Ketika Selera Jadi Identitas, Bukan Sekadar Preferensi
Pernah ada momen sederhana: memutar lagu yang menurut kita enak, lalu ada komentar, “Wah, selera normies banget,” atau sebaliknya, “Wah, selera elite.” Dari situ terasa bahwa musik bukan lagi sekadar didengar—tapi dipakai sebagai penanda siapa diri kita.
Padahal kalau dilihat secara jujur, selera memang sangat personal. Tapi begitu masuk ke ruang sosial, selera berubah jadi simbol.
Selera sebagai “Bahasa Sosial”
Manusia punya kecenderungan untuk mengelompokkan diri—siapa “kita” dan siapa “mereka”. Musik, seperti halnya film atau gaya berpakaian, sering jadi alat untuk itu.
Menyebut sesuatu “elite” biasanya bukan hanya soal kualitas, tapi tentang membedakan diri dari arus utama. Sebaliknya, menyebut “normies” sering jadi cara halus untuk mengatakan “ini terlalu umum, kurang spesial”.
Jadi yang dinilai bukan hanya lagunya, tapi posisi sosial yang diwakili oleh selera itu.
Ilusi “Selera Tinggi”
Ada asumsi bahwa selera bisa “naik level”—dari yang umum ke yang lebih kompleks, lebih niche, lebih jarang didengar.
Sebagian benar, karena memang ada musik yang secara teknis lebih kompleks. Tapi di sisi lain, ini juga bisa jadi jebakan:
kompleks belum tentu lebih bermakna, dan populer belum tentu dangkal.
Banyak orang akhirnya tidak lagi jujur dengan apa yang mereka nikmati, tapi dengan apa yang “terlihat lebih bernilai”.
Apakah Ada Standar Objektif untuk Lagu yang “Bagus”?
Secara teknis, ada beberapa hal yang bisa dinilai lebih objektif:
komposisi musik,
harmoni dan aransemen,
kualitas produksi,
kedalaman lirik.
Seorang musisi atau produser mungkin bisa melihat detail yang tidak terlihat oleh pendengar biasa.
Tapi masalahnya, menikmati musik tidak hanya soal teknis.
Ada emosi, ada kenangan, ada konteks pribadi.
Lagu sederhana bisa terasa sangat “bagus” karena datang di waktu yang tepat dalam hidup seseorang.
Insight yang Jarang Disadari: Orang Sering Menilai Selera untuk Menguatkan Diri Sendiri
Kadang, ketika seseorang menyebut selera orang lain “rendah” atau “biasa”, yang sebenarnya sedang terjadi bukan penilaian objektif.
Tapi usaha untuk merasa:
“aku berbeda,”
“aku lebih paham,”
atau “aku punya taste yang lebih refined.”
Ini bukan selalu disengaja, tapi bagian dari kebutuhan manusia untuk merasa punya identitas dan posisi.
Kenapa Ini Terasa Mengganggu?
Karena selera itu dekat dengan diri. Saat selera dinilai, rasanya seperti diri kita yang dinilai.
Padahal sebenarnya, itu hanya preferensi—bukan ukuran nilai seseorang.
Penutup: Dari Menghakimi ke Menikmati
Jadi, kenapa orang men-judge selera musik?
Karena selera sering dipakai sebagai simbol identitas,
karena ada ilusi tentang “selera tinggi”,
dan karena manusia cenderung membandingkan.
Tapi apakah ada standar objektif untuk lagu yang bagus?
Sebagian ada—secara teknis.
Tapi secara pengalaman, tetap sangat subjektif.
Dan mungkin, pendekatan yang lebih sehat adalah sederhana:
musik bukan untuk membuktikan siapa yang lebih “berkelas”, tapi untuk dirasakan.
Karena pada akhirnya, lagu yang paling “bagus” bukan yang paling kompleks atau paling langka—tapi yang paling jujur terasa “kena”.