasi SI/TI pada tingkatan yang lebih tinggi. Pada tahap terakhir ini dibutuhkan kemampuan tatakelola investasi yang baik, sehingga hasil akhir pengukuran kematangan investasi dapat memberikan usulan tatakelola investasi bagi organisasi yang diteliti.
Referensi :
- GAO. Information Technology Investment Management: A Framework for Assessing and Improving Process Maturity. US: United States General Accounting Office. 2004.