Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kalau karyawan diganti dengan orang baru yang lebih ‘better qualified’, apakah pengetahuan organisasi otomatis meningkat?

SA salmaaa 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
37

Dalam dunia kerja, ada satu asumsi yang terdengar logis di permukaan: ketika seorang karyawan digantikan oleh orang baru yang “lebih qualified”, maka organisasi otomatis menjadi lebih pintar, lebih efisien, dan lebih maju. Secara intuitif, ini masuk akal—lebih banyak kompetensi seharusnya berarti hasil yang lebih baik.

Namun dalam realitas organisasi, logika ini tidak selalu bekerja seperti itu. Ada banyak kasus di mana pergantian orang justru membuat performa tim stagnan, bahkan menurun untuk sementara waktu, sebelum akhirnya pulih—atau tidak pulih sama sekali.

Pertanyaan yang lebih dalam kemudian muncul: apakah pengetahuan organisasi benar-benar otomatis meningkat hanya karena individu yang lebih kompeten masuk?

Inti: Pengetahuan Organisasi Tidak Melekat pada Individu, Tapi pada Sistem Relasi

Salah satu kesalahan paling umum dalam memahami organisasi adalah menganggap pengetahuan sebagai sesuatu yang “dibawa” oleh individu. Padahal dalam praktiknya, pengetahuan organisasi jauh lebih kompleks: ia tidak hanya berada di kepala orang, tetapi tersebar dalam proses, budaya, kebiasaan, dan cara kerja yang tidak selalu tertulis.

Peter Senge dalam The Fifth Discipline menjelaskan bahwa organisasi yang belajar (learning organization) bukan sekadar kumpulan individu pintar, tetapi sistem yang mampu mengintegrasikan pengetahuan menjadi pola kerja kolektif.

Pengetahuan organisasi bukan jumlah dari pengetahuan individu, tetapi hasil interaksi antara individu, sistem, dan konteks kerja yang terus berkembang.

Ketika seorang karyawan diganti dengan orang baru yang lebih “qualified”, yang sebenarnya terjadi bukan transfer otomatis peningkatan pengetahuan, tetapi proses restrukturisasi ulang sistem sosial dan operasional.

Di titik ini, pengetahuan lama yang sebelumnya tidak tertulis—cara komunikasi tim, kebiasaan mengambil keputusan, intuisi terhadap klien, hingga “cara kerja tidak resmi”—harus dibangun ulang atau diterjemahkan kembali oleh orang baru.

Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam teori SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) menjelaskan bahwa pengetahuan organisasi terbentuk melalui siklus antara tacit knowledge (pengetahuan tak tertulis) dan explicit knowledge (pengetahuan yang terdokumentasi).

Masalahnya, sebagian besar pengetahuan organisasi justru berada dalam bentuk tacit—tidak mudah dipindahkan hanya dengan mengganti orang.

Realita Lapangan: “Lebih Qualified” Tidak Selalu Berarti Lebih Efektif di Sistem Lama

Dalam praktik organisasi, sering terjadi fase yang disebut sebagai “learning gap” ketika orang baru masuk, bahkan jika mereka secara teknis lebih kompeten.

Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh konteks. Artinya, kemampuan seseorang tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berinteraksi dengan lingkungan tempat ia bekerja.

Orang baru yang lebih “qualified” mungkin memiliki pengetahuan yang lebih luas secara teoritis, tetapi belum tentu memahami konteks spesifik organisasi tersebut: pola komunikasi internal, prioritas tidak tertulis, atau dinamika antar tim.

Kompetensi individu tidak otomatis berubah menjadi kompetensi organisasi jika tidak terintegrasi dengan sistem yang sudah ada.

Di banyak kasus nyata, bahkan terjadi fenomena “productivity dip”—penurunan produktivitas sementara setelah pergantian karyawan—karena organisasi sedang berada dalam fase re-learning.

Daniel Siegel dalam The Developing Mind menjelaskan bahwa sistem yang kompleks seperti manusia atau organisasi membutuhkan integrasi baru setiap kali ada perubahan elemen penting. Dalam konteks ini, organisasi harus “menyusun ulang koneksi” antara orang, proses, dan tujuan.

Insight yang Jarang Disadari: Pengetahuan Organisasi Sering Ada di Celah, Bukan di Individu

Salah satu hal yang jarang disadari adalah bahwa pengetahuan organisasi sering kali tidak berada secara utuh pada satu individu, tetapi muncul di celah-celah interaksi antar orang.

Contohnya sederhana: cara sebuah tim menyelesaikan masalah bukan hanya tergantung pada kemampuan masing-masing anggota, tetapi pada bagaimana mereka saling merespons, bagaimana keputusan diambil secara informal, dan bagaimana informasi mengalir tanpa harus selalu tertulis.

Ketika satu orang diganti, bukan hanya “skill set” yang berubah, tetapi juga pola interaksi ini ikut terganggu.

Peter Senge menyebut ini sebagai “mental models” organisasi—cara berpikir kolektif yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat memengaruhi hasil kerja.

Yang hilang saat seseorang diganti bukan hanya pengetahuan individu, tetapi juga koneksi tidak terlihat yang mengikat pengetahuan itu dengan sistem kerja.

Nonaka dan Takeuchi menekankan bahwa penciptaan pengetahuan organisasi sangat bergantung pada proses sosial. Artinya, bahkan orang yang sangat kompeten pun tetap membutuhkan waktu untuk “masuk” ke dalam jaringan pengetahuan yang sudah ada.

Dimensi yang Lebih Dalam: Organisasi Bukan Mesin yang Bisa Di-upgrade dengan Mengganti Suku Cadang

Jika dilihat lebih dalam, asumsi bahwa mengganti karyawan dengan yang lebih qualified akan otomatis meningkatkan pengetahuan organisasi sebenarnya berangkat dari cara berpikir mekanistik—seolah organisasi adalah mesin.

Namun organisasi lebih dekat dengan sistem biologis daripada mesin. Ia hidup, beradaptasi, dan membentuk pola baru setiap kali ada perubahan.

Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia sering menggunakan heuristik sederhana untuk memahami sistem kompleks. Dalam hal ini, “orang lebih baik = hasil lebih baik” adalah simplifikasi yang tidak selalu akurat.

Organisasi tidak bekerja seperti mesin yang langsung lebih cepat ketika komponennya diganti, tetapi seperti ekosistem yang perlu menyeimbangkan ulang dirinya setiap kali ada perubahan.

Matthew Walker dalam Why We Sleep menjelaskan bahwa konsolidasi informasi membutuhkan waktu. Hal yang sama berlaku dalam organisasi: pengetahuan baru tidak langsung menjadi efektif hanya karena dibawa oleh individu baru.

Ia harus melewati proses internalisasi, adaptasi, dan sinkronisasi dengan sistem yang sudah ada.

Penutup: Peningkatan Pengetahuan Organisasi Adalah Proses Sistemik, Bukan Pergantian Individu

Pada akhirnya, mengganti karyawan dengan orang yang lebih qualified tidak secara otomatis meningkatkan pengetahuan organisasi. Yang terjadi adalah potensi peningkatan—yang hanya akan terealisasi jika proses integrasi berjalan dengan baik.

Pengetahuan organisasi tidak naik secara otomatis karena orang yang lebih pintar masuk, tetapi karena sistem mampu mengintegrasikan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada.

Dalam perspektif yang lebih luas, organisasi yang benar-benar berkembang bukanlah yang hanya mengganti orang dengan yang lebih baik, tetapi yang mampu menciptakan lingkungan di mana pengetahuan individu bisa saling terhubung, bertahan, dan berkembang menjadi sesuatu yang kolektif.

Dan mungkin di situlah letak kesalahpahaman paling umum dalam dunia kerja: bahwa peningkatan kualitas organisasi bisa diselesaikan hanya dengan mengganti orang, padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah menguatkan cara organisasi itu sendiri belajar.

Daftar Pustaka

Senge, Peter M. The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization. Doubleday, 1990.

Nonaka, Ikujiro & Takeuchi, Hirotaka. The Knowledge-Creating Company. Oxford University Press, 1995.

Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux, 2011.

Siegel, Daniel J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press, 2012.

Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.

Dalam dunia manajemen yang sering kali terobsesi dengan efisiensi dan metrik, muncul sebuah asumsi linier yang berbahaya: bahwa organisasi hanyalah tumpukan lego. Jika kita mengambil satu blok dan menggantinya dengan blok lain yang lebih kokoh atau mengilap, maka seluruh bangunan akan otomatis menjadi lebih kuat. Namun, dalam realitas psikologi industri dan organisasi, sebuah perusahaan lebih mirip dengan ekosistem biologis daripada struktur bangunan. Mengganti seorang karyawan lama dengan individu yang memiliki kualifikasi lebih tinggi—misalnya, lulusan universitas ternama atau pemegang sertifikasi prestisius—tidak secara otomatis meningkatkan pengetahuan organisasi. Bahkan, dalam banyak kasus, pergantian ini justru memicu hilangnya memori kritis yang bisa melumpuhkan efektivitas tim selama berbulan-bulan.

Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan di sebuah departemen teknologi. Seorang manajer memutuskan untuk mengganti staf senior yang sudah bekerja sepuluh tahun dengan seorang jenius muda yang memiliki kualifikasi teknis jauh melampaui pendahulunya. Di atas kertas, kualifikasi rata-rata tim meningkat. Namun, ketika sistem mengalami kegagalan mendadak, staf baru tersebut tidak tahu bahwa kode tertentu ditulis sedemikian rupa karena ada batasan fisik pada perangkat keras lama yang hanya dipahami oleh staf lama. Fenomena ini membawa kita pada pemikiran Daniel Kahneman mengenai "intuisi ahli" dalam Thinking, Fast and Slow. Kualifikasi adalah bukti potensi kognitif, namun pengetahuan organisasi adalah hasil dari ribuan jam interaksi spesifik dengan konteks, budaya, dan sejarah perusahaan yang tidak bisa diunduh secara instan ke dalam otak orang baru.

Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Nassim Nicholas Taleb dalam Antifragile, bahwa ada perbedaan mendalam antara pengetahuan yang bersifat teoretis (episteme) dan pengetahuan praktis yang lahir dari pengalaman langsung (metis). Orang yang lebih "qualified" mungkin memiliki episteme yang superior, namun mereka sering kali buta terhadap metis yang menjadi nyawa dari operasional harian. Pengetahuan organisasi bersifat kolektif dan relasional; ia tidak berada di dalam kepala individu, melainkan di dalam celah-celah interaksi antarmanusia. Saat kita memutus satu simpul lama, kita sebenarnya sedang merobek jaring pengetahuan yang sudah terbentuk, dan orang baru, betapapun hebatnya, harus merajut jaring itu kembali dari nol.

Pengetahuan Eksplisit vs. Pengetahuan Tasit

Salah satu alasan mengapa kualifikasi tinggi tidak menjamin peningkatan pengetahuan adalah perbedaan antara pengetahuan eksplisit dan tasit. Pengetahuan eksplisit adalah hal-hal yang tertulis dalam manual atau prosedur standar. Orang baru yang cerdas bisa mempelajarinya dalam semalam. Namun, pengetahuan tasit—seperti siapa yang harus dihubungi saat terjadi krisis, bagaimana cara membujuk klien tertentu yang sulit, atau "perasaan" bahwa sebuah proyek akan gagal—hanya bisa didapatkan melalui proses sosialisasi yang panjang. Hal ini sejalan dengan teori Ikujiro Nonaka mengenai penciptaan pengetahuan organisasi, di mana ia menekankan bahwa pengetahuan sering kali berpindah melalui proses yang tidak disadari di antara rekan kerja.

Ketika seorang profesional baru masuk, mereka membawa individual capital yang besar, tetapi mereka masuk dengan social capital yang nol. Koneksi emosional dan kepercayaan yang telah dibangun oleh karyawan lama merupakan pelumas bagi aliran informasi. Tanpa kepercayaan, pengetahuan tidak akan mengalir dengan bebas. Hal ini mengingatkan kita pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel mengenai koneksi emosional; jika tidak ada "attunement" atau penyelarasan antara anggota tim lama dan anggota baru, maka pengetahuan teknis yang dibawa oleh orang baru tersebut akan tetap terisolasi dan tidak memberikan dampak pada organisasi. Pengetahuan organisasi hanya meningkat jika individu baru tersebut mampu melakukan eksternalisasi pengetahuan pribadinya ke dalam sistem kolektif.

Selain itu, ada risiko psikologis yang disebut disruption cost. Individu yang memiliki kualifikasi jauh lebih tinggi terkadang membawa apa yang disebut sebagai arrogance of expertise. Mereka mungkin cenderung mengabaikan cara-cara lama yang dianggap tidak efisien tanpa memahami alasan di balik metode tersebut. Dalam Originals, Adam Grant menyebutkan bahwa untuk melakukan perubahan yang efektif, seseorang membutuhkan status dan legitimasi. Orang baru yang "better qualified" mungkin punya status dari gelarnya, tetapi belum memiliki legitimasi di mata rekan kerjanya. Gesekan ego dan resistensi budaya ini sering kali menyebabkan kebocoran pengetahuan, di mana anggota tim lama menjadi defensif dan berhenti berbagi informasi berharga kepada sang "bintang" baru.

Mekanisme Penyerapan dan Resiliensi Budaya

Kapasitas sebuah organisasi untuk mengambil keuntungan dari orang baru sangat bergantung pada absorptive capacity atau kapasitas penyerapan organisasi tersebut. Jika struktur perusahaan terlalu kaku, pengetahuan baru yang dibawa oleh individu tersebut justru akan ditolak seperti benda asing oleh sistem imun tubuh. Carol Dweck melalui karyanya Mindset mengingatkan kita bahwa organisasi dengan fixed mindset hanya akan melihat kualifikasi sebagai trofi, bukan sebagai alat untuk bertumbuh. Jika budaya perusahaan tidak mendukung pembelajaran terus-menerus, maka pengetahuan orang baru tersebut akan menguap begitu saja karena tidak pernah diintegrasikan ke dalam rutinitas organisasi.

Kita juga harus mempertimbangkan Transactive Memory System (TMS), sebuah konsep psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana kelompok memproses informasi secara kolektif. Dalam TMS, setiap anggota tim tahu "siapa tahu apa". Ketika orang lama diganti, peta memori kolektif ini rusak. Tim kehilangan efisiensi karena mereka tidak lagi tahu ke mana harus mencari jawaban tertentu. Meningkatkan pengetahuan organisasi bukan tentang mengganti memori individu, melainkan tentang memperkuat jaringan memori transaktif tersebut. Orang baru yang hebat sekalipun memerlukan waktu untuk memetakan kembali di mana ia bisa memberikan kontribusi terbaik dan siapa yang bisa membantunya menambal celah pengetahuannya.

Penting bagi kita untuk melihat bahwa kualifikasi hanyalah "janji", sementara pengetahuan organisasi adalah "bukti". Dalam The Psychology of Money, Morgan Housel sering menekankan bahwa perilaku lebih penting daripada kecerdasan teoretis. Hal yang sama berlaku di sini: perilaku orang baru dalam beradaptasi, mendengarkan, dan menghargai pengetahuan lama jauh lebih menentukan peningkatan pengetahuan organisasi daripada deretan gelar di belakang namanya. Jika proses transisi dilakukan dengan terburu-buru tanpa adanya knowledge transfer yang sistematis, yang terjadi bukanlah peningkatan, melainkan "amnesia organisasional".

Sintesis: Menuju Pertumbuhan yang Organik

Untuk benar-benar meningkatkan pengetahuan organisasi melalui talenta baru, diperlukan sebuah jembatan psikologis. Organisasi harus menciptakan ruang di mana pengetahuan lama (tradisi dan konteks) bisa bersinergi dengan pengetahuan baru (inovasi dan kualifikasi). Ini bukan tentang membuang yang lama untuk yang baru, melainkan tentang melakukan hibridisasi. Hal ini mengingatkan pada prinsip Antifragile milik Taleb, di mana organisasi menjadi lebih kuat bukan dengan menghindari perubahan, tetapi dengan mengintegrasikan guncangan (seperti pergantian staf) menjadi nutrisi bagi pertumbuhan.

Kualitas sebuah organisasi pada akhirnya ditentukan bukan oleh siapa yang paling cerdas di dalam ruangan, melainkan oleh seberapa efektif kecerdasan tersebut didistribusikan. Seorang jenius yang bekerja sendirian di dalam silo tidak menambah pengetahuan organisasi; ia hanya meningkatkan statistik kualifikasi di laporan tahunan. Pengetahuan yang sesungguhnya meningkat ketika terjadi dialog, ketika ada keberanian untuk mempertanyakan status quo tanpa merendahkan sejarah, dan ketika ada kerendahan hati untuk belajar dari mereka yang sudah lebih dulu mengenal medan perang.

Sebagai penutup, kita perlu merenungkan bahwa pengetahuan organisasi adalah entitas yang hidup dan bernapas. Ia tidak bisa diganti secara mekanis tanpa konsekuensi emosional dan kognitif. Kualifikasi yang lebih baik hanyalah sebuah pintu; namun pengetahuan organisasi adalah rumah yang harus dibangun bersama di dalamnya. Keberhasilan pergantian karyawan bukan diukur dari seberapa hebat orang barunya, melainkan dari seberapa banyak pengetahuan baru yang bisa diserap tanpa menghilangkan kearifan lama yang telah menjaga organisasi tetap tegak berdiri. Kematangan sebuah organisasi terlihat dari kemampuannya merawat akar sambil tetap menumbuhkan tunas-tunas baru yang lebih kuat di pucuknya.


Daftar Pustaka

  • Doidge, N. (2007). The Brain That Changes Itself: Stories of Personal Triumph from the Frontiers of Brain Science. Viking Press.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Grant, A. (2016). Originals: How Non-Conformists Move the World. Viking.
  • Housel, M. (2020). The Psychology of Money: Timeless Lessons on Wealth, Greed, and Happiness. Harriman House.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The Knowledge-Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamics of Innovation. Oxford University Press.
  • Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. Bantam Books.
  • Taleb, N. N. (2012). Antifragile: Things That Gain from Disorder. Random House.