Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa orang bisa men-judge selera orang dengan selera lagu yang elite ataupun normies? padahal kan ini masalah selera. Memangnya ada kualifikasi tententu untuk suatu lagu dikatakan bagus secara objektif?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
66

Ketika Selera Jadi Identitas, Bukan Sekadar Preferensi

Pernah ada momen sederhana: memutar lagu yang menurut kita enak, lalu ada komentar, “Wah, selera normies banget,” atau sebaliknya, “Wah, selera elite.” Dari situ terasa bahwa musik bukan lagi sekadar didengar—tapi dipakai sebagai penanda siapa diri kita.

Padahal kalau dilihat secara jujur, selera memang sangat personal. Tapi begitu masuk ke ruang sosial, selera berubah jadi simbol.

Selera sebagai “Bahasa Sosial”

Manusia punya kecenderungan untuk mengelompokkan diri—siapa “kita” dan siapa “mereka”. Musik, seperti halnya film atau gaya berpakaian, sering jadi alat untuk itu.

Menyebut sesuatu “elite” biasanya bukan hanya soal kualitas, tapi tentang membedakan diri dari arus utama. Sebaliknya, menyebut “normies” sering jadi cara halus untuk mengatakan “ini terlalu umum, kurang spesial”.

Jadi yang dinilai bukan hanya lagunya, tapi posisi sosial yang diwakili oleh selera itu.

Ilusi “Selera Tinggi”

Ada asumsi bahwa selera bisa “naik level”—dari yang umum ke yang lebih kompleks, lebih niche, lebih jarang didengar.

Sebagian benar, karena memang ada musik yang secara teknis lebih kompleks. Tapi di sisi lain, ini juga bisa jadi jebakan:

kompleks belum tentu lebih bermakna, dan populer belum tentu dangkal.

Banyak orang akhirnya tidak lagi jujur dengan apa yang mereka nikmati, tapi dengan apa yang “terlihat lebih bernilai”.

Apakah Ada Standar Objektif untuk Lagu yang “Bagus”?

Secara teknis, ada beberapa hal yang bisa dinilai lebih objektif:

komposisi musik,
harmoni dan aransemen,
kualitas produksi,
kedalaman lirik.

Seorang musisi atau produser mungkin bisa melihat detail yang tidak terlihat oleh pendengar biasa.

Tapi masalahnya, menikmati musik tidak hanya soal teknis.

Ada emosi, ada kenangan, ada konteks pribadi.

Lagu sederhana bisa terasa sangat “bagus” karena datang di waktu yang tepat dalam hidup seseorang.

Insight yang Jarang Disadari: Orang Sering Menilai Selera untuk Menguatkan Diri Sendiri

Kadang, ketika seseorang menyebut selera orang lain “rendah” atau “biasa”, yang sebenarnya sedang terjadi bukan penilaian objektif.

Tapi usaha untuk merasa:

“aku berbeda,”
“aku lebih paham,”
atau “aku punya taste yang lebih refined.”

Ini bukan selalu disengaja, tapi bagian dari kebutuhan manusia untuk merasa punya identitas dan posisi.

Kenapa Ini Terasa Mengganggu?

Karena selera itu dekat dengan diri. Saat selera dinilai, rasanya seperti diri kita yang dinilai.

Padahal sebenarnya, itu hanya preferensi—bukan ukuran nilai seseorang.

Penutup: Dari Menghakimi ke Menikmati

Jadi, kenapa orang men-judge selera musik?

Karena selera sering dipakai sebagai simbol identitas,
karena ada ilusi tentang “selera tinggi”,
dan karena manusia cenderung membandingkan.

Tapi apakah ada standar objektif untuk lagu yang bagus?

Sebagian ada—secara teknis.
Tapi secara pengalaman, tetap sangat subjektif.

Dan mungkin, pendekatan yang lebih sehat adalah sederhana:

musik bukan untuk membuktikan siapa yang lebih “berkelas”, tapi untuk dirasakan.

Karena pada akhirnya, lagu yang paling “bagus” bukan yang paling kompleks atau paling langka—tapi yang paling jujur terasa “kena”.

Fenomena menghakimi selera musik orang lain—sering kali dilabeli sebagai elitism musik—berakar pada fungsi musik sebagai penanda identitas sosial dan modal budaya. Meskipun secara estetika musik adalah subjektif, manusia cenderung menggunakan selera sebagai alat untuk menciptakan batasan kelompok (in-group vs out-group). Dalam perspektif Daniel Kahneman melalui Thinking, Fast and Slow, kita sering menggunakan jalan pintas kognitif (Sistem 1) untuk menilai karakter seseorang hanya berdasarkan apa yang mereka dengarkan, karena hal itu memberikan rasa "kepastian" sosial yang cepat.

Berikut adalah beberapa faktor psikologis dan sosiologis di balik penghakiman selera musik:

  • Musik sebagai Modal Budaya (Cultural Capital): Sosiolog Pierre Bourdieu berpendapat bahwa selera bukan sekadar preferensi, melainkan cara orang menunjukkan status sosial mereka. Menikmati lagu yang dianggap "sulit" atau indie (elite) memberikan rasa keunikan intelektual, sementara menyukai lagu populer (normies) dianggap sebagai kepatuhan terhadap arus utama tanpa pemikiran kritis.
  • Kebutuhan akan Diferensiasi: Manusia memiliki dorongan untuk merasa berbeda dari massa. Dalam psikologi, ini disebut need for uniqueness. Dengan merendahkan selera "normies", seseorang sebenarnya sedang berusaha memperkuat ego dan identitas mereka sendiri sebagai individu yang "lebih paham" atau "lebih mendalam".
  • Bias Kognitif 'Similarity-Attraction': Kita cenderung lebih menyukai orang yang memiliki selera sama dengan kita. Sebaliknya, ketidakcocokan selera sering kali diterjemahkan oleh otak sebagai "ketidakharmonisan karakter", yang kemudian memicu penghakiman subjektif.

Apakah Ada Kualifikasi Lagu yang "Bagus" Secara Objektif?

Pertanyaan tentang kebagusan objektif dalam seni telah diperdebatkan selama berabad-abad. Secara teknis, ada elemen-elemen yang bisa diukur, namun "bagus" atau "tidaknya" tetap bergantung pada telinga pendengarnya. Namun, dalam disiplin teori musik dan produksi, ada beberapa parameter yang sering digunakan untuk menilai kualitas teknis (bukan kualitas estetika):

  1. Kompleksitas Struktur dan Harmoni: Lagu yang dianggap "elite" sering kali memiliki progresi akor yang tidak terduga atau struktur yang tidak konvensional (misalnya Jazz atau Progressive Rock). Secara objektif, ini menunjukkan tingkat keterampilan komposisi yang lebih tinggi dibandingkan lagu dengan struktur four-chord sederhana.
  2. Kualitas Produksi dan Dinamika: Aspek teknis seperti mixing, mastering, dan penggunaan rentang dinamika (perbedaan antara bagian keras dan lembut) dapat diukur secara fisik. Produksi yang jernih dan bertekstur sering kali dianggap "objektif" lebih baik daripada produksi yang flat atau pecah.
  3. Inovasi dan Orisinalitas: Sejauh mana sebuah lagu membawa sesuatu yang baru ke dalam genre atau teknik tertentu. Lagu yang hanya mereplikasi pola yang sudah ada (derivatif) sering kali dinilai lebih rendah oleh kritikus dibandingkan karya yang mendobrak batas (avant-garde).

Sintesis: Menghargai Subjektivitas dalam Pertumbuhan Intelektual

Secara filosofis, Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menekankan bahwa makna bersifat personal. Jika sebuah lagu "normie" memberikan kekuatan bagi seseorang untuk melewati masa sulit, maka bagi orang tersebut, lagu itu memiliki nilai yang tak terhingga. Menilai selera orang lain sebenarnya adalah bentuk Fixed Mindset (teori Carol Dweck) yang membatasi kita untuk mengeksplorasi spektrum emosi manusia yang luas.

Seorang pendengar yang memiliki Growth Mindset tidak akan sibuk melabeli orang lain, melainkan fokus pada apa yang bisa ia pelajari dari setiap jenis musik. Sebagaimana Daniel Siegel tekankan dalam Mindsight, integrasi adalah kunci kesehatan mental—termasuk integrasi dalam menerima bahwa setiap orang memiliki "peta internal" yang berbeda-beda dalam memproses nada dan lirik.

Penutup dari perdebatan selera ini adalah kesadaran bahwa musik adalah bahasa emosi. Tidak ada bahasa yang lebih unggul; yang ada hanyalah bahasa yang paling mampu menyentuh hati pendengarnya pada momen tertentu. Berhentilah mengelompokkan orang berdasarkan daftar putar mereka, dan mulailah mendengarkan cerita di balik mengapa mereka menyukai musik tersebut.


Daftar Pustaka

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Routledge.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. Bantam Books.