Ada satu situasi yang cukup dilematis: kita tahu ada seseorang yang sangat cocok untuk membantu membangun sesuatu—skill-nya pas, cara berpikirnya nyambung, bahkan mungkin sudah pernah bekerja bareng sebelumnya. Tapi ada satu “masalah kecil”: dia sudah punya pekerjaan tetap.
Dan bukan sekadar pekerjaan, tapi pekerjaan yang stabil. Gaji jelas. ritme kerja sudah terbentuk. Risiko relatif rendah.
Di titik ini, pendekatannya tidak bisa lagi sekadar “menawarkan kesempatan”. Karena dari sudut pandangnya, bukan hanya soal peluang, tetapi soal apa yang harus dikorbankan.
Bukan Meyakinkan, Tapi Membuka Ruang Pertimbangan
Kesalahan paling umum adalah mencoba meyakinkan terlalu cepat.
Menjelaskan betapa besarnya peluang, betapa menariknya visi, atau betapa serunya membangun sesuatu dari nol.
Padahal, bagi seseorang yang sudah berada di posisi stabil, pendekatan seperti ini seringkali justru terasa seperti tekanan.
Yang lebih realistis adalah membuka ruang untuk berpikir, bukan memaksa untuk memutuskan.
Mengajak diskusi, bukan pitching. Menggali ketertarikan, bukan langsung menawarkan komitmen.
Insight yang Jarang Dibicarakan: Orang Tidak Pergi dari Tempat Lama, Mereka “Ditarik” oleh Sesuatu yang Lebih Kuat
Banyak yang berpikir bahwa cara mengajak seseorang bergabung adalah dengan menunjukkan bahwa startup ini “lebih baik” dari pekerjaannya sekarang.
Padahal dalam banyak kasus, keputusan pindah bukan karena tempat lama buruk, tetapi karena ada sesuatu yang lebih bermakna atau lebih relevan secara personal.
Bisa berupa tantangan baru. Bisa berupa kesempatan untuk berkembang. Bisa juga karena merasa ingin terlibat dalam sesuatu yang lebih dekat dengan nilai pribadi.
Ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Daniel Pink dalam Drive, bahwa motivasi intrinsik seperti purpose dan mastery seringkali menjadi pendorong yang lebih kuat dibanding sekadar kompensasi.
Mulai dari Kolaborasi Kecil, Bukan Ajakan Besar
Pendekatan yang paling realistis biasanya tidak dimulai dari ajakan “join full-time”.
Melainkan dari sesuatu yang lebih ringan: kolaborasi kecil.
Mengajak berdiskusi tentang problem. Mengajak melihat produk. Atau bahkan mencoba mengerjakan satu hal bersama.
Dari situ, ada dua hal yang terjadi secara alami:
Ia mulai memahami apa yang sedang dibangun, bukan hanya dari cerita, tetapi dari pengalaman langsung.
Dan kita juga bisa melihat apakah benar ada kecocokan dalam cara berpikir dan bekerja.
Pendekatan ini mengurangi risiko bagi kedua belah pihak.
Yang Sering Terlewat: Menghargai Risiko yang Dia Ambil
Kadang, tanpa disadari, kita melihat ajakan ini dari sudut pandang kita sendiri—bahwa ini adalah peluang besar.
Namun dari sudut pandangnya, ini adalah risiko besar.
Meninggalkan stabilitas. Menghadapi ketidakpastian. Masuk ke sistem yang belum jelas.
Jika ini tidak diakui secara jujur, percakapan menjadi tidak seimbang.
Menghargai risiko ini bukan berarti membuatnya takut, tetapi menunjukkan bahwa kita realistis. Bahwa kita tidak menjual mimpi tanpa melihat konsekuensinya.
Transparansi Lebih Kuat daripada Optimisme Berlebihan
Ada kecenderungan untuk menampilkan sisi terbaik saja—visi besar, potensi market, peluang growth.
Namun dalam konteks ini, transparansi justru lebih kuat.
Menjelaskan apa yang belum jelas. Apa yang masih menjadi tantangan. Bahkan apa yang berpotensi gagal.
Karena orang yang sudah berpengalaman biasanya tidak mencari kepastian semu. Mereka lebih menghargai kejujuran.
Tanpa transparansi, seringkali muncul keraguan yang dipengaruhi oleh cognitive distortion, seperti overthinking terhadap hal-hal yang tidak dijelaskan secara jelas.
Memberikan Fleksibilitas, Bukan Ultimatum
Pendekatan “pilih sekarang atau tidak sama sekali” jarang efektif dalam situasi ini.
Yang lebih realistis adalah memberikan fleksibilitas.
Misalnya, mulai sebagai advisor, contributor part-time, atau bahkan sekadar sounding board untuk ide-ide tertentu.
Dari situ, keterlibatan bisa berkembang secara organik.
Dan jika memang ada kecocokan yang kuat, keputusan untuk bergabung biasanya datang dengan sendirinya—bukan karena dipaksa, tetapi karena terasa masuk akal.
Refleksi yang Lebih Dalam: Ini Bukan Soal “Mengajak”, Tapi “Menyelaraskan”
Pada akhirnya, mengajak seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap bukanlah soal persuasi.
Ini lebih tentang alignment.
Apakah fase hidupnya cocok dengan risiko yang ditawarkan?
Apakah nilai yang dicari selaras dengan apa yang sedang dibangun?
Apakah timing-nya tepat?
Jika alignment ini tidak ada, strategi terbaik pun tidak akan berhasil.
Penutup: Orang Tidak Bergabung karena Dibujuk, Tapi Karena Merasa Ini Masuk Akal untuk Dirinya
Ada satu hal yang sering terlupakan: keputusan untuk bergabung dalam startup bukan hanya keputusan rasional, tetapi juga personal.
Ia melibatkan rasa aman, rasa ingin berkembang, dan rasa percaya.
Dan mungkin di situlah letak kuncinya—bahwa cara paling realistis untuk mengajak seseorang bergabung bukanlah dengan membuatnya yakin, tetapi dengan membuatnya melihat bahwa ini adalah langkah yang masuk akal untuk dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, orang tidak pindah hanya karena ada peluang. Mereka pindah karena merasa bahwa perjalanan baru ini layak untuk diambil, meskipun penuh ketidakpastian.
Daftar Pustaka
Pink, Daniel H. Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us. Riverhead Books, 2009.